Sinopsis
Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.
Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.
Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasta berbeda!
Malam itu terasa begitu panjang dan menyiksa bagi Sabrina. Di dalam kamar kosnya yang remang, ia duduk melamun di tepi ranjang, menatap layar ponsel yang menyala terang.
Dengan jemari yang masih bergetar hebat, ia mengetikkan pesan singkat untuk Julian.
"Kak Julian, besok kita bisa ketemu? Ada hal penting yang harus aku bicarakan sama kak Julian."
Tak perlu waktu lama sampai ponselnya bergetar membalas pesan tersebut.
"Besok pagi aku nggak bisa jemput kamu ya, Sab. Soalnya aku ada urusan dulu, baru ke kampus agak siangan. Nanti kita ketemu di kampus aja habis jam kuliah Kakak selesai."
Sabrina hanya menatap balasan itu dengan dada yang makin sesak. Ia memeluk lututnya, tak sanggup membayangkan bagaimana ia harus menyampaikan kenyataan pahit ini besok.
Keesokan harinya, sesuai kesepakatan, Sabrina melangkah menyusuri koridor kampus menuju gedung fakultas Julian.
Langkah kakinya terasa amat berat, beradu dengan rasa mual dan pusing yang terus bergejolak di perutnya.
Setelah jam kuliah pertamanya sendiri selesai, Sabrina bergegas menuju depan ruang kelas Julian untuk menunggu.
Ia berdiri di dekat pilar koridor, meremas tali tasnya erat-erat untuk menyembunyikan tangannya yang dingin dan gemetar.
Tak lama kemudian, jam kuliah pertama di kelas Julian berbunyi. Pintu kayu berukuran besar itu terbuka lebar, dan gelombang mahasiswa mulai berhamburan keluar.
Kelas Julian terkenal diisi oleh anak-anak dari kalangan berada, jajaran mahasiswa berpenampilan modis dengan barang-barang bermerek dari atas kepala hingga ujung kaki.
Begitu melangkah keluar, pandangan mereka langsung tertuju pada Sabrina yang berdiri menyendiri.
Seketika, suasana di koridor itu berubah. Lirikan-lirikan tajam, dingin, dan penuh penghakiman terarah padanya.
Terutama dari deretan mahasiswi berpenampilan elegan yang berjalan bergerombol. Mereka menatap Sabrina dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan cemoohan yang begitu jelas terpancar dari mata mereka.
"Lihat deh, si kampungan itu ngapain berdiri di depan kelas kita?" bisik salah seorang gadis berambut panjang bergelombang dengan tas desainer di bahunya, cukup keras untuk didengar Sabrina.
"Palingan nungguin Julian lagi. Kasihan ya, nggak tahu diri banget maksa masuk ke lingkaran yang beda level," sahut temannya seraya menyunggingkan senyum sinis yang menyakitkan.
Tawa kecil bernada ejekan terdengar berbisik-bisik di antara mereka. Laki-laki di kelompok itu pun hanya menatap Sabrina dengan pandangan merendahkan, seolah Sabrina adalah ketidakcocokan yang mengganggu pemandangan indah koridor fakultas mereka yang mewah.
Sabrina menundukkan kepalanya dalam-dalam. Rona merah akibat rasa malu membakar pipinya yang pucat, berbaur rapat dengan rasa takut yang sudah melilit dadanya sejak semalam.
Ia merasa begitu kerdil, rapuh, dan terasing di antara orang-orang berbaju mahal itu. Baju sweater sederhananya terasa bagai kostum yang memperjelas kasta di antara mereka.
Dari balik pintu kelas yang terbuka separuh, Rian yang duduk berdampingan dengan Julian. Rian menepuk bahu Julian cukup keras, menyunggingkan senyum jenaka yang penuh nada ejekan saat matanya menangkap sosok wanita yang berdiri menyendiri di dekat pilar koridor luar melalui kaca pintu.
"Lian, tuh... selingan lu lagi nungguin di depan kelas," cetus Rian santai setengah berbisik, diiringi nada meremehkan yang amat jelas.
Julian menghentikan gerakan tangannya yang sedang merapikan barang-barang di atas meja. Kalimat Rian mengudara begitu saja, menggantung tebal di antara mereka berdua di dalam ruangan yang mendadak hening itu.
