NovelToon NovelToon
Sistem Raja Wisata: Gunung Legendaris Warisan Kakek

Sistem Raja Wisata: Gunung Legendaris Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Semua orang menganggap Gunung Sumber Abadi hanyalah tempat wisata gagal yang dikutuk, tetapi bagi Rizky Santoso, warisan yang dibuang oleh seluruh keluarganya ini adalah awal dari segalanya. Tepat saat ia menerima beban hutang dan kawasan wisata yang hancur itu, sebuah sistem misterius bangkit dan memberinya kekuatan untuk mengubah gunung tandus menjadi destinasi kelas dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Langkah kaki Rizky terdengar tenang saat menuruni anak tangga spiral dari lantai dua.

Tap tap tap.

Di lantai dasar, suasana sudah sangat tegang karena dua pengawal berbadan besar terus mendorong staf keamanan Rizky.

"Minggir kalian semua, bos kami tidak punya waktu untuk berurusan dengan cecunguk kampung!" bentak salah satu pengawal.

Bugh.

Seorang petugas keamanan Rizky terjatuh membentur meja informasi karena dorongan keras itu.

"Hei, hentikan kekerasan fisik ini sekarang juga," tegur Rizky dengan suara berat yang menggema di seluruh lobi.

Semua mata langsung tertuju ke arah sumber suara tersebut.

Tiga pria berjas rapi yang tadinya berdiri angkuh kini menatap Rizky dengan pandangan meremehkan.

Pria di tengah yang memakai kacamata hitam langsung tersenyum sinis.

"Oh, jadi kamu anak ingusan yang bernama Rizky Santoso itu?" sapa pria berkacamata hitam itu tanpa basa-basi.

"Saya Anton, asisten direktur dari Taman Mega Ria yang menelepon manajermu tadi malam."

Rizky berjalan mendekati mereka dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celananya.

"Lalu apa yang membuat asisten direktur perusahaan besar repot-repot datang ke tempat kumuh ini?" balas Rizky menyindir ucapan Anton semalam.

Anton mendengus kesal dan langsung melemparkan sebuah map kulit tebal ke atas meja informasi.

Brak.

"Kami datang untuk menyelamatkan hidupmu yang menyedihkan ini anak muda," ucap Anton penuh kesombongan.

"Di dalam map itu ada kontrak pembelian sah untuk seluruh tanah dan aset Gunung Sumber Abadi."

"Harganya satu koma lima miliar rupiah, naik lima ratus juta dari tawaranku semalam."

Anton melipat kedua tangannya di depan dada merasa sangat yakin Rizky akan langsung sujud syukur melihat angka tersebut.

"Kamu tinggal tanda tangan di bawah materai dan kamu bisa langsung pergi dari desa miskin ini untuk foya-foya di kota," tambah Anton lagi.

Rizky melirik map kulit itu sekilas tanpa ada niat sedikit pun untuk membukanya.

"Sepertinya telinga Anda bermasalah Bapak Anton," ucap Rizky dengan nada datar.

"Saya sudah bilang tadi malam kalau saya tidak akan menjual tempat ini dengan harga berapapun."

Wajah Anton langsung berubah merah padam menahan amarah karena merasa dipermalukan di depan anak buahnya.

"Kamu jangan serakah Rizky, uang sebanyak itu tidak akan pernah bisa kamu kumpulkan seumur hidupmu!" bentak Anton menunjuk wajah Rizky.

"Taman Mega Ria tidak pernah menerima penolakan dari pengusaha gurem seperti kamu."

Rizky tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya merasa kasihan melihat kepanikan kompetitornya itu.

Hahaha.

"Justru kalian yang sedang panik dan ketakutan sekarang," serang Rizky balik tepat sasaran.

"Kalian takut karena sejak kemarin ribuan pengunjung lebih memilih datang kemari daripada ke taman hiburan plastik milik kalian."

Anton mengepalkan tangannya kuat-kuat mendengar kebenaran telak yang diucapkan pemuda di depannya itu.

"Jaga mulutmu anak muda, kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa sekarang!" ancam Anton melangkah maju.

Dua pengawal berbadan kekar di belakang Anton ikut melangkah maju siap untuk menyerang Rizky.

