Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?
UP SETIAP HARI JAM 06.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Malam merangkak semakin larut, membawa serta keheningan yang menyesakkan ke dalam penthouse megah milik Rangga Pratama. Lampu-lampu kristal di ruang utama telah diredupkan, menyisakan berpendaran cahaya kekuningan yang temaram di sepanjang koridor marmer. Di dalam kamar utama, suasana terasa jauh lebih dingin ketimbang suhu pendingin ruangan yang menyala konstan di angka sembilan belas derajat Celsius.
Rania duduk bersandar di tepian ranjang berukuran king-size tersebut. Selimut beludru tebal menutupi separuh tubuhnya, namun kehangatan itu tidak mampu meresap ke dalam tulangnya. Matanya menatap kosong ke arah jendela kaca besar yang menampilkan gemerlap lampu kota dari ketinggian lantai lima puluh. Di luar sana, dunia tampak begitu luas dan bebas. Namun di dalam kamar ini, Rania merasa seolah-olah ia sedang dikurung di dalam sangkar emas tanpa pintu keluar.
Langkah kaki terdengar mendekati pintu kamar, disusul oleh suara gesekan gagang pintu yang berputar pelan. Rangga melangkah masuk ke dalam kamar utama. Wajah pria itu tampak menyisakan garis-garis kelelahan yang nyata—bukan kelelahan fisik akibat pekerjaan korporat yang menumpuk, melainkan kelelahan mental setelah berjam-jam harus menenangkan Resti yang sempat histeris di malam pertamanya kembali.
Rangga melepas jas kerjanya, melemparkannya begitu saja ke atas sofa kecil di sudut kamar, lalu melonggarkan ikatan dasi di leher jenjangnya dengan gerakan kasar. Pria itu menghela napas panjang, berat, dan sarat akan beban moral yang tengah ia pikul. Ia berjalan ke sisi ranjang, lalu duduk perlahan di sebelah Rania. Matanya menatap lurus ke depan, menghindari tatapan mata Rania yang tahu betul sedang menunggunya.
Ada keheningan yang panjang dan canggung di antara mereka berdua. Udara di dalam kamar terasa begitu pekat, seolah dipenuhi oleh kata-kata yang enggan terucap. Rangga berdehem pelan, mencoba menjernihkan tenggorokannya yang terasa kering sebelum akhirnya membuka suara.
"Rania..." panggil Rangga, suaranya terdengar serak dan hati-hati, sebuah nada bicara yang belum pernah ia gunakan sebelumnya kepada istrinya.
Rania tidak langsung menoleh. Ia menarik napas dalam-dalam, menata sisa-sisa pecahan harga dirinya agar suaranya tidak bergetar saat ia menjawab. "Ya, mas? Ada apa?" tanya Rania dengan nada yang terdengar sangat datar, tenang, dan terukur—sebuah topeng kedewasaan yang ia kenakan demi menutupi hancurnya rongga dada di sebelah kiri.
Rangga menoleh, menatap profil wajah samping istrinya yang tampak begitu tenang di bawah temaram lampu tidur. Ada rasa bersalah yang menusuk tajam di lubuk hati pria itu, meskipun ego CEO-nya langsung menepisnya dengan berbagai dalih logika.
"Aku ingin membicarakan sesuatu... soal Resti," ujar Rangga memulai topik yang paling dihindari namun tidak bisa ditunda lagi. Ia merapatkan kedua telapak tangannya di atas paha. "Dia... ingin tinggal disini sementara waktu, untuk memulihkan kondisi mentalnya karna dirumah ayah juga ibunya memarahi dirinya dan apartemen lamanya sudah disewakan kepada orang lain selama dia di Paris. Dia butuh tempat tinggal sementara untuk memulihkan keadaannya."
Rangga mengambil jeda sejenak, mengamati reaksi Rania. Namun, wanita itu tetap bergeming, menatap lurus ke depan tanpa ekspresi.
