NovelToon NovelToon
Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Awan

elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12

Angin Perubahan di Rumah Sakit

“Besok datang tiga puluh menit lebih awal,” kata Bu Ratna begitu Nan Shin menerima telepon.

Nan Shin masih berdiri di dekat meja makan, sementara kunci laci terasa dingin di tangannya.

“Ada perubahan jadwal, Bu?”

“Bukan jadwal.” Bu Ratna berhenti sebentar. Di seberang telepon terdengar pintu ditutup. “Manajemen baru selesai rapat. Saya belum boleh menjelaskan sebelum pengumuman resmi dipasang, tapi semua kepala unit diminta mengumpulkan data pegawai.”

“Data karyawan tetap dan kontrak?”

Keheningan pendek menjadi jawaban sebelum Bu Ratna berkata, “Besok saja kita bicara. Jangan tulis apa pun di grup.”

Sambungan berakhir. Nan Shin memandang layar ponsel yang kembali gelap.

Ia tidak membuka buku biru lagi malam itu. Namun sepanjang tidur yang putus-putus, kolom terakhir di dalamnya terus terbayang: sisa uang pribadi.

Pagi berikutnya, lorong menuju ruang ganti RSUD Serpong Utama lebih ramai daripada biasanya. Beberapa perawat berdiri dalam kelompok kecil. Percakapan berhenti setiap kali seorang kepala unit atau pegawai administrasi lewat.

Di depan mesin absensi, Suster Dewi menempelkan jarinya dua kali karena pemindai gagal membaca.

“Katanya ada penggabungan unit,” bisiknya ketika Nan Shin mendekat.

Suster Ayu yang berdiri di belakang mereka langsung menyahut, “Aku dengar justru pengurangan tenaga.”

“Dari siapa?”

“Teman di farmasi.”

Dewi mendengus pelan. “Teman farmasi bilang ke teman laboratorium, teman laboratorium bilang ke kamu. Itu namanya bukan informasi.”

“Tapi surelnya memang soal efisiensi.”

Dewi menurunkan suara. “Kalau benar ada pengurangan, menurutmu siapa yang dilihat dulu?”

Ayu melirik kartu identitas mereka. “Yang kontrak.”

“Jangan menebak sebelum pengumuman,” kata Nan Shin.

“Kakak sendiri ditelepon Bu Ratna,” ujar Ayu. “Pasti ada yang sudah diketahui kepala unit.”

“Yang saya tahu hanya data pegawai diminta. Jangan membuat ketakutan baru dari kalimat yang belum ada.”

Dewi mengusap jarinya sebelum mencoba mesin sekali lagi. “Mudah bilang jangan takut kalau nama kita tetap bisa hilang dari jadwal.”

Nan Shin menatap tulisan kontrak di layar. “Saya tidak bilang jangan takut. Saya bilang simpan semua dokumen dan tunggu informasi yang bisa diperiksa.”

Lampu mesin absensi berubah hijau. Nama Nan Shin muncul di layar bersama tulisan karyawan kontrak yang selama ini jarang ia perhatikan.

Hari itu dua kata tersebut terasa seperti tanda yang dipasang tepat di dahinya.

Di ruang ganti, seorang perawat muda yang belum pernah bekerja satu shift dengannya sedang merapikan jilbab di depan cermin. Kartu identitasnya masih bersih. Pada bagian nama tertulis Putri Lestari.

“Suster Putri, ya?” tanya Nan Shin.

Perempuan itu segera berbalik. “Iya, Suster. Saya baru selesai orientasi. Minggu ini mulai ikut jadwal IGD.”

“Saya Nan Shin.”

“Saya tahu.” Putri tersenyum canggung. “Bu Ratna bilang kalau bingung alur, saya bisa tanya Suster Nan Shin.”

“Kamu sebelumnya ditempatkan di mana?”

“Baru selesai orientasi umum. Ini penempatan pertama saya.”

“Kalau begitu jangan malu bertanya. IGD bukan tempat untuk menebak.”

Putri mengangguk. “Saya takut malah memperlambat tim.”

“Lebih baik bertanya tiga kali daripada membuat satu tindakan yang tidak aman.”

“Baik, Suster. Saya catat.”

Kalimat itu seharusnya terdengar sebagai pengakuan atas pengalamannya. Namun di tengah rumor yang beredar, Nan Shin justru memperhatikan betapa baru kartu identitas Putri dan betapa percaya dirinya rumah sakit memberi tempat kepada orang yang baru datang.

Ia segera menepis pikiran itu. Putri tidak melakukan kesalahan apa pun.

“Nanti saya tunjukkan letak peralatan emergensi,” jawabnya. “Di IGD, hafalkan itu dulu sebelum yang lain.”

“Baik, Suster.”

Saat serah terima, suasana tidak menjadi lebih tenang. Jumlah pasien tetap banyak, tetapi perhatian orang mudah pecah setiap kali telepon meja berbunyi. Seorang perawat dari unit lain datang dengan alasan mengambil formulir, lalu bertanya apakah Bu Ratna sudah menerima daftar baru.

Bu Ratna menutup map di tangannya.

“Kalau ada informasi resmi, saya sampaikan. Sekarang pasien tetap harus dilayani.”

Nada suaranya tegas, tetapi garis di antara alisnya tidak mengendur.

Nan Shin menangani seorang perempuan dengan nyeri dada, lalu membantu Ayu memasang jalur infus pada pasien dehidrasi. Ketika Putri salah mengambil ukuran manset tekanan darah, Nan Shin mengembalikannya tanpa mempermalukan.

