NovelToon NovelToon
Diantara Kita

Diantara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dunia Masa Depan
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: MonAmour19

Diantara kita hanya ada kebaikan saja? tidak ada harapan untukku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MonAmour19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semakin sulit untuk biasa saja (17)

Pagi itu dimulai seperti hari-hari sebelumnya. Jam weker berbunyi tepat pukul lima. Langit di luar jendela masih diselimuti warna kebiruan, sementara udara pagi terasa cukup dingin.

Biasanya, pagi menjadi waktu yang paling menenangkan bagi naya. Namun, sejak Minggu lalu, ada satu kebiasaan baru yang diam-diam mengganggu ketenangannya itu.

Begitu membuka mata, ingatan naya langsung menuju seseorang.

Yaitu, Arga.

Bukan karena ada pesan, bukan karena ada janji.

Hanya karena nama itu akhir akhir ini sering muncul begitu saja, seolah sudah menjadi bagian dari rutinitasnya, Naya mengusap wajahnya pelan.

"Kenapa jadi begini sih..." Gumaman itu hilang bersama embusan napas panjang naha.

Kemarin dirinya tidak terlalu seperti ini, karena dia pikir Arga akan melupakannya begitu saja setelah rapat festival seni itu, namun pikirannya salah, Arga terlalu memperhatikan nya akhir akhir ini, membuat harapan-harapan kecil itu muncul begitu saja.

Setelah bersiap, Naya berangkat ke sekolah seperti biasa.

"Selamat pagi!" Tasya sudah menunggu di depan gerbang sambil melambaikan tangan.

"Pagi." sapa Naya kembalj

"Kamu kelihatan ngantuk."

"Tidur agak malam."

"Ngerjain tugas?"

"Iya..." Jawaban itu terdengar meyakinkan.

Padahal semalam bukan tugas yang membuat mata naya sulit terpejam. Melainkan bayangan Minggu pagi yang terus berputar di kepalanya. obrolan sederhana, tawa kecil, masih teringat olehnya.

Dan kalimat...

*"Berarti minggu depan ketemu lagi."*

"Nay." panggil Tasya membuat Naya menoleh

"Hm?"

"Kamu senyum." Refleks tangan naya langsung menyentuh bibirnya.

"Hah?"

"Tuh, senyum lagi."

"Nggak kok."

"Iya."

"Nggak." Tasya hanya tertawa kecil.

"Oke, kalau kata kamu nggak." Entah kenapa, tawa itu membuat Naya merasa sedikit gugup.

Pelajaran pertama berlangsung cukup tenang, guru menjelaskan materi di depan kelas, sementara seluruh siswa sibuk mencatat.

Hari ini Naya benar-benar memaksakan dirinya untuk fokus, tidak melamun, tidak memikirkan hal lain.

Setiap kali pikirannya mulai berkelana, perhatiannya segera dikembalikan ke papan tulis.

"Akhirnya bisa konsentrasi juga." diatersenyum tipis pada dirinya sendiri, ternyata tidak sesulit yang dibayangkan.

Bel pergantian jam berbunyi, beberapa teman keluar kelas, suasana kembali riuh.

"Naya." Seorang teman sekelas menghampiri dirinya.

"Guru minta daftar hadir ini diantar ke ruang OSIS."

"Oh, sekarang?"

"Iya."

"Yaudah." Map itu diterima, lalu Naya melangkah menuju gedung sebelah, lorong menuju ruang OSIS cukup sepi, hanya terdengar suara kipas angin dari beberapa kelas yang pintunya terbuka, sesampainya di depan ruang OSIS, pintu terlihat sedikit terbuka.

"Permisi..." Belum sempat Naya melangkah masuk, suara seseorang terdengar dari dalam.

"Masuk aja." Naya mendorong pintu perlahan. Di dalam ruangan hanya ada dua orang. Arga dan Steven.

Steven sedang duduk di depan laptop, sementara Arga terlihat merapikan beberapa berkas di atas meja.

"Oh, Naya." Arga tersenyum seperti biasa.

"Bu Guru nitip daftar hadir."

"Boleh sini." Map itu diberikan kepada Arga.

"Terima kasih."

"Iya." ucap Naya sambil tersenyum kecil

Steven yang sejak tadi memperhatikan akhirnya ikut menyapa.

"Halo."

"Halo, Kak." Steven melirik Arga sebentar, lalu kembali melihat Naya.

"Kemarin jogging lagi?" Pertanyaan itu membuat Naya sedikit terkejut.

"Iya."

"Rajin juga." Sebelum sempat menjawab, Arga lebih dulu menyela.

"Dia memang rajin." Kalimat itu terdengar biasa. Namun entah mengapa, jantung Naya kembali berdetak sedikit lebih cepat.

"Padahal baru mulai kok."

"Kalau bisa konsisten, berarti rajin." Arga mengucapkannya sambil tetap membereskan berkas.

