NovelToon NovelToon
Di Sini Ada Arwah, Di Sana Ada Polisi

Di Sini Ada Arwah, Di Sana Ada Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Mata Batin
Popularitas:33.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ichageul

Nino dan Asep harus mengungkap peristiwa pembunuhan berantai yang semua korbannya adalah wanita.

Musuh kali ini adalah seorang pembunuh yang kejam, licik, dan cerdas. Mereka berpacu dengan waktu untuk mengungkap pelaku sebelum lebih banyak korban berjatuhan.

Disclaimer:
Seluruh tokoh, tempat, dan peristiwa dalam novel ini adalah fiksi. Apabila terdapat kemiripan dengan orang, tempat, atau kejadian nyata, hal tersebut murni kebetulan.

Novel ini mengandung adegan kekerasan dan pembunuhan yang ditujukan untuk kepentingan cerita. Tidak dimaksudkan untuk mendorong atau membenarkan tindakan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saksi yang Mencurigakan

Nino dan Asep berjalan mendekati Rama. Gerak-gerik Rama tampak mencurigakan di mata mereka.

Rama baru saja berdiri ketika dua petugas polisi itu sampai di dekatnya. Pria itu semakin terlihat gugup.

“Apa Anda baik-baik saja?” tanya Nino.

“I-Iya,” jawab Rama gugup.

“Siapa nama Anda?”

“R-Rama.”

“Baiklah Pak Rama, silakan ikut dengan kami,” ajak Nino. “Apa ada ruangan yang bisa kami gunakan?”

“Ada. Mari,” sang manajer mengulurkan tangannya, mempersilakan Nino dan Asep mengikutinya.

Pria itu membawa keduanya menuju ruangan yang biasa digunakan rapat oleh tim HRD. Nino mempersilakan Rama untuk masuk. Pria itu menjadi orang pertama yang akan menjalani interogasi. Rama menarik kursi lalu duduk di hadapan Nino.

Asep yang duduk di samping Nino, bersiap untuk mendokumentasikan pernyataan Rama. Dia segera menyalakan laptop yang dibawanya.

“Siapa nama lengkap Anda?” tanya Nino memulai interogasi.

“Rama Firansyah.”

“Anda mengenal korban?”

“Ya. Dia rekan kerja saya.”

“Sudah berapa lama Anda mengenal korban?”

“Sejak dia bekerja di kantor ini. Sekitar tiga tahun yang lalu.”

Jari Asep bergerak lincah di atas keyboard laptop, mengetik keterangan yang disampaikan Rama.

“Apa benar Nilan menjadi korban pembunuhan?” akhirnya Rama mengeluarkan pertanyaan yang sedari tadi ditahannya. Pria itu masih belum percaya bahwa Nilan sudah meninggal dunia dengan cara yang tragis.

“Ya. Korban dibunuh tadi malam, mayatnya baru ditemukan di pagi harinya.”

“T-Tadi malam?”

Rama mengingat kembali kejadian semalam. Dia sempat mengikuti Nilan yang pulang menggunakan bus.

Bahkan pria itu memastikan Nilan masih aman setelah keluar dari minimarket. Namun setelahnya dia harus pergi karena ada panggilan yang memaksanya pergi.

“Kapan terakhir kali Anda bertemu dengan korban?”

“Semalam. Kami lembur bersama. Kami keluar sekitar pukul sembilan malam.”

“Siapa saja yang lembur dengan korban selain Anda?”

“Ada Reni, Mita dan Dida.”

“Apa tidak ada yang satu arah dengan korban?”

“Tidak ada. Tapi sebenarnya saya sudah menawarkan mengantarnya pulang, tapi dia menolak.

Akhirnya saya memutuskan mengikuti bus yang ditumpanginya dari belakang. Saya mengikutinya sampai dia turun di halte dekat daerah rumahnya. Setelah itu, saya pergi.”

“Kenapa Anda pergi? Kenapa Anda tidak terus menemainya sampai ke rumah?”

“Saya mendapat telepon dan harus segera pergi.”

“Setelah itu, apa Anda langsung pulang?”

“Saya mampir sebentar untuk membelikan makanan pesanan kakak ipar saya. Setelah itu saya pulang.”

“Apa ada orang yang bisa membuktikan alibi Anda?”

Rama menggeleng pelan. Setelah meninggalkan Nilan, Rama mampir membelikan martabak manis pesanan kakak iparnya.

