Nino dan Asep harus mengungkap peristiwa pembunuhan berantai yang semua korbannya adalah wanita.
Musuh kali ini adalah seorang pembunuh yang kejam, licik, dan cerdas. Mereka berpacu dengan waktu untuk mengungkap pelaku sebelum lebih banyak korban berjatuhan.
Disclaimer:
Seluruh tokoh, tempat, dan peristiwa dalam novel ini adalah fiksi. Apabila terdapat kemiripan dengan orang, tempat, atau kejadian nyata, hal tersebut murni kebetulan.
Novel ini mengandung adegan kekerasan dan pembunuhan yang ditujukan untuk kepentingan cerita. Tidak dimaksudkan untuk mendorong atau membenarkan tindakan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petunjuk Sang Pembunuh
“DIAM!” sentak Ahqam.
Seketika Prisa langsung terdiam. Suara Ahqam bukan hanya kencang, tapi wajahnya juga tampak menyeramkan. Arwah gadis itu menjadi lebih tenang. Kepalanya menunduk, tidak berani melihat pada Ahqam.
“Apa yang kamu ingat sebelum kematianmu?” tanya Nino.
“Aku sedang berada di kelas, mengobrol dengan temanku. Lalu aku pergi ke kamar mandi. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.”
“Kamu nggak ingat kalau pergi ke rooftop?”
“Nggak.”
“Coba sentuh keningku, supaya aku bisa melihat kejadian sebelum kematianmu.”
Prisa menyentuh kening Nino dengan telunjuknya. Seketika cahaya putih mengelilingi Nino, lalu hilang seketika. Sekarang Nino berada di dalam kelas. Tampak Prisa sedang berbincang dengan teman-temannya.
Tak lama kemudian temannya yang lain datang dan memberikan pesanan minuman, termasuk pesanan Prisa. Wanita itu menyeruput minuman dinginnya sampai habis setengah sambil lanjut mengobrol.
Saat tengah asyik mengobrol, ponselnya berdering. Wajahnya langsung sumringah ketika melihat nama yang tertera di layar ponsel. Dia mengenakan dulu earphone miliknya, baru kemudian menjawab panggilan.
“Halo,” jawab Prisa sambil bangun dari duduknya. Gadis itu meninggalkan kelas tanpa membawa tasnya.
Sambil terus berbicara, Prisa berjalan menuju toilet. Nino pun mengikuti gadis itu. Nino berdiam di dekat wastafel saat Prisa masuk ke salah satu bilik. Percakapan yang bisa Nino dengar hanya yang keluar dari mulut Prisa. Sepertinya dia sedang berbincang dengan kekasihnya.
Beberapa saat kemudian dia keluar lalu membasuh tangannya. “Oke, sayang. Kabari aku kalau kamu sudah di rumah.”
Setelah itu Prisa keluar dari kamar mandi. Alih-alih kembali ke kelasnya tadi, gadis itu justru menuju lift. Dia menekan tombol enam yang merupakan lantai tertinggi di gedung fakultas ini.
Sesampainya di lantai enam, Prisa segera berjalan ke pintu menuju rooftop. Sesampainya di rooftop, Prisa terus berjalan menuju pembatas.
Dia melepaskan earphone yang masih menempel di telinganya lalu menaruhnya di lantai dekat pembatas rooftop. Di samping earphone, dia meletakkan ponselnya.
Prisa segera naik ke pembatas rooftop. Untuk beberapa saat dia berdiam di sana. Kepalanya melihat ke bawah sebentar seraya menyunggingkan senyum tipis. Sedetik kemudian Prisa menjatuhkan tubuhnya ke bawah.
Penglihatan Nino seketika terhenti. Pria itu sekarang sudah berada di ruangan tadi.
“Gimana?” tanya Asep.
“Dia memang bunuh diri tapi sepertinya itu di luar kendalinya.”
“Kok bisa?” tanya Asep bingung.
“Sebelum ke rooftop dia bicara dulu dengan pacarnya di telepon. Setelah itu dia ke rooftop lalu terjun. Tapi mukanya nggak kayak orang putus cinta atau depresi. Dia malah kelihatan bahagia.”
“Aneh,” gumam Asep sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Sepertinya kita harus menunggu hasil autopsi,” Nino kemudian melihat pada Eris. “Ris, coba kamu cari informasi soal Prisa sama penghuni di sini.”
