NovelToon NovelToon
OBSESSION SANG TUAN MUDA

OBSESSION SANG TUAN MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nurfazilah Cell

Gadis polos yang dunia nya hancur, saat kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tua nya, di saat paling rapuh ia jatuh kedalam pelukan pria berkuasa sekaligus pemimpin gelap

Bagis pria itu gadis kecil ini adalah hak mutlak , satu satu nya obsession yang tak pernah ia lepas kapan pun

"Kau milik ku gadis kecil, selama nya semua yang ada padamu itu milik ku tidak akan pernah menjadi milik orang lain, sayang, " ucap nya dengan penuh obsession

Gimana kah cerita nya ,dari pada penasaran kuy baca novel aku 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurfazilah Cell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Obsesif

Tiga hari berlalu dalam keheningan yang terasa lebih berat daripada badai. Rasa lapar dan nyeri berdenyut yang tak kunjung hilang perlahan menggerogoti kekuatan tubuh Alesha, tapi lidah dan hatinya masih menolak untuk tunduk begitu saja. Setiap kali Aiden datang, pertukaran kata-kata tajam selalu terjadi seolah menjadi ritual baru yang menyiksa keduanya.

Malam itu, udara di dalam kamar terasa dingin meski jendela sudah tertutup rapat. Aiden masuk membawa nampan yang kali ini hanya berisi bubur encer dan air putih saja — tidak ada obat, tidak ada makanan kesukaan, tidak ada apa pun yang bisa memberi kenyamanan.

Ia berjongkok di depan kursi roda, menatap wajah Alesha yang makin pucat, lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya, dan napasnya yang naik turun lemah. Namun saat Alesha membuka matanya, tatapan tajamnya masih menyala.

“Masih sama saja, ya sayang ?” ucap Aiden pelan, suaranya tenang tapi penuh pengamatan. “Tubuhmu sudah mulai memberontak, tapi hatimu masih keras kepala. Sampai kapan kau sanggup begini, gadis manis ku hmm ?”

“Lebih lama dari yang kak Aiden sangka,” jawab Alesha dengan suara serak, tapi tetap tegas. “Jangan harap Alesha akan merayu atau memohon belas kasihan Kak Aiden . Itu yang paling kak Aiden inginkan, bukan? Agar Alesha merendahkan diri sampai tak ada lagi harga diri tersisa.”

Sudut bibir Aiden terangkat membentuk senyum pahit sekaligus bangga. “Memang benar… itulah yang paling aku nantikan. Bukan hanya tubuhmu yang butuh aku, tapi juga kebanggaanmu yang harus hancur agar kau bisa tumbuh menjadi milikku yang sempurna. Dengarkan aku baik-baik…”

Ia mendekatkan wajahnya, suaranya turun menjadi bisikan yang menggema di sepanjang tulang belakang Alesha:

“Kau pikir menolak makan, menolak bicara baik-baik, itu bentuk kemenangan? Salah besar. Setiap kali kau menolak, kau hanya memberi alasan pada Aku untuk memegang kendali lebih ketat lagi. Kau membuat Aku semakin yakin bahwa tanpa aturan yang tegas, kau akan menghancurkan dirimu sendiri.”

“Jangan berani memutar fakta lagi!” sergah Alesha, mengumpulkan sisa tenaga untuk meninggikan suaranya. “kak Aiden yang menghancurkan ku! kak Aiden yang merusak kakiku, menghapus hidupku, dan mengubah setiap detik hariku menjadi siksaan! kak Aiden bukan penyelamat, — kak Aiden adalah bencana terbesar yang pernah menimpaku!”

“Bencana?” Aiden tertawa kecil, lalu tangannya terulur untuk menyentuh pipi Alesha, dan kali ini meski gadis manis nya itu berusaha menggeleng menjauh, ia tetap menempelkan telapak tangannya di sana dengan lembut namun tak tergoyahkan. “Kalau ini bencana, maka biarkan aku menjadi bencana yang melindungi mu dari badai yang jauh lebih dahsyat di luar sana. Kau lihat sendiri — hanya dengan melawan sedikit saja, tubuhmu sudah terjatuh begini. Bagaimana kalau kau benar-benar melangkah keluar, menghadapi dunia yang kejam itu dengan kaki yang lemah dan hati yang polos?”

Ia mengangkat tangan Alesha yang dingin dan gemetar, menggenggamnya erat di antara kedua telapak tangannya sendiri yang hangat namun terasa seperti penjaga yang tak membiarkan lepas.

“Coba pikirkan logikanya, sayang. Kalau kau patuh: kau dapat makan enak, rasa sakit berkurang, bisa duduk menikmati taman, mendengar cerita yang tenang, tidur nyenyak tanpa rasa khawatir. Kalau kau melawan: perut keroncongan, kaki terasa berdenyut seperti ditusuk jarum, duduk saja terasa sakit, dan pikiranmu hanya diisi amarah yang memakan dirimu sendiri. Manakah yang lebih masuk akal untuk dipilih?”

