Sembilan tahun lalu, Mentari Ayuningtyas terpaksa mematahkan hati Devan Elvano.
Di masa SMA, Devan hanyalah remaja miskin berkemeja lusuh yang mengendarai motor tua. Demi menuruti tuntutan keluarganya dan menyembunyikan sebuah rahasia menyakitkan, Mentari memutus hubungan mereka dengan cara yang paling kejam, meninggalkan luka mendalam di hati pria yang teramat mencintainya itu.
Kini, roda takdir telah berputar 180 derajat.
Mentari terjebak dalam realitas urban yang mencekik. Sebagai seorang wanita kantoran biasa, ia mendapati dirinya di ambang kehancuran ketika sang ibu jatuh sakit dan tagihan rumah sakit menumpuk hingga ratusan juta. Di tengah keputusasaannya, takdir justru mempertemukannya kembali dengan Devan.
Namun, Devan yang sekarang bukanlah remaja lemah yang bisa ditindas. Ia telah menjelma menjadi CEO Elvano Group—seorang miliarder dingin nan kejam yang memiliki jaringan restoran bintang lima di berbagai negara dan memegang saham mayoritas di perusahaan tempat Mentari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nge Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaun Malam dan Tatapan Rindu
Malam berganti pagi dengan begitu cepat, namun bagi Mentari, waktu rasanya berjalan lambat seperti siksaan yang sengaja diperpanjang. Kabar baiknya, komitmen Devan dalam kontrak itu bukan bualan belaka. Pihak Rumah Sakit Medika menghubungi Mentari secara resmi pada pukul delapan pagi, mengabarkan bahwa seluruh biaya tunggakan administrasi dan dana operasi Ibunya sebesar lima ratus juta rupiah telah dilunasi oleh sebuah korporasi bernama Elvano Group.
Ibunya pun langsung dipindahkan ke kamar Suite VVIP di lantai teratas gedung rumah sakit. Fasilitasnya menyerupai hotel berbintang dengan penanganan tim dokter spesialis terbaik di negeri ini. Ketika Mentari datang berkunjung sebelum berangkat kerja, ia melihat Ibunya tidur dengan wajah yang jauh lebih tenang, tidak lagi terganggu oleh suara bising dari bangsal umum.
Namun, kelegaan itu dibayar mahal dengan rasa cemas yang terus menggerogoti dadanya. Mentari tahu, tidak ada makan siang gratis di dunia ini. Terlebih dari seorang pria yang sembilan tahun lalu ia tinggalkan dalam kubang rasa sakit hati teramat dalam.
Pukul enam sore, sebuah kotak hitam besar beludru dikirim langsung ke meja kubikel Mentari di kantor. Pengirimnya tidak menuliskan nama, hanya sebuah kartu kecil berwarna hitam dengan tulisan tangan beraksen tegas yang sangat ia kenali: "Pakai ini. Mobil jemputan menunggumu di lobi pukul tujuh tepat. Jangan terlambat satu detik pun."
Ketika Mentari membuka kotak tersebut di toilet kantor, ia terkesiap. Di dalamnya terdapat sebuah gaun malam berwarna hijau zamrud (emerald green) berbahan satin sutra yang sangat halus. Potongannya begitu elegan, dengan kerah sabrina yang akan mengekspos garis leher dan tulang selangkangkannya dengan pas, serta belahan setinggi paha yang tidak terlalu mencolok namun memberikan kesan sensual yang berkelas. Di bagian bawah gaun, terdapat kotak beludru lebih kecil berisi sepasang sepatu hak tinggi berwarna perak berkilauan.
"Dia bahkan masih ingat ukuran pakaianku," bisik Mentari dengan dada berdesir aneh. Kenangan masa lalu mendadak berputar di benaknya. Dulu, saat SMA, Devan pernah berjanji akan membelikan Mentari gaun terindah jika ia sudah sukses nanti. Siapa sangka janji itu terwujud di bawah paksaan sebuah kontrak balas endem.
Mentari mematut dirinya di depan cermin toilet setelah memoles wajahnya dengan riasan tipis dan lipstik merah bata. Rambut hitam panjangnya ia biarkan tergerai dengan aksen gelombang alami di bagian ujungnya. Ketika ia melangkah keluar menuju lobi tepat pukul tujuh, sebuah mobil Rolls-Royce Phantom hitam sudah terparkir gagah di depan lobi kantornya, menarik perhatian ratusan pasang mata karyawan yang baru saja pulang kerja.
