Chu Xuan menjadi orang pertama dalam sejarah yang menolak reinkarnasi.
Karena murka, utusan akhirat mengutuknya untuk menjalani delapan belas tahun kehidupan yang penuh penderitaan di dunia kultivasi tanpa bakat, tanpa kekayaan, dan tanpa harapan.
Setelah kehilangan satu-satunya keluarga yang membesarkannya dan hidup sendirian selama tiga tahun di sebuah kuil tua yang hampir roboh, Chu Xuan akhirnya disambar petir pada usia delapan belas tahun.
Hari itu, seluruh dunia kultivasi tidak mengetahui satu hal:
Orang paling malas di dua dunia akhirnya memperoleh kekuatan untuk menjadi tak terkalahkan.
Namun, Chu Xuan hanya memiliki satu tujuan.
Memperbaiki atap Kuil Qingfeng.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 — Seorang Tabib?
"Berhenti!"
Dua penjaga menyilangkan tombak mereka di depan gerbang kediaman Penguasa Kota.
Tatapan mereka penuh kewaspadaan.
"Siapa Anda?"
Avatar Chu Xuan berhenti.
Jubah putihnya berkibar pelan tertiup angin.
Sepasang mata emasnya menatap kedua penjaga itu dengan tenang.
"Aku."
"Datang untuk menyembuhkan."
Suasana mendadak hening.
Kedua penjaga saling berpandangan.
Menyembuhkan?
Belum sempat mereka berbicara...
Seorang pelayan berlari keluar dari dalam kediaman.
"Wakil Komandan!"
"Tuan Putri memerintahkan siapa pun yang mengaku mampu mengobati Tuan Kota agar segera dipersilakan masuk!"
Kedua penjaga langsung menarik tombak mereka.
"Silakan, Senior."
Avatar Chu Xuan melangkah masuk tanpa sepatah kata lagi.
Di aula utama...
Lebih dari dua puluh tabib dan alkemis berkumpul.
Wajah mereka muram.
Tak satu pun berhasil menemukan cara menyembuhkan Penguasa Kota.
Di sisi ranjang...
Seorang wanita cantik berusia sekitar empat puluh tahun menggenggam tangan suaminya dengan erat.
Matanya sembab karena terus menangis.
Dialah...
Nyonya Kota Canglan.
Di sampingnya berdiri seorang gadis cantik mengenakan pakaian biru muda.
Meski wajahnya dipenuhi kelelahan...
Tatapannya tetap tegar.
Ia adalah putri tunggal Penguasa Kota.
Sejak ayahnya jatuh sakit...
Hampir seluruh Kota Canglan telah ia datangi demi mencari orang yang mampu menyelamatkannya.
Namun...
Hasilnya selalu sama.
Gagal.
Saat itulah...
Seorang pelayan berlari masuk.
"Nyonya!"
"Tuan Putri!"
"Ada seseorang yang datang."
"Katanya..."
"...dia bisa menyembuhkan Tuan Kota."
Mata sang putri langsung berbinar.
"Benarkah?"
"Di mana dia?"
Belum sempat pelayan menjawab...
Langkah kaki perlahan terdengar dari luar aula.
Tap...
Tap...
Tap...
Semua orang menoleh bersamaan.
Seorang pria berjubah putih memasuki ruangan dengan langkah tenang.
Rambut putih panjang.
Wajah tampan tanpa cela.
Sepasang mata emas yang membuat siapa pun enggan menatap terlalu lama.
Beberapa tabib langsung mengernyit.
"Anak muda?"
"Dia tabib?"
"Mustahil."
Salah seorang alkemis tua mendengus.
"Hmph!"
"Kami yang telah mempelajari alkimia selama puluhan tahun saja tidak mampu."
"Lalu seorang pemuda datang dan berkata bisa menyembuhkan?"
"Konyol."
Tabib lain ikut menggeleng.
"Anak muda."
"Jangan mempermalukan dirimu sendiri."
"Tuan Kota tidak bisa dijadikan bahan lelucon."
Avatar Chu Xuan tidak menoleh sedikit pun.
Seolah-olah...
Ucapan mereka bahkan tidak layak didengar.
Ia terus berjalan menuju ranjang Penguasa Kota.
Sikap acuh tak acuh itu justru membuat beberapa tabib memerah karena marah.
"Berhenti!"
"Siapa yang mengizinkanmu mendekat?"
Sebelum suasana semakin memanas...
Sang putri mengangkat tangan.
"Cukup."
Semua langsung terdiam.
Ia menatap pria berjubah putih itu dengan penuh harapan.
"Senior..."
"Apakah Anda benar-benar mampu menyelamatkan ayah saya?"
Avatar Chu Xuan akhirnya berhenti.