Namun, Rizky sama sekali tidak mundur satu inci pun dari posisinya berdiri.

"Saya tahu persis saya berhadapan dengan siapa," jawab Rizky dengan tatapan mata yang sangat tajam dan mengintimidasi.

"Saya berhadapan dengan sekelompok pengecut yang beraninya menggunakan uang dan ancaman untuk mematikan rezeki orang lain."

"Berani-beraninya kamu menghina kami!" teriak Anton kehilangan kendali atas emosinya.

"Hancurkan tempat ini dan beri anak sombong ini pelajaran berharga!" perintah Anton kepada kedua pengawalnya.

Namun sebelum kedua pengawal itu sempat melayangkan pukulan, suara klik dari kamera ponsel memecah keheningan.

Cekrek cekrek.

Siska melangkah keluar dari balik pilar beton sambil mengangkat ponselnya tinggi-tinggi.

"Saya sudah merekam semua pembicaraan dan tindakan kekerasan kalian sejak kalian memaksa masuk tadi," ancam Siska dengan suara lantang meski tangannya sedikit gemetar.

"Satu pukulan mendarat di wajah bos saya, maka video ini akan langsung tayang di semua stasiun televisi nasional besok pagi."

Langkah kedua pengawal itu langsung terhenti seketika dan mereka menoleh ke arah Anton dengan wajah kebingungan.

Anton mengutuk pelan di dalam hatinya menyadari bahwa mereka telah masuk ke dalam jebakan.

"Kamu pikir video murahan itu bisa mengancam Taman Mega Ria?" ejek Anton mencoba menutupi kepanikannya.

"Kami punya ratusan pengacara yang bisa menuntut kalian balik atas tuduhan pencemaran nama baik."

Rizky menyilangkan tangannya di dada dan menatap Anton dengan raut wajah sangat tenang.

"Silakan saja jika Anda ingin mencoba mengadu dukungan publik dengan kami Bapak Anton," tantang Rizky percaya diri.

"Tinggal kita lihat nanti, netizen lebih membela taman hiburan raksasa yang menindas warga lokal, atau pemuda desa yang sedang merintis usaha kecilnya."

Skakmat.

Anton tahu persis bahwa opini publik di internet sangatlah mengerikan dan tidak bisa dikendalikan hanya dengan uang.

Jika video arogansinya ini viral menyusul popularitas Gunung Sumber Abadi, saham Taman Mega Ria pasti akan anjlok drastis.

"Ayo kita pergi dari tempat kumuh ini sekarang juga!" perintah Anton dengan nada sangat kesal.

Anton berbalik badan dan berjalan cepat keluar dari pintu lobi sambil menghentakkan kakinya dengan keras.

Trak trak trak.

"Ingat kata-kataku Rizky, kamu akan merangkak memohon kepadaku dalam waktu kurang dari seminggu!" ancam Anton tepat sebelum masuk ke dalam mobil vannya.

"Aku jamin tidak akan ada satu tetes air pun yang mengalir ke toilet bintang limamu itu mulai besok!"

Brak.

Pintu mobil van itu dibanting dengan sangat keras dan langsung melaju kencang meninggalkan area parkir.

Ngeenggg.

Siska langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai dengan kaki yang terasa sangat lemas.

Bruk.

"Ya ampun Bos, jantungku rasanya mau copot melihat preman berdasi tadi," keluh Siska mengelus dadanya.

Rizky berjalan mendekati petugas keamanan yang tadi terjatuh dan membantunya berdiri.

"Kamu tidak apa-apa Pak?" tanya Rizky memastikan.

"Saya cuma sedikit kaget Mas, pinggang saya aman," jawab petugas itu sambil tersenyum canggung.

Rizky kemudian menoleh ke arah Siska dan memberikan acungan jempol.

"Kerja bagus Siska, rekamanmu tadi benar-benar menyelamatkan kita dari kerugian fisik," puji Rizky jujur.

"Tapi Bos, kamu dengar ancaman terakhirnya tadi kan?" tanya Siska dengan wajah kembali panik.

"Dia bilang akan memutus pasokan air ke gunung kita, bagaimana mungkin dia bisa melakukan itu?"