“Untuk lengan sebesar ini, pakai yang lebih lebar. Kalau terlalu kecil, hasilnya bisa tampak lebih tinggi.”

Putri segera mengganti. “Terima kasih, Suster.”

Di belakang mereka, dua pegawai membicarakan masa kerja.

“Aku sudah tetap sejak tiga tahun lalu.”

“Kalau tetap harusnya aman, kan?”

“Siapa yang tahu?”

Percakapan itu berakhir ketika Nan Shin melintas. Salah satu dari mereka menunduk, seolah baru menyadari status yang tercetak pada kartu Nan Shin berbeda dari milik mereka.

Menjelang makan siang, Kak Sri menemukan Nan Shin sedang mengisi catatan obat di meja perawat.

“Kamu ditelepon Bu Ratna semalam?” tanyanya pelan.

Nan Shin menoleh. “Kak juga?”

“Pagi tadi. Saya diminta pastikan semua dokumen kontrak lengkap.” Kak Sri menarik kursi, tetapi tidak duduk. “Kontrak saya habis dua bulan lagi.”

“Punya saya akhir tahun.”

“Dua belas tahun, ya?”

Nan Shin mengangguk.

Kak Sri memandang daftar pasien di meja. “Dulu kita pikir kalau kerja bagus, kontrak akan terus diperpanjang sampai ada kesempatan jadi tetap.”

“Ternyata diperpanjang terus juga bukan berarti aman.”

Mereka sama-sama diam. Dari bed enam terdengar bel panggil. Kak Sri pergi lebih dulu, dan percakapan tentang masa depan terputus oleh kebutuhan pasien, seperti hampir semua urusan pribadi para perawat.

Pukul dua, seorang petugas administrasi datang membawa selembar kertas berlogo rumah sakit. Bu Ratna menerima dan membacanya di depan meja perawat. Wajahnya tidak berubah, tetapi jemarinya menekan tepi kertas terlalu kuat.

“Apa itu, Bu?” tanya Dewi.

“Pemberitahuan sosialisasi restrukturisasi.”

Ayu berhenti menulis. Putri yang sedang menyusun kasa ikut menoleh.

“Kapan?”

“Lusa. Perwakilan HRD akan menjelaskan kebijakan dan tahapan evaluasi.” Bu Ratna memasukkan kertas ke map. “Saya tempel setelah mendapat paraf kepala pelayanan.”

Ayu mengangkat tangan setengah. “Bu, kami boleh menyiapkan pertanyaan?”

“Boleh. Tulis yang spesifik.”

Dewi menatap map itu. “Status kontrak akan dibahas terpisah?”

“Pengumumannya belum menjelaskan. Tanyakan di forum, jangan mencari jawaban dari foto yang beredar.”

Putri berkata pelan, “Pegawai baru juga harus hadir?”

“Semua pegawai hadir sesuai pembagian waktu. Tidak ada yang boleh meninggalkan pasien demi mengejar kursi rapat.”

Berita itu bergerak lebih cepat daripada brankar. Dalam satu jam, orang dari radiologi, farmasi, dan laboratorium sudah tahu. Ada yang tertawa terlalu keras dan menyebutnya sekadar pembaruan struktur. Ada yang mulai menghitung sisa cuti. Ada pula yang diam-diam membuka portal lowongan kerja di ponsel.

Nan Shin tetap menyelesaikan tugasnya. Ia memeriksa ulang obat, mengantar pasien ke ruang observasi, dan mengisi laporan insiden. Namun setiap melewati kaca jendela, ia melihat pantulan kartu identitas di dadanya.

Karyawan kontrak.

Sore hari, kertas pengumuman akhirnya ditempel di papan dekat ruang rapat. Selotip bening belum menempel sempurna ketika para pegawai mulai berkumpul.

Nan Shin berdiri di baris belakang bersama Kak Sri. Ayu dan Dewi membaca dari samping. Putri berada beberapa langkah di depan, tubuhnya kaku di antara orang-orang yang baru dikenalnya.

Judul pengumuman ditulis dengan huruf besar: Sosialisasi Penataan Sumber Daya Manusia dan Efisiensi Layanan.

Paragraf pertama berisi alasan umum tentang mutu, beban biaya, dan kebutuhan organisasi. Paragraf kedua menjanjikan proses objektif berdasarkan kinerja, status kepegawaian, dan kebutuhan unit.

Ketika kerumunan mulai bubar, Nan Shin menahan Bu Ratna di dekat pintu ruang rapat.

“Bu, masa kerja tetap dihitung, kan?”

Bu Ratna melihat ke arah lorong sebelum menjawab. “Semua data diminta, termasuk masa kerja, penilaian, dan catatan kedisiplinan.”

“Tapi status kontrak diperiksa lebih dulu.”

“Itu yang tertulis.”

“Saya sudah dua belas tahun di sini.”

Rahang Bu Ratna mengeras. “Saya tahu. Kalau hanya saya yang menilai, saya nggak perlu membuka berkas untuk tahu siapa yang paling dibutuhkan IGD.”

Harapan kecil sempat naik di dada Nan Shin.

Lalu Bu Ratna menambahkan, “Tapi keputusan bukan di tangan saya. Saya akan menyampaikan data apa adanya. Lebih dari itu, saya belum bisa janji.”

Nan Shin mengangguk. Ia tidak meminta janji lagi.

Sebelum pergi, Nan Shin menoleh sekali lagi pada baris terakhir.

Karyawan kontrak akan menjadi prioritas evaluasi.

1
Lili Inggrid
tetap semangat...
Ika Kirana
terlalu lambat alur ny thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!