Alesha menatapnya dengan pandangan penuh kebencian dan kesedihan yang bercampur jadi satu. “Pilihannya bukan antara nyaman atau sakit, Pilihannya adalah antara menjadi diriku sendiri atau menjadi bayangan yang kak Aiden buat. Lebih baik merasakan sakit sebagai manusia yang bebas berpikir, daripada merasa nyaman sebagai boneka yang tak punya keinginan sendiri!”

“Ah, selalu saja kata ‘bebas’ itu,” gumam Aiden, matanya menyipit penuh rasa tidak suka mendengar kata itu. “Kau tahu apa arti kebebasan sesungguhnya? Kebebasan itu bukan bisa melangkah ke mana saja, bukan bisa berkata apa saja. Kebebasan yang sesungguhnya adalah terbebas dari ketakutan, terbebas dari rasa sakit, terbebas dari keraguan… dan semua itu hanya bisa kau dapatkan jika kau sepenuhnya menyerahkan segalanya pada Aku . Karena hanya Aku yang bisa memikul seluruh beban itu untukmu.”

“Ini omong kosong!” bentak Alesha, air mata akhirnya menetes jatuh ke tangan Aiden yang menggenggamnya. “Menyerahkan segalanya berarti mati secara perlahan! kak Aiden ingin Aku mati sebagai Alesha, dan hidup kembali sebagai apa saja yang kak Aiden inginkan — sebagai cermin, sebagai mainan, sebagai apa saja yang bisa kak Aiden miliki sepenuhnya!”

Kata-kata itu menusuk tepat ke jantung Aiden. Senyumnya lenyap seketika, matanya berubah tajam dan dalam, napasnya kembali memendek seperti saat emosinya mulai terguncang. Namun kali ini ia tidak meledak seperti sebelumnya — ia justru mengendalikan dirinya dengan lebih baik, mengubah rasa sakit yang diterimanya menjadi senjata yang lebih halus.

“Kalau memang harus begitu, maka biarlah terjadi,” jawabnya perlahan, tegas, dan tanpa ragu sedikit pun. “Aku rela membunuh Alesha yang keras kepala, yang penuh bahaya, yang ingin lari menjauh… demi melahirkan Alesha yang tenang, yang selamat, dan yang hanya hidup untukku. Bukankah itu lebih baik daripada membiarkan versi lamamu membawamu menuju kehancuran?”

Ia melepaskan genggamannya sejenak, lalu bergerak perlahan untuk menyentuh bagian kaki yang dibalut gips dan perban. Sekali lagi ia melakukannya dengan tekanan yang terukur — cukup untuk membangkitkan rasa nyeri yang tajam tapi tidak merusak tulang yang sedang mencoba menyambung kembali.

Rasa sakit itu langsung menjalar naik, membuat Alesha terengah dan tubuhnya menegang seketika, keringat dingin membasahi seluruh dahinya.

“Lihat… tubuhmu sendiri sudah setuju dengan Aku sayang ” bisik Aiden di telinganya, suaranya lembut namun penuh perintah. “Setiap kali kau mengucapkan kata yang salah, setiap kali kau menolak kebenaran ini, tubuhmu mengirimkan sinyal sakit agar kau berhenti. Ini cara alam mengajarkanmu, Alesha ,rasa sakit adalah guru terbaik yang tak akan membohongimu.”

“Lepaskan… sakit… Kak Aiden sakit hiks ” rintih Alesha sambil menangis, suaranya tak lagi keras, terguncang oleh rasa ngilu yang terus menjalar.

“Baru rasanya sedikit saja dan kau sudah merintih dan menangis,” kata Aiden sambil tetap menahan tekanan itu sebentar lagi, matanya menatap wajah gadis manis nya itu dengan pandangan yang terpesona melihat reaksi itu. “Bayangkan apa yang akan kau rasakan nanti kalau kau terus berkeras. Rasa sakit ini bisa bertambah, bisa berlangsung lebih lama, bisa terasa di seluruh tubuhmu… dan satu-satunya tombol untuk menghentikannya ada di ujung lidahmu sendiri.”

Ia mengurangi tekanannya perlahan, lalu mengusap lembut bagian atas lutut itu seolah menenangkan, padahal ia yang memulainya.

“Coba ucapkan saja kalimat ini: ‘Maafkan Alesha, kak Aiden. Alesha akan mendengarkan dan mengikuti apa yang kak Aiden katakan.’ Hanya itu saja. Setelah itu, obat pereda rasa sakit akan segera diberikan, makanan enak akan datang kembali, dan besok pagi kita bisa pergi ke taman melihat bunga yang masih mekar indah menunggumu.”

Alesha menggigit bibirnya sampai terasa nyaris berdarah, menahan rintihan dan keinginan untuk berbicara. Ia tahu — sekali ia mengucapkan kata-kata itu, ia baru saja menyerahkan senjata terkuatnya: keberanian untuk menolak. Tapi rasa sakit yang berdenyut, rasa lemas yang menyiksa, dan rasa takut bahwa ini bisa berlangsung berhari-hari bahkan berminggu-minggu mulai merayap masuk ke dalam pertahanannya.