Seorang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam langsung membukakan pintu belakang untuk Mentari. Begitu Mentari masuk ke dalam kabin mobil yang kedap suara dan beraroma mewah itu, jantungnya seolah berhenti berdetak. Devan sudah duduk di sana.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam formal dengan kemeja putih bersih di dalamnya. Dasinya berwarna hijau zamrud, senada dengan gaun yang dikenakan Mentari malam ini. Kehadiran Devan yang begitu dekat membuat ruang kabin mobil yang luas terasa mendadak sempit dan dipenuhi aura intimidasi yang pekat.
Devan mengalihkan pandangannya dari tablet digital di tangannya ke arah Mentari. Untuk beberapa detik, mata elang pria itu tampak melebar, terpaku pada kecantikan Mentari yang malam ini begitu bersinar. Sinar kekaguman sempat melintas di manik matanya yang gelap, sebelum dengan cepat digantikan oleh tatapan dingin dan datar yang biasa ia tunjukkan.
"Tidak buruk. Setidaknya selera berpakaianmu tidak turun meskipun bekerja di tempat seperti ini," ujar Devan sinis sambil kembali menatap layar tabletnya.
Mentari mengepalkan jemarinya di atas pangkuan, mencoba menahan diri agar tidak terpancing emosi. "Terima kasih atas bantuan Anda untuk Ibu saya, Pak Devan. Saya akan profesional menjalankan tugas saya malam ini," jawab Mentari dengan nada suara yang sengaja dibuat seformal mungkin.
Devan terkekeh pelan, sebuah tawa rendah yang terdengar mengejek. "Ingat, Mentari. Tugasmu malam ini adalah menjadi pasanganku di depan para kolega bisnis dari Singapura. Kamu hanya perlu tersenyum, mengiyakan perkataanku, dan jangan bertingkah bodoh."
Mobil mewah itu berhenti di depan pelataran sebuah hotel bintang lima di kawasan Segitiga Emas Jakarta. Tempat berlangsungnya gala dinner eksklusif para investor saham papan atas. Ketika pintu mobil dibuka, jepretan kamera dari beberapa media bisnis langsung menyambut mereka. Devan turun terlebih dahulu, kemudian berbalik dan mengulurkan tangan kokohnya ke arah Mentari.
Mentari sempat ragu selama satu detik, namun mengingat ancaman Devan, ia akhirnya meletakkan telapak tangan di atas telapak tangan Devan yang hangat dan besar. Devan segera menggenggam jemari Mentari dengan erat—terlalu erat hingga membuat Mentari sedikit meringis, sebelum pria itu menarik pinggang Mentari mendekat dan melingkarkan tangan wanita itu di lengan jasnya.
Mereka melangkah masuk ke dalam ballroom yang megah dengan lampu kristal raksasa yang memancarkan cahaya keemasan. Begitu nama Devan Elvano diumumkan, perhatian seluruh ruangan langsung tersedot pada pasangan itu. Bisik-bisik kekaguman sekaligus penasaran mulai terdengar dari para pengusaha dan sosialita yang hadir.
"Siapa wanita di sebelah CEO Elvano Group itu? Bukankah selama ini dia dikenal tidak pernah membawa wanita ke acara formal?"
"Sangat cantik. Apa dia putri dari salah satu konglomerat rekan bisnisnya?"
Mentari berusaha menjaga senyumnya tetap merekah di wajahnya yang mendadak kaku, sementara Devan berjalan dengan langkah penuh percaya diri, menyapa beberapa taipan bisnis internasional dengan bahasa Inggris yang sangat fasih dan berwibawa. Mentari benar-benar terpukau melihat bagaimana Devan mengendalikan percakapan bisnis tingkat tinggi dengan begitu tenang, sangat jauh berbeda dari Devan remaja yang dulu selalu minder jika diajak bicara.
Namun, ketenangan itu terusik ketika sebuah suara bariton yang sangat familier memanggil nama Mentari dari arah belakang.
"Mentari? Kamu... benar Mentari Ayuningtyas?"
Mentari menoleh dan terkejut saat mendapati siapa yang berdiri di sana. Pria itu mengenakan setelan jas biru navy yang rapi, berwajah tampan dengan senyum ramah yang selalu menenangkan. "Pak Rian?" ucap Mentari spontan.
Rian adalah Direktur Kreatif sekaligus bos langsung Mentari di agensi periklanan. Selama satu tahun terakhir bekerja bersama, Rian dikenal sangat perhatian pada Mentari, bahkan di luar urusan pekerjaan. Diam-diam, Rian menyimpan rasa kagum dan cinta pada kepribadian Mentari yang tangguh.