Sementara di luar, Sabrina yang berdiri tak jauh dari pintu beruntung tidak mendengar gurauan kejam itu.
Namun, dari raut wajah Rian yang sedang menyeringai ke arahnya dari balik kaca, Sabrina bisa merasakan suasana dingin yang kembali meremas dadanya.
Dengan mata yang mulai memerah dan dada yang bergemuruh hebat, ia hanya bisa mematung, menanti respons dan langkah Julian keluar dari dalam kelas.
Tak lama kemudian, Julian melangkah keluar dari kelas. Pandangannya langsung bertabrakan dengan mata Sabrina.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun atau menyapa, raut wajah Julian tampak berkerut tak suka, merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian beberapa orang yang masih berlalu-lalang di koridor.
Tanpa membuang waktu, Julian meraih pergelangan tangan Sabrina cukup kencang.
"Kak..." Kata Sabrina terkejut.
Julian tak membalas. Ia segera menarik Sabrina menjauh dari depan kelas, mengabaikan langkah kaki Sabrina yang sempat terseret karena terburu-buru.
Pria itu menuntunnya membelah koridor, menjauh dari kerumunan mahasiswa kaya yang masih tersisa, lalu mendorong pintu besi tebal menuju area tangga darurat.
Pintu besi tertutup rapat, menyisakan keheningan yang dingin dan bergaung di area tangga yang sepi.
Julian melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan Sabrina, lalu berbalik menatap Sabrina.
"Kamu ngapain sih nungguin di depan kelas kayak gitu, Sab? Kan aku udah bilang nanti bisa ketemuan," ucap Julian dengan nada tertahan, menunjukkan rasa risihnya yang amat sangat.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa wajahmu pucat gitu?"
Sabrina berdiri mematung di anak tangga. Tangannya yang dingin meremas ujung baju sweaternya kuat-kuat, berjuang mengumpulkan keberanian di tengah jantungnya yang berdegup bagai dihantam palu.
"Maaf... Maaf ya, Kak," bisik Sabrina pelan. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, menahan seluruh rasa sesak yang bergemuruh di dadanya.
Meski matanya memerah dan raut wajahnya amat pucat, ia berjuang keras menahan diri agar air matanya tidak menetes.
"Aku cuma mau ngomong sama Kakak."
Melihat raut wajah Sabrina yang begitu tegang, rasa gusar di wajah Julian perlahan mengendur.
Sorot matanya yang tadi tajam dan penuh kekesalan berubah menjadi sedikit luluh. Bagaimanapun juga, ia belum pernah melihat Sabrina setegang dan bingung ini.
Julian menghela napas panjang, mencoba meredakan emosinya sendiri. Ia melangkah satu tapak mendekati Sabrina, lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap pelan bahu gadis itu.
"Ya udah, maaf ya... Aku tadi cuma kaget aja kamu mendadak nunggu di depan kelas," ucap Julian dengan nada yang jauh lebih lembut dari sebelumnya, berusaha menenangkan.
"Sekarang coba bilang sama, ada masalah apa sebenarnya? Kenapa wajah kamu pucat banget gini?"
Julian menatap Sabrina lebih lekat, memperhatikan betapa pucatnya bibir Sabrina di hadapannya itu. Sorot matanya yang kini melembut memancarkan sedikit rasa khawatir.
"Kamu masih nggak enak badan ya?" tanya Julian pelan, mengulang ingatan tentang kondisi Sabrina yang beberapa hari terakhir memang sempat mengeluh lemas karena masuk angin.
Ia mengusap lengan Sabrina lembut, mencoba memberikan rasa nyaman.
"Kamu kalau masih sangat, istirahat aja dulu di kosan, nggak usah paksain ke kampus kalau masih lemas gini. Kamu udah minum obat atau makan sesuatu belum siang ini?"
Sabrina mendongak perlahan. Pertanyaan perhatian dari Julian terasa seperti sembilu yang makin meremas dadanya.
Bibirnya gemetar, ingin rasanya ia langsung berteriak bahwa rasa mual dan lemas yang ia alami bukan sekadar sakit biasa, melainkan awal dari bencana yang kini harus mereka hadapi bersama.