Namun sesampainya di rumah kakaknya, ternyata mereka sedang tidak berada di rumah. Dia meletakkan pesanan di teras.

Setelahnya Rama pulang ke rumah. Saat itu kondisi rumah juga dalam keadaan kosong. Kedua orang tuanya sedang keluar kota. Jadi tidak ada yang bisa membuktikan alibinya.

“Baiklah, untuk saat ini cukup. Tapi untuk penyidikan lebih lanjut, kami akan meminta keterangan Anda lagi. Saya harap Anda bisa bekerja sama ke depannya.”

“Ya.”

Rama bangkit dari duduknya. Pria itu segera beranjak dari tempatnya. Saat hendak keluar ruangan, pria itu berbalik. “Apa aku bisa melihat jenazah Nilan?”

“Saat ini kami masih harus melakukan autopsi. Jadi jenazah belum bisa dikembalikan ke pihak keluarga.”

“Terima kasih.”

Rama segera keluar dari ruangan. Pria itu berjalan lunglai kembali ke ruangannya. Tak kuat menopang tubuhnya, Rama jatuh berlutut. Dia tidak kuat lagi menahan tangisnya.

Buliran bening terus keluar dari kedua matanya. Pria itu benar-benar menyesal tidak mengantarkan Nilan sampai ke rumahnya.

Semua yang terjadi pada Rama tidak luput dari perhatian Nino. Pria itu cukup lama mengamati Rama yang masih menangis di tempatnya. Salah satu rekannya mendekat lalu membantunya bangkit.

“Coba cari tahu tentang Rama,” ujar Nino pada Asep.

“Apa kamu mencurigainya?”

“Sikapnya cukup mencurigakan. Kita juga harus memeriksa alibinya.”

Asep mengangguk setuju.

Setelah Rama, berturut-turut Nino memanggil rekan kerja Nilan yang lain. Mereka fokus pada rekan kerja yang sama-sama lembur kemarin malam.

***

Kelopak mata Gilang bergerak-gerak sebelum akhirnya pemuda itu membuka mata. Seketika dia terbangun ketika menyadari dirinya tertidur di atas meja panjang.

Pandangannya menyapu sekeliling ruangan. Ruangan tempatnya berada adalah ruang rapat yang biasa digunakan tim Jatanras membahas kasus yang sedang diselidiki.

Buru-buru pemuda itu turun dari meja panjang tersebut. Dia meregangkan badan ke kanan dan kiri. Punggungnya terasa kaku setelah terbaring cukup lama di atas meja rapat.

Untuk sesaat Gilang hanya duduk di kursi. Dia mencoba mengingat apa yang menimpanya sampai jatuh pingsan.

Tubuh pemuda itu bergidik setelah berhasil mengingat penyebab dirinya pingsan. Di tengah interogasi, tiba-tiba saja muncul sesosok tanpa kepala.

Yang lebih menyeramkan, sosok tersebut menenteng kepalanya sendiri. Matanya melotot pada Gilang, membuat sosoknya tampak begitu menyeramkan.

Takut bertemu lagi dengan makhluk itu, Gilang segera keluar dari ruangan. Begitu keluar, ternyata ruangan tersebut tepat menghadap ke ruangan tim Jatanras. Semua petugas yang ada di sana langsung menatapnya.

“Sudah sadar rupanya,” celetuk salah satu petugas.

“Sudah, Pak. Hehehe ….”

Pemuda itu terus melemparkan senyum kikuknya pada semua petugas.

“Kamu itu pingsan apa tidur?” celetuk salah satu petugas.

“Pingsan, Pak,” jawab Gilang polos.

“Mana ada orang pingsan ngorok.”

“Hahaha!”

Gilang menggaruk kepalanya yang tak gatal. Pemuda itu bergegas menuju pintu keluar. Dia bermaksud meninggalkan kantor polisi ini. Namun langkahnya tertahan mendengar pertanyaan salah satu petugas.

“Kamu mau ke mana?”

“Mau pulang, Pak. Kan interogasinya sudah selesai.”

“Kamu yang menemukan jasad korban, kan?”

“Iya, Pak.”

“Kalau begitu kamu belum boleh pulang.”

“Hah?”

“Kamu harus tetap di sini sampai kamu bisa membuktikan alibimu.”

“Tapi, Pak—“

“Biarkan dia pergi!” seru Miko.

Begitu tahu Gilang sudah sadar, Miko bergegas menemuinya.