"Aku ingin meminta izin padamu, Rania," lanjut Rangga dengan nada yang kini sedikit melunak, menyiratkan sebuah permohonan yang dipaksakan. "Biarkan Resti tinggal di penthouse ini untuk beberapa hari ke depan... sampai dia mendapatkan tempat tinggal baru. Hanya sebagai bentuk tanggung jawab kemanusiaan. Aku tidak ingin kau merasa tidak nyaman, tapi... kumohon, mengertilah posisiku saat ini."
Sebuah senyuman tipis dan getir terukir di sudut bibir Rania. Permohonan izin? Betapa ironisnya kata itu. Ini adalah rumah suaminya, tempat di mana ia memiliki hak penuh sebagai istri sah di mata hukum dan agama. Namun di hadapan pria ini, untuk mempertahankan sisa-sisa martabatnya, Rania bahkan harus mendengar suaminya meminta izin agar wanita dari masa lalunya bisa tidur di bawah atap yang sama.
Rania perlahan menolehkan kepalanya, membalas tatapan mata Rangga dengan sorot mata yang begitu jernih, tanpa ada air mata, tanpa ada amarah yang meledak-ledak. Ketenangan di mata Rania justru membuat Rangga merasa jauh lebih tersiksa ketimbang jika wanita itu berteriak memarahinya.
"Kau tidak perlu meminta izin, Rangga," jawab Rania pelan, suaranya terdengar begitu tenang namun menusuk sukma. "Ini rumahmu. Kau adalah pemilik mutlak tempat ini. Dan Resti... dia adalah wanita yang selalu bersemayam di dalam hatimu sejak awal. Siapalah aku yang berani melarang atau menolak keputusannya? Jika kau ingin dia tinggal di sini, silakan saja. Aku tidak keberatan."
Jawaban itu telak menghantam kesadaran Rangga. Tidak ada nada cemburu, tidak ada tuntutan posesif, tidak ada isak tangis histeris. Yang ada hanyalah kepasrahan mutlak yang menyiratkan bahwa kehadiran atau kepergian Rangga sudah tidak lagi memberikan arti yang besar bagi wanita di hadapannya ini. Rangga merasakan rongga dadanya bergemuruh hebat, sebuah rasa tidak nyaman yang asing menyergap perasaannya, namun ia dengan cepat menepisnya kembali ke dasar pikiran.
"Terima kasih, Rania," ucap Rangga lirih, merasa bahwa kata-kata itu terdengar sangat hampa di telinganya sendiri.
Rangga lantas berbaring di sisi ranjang, membelakangi Rania, menarik selimut hingga sebatas dada. Sementara Rania tetap duduk terpaku di tempatnya dalam waktu yang cukup lama, memandangi langit-langit kamar yang gelap, membiarkan malam semakin larut bersama luka yang kian menganga.
Keesokan paginya, matahari pagi menyusup lewat celah tirai jendela penthouse, membawa serta dinamika baru yang langsung menghancurkan sisa-sisa kedamaian di rumah tersebut. Resti, dengan segala tabiat masa lalunya yang manja dan terbiasa menjadi pusat perhatian, langsung mengambil alih kendali suasana begitu ia melangkah keluar dari kamar tamu.
Suasana di meja makan utama yang biasanya tenang seketika berubah menjadi bising oleh keluhan-keluhan kecil yang disengaja.
"Rangga, lihat ini!" suara manja Resti menggema di ruang makan yang megah itu. Wanita itu duduk dengan anggun di kursi samping kanan Rangga, mengenakan bathrobe sutra mahal, sementara di hadapannya tersaji sepiring sarapan yang baru saja disiapkan oleh pelayan rumah.
Rangga, yang sedang membaca tablet berita bisnis sambil menikmati secangkir hitam pekat, menghentikan kegiatannya dan menoleh lembut kepada Resti. "Ada apa, Resti? Apa makanannya tidak sesuai selera?"
Resti mengerucutkan bibirnya, memasang ekspresi cemberut yang dibuat selucu mungkin demi menarik simpati penuh dari pria di sebelah kirinya. "Rotinya terlalu kering, Rangga! Kau tahu kan aku tidak pernah bisa makan roti panggang yang teksturnya keras seperti ini sejak di Paris. Lidahku sudah terbiasa dengan croissant lembut di Café de Flore. Dan lagi..." Resti mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan dengan gestur meremehkan. "Suasana di penthouse ini membosankan sekali. Rasanya suram, kaku, dan tidak ada hiburan sama sekali. Kenapa kau tidak mendekorasi ulang tempat ini? Atau setidaknya, belikan aku beberapa gaun musim semi terbaru agar aku tidak stres tinggal di sini."