Rian menatap Mentari dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman. "Astaga, Mentari. Kamu malam ini... luar biasa cantik. Aku hampir tidak mengenalimu tanpa pakaian kantoranmu," puji Rian tulus, melangkah maju mendekati Mentari tanpa menyadari aura berbahaya yang mendadak memancar dari pria di sebelah wanita itu.
"Terima kasih, Pak Rian. Kebetulan saya menghadiri acara ini sebagai..." Kalimat Mentari terputus.
Secara tiba-tiba, sebuah lengan kekar melingkar posesif di pinggang ramping Mentari, menarik tubuh wanita itu hingga menempel erat pada dada bidang Devan. Mentari tersentak, menoleh ke arah Devan yang kini menatap Rian dengan pandangan yang seolah siap menguliti pria itu hidup-hidup. Sepasang mata elang Devan berkilat penuh amarah dan kecemburuan yang mendalam, meskipun wajahnya tetap terlihat tenang.
"Direktur Rian, bukan?" suara Devan terdengar sangat rendah dan dingin, sanggup membuat suhu di sekitar mereka mendadak drop beberapa derajat. "Kukira Anda cukup cerdas untuk mengetahui batasan antara seorang atasan kantor... dan pria lain yang sedang mengagumi milik orang lain."
Rian tertegun, menatap tangan Devan yang mencengkeram pinggang Mentari dengan begitu dominan. Senyum di wajah Rian perlahan memudar, digantikan oleh tatapan menantang. Sebagai seorang pria, Rian langsung bisa membaca ketertarikan dan rasa kepemilikan yang besar dari mata Devan terhadap bawahannya itu.
"Pak Devan Elvano," balas Rian, mencoba tetap tenang demi menjaga reputasinya. "Saya hanya menyapa karyawan saya yang kebetulan hadir di sini. Saya tidak tahu kalau Mentari memiliki hubungan sedekat ini dengan investor utama perusahaan kami."
"Sekarang Anda sudah tahu," desis Devan tajam, melangkah satu blok ke depan untuk menutupi tubuh Mentari dari pandangan Rian. "Dan sebagai informasi tambahan untuk Anda, Direktur Rian... Mentari bukan sekadar karyawan biasa di mata saya. Dia adalah wanita yang seluruh waktunya, siang dan malam, sudah menjadi hak penuh saya. Jadi, saya sarankan Anda menjaga jarak sejauh mungkin mulai besok di kantor, atau saya pastikan posisi Anda sebagai Direktur Kreatif digantikan oleh orang lain dalam waktu 24 jam."
Mentari membelalakkan matanya mendengar ancaman Devan yang begitu arogan. "Devan, cukup! Jangan bawa-bawa urusan pekerjaan Pak Rian!" bisik Mentari setengah panik, mencoba melepaskan diri dari kukungan tangan Devan, namun cengkeraman pria itu justru semakin mengerat hingga membuatnya tak berkutik.
Rian mengepalkan tangannya di dalam saku celana, merasa terhina dengan arogansi kekuasaan Devan. Namun, sebelum ketegangan itu meledak menjadi keributan yang memalukan di tengah ballroom, sebuah suara wanita yang manja dan melengking mendadak memecah keheningan di antara mereka.
"Devan! Akhirnya aku menemukanmu! Mengapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu akan datang ke gala dinner ini, Sayang?"
Seorang wanita cantik bergaun merah menyala dengan belahan dada rendah berjalan mendekat dengan anggun. Wanita itu adalah Clara, putri tunggal dari pemilik Wijaya Group, salah satu konglomerat terbesar di Indonesia yang juga memegang beberapa saham penting di jaringan bisnis kuliner Devan. Yang paling krusial, Clara adalah wanita yang selama ini dijodohkan oleh keluarga besar Devan untuk menjadi calon istrinya.
Clara langsung bergelayut manja di lengan Devan yang bebas, mengabaikan kehadiran Rian dan menatap Mentari dengan pandangan menilai yang penuh dengan penghinaan dan ketidaksukaan.
"Siapa wanita ini, Devan? Asisten barumu? Mengapa penampilannya begitu murahan untuk acara sekelas ini?" tanya Clara dengan nada sinis yang sengaja dikeraskan, memancing perhatian beberapa tamu di sekitar mereka.
Mentari merasakan hatinya berdenyut sakit mendengar kata 'murahan', namun ia hanya bisa terdiam. Sementara itu, Devan tidak melepaskan rangkulannya pada pinggang Mentari, membuat posisi mereka berdua kini terjebak di antara tatapan cemburu Rian, tatapan penuh permusuhan Clara, dan tatapan posesif yang tak terbaca dari Devan sendiri.
Dilema urban yang rumit baru saja dimulai, dan Mentari tahu malam panjang ini akan mengubah hidupnya selamanya.