“Tapi dia yang menemukan jasadnya, Komandan.”

“Asep sudah memeriksa keterangannya. Dia melaporkan di mana korban berada atas perintah seseorang. Asep dan Nino sedang mengejar orang yang memberi informasi.”

Gilang dapat bernapas lega mendengar ucapan Miko. Pemuda itu langsung berbalik untuk melihat siapa malaikat yang sudah menolongnya. Tidak jauh darinya berdiri seorang petugas berwajah tampan, dengan raut wajah tegas.

“Saya beneran boleh pulang, Pak?” tanya Gilang memastikan.

“Ya.”

“Terima kasih, Pak.”

Gilang bergegas pergi. Begitu keluar dari kantor Polda, pemuda itu bisa bernapas lega. Dia segera memesan ojek online untuk pulang ke kosnya.

Sesampainya di kosnya, Gilang segera masuk ke kamarnya. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah tidur. Semalam dia tidak bisa tidur nyenyak karena terus diganggu oleh Nilan.

Gilang langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Pemuda itu tidur dengan posisi telentang. “Tempat yang paling berharga adalah kasur empuk,” Gilang menyanyikan lagu keluarga cemara yang liriknya diganti sendiri olehnya.

Pemuda itu memejamkan matanya, bersiap untuk masuk ke alam mimpi.

Baru beberapa menit memejamkan mata, Gilang merasa seperti ada yang sedang memperhatikannya. Pemuda itu langsung membuka matanya. Di atas tubuhnya, Nilan sedang dalam posisi melayang. Wajah hantu wanita itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.

“HWUAAAA!!!”

Saking terkejutnya, Gilang refleks mengambil bantal lalu melemparkannya kepada Nilan.

***

Hidupmu nggak bakal tenang lagi, Gilang😂

1
tehNci
Gpp narsis sedikit🤣🤣🤣
Munas Tuti
siapa sihh thor pembunuh sebenarnya ? kan author yg tahu....spillah, dah gak sabar ni 😄😄
Febri Nayu
mungkin rama iku dirasuki jin koyok gading pas ndek indra ke enam
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
masih abu² 😔
emangnya Rama tinggalnya di apartemen Grand Amaris lantai 12 gitu ?
bukanya yg tinggal di situ Pradipta 🤔...
saksi kunci nya si jongkok di kurung di kamar siii jd gk bisa di tanya²/Sweat/
harus ikhtiar dgn keras nii pihak berwajib.....PR mu sangat berat ya Komandan Miko dan duo cetet ....seberat apapun tugasmu semoga dpt terselesaikan....tabir nya terungkap.... misteri nya terpecahkan....wajib bin kudu dpt di tangkep tu penjahat......No , Sep good luck ya buat kalian... semoga lelahmu jd lillah 👏🏻✊🏻😔
Febri Nayu
oooh benerr langsung jadi si tom
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
iya kamu pelakunya Dipta Pradiptaaaa....pintar kali kau rupanya 😏
Febri Nayu
iyo ketemu ndek club
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
iya jangan kan gk ada saksi....kalo di masukan ke dlm laporan...bakal jd panjang ceritanya 🤔
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
Ahqam makhluk Allah paling tampan se-alam astral.... ahahahahhaha /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Joyful/
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
rawwrrgghhh ....wellll🤙🏻
heuheuheu trio macan😂
Febri Nayu
apes Gilang ketemu arwah loro iku yaaak
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
aiihh bacaan mukadimah yg bikin muter bola mata 🙄.....pas baca langsung ada yg mesra - mesra- an kek yg gk pernah ketemu aja ...iii 😔
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
ga semudah itu marimar💃💃
ismi
kak thor aku ttp curiga sama dipta piye iki🤭🤭
Febri Nayu
iku duwe ilmu koyok e wonge
Tini Nurhenti
abu2 min,💪💪💪
Euis Sri
Mungkin kaaaah
Febri Nayu
sopo sakjane wong iku yoo
sakura hanae @ mimie liyana❤️
Sepertinya bukan Rama atau Dipta... Aku pikir ada orang lain kerna di bab sebelumnya bilang sudah ngasi petunjuk kan? Tapi apa?
@$~~~tINy-pOnY~~~$@: kemiripannya cuman mrk berdua pulang kerja tengah malem. yang satu krn lembur, yang satu lg krn emang jam kerjanya malem2.
total 3 replies
Eka Burjo
😂😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!