Maryati meninggal di malam hujan, membeku di gang sempit, setelah ketiga anaknya menolak membuka pintu.
Seumur hidup dia mengabdi. Gaji suaminya — Hartono — dia yang kelola supaya cukup untuk makan sekeluarga. Menantu pertamanya, Watini, menampar dan memaki sesuka hati. Anak sulungnya, Darmanto, bungkam saja. Anak keduanya, Bagus, cuma datang kalau butuh uang. Satu-satunya yang sayang — Lestari, anak perempuannya — justru dibuang ke kampung terpencil dan mati muda.
Lalu Tuhan memberi kesempatan kedua.
Maryati membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke usia lima puluh tahun. Kali ini, dia bukan lagi ibu yang menunduk. Kali ini, dia melawan.
Hari pertama: dia menampar balik Watini dan merebut seluruh gaji keluarga. Hari kedua: dia mengusir siapa pun yang berani menginjak harga dirinya. Dan tujuan terbesarnya? Menyelamatkan Lestari sebelum terlambat — naik kereta sendirian ke kampung terpencil, menghadapi keluarga preman yang menyandera anaknya, dan membawa Lestari pulang dengan tangannya sendiri.
Tapi membebaskan anak perempuannya baru permulaan.
Maryati harus berhadapan dengan suami yang lebih memilih selingkuhan daripada istri, menantu yang licik di balik senyum manisnya, dan anak-anak yang menganggap pengorbanan ibu adalah hal yang wajar. Ketika cukup sudah — **dia menggugat cerai di usia lima puluh tahun, keluar dari rumah dengan satu tas kecil, dan membuktikan bahwa hidup seorang perempuan tidak berakhir setelah ditinggal suami.
Dari buruh pabrik tekstil biasa, Bu Yati naik menjadi ketua serikat pekerja wanita. Dia mendirikan asrama perlindungan untuk pekerja perempuan korban kekerasan. Dia menemukan kakak kandung yang terpisah sejak kecil. Dan satu per satu, perempuan-perempuan di sekitarnya — Wulandari si anak yang dikorbankan untuk adik laki-laki, Ayu yang dijual untuk dinikahkan, Ningsih yang tertipu laki-laki brengsek — bangun dari tidur panjang mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17: Pak Tono Kabur
Bahkan Bagus pun memilih diam saja.
Tidak ada yang mengejar Pak Tono malam itu, karena semua orang di rumah sudah terlalu lelah mengejar laki-laki yang seumur hidupnya pandai menghindar.
Pak Tono sendiri merasa kepergiannya gagah.
Ia menyalakan motor tua dengan dada panas, melewati jalan besar, lalu terus berkendara hampir dua jam menuju rumah Karmadi. Angin malam menampar wajahnya. Di kepalanya, ia menyusun kalimat pembelaan: istrinya keterlaluan, anak-anak tidak hormat, tetangga ikut campur, semua orang lupa siapa kepala keluarga.
Saat tiba di perumahan kecil tempat Karmadi tinggal, lututnya pegal dan perutnya lapar.
Karmadi membuka pintu dengan mata mengantuk. "Mas Tono? Tengah malam begini?"
"Aku menginap dulu," kata Pak Tono, masuk tanpa menunggu dipersilakan.
Ponirah, istri Karmadi, muncul dari belakang dengan kerudung asal pakai. Senyumnya cepat terbentuk. "Lho, Mas Tono datang. Ada apa?"
"Rumah sedang tidak enak."
Karmadi dan Ponirah saling pandang. Dalam pandangan itu ada hitungan yang hampir bisa didengar. Kakak tertua datang dengan harga diri terluka. Kakak tertua punya koneksi bengkel. Kakak tertua mungkin masih bisa membantu keponakan mencari kerja.
"Ya sudah, Mas, istirahat dulu," kata Ponirah manis. "Rumah kami sempit, tapi untuk saudara selalu ada tempat."
Besok paginya, manis itu mulai diuji.
Ponirah sengaja memasak bubur encer. Di meja hanya ada bubur, sedikit sambal, dan tempe dua potong. Ia berharap Pak Tono melihat keadaan mereka yang "susah" lalu bertanya, anakmu sudah kerja belum, apa perlu aku carikan jalan?
Pak Tono tidak bertanya.
Ia mengambil mangkuk terbesar.
"Perjalanan jauh bikin lapar," katanya, lalu menuang hampir separuh bubur.
Karmadi yang baru duduk menatap panci dengan senyum membeku.
Pak Tono mengambil satu potong tempe. Lalu potong kedua.
Ponirah cepat berkata, "Mas, itu buat anak..."
"Anak muda bisa beli gorengan di luar," jawab Pak Tono, menggigit tempe. "Orang tua harus jaga tenaga."
Karmadi tertawa kecil, mencoba menutup rasa kesal. "Mas Tono memang masih kuat makannya."
"Di rumah, sekarang semua diatur Bu Yati. Mau makan saja harus lihat muka orang."
Ponirah langsung menangkap peluang. "Mbak Yati memang keras ya, Mas. Tapi mungkin karena capek. Perempuan kalau umur segitu..."
"Menopause," sambung Pak Tono mantap, seolah ia baru menemukan jawaban ilmiah untuk semua masalah hidupnya. "Pasti itu. Dulu dia tidak begitu."
Ponirah mengangguk cepat. "Iya, Mas. Perempuan kalau sudah begitu suka meledak."
