Gadis kecil Ella yang hidup di sebuah panti asuhan pinggiran kota yang berada di ujung kekaisaran Reis yang megah, hanya bermimpi untuk lepas dari segala kesakitan dan perundungan yang ia alami di panti.
Kehidupan yang dihantui ketakutan, kelaparan, membuatnya terus bermimpi akan sebuah kangatan keluarga yang sangat terasa nyata.
Mimpi kecil itu yang membuatnya membulatkan tekad untuk lepas dari bangunan yang seolah terus memeluknya jauh ke dasar. Dengan kaki kecilnya yang penuh akan luka, ia melangkah menjauh dari panti menuju gelapnya malam yang terasa lebih aman dibanding bangunan tempat ia tinggal.
Akankah keluar dari kegelapan lama menuju kegelapan baru di depannya akan lebih baik? Atau justru, kegelapan di binar yang menyimpan keinginan untuk hidup di mata Ella, justru jauh lebih pekat dibanding yang ia tinggalkan?
♡♡♡♡♡
Jadwal Up:
Senin s/d Sabtu - Jam 20.00
Minggu - Double Up; 08.00 & 20.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Only'Rra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nona Agung
Netra keemasan pekat sang kaisar memandang manusia yang tengah bersujud ketakutan meminta maaf di depan kakinya dengan malas.
"Berisik sekali."
Pola emas muncul di udara dan langsung melesat ke arah sang menteri yang tengah memohon akan kehidupannya itu.
Suasana di ruang rapat seketika kembali hening kala suara memohon yang parau kini tidak lagi terdengar.
Para menteri yang masih terduduk di kursi mereka mendadak semakin merasa panas dingin, keringat mulai bercucuran di tubuh mereka melihat apa yang baru saja sang kaisar perbuat.
Kaisar tidak membunuhnya dengan pedang sihir itu seperti yang ia lakukan pada korban sebelumnya. Tapi sekarang kaisar menghancurkan pita suara menteri itu dengan sihir!
"Baginda, Permaisuri memanggil anda," ujar Abel menatap sang Ayah yang terlihat mulai kehilangan kendali akan suasana hatinya lagi.
Abellona von Reis - sang putra mahkota kekaisaran, tahu betul satu-satunya yang dapat setidaknya membuat sang kaisar tidak membunuh manusia, yaitu ibunya, permaisuri.
Calliope mengalihkan tatapannya pada putra sulungnya. Tatapan mata Abel yang seolah berkata 'Aku tidak berani berbohong' membuat kaisar dengan rambut pirang panjang itu beranjak bangun dari kursinya.
Serentak, semua menteri di dalam ruang rapat ikut berdiri dari duduk mereka untuk mengantar sang kaisar, bahkan menteri yang baru saja kehilangan suaranya.
Calliope tidak memperdulikan situasi dan langsung berbalik arah untuk keluar dari ruang rapat yang membosankan baginya. Dua pengawal yang berdiri di depan pintu ruang rapat dengan sigap membukakan pintu.
Semua orang membungkukkan badan, bahkan ketiga pangeran Reis.
"Semoga keberkahan selalu menyertai Matahari Kekaisaran Reis."
BRAK!
Pintu ruang rapat kembali tertutup keras. Sebuag segel menjalar memenuhi pintu yang tinggi nan besar itu.
Semua orang yang tadinya merasa semua sudah selesai pun kembali menghembuskan napas pasrah.
Segel itu berarti jika putra mahkota tidak mengirimkan hasil rapat kepada dirinya, maka pintu itu sampai kapan pun tidak akan bisa terbuka, dan tidak akan ada pula yang bisa membukanya selain sang kaisar sendiri.
Kabut keemasan muncul dan melingkupi tubuh pangeran ketiga.
"Sebaiknya hentikan mantra teleportasi rendah milikmu itu sebelum kaisar meledakkannya bersama dirimu di dalamnya, Atala."
Abel kembali duduk di kursinya. Ia memberikan nasihat yang lebih mirip seperti perintah dan menatap tegas ke arah adik ketiganya, Atala von Reis.
Atala berdecak kesal mendengar teguran dari kakak pertamanya, ia kemudian melirik kakak keduanya yang duduk di seberang untuk meminta bantuan.
Asterion von Reis, pangeran yang digadang-gadang saat besar nanti kemampuan sihirnya akan melampaui sang ayah itu hanya diam dengan terus memeriksa laporan yang menjadi bagiannya. Seolah mengisyaratkan 'Jika ingin mati, jangan libatkan aku.'
'Ck! Apa yang kuharapkan dari si bodo amat itu sih? dasar Atala bodoh!' Atala menghembuskan napas kasar dan menjatuhkan dirinya duduk dengan malas ke tempatnya semula. "Cepat selesaikan Kak, aku ingin kembali ke menara," rengeknya berdalih kepada Abel.
"Aku tahu kau ingin pergi keluar istana dan membuat kekacauan di hutan dengan eksperimen sihirmu itu. Diam dan selesaikan tugasmu atau aku akan melaporkan semua tingkahmu akhir-akhir ini pada kaisar."