Tidak terdengar seperti pujian berlebihan, hanya ucapan sederhana, tetapi cukup untuk membuat pipi Naya terasa hangat, Steven memperhatikan mereka bergantian, xudut bibirnya terangkat tipis, seolah menyadari sesuatu.

"Oke, makasih ya udah nganter."

"Iya, Kak."

Naya berpamitan lalu keluar dari ruang OSIS.

Begitu pintu tertutup, langkahnya tidak langsung dipercepat, justru melambat.

Tangan nya tanpa sadar menyentuh dada sendiri dan berkata pada dirinya sendiri "Tenang..."

Tidak ada yang istimewa.

Hanya bertemu sebentar.

Hanya mengantar map.

Tidak lebih.

Lalu, kenapa detak jantung nyaa masih belum kembali normal? Di sisi lain, Steven menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Tuh, kan." Arga mengangkat kepalanya.

"Kenapa?" tanyanya

"Nggak ada."

"Ngomong aja." Steven terkekeh pelan.

"Kalian lumayan sering ketemu, ya." Arga mengangguk santai.

"Iya."

"Jogging masih lanjut?"

"Minggu depan."

"Wah."

"Wah apanya?" Steven hanya tersenyum tanpa menjawab.

Baginya, semua itu mungkin memang kebetulan. Namun sebagai sahabat, ia mulai melihat satu hal yang belum disadari Arga.

Setiap kali nama Naya disebut, ekspresi Arga selalu berubah sedikit lebih hangat. Sementara Arga sendiri masih menganggap semuanya berjalan seperti biasa.

Dari awal, Arga sendiri memang tidak terlalu kenal Naya, namun berbeda dengan Naya yang sudah lama memperhatikan nya dan menyukainya sudah cukup lama dengan pikirannya yang hanya menyukai arga biasa saja.

...

Jam istirahat kedua menjadi waktu yang paling ditunggu banyak siswa.

Koridor kembali dipenuhi suara langkah kaki dan obrolan yang saling bersahutan. Sebagian bergegas ke kantin, sebagian lagi memilih tetap di kelas karena masih sibuk menyelesaikan tugas.

"Nay." Tasya menarik pelan lengan baju Naya.

"Ke perpustakaan, yuk." ajaknya

"Perpustakaan?" tanya Naya

"Iya. Cari referensi buat tugas sejarah." jawab Tasya membuat Naya mengangguk.

"Boleh, ayok."

Mereka berjalan menuju gedung perpustakaan yang letaknya tidak jauh dari taman sekolah, suasananya jauh lebih tenang dibanding kantin, hanya terdengar suara pendingin ruangan dan beberapa siswa yang berbicara dengan nada pelan.

Tasya langsung menuju rak buku sejarah, sementara Naya berdiri memperhatikan deretan buku di depannya.

"Nemu belum?" tanya Tasya.

"Belum." jawab Naya membuat Tasya menghela napas

"Cari yang tentang pergerakan nasional."

"Iya." Jari-jari nya menyusuri punggung buku satu per satu.

Saat hendak mengambil sebuah buku di rak paling atas, tangan lain lebih dulu meraihnya.

"Buku yang ini?" Suara itu sangat familiar, Naya menoleh Arga berdiri di samping sambil memegang buku yang tadi ingin diambil, entah kebetulan atau tidak, tapi Naya akhir akhir ini sering sekali berpapasan dengan Naya.

"Kak..."

"Ketinggian, ya?" Sedikit malu, Naya mengangguk.

"Iya." Arga menyerahkan buku itu.

"Nih."

"Terima kasih."

"Sama-sama." Ternyata Arga juga sedang berada di perpustakaan. Di tangannya ada beberapa buku tentang kepemimpinan dan manajemen organisasi.

"Lagi cari bahan buat rapat OSIS?" tanya Naya.

"Iya."

"Minggu depan ada program baru."

"Oh..." Pembicaraan mereka sebenarnya biasa saja.

Singkat.

Sederhana.

Namun entah kenapa, setiap kali berbicara dengan Arga, waktu seolah berjalan sedikit lebih lambat.

"Eh." Arga memperhatikan sampul buku yang dibawa Naya.

"Itu tugas sejarah?"

"Iya."

"Kalau yang itu kurang lengkap."

"Hah?"

"Coba yang warna biru di rak sebelah." Arga berjalan beberapa langkah, lalu mengambil satu buku lain.

"Ini lebih banyak pembahasannya." ucap Arga, Naya menoleh ke arah buku itu.

"Boleh dipinjam?"

"Harusnya masih bisa." Naya menerima buku itu.

"Terima kasih lagi." Arga tersenyum kecil.

"Nggak usah terima kasih terus." Senyum itu kembali membuat hati terasa hangat.

"Ya... tetap harus bilang."

"Kalau begitu, sama-sama lagi." Mereka sama-sama tertawa pelan.

Dari kejauhan, Tasya yang baru selesai mencari buku memperhatikan pemandangan itu tanpa berkata apa-apa.

