Langit di atas dataran utara tidak pernah benar-benar bersih. Di bawah kekuasaan Perguruan Pedang Langit, salju yang turun tidak berwarna putih suci, melainkan abu-abu pekat cenderung hitam, terkontaminasi oleh jelaga ribuan tungku penempaan baja dan pembakaran dupa energi yang tak pernah padam. Bagian luar sekte itu adalah hamparan lumpur beku yang dingin, tempat di mana kasta terendah manusia—para budak dan pekerja paksa—merangkak demi menyambung nyawa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Fragmentasi Takdir dan Gulungan Waktu Abadi
DENG!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Gelombang distorsi monokrom abu-abu meledak dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Seluruh dimensi Istana Langit Abadi sejauh lima puluh kilometer kehilangan seluruh warnanya secara absolut.
Pusaran meteor kosmis raksasa hasil gabungan kekuatan Dewa Matahari, Dewa Kegelapan, dan Maha Dewa Cahaya membeku kaku di angkasa. Lautan api matahari mengeras bagai hamparan kaca merah yang mati, badai kegelapan yang sanggup menelan galaksi berhenti berputar di udara hampa, dan pancaran cahaya penghakiman membatu laksana pilar-pilar kristal es monokrom di atmosfer.
Tiga Dewa Tertinggi di Ranah Penggulung Semesta terpaku kaku dalam posisi melepaskan jurus pamungkas mereka. Maha Dewa Hyperion mematung dengan lengan mekanis cahayanya yang masih terangkat di udara, sementara Dewa Matahari Surya dan Dewa Kegelapan Erebus membatu dengan urat-urat wajah ilahi mereka yang menegang kaku. Karena Kala kini berada di Ranah Dewa Sejati, fondasi jiwanya mampu memikul beban untuk menjeda waktu serangan tingkat universal ini selama beberapa saat.
Namun, seteguk besar darah emas bercampur perak menyembur dari mulut Kala. Retakan kosmis muncul di sekujur dadanya, memancarkan denyut energi naga purba yang bergolak liar menahan tekanan balik ruang semesta.
"Satu detik absolut..." bisik Kala parau dalam keheningan total semesta abu-abu. "Waktu yang cukup untuk merobek takhta kalian."
Kala tidak menyerang fisik mereka secara langsung. Sesuai dengan Hukum Sepuluh Senti yang telah mencapai kesempurnaan mutlak, mata kiri Black Hole Kala melebar secara ekstrem, berputar berlawanan arah jarum jam dengan kecepatan kosmis.
"Menelan Kehampaan Semesta!" raung Kala dalam batinnya.
Sebuah lubang hitam kosmis raksasa termaterialisasi tepat di bawah pusaran meteor kiamat yang membeku. Gaya tarik gravitasi nihilisme yang tak terbatas meluncur gila-gilaan, menarik paksa seluruh lautan api matahari, badai kegelapan, dan cahaya penghakiman yang membatu itu untuk melengkung dan terhisap masuk ke dalam satu titik konsentrasi energi di ujung pedang Kala. Seluruh esensi hukum konseptual alam milik ketiga Dewa Tertinggi dipadatkan secara ekstrem menjadi sebuah bola energi nihilisme absolut berukuran kepalan tangan yang berdenyut dengan warna hitam-emas-keperakan.
Kala menarik pedang Jian hitam berkilau emasnya—Bilah Sakral Kosmos—keluar sepenuhnya dari sarung kayu Yggdrasil. Di dalam bilahnya, bayangan spiritual Liana menyala terang benderang, menyatu dengan esensi naga purba Kronos dan energi kehidupan Pohon Akalbuana.
"Tebasan Nihilitas Kosmos: Penggulung Waktu Abadi!"
Kala mengayunkan pedangnya dalam satu tebasan horizontal yang sangat halus dan anggun. Tebasan itu tidak melepaskan gelombang energi biasa, melainkan membelah dan memotong seluruh garis takdir dan ruang dimensi Istana Langit Abadi secara absolut. Sebuah celah dimensi hitam raksasa memotong realitas, menembus langsung ke arah dada ketiga Dewa Tertinggi di dalam ruang waktu yang berhenti.
Setelah tebasan selesai, Kala mendorong kembali bilah tipisnya masuk ke dalam sarung kayu Yggdrasil dengan presisi mutlak.