Atala lagi-lagi hanya bisa berdecak kesal. Kenapa semua orang di istana sangat suram sekali? Dirinya jadi merindukan tawa kecil yang menghias istana dulu, sebelum akhirnya ia lebih sering memutuskan pergi diam-diam keluar kastil dan mendengar teriakan para monster di hutan yang ia bunuh.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
"Wah ... "
Ella menatap takjub ke luar jendela kereta kuda. Disana terlihat hutan yang tidak gelap sama sekali. Banyak kunang-kunang kecil berterbangan dari dalam hutan di sepanjang jalan rombongan grand duke Luelle.
Derix yang menaiki kuda berjalan berjaga di depan kereta kuda yang ditumpangi sang grand duke juga putri bungsu, menatap bingung kesekeliling. 'Tumben sekali hutan Cana menyambut manusia.'
Hutan ini bukan hanya omong belaka dengan aura mistis nya, tapi seolah menunjukkan ke semua manusia yang masuk bahkan sekadar lewat di pinggiran hutan bahwa 'mereka' ada.
Aghasa yang duduk di seberang Ella, terus memperhatikan gadis kecil yang menatap ke arah luar jendela dengan binar di matanya. 'Tatapan takjubnya saat melihat sesuatu yang cantik, masih sama seperti dulu,' batin Aghasa.
Ella perlahan merasakan kantuk yang mulai menyerang, matanya berkedip pelan. Sebelum kening gadis itu membentur jendela, telapak tangan Aghasa lebih dahulu menyanggahnya.
'Dan kebiasaannya yang langsung tertidur dimanapun saat mengantuk, tetap sama.'
Aghasa tersenyum geli melihat gadis kecil yang sudah terlelap tanpa memikirkan dirinya tertidur dimana dan dalam posisi apa sekarang ini.
Barisan rombongan grand duke Luella terus membelah malam di sepanjang arus hutan tanpa berhenti karena tidak ingin bermalam terbuka dekat dengan hutan mistis di sebelah kanan mereka, meski kini hutan itu nampak indah karena banyak sekali kunang-kunang yang menghiasai, mereka lebih memilih untuk meneruskan perjalanan dan menjauh dari hutan itu.
"Bagaimana ini Nona? Anak itu kabur!"
Sebuah pandangan dari balik topeng bewarna hitam menatap sinis ke arah kereta kuda yang terus melaju dan semakin hilang dari pandangan mereka, dengan tetap menyembunyikan diri mereka di tengah kabut malam.
"Kalian kembali ke Greys, dan bunuh semua tetua yang mengetahui tentang praktik 'Darah Reis' itu," titahnya dengan berusaha tetap tenang.
"Baik, Nona Agung," seruan jawaban serentak oleh suara berat di belakangnya mengisi malam.
Tangannya mengepal kuat. "Ini akan sedikit sulit, karena gadis itu akan kembali di lindungi oleh para monster gampang kehilangan kendali akibat kejadian 5 tahun lalu. Tapi tak apa."
Jemari lentik di balik jubah hitam itu menarik tudung yang menutupi sebagian wajahnya. "Menghancurkan 3 pilar Astra akan semakin menarik kedepannya."
Sebuah akar tebal menjalar dari dalam hutam, bergerak keluar dan mulai melilit kaki wanita bertopeng itu.
"Apa ini?!"
"Lindungi nona agung!"
10 orang berjubah di belakang sang wanita lantas membentuk sebuah pola sihir yang mereka buat menggunakan darah dari jari telunjuk mereka dan menyerang akar hutan yang melilit tuannya.
"Lepas, sialan!"
Wanita itu terus berontak tanpa bisa mengeluarkan kekuatannya untuk melawan. Entah kenapa seolah aliran mana dalam dirinya mendadak beku.
Tapi untungnya, sihir yang dikerahkan oleh para bawahannya berhasil merobek akar menjalar itu. Mereka sontak dengan sigap langsung terbang menjauh dari tanah dan segera mengambil jarak sejauh mungkin dari hutan Cana, sebelum akar itu kembali dan membekukan sumber sihir dalam diri mereka.
"Kenapa dengan hutan aneh itu?!"
"No-nona, sebaiknya kita tidak dekat-dekat dengan hutan itu lagi seperti perintah madam," seru salah satu bawahan dengan takut-takut semakin merusak suasana hati tuannya.
"Huh! Lihat saja nanti, jika aku berhasil mendapatkannya, hal pertama yang akan kumusnahkan adalah hutan sialan itu."
'Aku selalu bingung kenapa hutan itu sangat sensitif terhadap mana kami. Yang kudengar dari orang lain, hutan itu akan menyerang orang-orang yang menyerang hutan atau menggambil sesuatu dari hutan tanpa ijn. Tapi tadi aku tidak menggunakan sihirku untuk berusaha mengambil sesuatu atau menghancurkan hutan itu, kenapa mereka menyerangku sih?'