“Oke.”
“Ahqam, kamu—“
“Oke, aku bakal bantu Eris,” jawab Ahqam cepat memotong ucapan Asep.
“Enak aja. Kamu cari si kunti yang ngikutin pembunuh Nilan.”
“Terus aku pisah gitu sama Eris?”
“Ini bagi-bagi tugas namanya,” gemas Asep karena Ahqam selalu saja membantahnya.
“Kenapa harus dibagi? Kita kan bisa cari bareng-bareng.”
“Biar hemat waktu dan lebih efisien,” kesal Asep.
“Semakin cepat kamu menemukan kunti itu, semakin cepat kamu bisa tugas bareng sama Eris,” Nino mencoba memberikan motivasi.
Khodam Asep ini memang luar biasa menyebalkan. Kalau tidak butuh kemampuannya, mungkin dia akan mengusulkan pada Asep untuk mengembalikannya menjaga pohon jengkol.
Dengan berat hati, akhirnya Ahqam melakukan apa yang diusulkan Nino. Semakin cepat dia menemukan kuntilanak tersebut, semakin cepat dia bisa bertugas bersama kekasihnya lagi.
Setelah Ahqam pergi, Eris juga ikut pergi. Dia akan langsung melakukan tugas yang diberikan Nino.
Sepeninggal dua makhluk astral itu pergi, Nino dan Asep memutuskan kembali ke klinik. Mereka juga meminta Prisa mengikuti.
Saat sampai di klinik, Gilang sudah tersadar dari pingsannya. Pemuda itu langsung ketakutan begitu melihat Prisa muncul di depannya.
“Terima kasih sudah menjaga Gilang, kalian boleh pulang sekarang.”
“Terus Gilang gimana?” tanya Aris.
“Biar kami yang mengantarnya pulang.”
Merasa tidak dibutuhkan lagi, akhirnya Aris dan Malik pulang. Tak lama setelah dua pemuda itu pergi, Nilan muncul. Dia terkejut melihat Prisa.
“Kamu siapa?” tanya Nilan.
“Namaku Prisa, aku baru aja jadi almarhumah.”
“Ya ampun kasihan banget. Padahal masih muda. Kamu mati kenapa?”
“Kata orang-orang aku bunuh diri.”
Asep berdeham kencang membuat pembicaraan dua arwah penasaran itu langsung berhenti.
“Kamu udah baikan?” tanya Asep.
“Lumayan, Pak.”
“Selama kami menyelidiki kematian mereka, kamu jagain arwah mereka.”
“Hah? Saya harus jadi penjaga arwah gitu?”
“Iya.”
“Nggak mau ah, Pak.”
Tanpa pikir panjang Gilang langsung menolak. Kejadian hari ini sudah cukup membuatnya trauma. Pertama Nilan yang emosional dan menyebabkan gempa lokal di kelas. Lalu dirinya kerasukan arwah Prisa. Dan yang lebih parahnya dia sampai menyakiti temannya.
“Nggak mungkin mereka berkeliaran nggak jelas. Jadi lebih baik mereka ikut kamu aja.”
“Nggak mau! Trauma saya, Pak. Tadi Nilan histeris di kelas, langsung ada gempa lokal di kelas. Terus saya kerasukan dia,” Gilang menunjuk Prisa. “Saya nggak mau, Pak. Cari orang lain aja.”
“Kalau ada, kita nggak bakal minta tolong sama kamu. Ingat Gilang, kemampuan yang kamu miliki siapa tahu bisa membantu para arwah penasaran ini menemukan jalan pulang.”
Untuk sesaat Gilang terdiam. Pemuda itu melihat pada Prisa dan Nilan bergantian. Dalam hatinya merutuki kesialannya terlibat dalam masalah dua arwah penasaran itu.
“Kalau kamu nggak mau, saya bakal suruh setan tanpa kepala datangin kamu lagi,” ancam Asep.
“Ya udah, saya mau,” jawab Gilang pasrah.
“Prisa ingat, kamu tidak boleh menyakiti Gilang!” Nino memperingatkan Prisa. “Kalau kamu berani menyakiti Gilang atau orang-orang di sekitarnya, aku bakalan suruh Ahqam kurung kamu!”
“Iya.”