Pak Tono puas. Akhirnya ada orang yang mengerti dirinya.
Sepanjang hari ia duduk di ruang depan, menonton televisi, meminum kopi, dan menceritakan ulang bagaimana Bu Yati mempermalukannya di depan Sri. Dalam versinya, ia hanya membantu janda kesusahan. Dalam versinya, para istri salah paham. Dalam versinya, ia adalah korban dari istri yang tiba-tiba kasar.
Karmadi mendengarkan sambil mengangguk pada waktu yang tepat.
"Mas, kalau nanti keadaan tenang, mungkin bisa bantu anakku masuk Bengkel Karya Mesin? Tidak harus langsung tetap. Kenalan Mas kan banyak."
Pak Tono mengelus kumis. "Nanti kulihat."
Kata itu cukup untuk membuat Karmadi dan Ponirah bertahan satu hari lagi.
Masalahnya, Pak Tono tidak hanya menginap.
Ia menguasai rumah.
Hari kedua, ia bangun paling pagi bukan untuk membantu, melainkan mencari kopi. Saat kopi habis, ia membangunkan Ponirah. Saat Ponirah bilang gula tinggal sedikit, ia mengeluh bahwa rumah adiknya terlalu pelit pada tamu. Siang hari, ia membuka tudung saji dan memakan lauk yang disiapkan untuk anak Karmadi pulang sekolah.
Malamnya, ia menemukan toples keripik pisang di dalam lemari.
Ponirah menyimpannya untuk arisan.
"Lho, ini ada," kata Pak Tono dengan wajah polos. "Kenapa disembunyikan?"
Ponirah hampir menangis saat melihat setengah toples habis.
Karmadi menahan napas. "Mas, itu untuk tamu minggu depan."
"Aku ini apa? Bukan tamu?"
Tidak ada jawaban yang aman.
Hari ketiga, Ponirah mulai berhitung bukan lagi soal pekerjaan anaknya, melainkan berapa kilo beras yang hilang. Ia sengaja memasak sayur bening tanpa banyak bumbu. Pak Tono tetap makan dua piring. Ia bahkan mengomentari bahwa garamnya kurang.
Sore itu keponakan Karmadi pulang membawa buku lamaran kerja yang belum selesai diisi. Ia duduk di dekat Pak Tono dengan harapan besar.
"Pakde, kalau di bengkel butuh orang, saya bisa belajar."
Pak Tono melirik sebentar. "Belajar itu gampang. Yang susah disiplin. Anak muda sekarang maunya cepat."
"Jadi bisa dibantu, Pakde?"
"Nanti."
Kata nanti itu jatuh lagi. Tidak iya, tidak tidak. Cukup untuk membuat anak muda itu menunggu, cukup untuk membuat Ponirah terus memasak, cukup untuk membuat Karmadi menahan amarah.
Saat malam, Karmadi dan Ponirah berbisik di dapur.
"Tahan dulu," kata Karmadi. "Kalau Mas Tono mau bantu anak kita, semua balik."
"Balik bagaimana? Beras sudah habis. Keripik arisan habis. Telur tinggal dua, tadi dia tanya bisa diceplok semua atau tidak."
"Besok aku pancing lagi soal kerja."
"Besok kalau dia masih di sini, aku yang kabur."
Di ruang depan, Pak Tono mendengar sebagian bisikan itu dan pura-pura tidur. Ia merasa tersinggung. Adik sendiri ternyata perhitungan. Padahal ia kakak. Padahal dulu saat kecil, Karmadi sering memakai sandalnya.
Namun bukannya pulang, ia justru makin yakin bahwa Bu Yati pasti sebentar lagi mencari.
Setiap motor lewat, ia menoleh ke jendela. Setiap ponsel Karmadi berbunyi, ia memasang telinga. Ia membayangkan Bu Yati datang dengan wajah menyesal, berkata, "Pak'e, ayo pulang. Rumah sepi tanpa kamu."
Bayangan itu membuat dadanya hangat.
Ponirah melihat kesempatan lain. Sore hari, ia duduk di dekat Pak Tono sambil membawa teh.
"Mas, tadi ada kabar dari Kampung Sumber," katanya hati-hati.
Pak Tono langsung tegak. "Bu Yati cari aku?"
"Katanya... ya, semua orang tanya Mas di mana. Mbak Yati juga pasti bingung."
Itu bukan sepenuhnya bohong. Orang memang bertanya. Bu Yati mungkin tidak.
Pak Tono tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan senang. "Biar dia merasa. Jangan kira suami bisa dipermalukan lalu tetap duduk manis."
Ponirah tersenyum lelah. "Iya, Mas."
Malamnya, ketika Pak Tono tidur mendengkur di ruang depan dengan kipas angin diarahkan penuh ke tubuhnya, Ponirah membawa ponsel ke dapur. Ia menutup pintu perlahan agar Karmadi tidak mendengar, lalu menelepon nomor Bu Yati.
Telepon tersambung pada dering ketiga.
"Mbak Yati," bisik Ponirah, suaranya hampir menangis. "Mas Tono di sini. Tolong jemput, ya..."
Di seberang, Bu Yati diam sebentar.
Lalu terdengar jawabannya, datar dan pendek.
"Kalau kamu tidak kuat, antar dia pulang sendiri. Aku tidak mencari."
Telepon ditutup.
Ponirah menatap layar gelap ponselnya.
Di ruang depan, Pak Tono masih mendengkur seperti raja yang yakin rakyatnya sedang merindukan dia.