Rizky mengerutkan keningnya mengingat letak geografis Gunung Sumber Abadi yang sangat bergantung pada desa di bawahnya.

Meskipun punya Air Terjun Pelangi, air itu mengalir bebas dan sulit disalurkan ke fasilitas seperti toilet tanpa pipa yang memadai.

Selama ini, pasokan listrik dan air bersih untuk operasional harian dipompa dari mesin utama milik desa.

"Mereka pasti akan menggunakan uang pelicin untuk menyuap kepala desa agar memutus jalur pipa air dan kabel listrik kita," tebak Rizky dengan analisis yang tajam.

"Lalu apa yang harus kita lakukan Bos?" tanya Siska kebingungan.

"Kalau toilet mewah kita tidak bisa digunakan, pengunjung pasti akan langsung memberikan ulasan buruk di internet."

Rizky menatap ke luar jendela kaca besar melihat antrean pengunjung siang yang mulai berdatangan memadati mesin tiket.

"Biarkan saja mereka melakukan rencana kotor itu Siska," jawab Rizky dengan seringai tipis di wajahnya.

"Mereka pikir kita adalah tempat wisata biasa yang bergantung pada mesin pompa dan kabel listrik milik negara."

Ding!

[Pemberitahuan Sistem!]

[Sistem mendeteksi adanya niat permusuhan ekstrem dari pihak luar yang mengancam fasilitas dasar wisata.]

[Misi Darurat telah diaktifkan Bertahan dari Sabotase Fisik.]

[Selesaikan misi ini untuk membuka kunci pembelian item infrastruktur mandiri di toko sistem.]

Rizky membaca deretan huruf biru transparan itu dengan perasaan yang sangat tenang.

Dia sama sekali tidak merasa terancam dengan gertakan sambal dari kompetitor luar kotanya itu.

Sementara itu, di dalam mobil van yang sedang melaju kencang menuruni bukit, Anton sedang menelepon seseorang dengan nada tinggi.

"Halo Juragan Darma, ini Anton dari Taman Mega Ria," sapa Anton menahan amarah di ubun-ubunnya.

"Aku tahu kamu sangat membenci anak bernama Rizky itu karena masalah jalan kemarin."

Suara tawa serak Juragan Darma terdengar dari seberang telepon.

"Tentu saja aku membencinya, dia telah mempermalukanku di depan warga desa," jawab Juragan Darma.

"Bagus, kalau begitu kita punya musuh yang sama sekarang," ucap Anton tersenyum licik.

"Aku akan mengirimkan uang seratus juta ke rekeningmu siang ini juga."

"Gunakan uang itu untuk membayar petugas gardu listrik desa dan hancurkan pipa air utama yang mengarah ke atas gunung malam ini juga."

Juragan Darma langsung tertawa terbahak-bahak mendengar tawaran menggiurkan tersebut.

Hahaha.

"Hanya dengan seratus juta kamu mau aku melakukan tindakan kriminal Tuan Anton?" tawar Juragan Darma dengan licik.

"Dua ratus juta sekarang juga, dan besok pagi aku pastikan Gunung Sumber Abadi akan menjadi tempat gelap gulita tanpa setetes air pun."

Anton menggertakkan giginya kesal namun dia tidak punya pilihan lain untuk menghancurkan Rizky secepatnya.

"Baiklah dasar lintah darat serakah, dua ratus juta akan masuk dalam waktu sepuluh menit!" putus Anton marah.

Tut tut tut.

Anton mematikan teleponnya dan menatap tajam ke arah puncak gunung yang semakin menjauh di belakang sana.

"Nikmatilah kesombonganmu hari ini Rizky," gumam Anton sendirian.

"Karena besok, seluruh pengunjungmu akan lari ketakutan mencium bau kotoran dari toilet yang airnya mati total."

1
Eka Yudha
Bagus sih meskipun fiksi tapi ceritanya hidup
Rifqy Channel
kak nissa segera update ini gue suka pokoknya sampe 100 Bab pun gak apa-apa karena suka bangett
Nissa Safira: terima kasih kak atas dukungannya🙏
total 1 replies
Rifqy Channel
i like it
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!