Mengingat sosok Ahqam yang mengerikan, Prisa langsung menyanggupi perintah Nino.
“Dia nggak akan macam-macam sama kamu. Kalau dia melanggar, kamu cepat kasih tahu saya.”
“Iya, Pak.”
“Ayo, sekarang saya antar kamu pulang.”
Gilang segera turun dari ranjang. Dia mengambil dulu tasnya baru kemudian mengikuti Asep dan Nino. Prisa dan Nilan mengekor di belakangnya.
Gini amat nasib gue. Jadi baby sitter-nya Cipung enak. Pasti digaji gede sama Raffi Ahmad. Nah ini disuruh jadi baby sitter hantu penasaran. Digaji nggak, sawan iya, gerutu Gilang dalam hati.
***
Setelah mengantarkan Gilang kembali ke kos, Asep dan Nino segera menuju rumah sakit. Mereka akan menemui dokter Bagas untuk mengetahui hasil autopsi Nilan. Tak butuh waktu lama, keduanya sudah berada di rumah sakit.
Dokter Bagas meminta Nino dan Asep masuk ke ruang autopsi.
“Bagaimana, dok?” tanya Nino.
“Seperti yang diperkirakan sebelumnya, korban meninggal akibat pukulan benda tumpul. Senjata yang digunakan berupa palu. Korban diduga diseret setelah kedua kakinya dipukul hingga tidak mampu berjalan.
Pelaku seperti membencinya atau memendam dendam pada korban. Ini bisa dilihat dari bekas luka pukulan di tubuh korban. Pelaku menghantamkan palu ke titik-titik vital di tubuh korban.”
Sambil menerangkan hasil autopsi, dokter Bagas menunjukkan luka-luka di tubuh korban. Wajah dan beberapa bagian di tubuh korban terluka parah.
“Luka yang paling mematikan adalah hantaman di kepala. Pelaku tidak hanya sekali, melainkan menghantam kepala korban berkali-kali.”
Nino dan Asep memperhatikan jasad Nilan. Asep memperhatikan luka di bagian kepala, sementara Nino melihat luka di bagian kaki. Pandangannya kemudian tertuju pada titik hitam kecil yang berada di telapak ibu jari kaki Nilan.
“Apa ini tahi lalat, dok?” tanya Nino.
Dokter Bagas segera melihat titik hitam kecil yang ditunjukkan Nino. Beberapa saat kemudian kepalanya menggeleng.
“Ini bukan tahi lalat. Tapi ini adalah titik yang dibuat dari spidol.”
“Apa mungkin pelakunya yang membuat ini?” tanya Nino.
“Bisa jadi. Ada pembunuh yang ingin meninggalkan tanda pada korbannya,” jawab dokter Bagas.
Nino menghela napas panjang. Kasus pembunuhan Nilan dirasa cukup misterius. Awalnya dia mencurigai Dadan, tapi pria itu memiliki alibi yang kuat. Sekarang tersangka yang tersisa adalah Rama.
“Baiklah, dokter. Terima kasih.”
“Laporannya akan aku kirimkan melalui e-mail.”
“Baik. Dan aku juga menunggu autopsi jasad yang masuk hari ini.”
“Ya,” jawab dokter Bagas seraya menarik napas panjang.
Selesai menemui dokter Bagas, Asep dan Nino hendak melanjutkan penyidikan. Target penyidikan mereka sekarang adalah Rama.
***
Di sebuah unit apartemen, tampak seorang pria tengah menyeduh kopi hitam tanpa gula. Pria itu membawa cangkir berisi kopi lalu membawanya ke ruang tengah. Dia mendudukkan diri di sofa lalu menyalakan layar datar di depannya.
Sambil menyeruput kopinya, dia melihat siaran berita. Seorang reporter tengah mengabarkan kasus penemuan jasad seorang wanita di kebun jagung.
Senyum tipis tersungging di wajah pria itu.
“Aku sudah meninggalkan petunjuk untuk kalian. Aku ingin tahu apakah kalian bisa menemukanku,” ujarnya pelan sambil menyeruput kopinya lagi.
***
Tuh pembunuhnya udah nongol😂
Ini penampakan Nino versiku
aaciieeeee.....
Ahqam cosplay jd Tom Cruise...emmhh biar Eris makin semakin...huweee /Puke//Facepalm/