KLIK.
Satu detik keheningan abadi berakhir. Waktu semesta Alam Atas kembali diputar dengan suara dentangan jam kosmis yang seolah memecah langit.
BOOOOOOOOOOMMMMMMMM!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Sebuah ledakan balik dari energi nihilisme absolut yang sejuta kali lebih padat meledak serentak, menghantam tubuh ketiga Dewa Tertinggi tanpa ampun. Gelombang kejut hitam-emas-keperakan itu menyapu seluruh Istana Langit Abadi laksana dinding kematian kosmis yang melaju secepat kilat.
"AAARRRGGGHHH!!!!!!!!!!!"
Maha Dewa Hyperion, Dewa Matahari Surya, dan Dewa Kegelapan Erebus melolong panjang dalam keputusasaan yang luar biasa. Tubuh ilahi mereka yang setinggi sepuluh meter retak-retak hebat sebelum akhirnya hancur lebur menjadi miliaran partikel abu kosmis yang beterbangan. Seluruh esensi hukum konseptual alam, keabadian dewa, dan silsilah takdir yang mereka kuasai runtuh total, terhapus sepenuhnya dari muka bumi dan langit abadi. Kompleks Istana Langit Abadi runtuh menjadi puing-puing kristal takdir tak berharga yang berjatuhan ke dalam samudra awan purba.
Di tengah runtuhnya singgasana langit, seluruh energi orisinal dari ketiga Dewa Tertinggi meluncur deras masuk ke dalam mata kiri Black Hole Kala.
DENG! DENG! DENG!
Aliran meridian jiwanya bergemuruh laksana dentangan jam raksasa alam semesta. Hambatan ranah tertinggi di dalam dirinya hancur berantakan. Mengasimilasi seluruh esensi energi Ranah Penggulung Semesta secara mutlak membuat basis kultivasi Kala melompat melampaui batas kedewaan, resmi menduduki Ranah Penggulung Semesta (Cosmic Emperor) Tingkat Puncak!
Kala kini telah menjadi penguasa absolut dari seluruh garis waktu dan ruang alam semesta.
Dia menutup kedua matanya sejenak, meredakan badai energi kosmis di dalam nadinya. Ketika dia membuka kembali pelupuk matanya, tidak ada lagi kain kasa hitam atau selaput putih yang mati. Kedua netra Black Hole miliknya kini memancarkan ketenangan kosmis yang bijaksana, memegang kendali penuh atas detak jam alam semesta.
Kala menarik pedang Jian hitamnya keluar beberapa senti. Di dalam bilahnya, cahaya emas suci memancar lambat, memperlihatkan wujud spiritual Putri Liana yang tersenyum dengan air mata kebahagiaan di pipinya.
"Kala... kau telah meruntuhkan langit..." bisik Liana lembut dari dalam dunia pedang.
Kala menatap puing-puing langit abadi yang runtuh, lalu mengalihkan pandangannya ke bawah—menembus awan, menembus perbatasan Benua Tengah, langsung mengarah ke Dataran Utara yang fana tempat perjalanannya dimulai. Dengan ranah Penggulung Semesta yang dia sandang sekarang, dia memiliki kekuatan untuk menulis ulang takdir yang baru.
Kala menggunakan mata kanan Black Hole-nya untuk memutar balik jarum jam takdir semesta. Dia memilih tidak menghapus ingatan dunia, melainkan menghapus sistem kedewaan yang korup. Jiwa Putri Liana dibangkitkan kembali ke dunia nyata dengan fisik yang utuh, terbebas dari rantai tumbal ritual para dewa. Di bumi bawah, Zian telah membangun era baru yang adil di Benua Tengah tanpa adanya penindasan klan suci.
Kala berjalan meniti samudra awan menuju dunia bawah, menggandeng erat tangan Liana yang telah kembali ke sisinya. Di pinggang kirinya, sarung pedang kayu Yggdrasil terikat kokoh, menyimpan Bilah Sakral Kosmos yang kini telah menjadi pelindung kedamaian abadi.
Skenario penderitaan yang ditulis oleh langit telah dihancurkan, dan Sang Dewa Waktu yang baru telah memilih jalannya sendiri—hidup sebagai penguasa yang memegang kendali penuh atas setiap detik kebahagiaan di waktunya sendiri.
TAMAT