Melihat keraguan itu tergambar jelas di wajah Alesha, Aiden melanjutkan bicara dengan nada yang makin lembut, membujuk namun tetap mengancam di baliknya:

“Tidak ada yang salah dengan meminta maaf pada orang yang mencintaimu, sayang. Ini bukan tanda kalah — ini tanda bahwa akal sehatmu mulai kembali bekerja. Orang yang cerdas tahu kapan harus melawan dan kapan harus memilih jalan yang menguntungkan dirinya sendiri. Melawan terus-menerus hanya akan membuatmu semakin terpuruk, sedangkan mendengarkan Aku akan membawamu pulih kembali, perlahan namun pasti.”

“Mengapa… kak Aiden tidak bisa mencintaiku tanpa syarat ini?” bisik Alesha, air matanya mengalir deras tanpa bisa ditahan lagi. “Mengapa harus ada harga yang harus dibayar hanya untuk mendapatkan perhatian dan kebaikan kak Aiden ?”

“Karena cinta yang tanpa syarat itu tidak ada di dunia nyata, Alesha!” jawab Aiden tegas, namun suaranya terasa penuh keyakinan yang terbalik. “Cinta yang tanpa syarat itu hanya ada dalam dongeng, dan ia selalu berakhir dengan duka atau kekecewaan. Sedangkan cinta kakak punya syarat yang jelas: kau harus menjadi milikku sepenuhnya. Dengan begitu, cinta ini akan abadi, tak akan pudar, tak akan berubah, dan tak akan pernah terbagi untuk orang lain apa pun!”

Ia meraih kain lembut, mengusap air mata yang membasahi pipi Alesha dengan gerakan yang sangat halus — sangat kontras dengan apa yang baru saja ia lakukan.

“Pikirkan baik-baik semalaman ini. Besok pagi, saat Aku datang lagi, kau akan punya pilihan: tetap melawan dan menanggung akibatnya, atau mengucapkan kata yang akan membuka kembali segala kenyamanan yang ada. Ingat satu hal yang tak akan pernah berubah: apa pun yang kau pilih, pada akhirnya kau tetap akan di sini, tetap di sisiku. Pilihanmu hanya menentukan seberapa cepat kau menerima kenyataan itu, atau seberapa lama kau menyiksa dirimu sendiri untuk hal yang sia-sia.”

Setelah berkata begitu, Aiden berdiri perlahan, membawa nampan itu kembali ke meja jauh dan dan membaringkan tubuh Alesha ke tempat tidur setalah itu Aiden pun menyelimuti nya hingga sebatas dada, dan setelah itu iya mencium kening Alesha lembut

“Tidurlah, gadis manisku… dan biarkan rasa sakit itu berbicara lebih keras daripada suara amarah di hatimu. Karena besok pagi, pertarungan ini akan ditentukan bukan oleh keinginanmu, tapi oleh seberapa kuat tubuh dan pikiranmu mampu bertahan melawan hukum yang sudah Aku buat untuk kita berdua, udah berapa kali Aku tidak menghukum Mu dengan rasa nikmat itu sayang, karena Aku akan mengantikan nya dengan rasa sakit agar kau sadar siapa pemilik mu gadis kecil ku, sudah untuk malam ini tidak baca buku cerita, tidur lah, ujar Aiden , setalah itu iya pun keluar dari kamar Alesha

Begitu pintu tertutup rapat, Alesha terisak hebat, membiarkan seluruh rasa sakit, marah, takut, dan bingung meluap keluar., ia mulai menyadari kenyataan yang paling mengerikan: pertarungannya bukan lagi melawan Aiden saja, tapi melawan tubuhnya sendiri yang mulai menyerah, melawan akal sehatnya yang mulai membingungkan mana yang benar dan salah, dan melawan kemungkinan bahwa lama-kelamaan, rasa sakit itu akan membuatnya memilih jalan yang paling mudah — meski itu berarti menjual sisa kebebasannya yang terakhir.

Dan di luar pintu, Aiden berdiri bersandar di dinding, menutup matanya sambil mengatur napasnya yang masih terasa kacau. Di dalam hatinya, ia tersenyum puas — karena ia tahu bahwa malam ini adalah titik balik. Besok, atau lusa, atau paling lambat seminggu lagi, Alesha akan mengucapkan kata-kata yang ia dambakan. Dan begitu kata itu terucap, ikatan yang terbuat dari tulang dan rasa sakit akan segera diperkuat dengan ikatan yang jauh lebih kuat: ikatan ketaatan yang dipelajari dan dipaksakan masuk ke dalam pikiran dan hati, selamanya.

Bersambung.

Thank you yang sudah baca cerita oyen😊

1
🦊 Ara Aurora 🦊
Gue jadi keingat dulu pas gue kecil dulu ayahku pasti jarang pulang gimana mau pulang eh jauh sekali tempat kerjanya yah maklumlah namanya juga cari nafkah ayah ku 😅 sorry yah gue nggak tahu mau komen apa nih
Nurfazilah Cell: iya gak papa kak 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!