Tatapannya bergantian antara Naya dan Arga, ada sesuatu yang mulai terasa berbeda.

Begitu Arga berpamitan menuju meja baca, Tasya langsung menghampiri Naya.

"Udah selesai?" tanya Naya

"Iya."

"Kak Arga baik banget, ya."

"Iya." Jawaban itu keluar begitu saja.

"Bahkan tahu buku yang lebih lengkap."

"Mungkin sering ke perpustakaan."

"Hmm..." Tasya hanya mengangguk pelan, Namun senyum tipis di wajahnya membuat Naya sedikit curiga.

"Kenapa senyum-senyum?" tanya naya

"Nggak kenapa-kenapa."

"Bohong."

"Bener."

"Kalau gitu jangan senyum begitu."

"Emang kenapa?"

"...Nggak enak dilihat." Tasya terkekeh pelan.

"Oke, Bu Naya."

Sepulang dari perpustakaan, mereka duduk sebentar di bangku taman sekolah sambil membuka buku yang baru dipinjam, angin sore berembus pelan, beberapa daun berguguran di halaman.

"Nay."

"Hm?"

"Boleh nanya sesuatu?"

"Apaan?" Tasya menutup bukunya.

"Jawab jujur."

"Kalau bisa."

"Kamu nyaman ngobrol sama Kak Arga?" Pertanyaan itu terdengar jauh lebih ringan dibanding pertanyaan kemarin. Namun tetap membuat Naya berpikir beberapa detik.

"...Nyaman."

"Karena?"

"Orangnya enak diajak ngobrol."

"Terus?"

"Baik."

"Terus?"

"Ya... ramah."

"Itu aja?"

"Iya." tasya mengangguk pelan.

"Nggak heran."

"Nggak heran apa?"

"Kalau banyak yang nyaman sama dia." Kalimat itu membuat Naya terdiam, benar juga.

Arga memang seperti itu, ramah kepada semua orang, mudah membantu, tidak pernah membuat orang lain merasa diabaikan. Lalu...

Apa bedanya perhatian yang diterima oleh Naya dengan perhatian yang diterima oleh orang lain?

Mungkin memang tidak ada, mungkin hanya hatinya yang mulai memberi arti lebih.

"Naya." panggil Tasya

"Hm?" tanya Naya menoleh ke arah Tasya

"Jangan melamun lagi." Tasya menyenggol pelan bahunya.

"Nanti kebiasaan." Naya tersenyum tipis.

"Iya." Namun di dalam hatinya, sebuah pertanyaan kembali muncul. Kalau memang semua perhatian itu biasa...

Kenapa rasanya sulit sekali menganggapnya biasa?

Bel pulang akhirnya berbunyi. Siswa mulai meninggalkan kelas satu per satu. Di depan gerbang sekolah, Naya dan Tasya berpisah karena arah rumah mereka berbeda.

"Hati-hati."

"Kamu juga."

Setelah Tasya pergi, langkah diarahkan menuju halte kecil di depan sekolah. Beberapa menit kemudian, sebuah motor melintas pelan.

"Naya." Suara itu membuat kepala Naya menoleh, Arga menghentikan motornya tidak jauh dari halte.

"Mau pulang?" tanya Arga membuat Naya menganggukkan kepalanya

"Iya."

"Nunggu angkot?"

"Iya." Arga melihat ke arah jalan yang masih lengang.

"Kayaknya masih lama."

"Iya, nggak apa-apa." Arga mengangguk pelan.

"Oke."

Tidak ada ajakan untuk mengantar, tidak ada percakapan panjang, hanya sebuah senyum sebelum kembali mengenakan helm.

"Duluan ya."

"Iya. Hati-hati, Kak."

"Kamu juga." Motor itu perlahan menjauh. Naya memperhatikannya hingga menghilang di tikungan.

Baru kali ini menyadari sesuatu. Arga tidak pernah memaksakan kebaikannya, saat kemarin mengantarkannya pulang, itu karena rumah mereka memang searah.

Hari ini tidak, dan Arga menghargai pilihan Naya untuk menunggu angkot, hal sederhana itu justru membuat rasa kagum semakin bertambah.

Napas panjang kembali terembus. "Bahaya..." Gumaman itu terdengar lirih.

"kalau aku terus-terusan kaya gini jadi bahaya, aku udah coba menjauh, tapi kenapa hati ini selalu ingin dekat?" lanjutnya dengan sangat pelan, sambil menatap ke arah bawah memainkan kakinya sendiri.

Bukan karena Arga melakukan sesuatu yang istimewa, justru karena ia tetap menjadi dirinya sendiri, dan setiap kali melihat sisi itu, hati naya semakin sulit menjaga jarak.

Mungkin benar kata Tasya.

Perubahan itu mulai terlihat.

Yang paling mengkhawatirkan...

Perubahan itu bahkan sudah tidak bisa disembunyikan dari Arga ataupun orang lain.

......................

Soon to bee guyss

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!