Raina, wanita mandiri yang sudah bercerai, mencari pelarian di malam yang kelam. Di tengah kebingungan karena mabuk, ia tanpa sengaja menghabiskan malam bersama Dika—seorang mahasiswa muda tampan yang ternyata merupakan pewaris tunggal keluarga kaya raya.
Perbedaan usia, masa lalu yang kelam, serta penolakan keras dari orang tua Dika menjadi tembok tinggi yang memisahkan mereka. Namun takdir seolah punya rencana lain, menumbuhkan cinta tulus di antara dua dunia yang berbeda.
Mampukah sebuah kesalahan semalam, berubah menjadi takdir cinta yang abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Pagi itu, aroma masakan yang sangat lezat menyebar memenuhi seluruh ruangan apartemen. Raina terbangun karena mencium bau yang sangat ia kenal dan sangat ia sukai. Ia segera bangun dan berjalan menuju dapur dengan wajah masih sedikit mengantuk.
Di sana, ia melihat Dika sedang sibuk di depan kompor. Pemuda itu mengenakan celemek yang sedikit kebesaran di tubuhnya, sambil dengan telaten membalik masakan di wajan. Saat mendengar langkah kaki, Dika menoleh dan menyambutnya dengan senyum paling hangat.
"Selamat pagi, Sayang," sapanya lembut. "Sebentar lagi siap."
Tak lama kemudian, Dika meletakkan sepiring penuh masakan kesukaan Raina di atas meja makan. Itu adalah masakan rumitan sederhana namun sangat lezat, yang dulu sering dimasak almarhum ibunya.
Raina duduk dan mencoba menyantapnya. Begitu suapan pertama masuk ke mulutnya, matanya langsung terbelalak takjub.
"Wah... enak sekali!" seru Raina dengan wajah berseri-seri. Ia menatap Dika tak percaya. "Kamu kok bisa memasak seenak ini? Padahal kan kamu terlahir dari keluarga kaya, biasanya segala sesuatu selalu disiapkan oleh pembantu, kan?"
Dika tersenyum tipis, lalu duduk di hadapan Raina sambil menatapnya lembut.
"Dulu memang begitu, Raina. Sejak kecil aku memang terbiasa hidup serba ada. Semua kebutuhan selalu disiapkan orang lain, aku bahkan hampir tidak pernah masuk ke dapur," jelas Dika pelan.
Ia menatap wajah wanita yang dicintainya itu dalam-dalam.
"Tapi sejak aku memilih untuk bersamamu, dan memilih untuk tidak mengambil harta orang tuaku, aku belajar banyak hal. Aku belajar bahwa hidup bukan hanya tentang menerima, tapi juga tentang memberi. Aku ingin bisa merawatmu, bukan hanya dengan uang atau janji, tapi juga dengan tenagaku sendiri. Aku ingin bisa memberikan hal-hal sederhana yang membuatmu bahagia."
Dika menggenggam tangan Raina di atas meja.
"Aku belajar memasak ini karena aku tahu ini makanan kesukaanmu. Aku ingin kamu merasa dihargai dan disayang, bukan hanya sebagai wanita yang dicintai, tapi juga sebagai wanita yang aku junjung tinggi. Bagiku, memasakkan makanan untukmu adalah cara paling sederhana untuk menunjukkan betapa besar rasa sayangku padamu."
Mendengar penjelasan tulus itu, hati Raina terasa sangat hangat hingga meneteskan air mata bahagia. Ia tidak menyangka bahwa pemuda yang terlahir dalam kemewahan, rela belajar hal-hal sederhana hanya demi melihatnya tersenyum.
"Terima kasih, Dika..." ucap Raina dengan suara bergetar haru. "Ini adalah sarapan paling enak yang pernah aku makan seumur hidupku."
Dika tersenyum lembut melihat air mata yang mengalir di pipi Raina. Ia segera bangkit, duduk di samping wanita itu, lalu mengusap air mata itu dengan lembut menggunakan punggung tangannya.