Mendengar rengekan itu, alih-alih merasa terganggu, Rangga justru tersenyum kecil—sebuah senyuman penuh pemakluman yang dulu selalu ia berikan setiap kali Resti merajut tuntutan-tuntutan manjanya semasa mereka bertunangan. Sisa-sisa perasaan masa lalu itu bekerja secara otomatis, merespons setiap keluhan Resti dengan tindakan nyata.
"Baiklah, nanti siang aku akan meminta asisten pribadiku untuk mengirimkan katalog butik desainer terbaru ke sini, atau kau bisa pergi berbelanja menggunakan kartu hitamku," ucap Rangga dengan nada suara yang begitu sabar dan memanjakan. Pria itu bahkan memanggil kepala pelayan rumah dan memberikan instruksi spesifik agar segera membuatkan menu sarapan baru yang sesuai dengan standar kuliner Prancis yang diinginkan Resti.
Di seberang meja makan, Rania duduk terdiam rapi. Ia mengenakan pakaian kerja yang sederhana namun elegan, bersiap untuk berangkat mengurus toko roti independennya. Rania baru saja menuangkan segelas susu hangat ke dalam cangkirnya ketika pemandangan di hadapannya itu tertangkap jelas oleh kedua matanya.
Rangga, pria yang selama berbulan-bulan bersikap dingin, kaku, otoriter, dan pelit senyum kepadanya, kini duduk dengan sabar mendengarkan setiap keluhan manja Resti. Rangga menuruti permintaan makanan khusus, menjanjikan kartu kredit tanpa batas, dan menatap wanita itu dengan sorot mata penuh perhatian yang tidak pernah sekalipun diberikan kepada Rania—istri sah yang dinikahinya di altar penuh keterpaksaan.
Pemandangan itu terasa begitu nyata, mencubit ulu hati Rania dengan cengkeraman yang sangat kuat.
Di rumah ini, di bawah atap yang sama, Rania tiba-tiba merasa seperti orang asing. Seseorang yang tidak diundang, seseorang yang numpang lewat, dan seseorang yang keberadaannya hanya menjadi pajangan pengisi ruang kosong antara masa lalu dan masa kini Rangga Pratama. Pelayan rumah, yang sudah lama bekerja di sana, melirik ke arah Rania dengan tatapan iba yang justru membuat harga diri Rania semakin teriris halus.
Rania menarik napas dalam-dalam, menelan rasa sesak yang bergejolak di tenggorokannya. Ia meletakkan kembali cangkir susunya ke atas paha dengan gerakan yang sangat tenang, tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Ia tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia tidak melayangkan protes, tidak pula memasang wajah cemburu. Rania perlahan berdiri dari kursi meja makan, merapikan letak tas tangan kulit di bahunya, lalu melangkah meninggalkan ruang makan dengan punggung tegak, meskipun di dalam hatinya ia tahu persis bahwa pijakannya di rumah itu sudah benar-benar runtuh.
Rangga, yang sempat melirik sekilas kepergian Rania dari sudut matanya, merasakan ada sengatan kecil yang tidak nyaman di dadanya saat melihat punggung wanita itu menjauh tanpa pamit. Namun, sebelum sempat akalnya mengejar pikiran tersebut, suara manja Resti kembali memanggil namanya, menarik kembali seluruh perhatian Rangga ke dalam dunia kecil yang diciptakan oleh wanita di sebelah kanannya.
Dan di dalam sunyinya langkah kaki menuju pintu keluar, Rania meneguhkan satu hal di dalam hatinya: Hari ini, keterikatannya pada pria bernama Rangga Pratama telah resmi berakhir di dalam batinnya. Rumah ini bukan lagi tempat pulangnya.
•
•
•
•
Jangan lupa like ya😉