Tatapan mata emasnya beralih kepada Penguasa Kota yang terbaring lemah.
Lalu...
Ia mengucapkan empat kata dengan nada datar.
"Bukan penyakit."
"Melainkan racun."
Empat kata itu membuat seluruh aula terdiam.
Beberapa tabib saling berpandangan.
Sesaat kemudian...
Seorang alkemis tua tertawa dingin.
"Omong kosong!"
"Kalau benar racun..."
"Bagaimana mungkin kami semua tidak mengetahuinya?"
Tabib lain ikut mengangguk.
"Benar."
"Kami sudah memeriksa berkali-kali."
"Tak ada jejak racun."
Avatar Chu Xuan tetap berdiri tenang.
Tatapan mata emasnya tidak pernah berubah.
Ia hanya mengucapkan satu kalimat.
"Kalian."
"Terlalu lemah."
Seketika...
Wajah seluruh tabib memerah karena marah.
"Kurang ajar!"
"Berani menghina kami!"
Aura beberapa kultivator langsung meledak.
Namun...
Sebelum mereka sempat melangkah...
Putri Penguasa Kota berdiri di depan Avatar Chu Xuan.
"Cukup!"
"Selama masih ada secercah harapan..."
"Aku akan mencobanya."
Ruangan kembali sunyi.
Nyonya Kota menatap pria berjubah putih itu dengan mata yang masih basah oleh air mata.
"Senior..."
"Aku mohon."
"Selamatkan suamiku."
Avatar Chu Xuan tidak menjawab.
Ia melangkah hingga berada tepat di samping ranjang.
Tatapan matanya menyapu tubuh Penguasa Kota.
Dalam sekejap...
Segalanya menjadi jelas.
【Racun Pemutus Nadi Yin】
【Racun tingkat tinggi】
【Menyebar melalui meridian dan menggerogoti lautan qi sedikit demi sedikit.】
【Sisa waktu hidup target: Kurang dari satu jam.】
Chu Xuan mengangkat tangan kanannya.
Seluruh tabib menahan napas.
Mereka ingin melihat teknik seperti apa yang akan digunakan.
Namun...
Avatar hanya meletakkan satu jari di dahi Penguasa Kota.
Satu sentuhan.
Dalam sekejap...
Setetes cairan hitam keluar dari ujung jari Penguasa Kota.
Lalu...
Berubah menjadi asap hitam dan lenyap.
【Racun berhasil dimusnahkan.】
Avatar menarik kembali tangannya.
"Selesai."
Satu kata.
Sesederhana itu.
Seluruh aula terdiam.
Para tabib buru-buru memeriksa nadi Penguasa Kota.
Semakin lama mereka memeriksa...
Semakin pucat wajah mereka.
"Ini..."
Alkemis tua yang tadi paling keras membantah kini gemetar.
Ia telah mempelajari racun selama puluhan tahun.
Namun...
Ia bahkan tidak mampu mendeteksi keberadaan racun itu.
Sementara pria berjubah putih ini...
Hanya membutuhkan satu sentuhan.
Tak lama kemudian...
Kelopak mata Penguasa Kota perlahan bergerak.
"Istri..."
Suara lemah itu terdengar di seluruh ruangan.
Nyonya Kota membekap mulutnya.
Air matanya kembali mengalir.
"Suami!"
Ia segera menggenggam tangan suaminya.
Putri Penguasa Kota juga tak mampu lagi menahan air mata.
"Ayah!"
Penguasa Kota membuka mata perlahan.
Tatapannya masih sedikit bingung.
"Aku..."
"Apa yang terjadi?"
Nyonya Kota tersenyum sambil menangis.
"Anda selamat..."
"Senior itu yang menyelamatkan Anda."
Penguasa Kota mengikuti arah pandangan istrinya.
Di ujung ruangan...
Avatar Chu Xuan sudah membalikkan badan.
Seolah-olah menyembuhkan Penguasa Kota hanyalah perkara sepele.
"Senior!"
Penguasa Kota berusaha bangkit.
Namun Avatar tidak berhenti.
Langkahnya tetap tenang menuju pintu keluar.
Pada saat yang sama...
Di luar kediaman.
Seorang Pengawal Bayangan Keluarga Han berlari dengan wajah pucat.
"Tidak baik!"
"Racun Tuan Kota..."
"Sudah disembuhkan!"
Berita itu bagaikan petir yang menyambar seluruh Keluarga Han.
Tetua Han yang mendengarnya langsung menghancurkan meja di depannya hingga menjadi serpihan.
"Mustahil!"
"Itu racun yang kami peroleh dengan harga sangat mahal!"
"Siapa sebenarnya..."
"...pria berjubah putih itu?"
Bersambung...