"Kenapa menangis, Sayang?" tanyanya pelan. "Aku hanya ingin melakukan hal kecil yang bisa membuatmu bahagia."
Raina menatapnya dengan mata yang berbinar penuh kasih sayang.
"Aku menangis karena terharu, Dika," jawabnya lirih. "Banyak orang kaya yang bahkan tidak mau repot-repot memikirkan perasaan orang lain. Tapi kamu... kamu rela belajar hal sederhana hanya demi aku. Rasanya aku adalah wanita paling beruntung di dunia ini."
Dika mencium kening Raina dengan penuh kelembutan.
"Kamu memang beruntung, karena kamu telah menemukan seseorang yang mencintaimu sepenuh hati," bisiknya. "Dan aku jugalah yang paling beruntung, karena kamu mau menerima aku apa adanya."
Pagi itu berlanjut dengan penuh kehangatan. Mereka menikmati sarapan sederhana itu dengan perasaan bahagia yang tak terlukiskan, menyadari bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari kemewahan, melainkan dari perhatian tulus yang diberikan satu sama lain.
Dika tersenyum lembut melihat air mata yang mengalir di pipi Raina. Ia segera bangkit, duduk tepat di samping wanita itu, lalu dengan sangat hati-hati mengusap air mata itu menggunakan punggung tangannya yang hangat.
"Kenapa menangis, Sayang?" tanyanya pelan dengan suara yang penuh kelembutan. "Aku hanya ingin melakukan hal kecil yang bisa membuatmu tersenyum. Aku ingin merawatmu dengan caraku sendiri."
Raina menatapnya lekat-lekat, matanya masih berkaca-kaca namun bersinar penuh rasa syukur.
"Aku menangis karena terharu, Dika," jawabnya dengan suara yang sedikit bergetar. "Selama ini aku berpikir, anak orang kaya sepertimu pasti terbiasa disuapi kenyamanan. Kamu tidak perlu repot, tidak perlu capek. Tapi kamu... kamu rela meluangkan waktu, belajar dari nol, bahkan mungkin berkali-kali gagal dulu hanya supaya bisa membuatkan makanan kesukaanku. Hal kecil ini terasa begitu besar bagiku."
Dika menggenggam tangan Raina erat di atas meja makan, menatapnya dengan pandangan yang tulus dan dalam.
"Raina, harta orang tuaku itu milik mereka. Aku tidak ingin mencintaimu atau merawatmu menggunakan nama atau harta orang lain. Aku ingin membuktikan bahwa aku mampu membahagiakanmu dengan usahaku sendiri. Memasakkan makanan ini adalah caraku berkata: aku ada di sini untukmu, aku mau belajar hal baru demi kamu, dan aku tidak pernah menganggapmu beban."
Ia menunduk sedikit, lalu menatap kembali ke manik mata wanita itu.
"Dulu aku tidak tahu rasanya berjuang untuk sesuatu yang berharga. Bersamamu, aku belajar bahwa hal yang paling mewah di dunia ini bukanlah makanan mahal atau perhiasan indah. Tapi perhatian kecil yang diberikan dengan tulus kepada orang yang kita sayangi."
Raina tidak bisa menahan senyum bahagianya. Ia merentangkan tangan, memeluk pinggang Dika erat seolah takut pemuda itu akan hilang.
"Kamu memang aneh," bisik Raina di dada bidang Dika sambil tertawa kecil. "Tapi kamu adalah hal paling indah yang pernah terjadi dalam hidupku."
Dika membalas pelukan itu dengan hangat, mencium puncak kepala Raina dengan penuh rasa sayang.
"Maka dari itu, mari kita makan selagi hangat," ucap Dika lembut sambil mengusap punggung wanita itu. "Aku ingin melihatmu menghabiskan masakan ini dengan senang hati."
Pagi itu berjalan begitu tenang dan indah. Di meja makan sederhana itu, mereka menyadari satu hal penting: cinta sejati bukan hanya tentang janji manis, melainkan tentang kesediaan untuk belajar, berkorban, dan berusaha menjadi lebih baik demi orang yang dicintai.