kisah seorang wanita yang berusaha melupakan mantannya yang mengkhianati kepercayaan.
diperjalanan menemukan jati diri dan kehidupan baru
sebuah kisah cinta yang manis namun penuh komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05
...****************...
Gedung megah milik Hills Corporation berdiri anggun di tengah kota.
Langkah kaki Evelyn terdengar tegas saat ia memasuki lobby. Para karyawan yang melihatnya langsung menundukkan kepala dengan hormat.
“Selamat pagi, Nona Evelyn.”
“Pagi.” Jawabannya singkat, namun berwibawa.
Tanpa membuang waktu, Evelyn langsung menuju lift khusus menuju lantai eksekutif. Wajahnya sudah kembali dingin—tidak ada jejak wanita yang semalam hancur karena patah hati.
Begitu pintu lift terbuka, Naomi sudah menunggu di depan ruangannya.
“Selamat pagi, Nona Evelyn,” sapa Naomi dengan senyum profesional.
“Pagi, Naomi. Berkasnya sudah siap?, berapa jumlah pasokan barang dari supplier ?”
“Sudah, seluruh berkas, semuanya sudah saya susun di meja Anda.”
Evelyn langsung masuk ke ruangannya tanpa basa-basi. Ruangan luas dengan nuansa elegan itu langsung dipenuhi aura serius saat ia duduk di kursi kerjanya.
Naomi mengikuti dari belakang, membawa tablet dan beberapa map tambahan.
“Ini laporan keuangan kuartal terakhir, kontrak investasi baru, dan beberapa dokumen yang perlu tanda tangan Anda hari ini,” jelas Naomi sambil menyerahkan satu per satu.
Evelyn membuka berkas pertama, membaca cepat namun detail.
“Bagian ini revisi,” ucapnya sambil menunjuk salah satu halaman.
Naomi langsung mencatat.
“Baik, akan saya perbaiki.”
Evelyn menandatangani beberapa dokumen tanpa ragu. “Selanjutnya, kirim laporan untuk tim gudang agar untuk menyiapkan tempat yang lebih besar, karena barang yang tiba akan diperbanyak.”
" Baik boss.., ada beberapa berkas tawaran kerjasama untuk perusahaan kita, dan mereka menawarkan keuntungan yang besar."
Naomi menyerahkan satu map berbeda—lebih tebal, dengan label perusahaan besar.
“Ini proposal kerja sama dari Andreas Corporation.”
Tangan Evelyn berhenti sejenak. “Andreas..., mereka cukup lama berkecimpung di dunia bisnis.” gumamnya pelan.
Ia membuka map itu, matanya langsung fokus membaca isi proposal.
Naomi mulai menjelaskan,
“Andreas Corporation mengalami peningkatan pesat dalam tiga tahun terakhir. Mereka memperluas bisnis ke berbagai sektor, termasuk teknologi dan investasi global.”
Evelyn menyandarkan tubuhnya sedikit. "Aku tahu keluarga Andreas,” katanya tenang. “Mereka sudah lama menguasai pasar.”
Naomi mengangguk. “Benar, Nona. Tapi di bawah kepemimpinan Arseno Andreas, perkembangan mereka jauh lebih agresif.”
Evelyn menatap angka-angka di proposal itu.
“Angka mereka solid,” gumamnya.
“Ya, dan reputasi Arseno sendiri sangat kuat di dunia bisnis,” tambah Naomi.
Evelyn menutup map itu perlahan. “Menarik, tawaran pembagian hasil juga dapat diterima..”
Naomi menatapnya, menunggu keputusan.
Evelyn menyilangkan tangannya di atas meja.
“Kita tidak bisa mengabaikan perusahaan sebesar ini.”
“Apakah Anda tertarik dengan kerja sama ini?”
Evelyn tersenyum tipis—senyum seorang pebisnis, bukan wanita yang sedang terluka.
“Bukan soal tertarik atau tidak,” jawabnya. “Ini soal peluang.”
Naomi mengangguk mengerti.
“Aku ingin tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan,” lanjut Evelyn.
“Jadi?, "
Evelyn menatap lurus ke depan. “Atur pertemuan.”
Naomi langsung sigap.
“Baik, Nona. Dengan tim mereka atau—”
“Aku ingin bertemu langsung dengan Arseno Andreas.”
Naomi sedikit terkejut, tapi cepat menyembunyikannya. “Baik, akan saya jadwalkan secepatnya.”
“Pastikan waktunya tidak bentrok dengan agenda lain.”
“Siap, Nona.”
Naomi kemudian pamit keluar, meninggalkan Evelyn kembali dengan pikirannya.
..................
Waktu berjalan cepat.
Jam di dinding sudah menunjukkan waktu makan siang, tapi ruangan itu masih dipenuhi suara lembaran kertas dan ketukan pena.
Evelyn masih duduk di kursinya, fokus pada tumpukan berkas yang belum selesai.
Perutnya jelas kosong.
Namun seperti biasa—ia mengabaikannya.
“Kontrak ini harus selesai hari ini...” gumamnya pelan.
Ia menandatangani satu dokumen lagi, lalu meraih berkas berikutnya.
Tiba-tiba... ponselnya berdering.
Evelyn berhenti.
Matanya melirik layar.
Nama yang tertera membuat ekspresinya sedikit berubah.
" Nenek...?"
Evelyn menghela napas kecil sebelum mengangkat telepon. “Halo, oma ?, ada apa ?, jika nenek masih memaksa ku untuk memberikan cucu, lebih baik nenek tutup saja telfon ini..”
Di seberang sana, suara hangat namun tegas langsung terdengar.
“Eve.., dasar cucu kurang ajar, selalu saja mencurigai nenek, nenek hanya ingin bertanya kamu sudah makan siang?”
Evelyn memijat pelipisnya pelan. “Belum, Nek. Masih banyak pekerjaan.”
“Astaga, anak ini...” suara Nyonya Renata terdengar kesal. “Kamu itu pemilik perusahaan, bukan budak perusahaan.”
Evelyn tersenyum tipis. “Kalau aku tidak kerja keras, perusahaan ini tidak akan sebesar sekarang.”
“Dan kalau kamu jatuh sakit, semua itu juga tidak ada artinya.”
Evelyn terdiam sejenak.
“Kamu seperti orang tuamu,” lanjut sang nenek, nada suaranya melembut. “Terlalu keras pada diri sendiri.”
Evelyn menunduk, pandangannya kosong sesaat.
“Aku baik-baik saja, Nek.”
“Jangan bohong, kamu kalau soal makanan sangat rakus.., hanya satu hal yang bisa membuatmu tak nafsu makan, jika kamu sedang ada masalah besar.” ungkapnya.
Evelyn terdiam lagi.
Nyonya Renata menghela napas di seberang sana. “Kamu pikir nenek tidak tahu kamu sedang ada masalah?”
Evelyn menggenggam ponselnya sedikit lebih erat. “Itu bukan masalah besar.”
“Kalau bukan masalah besar, kamu tidak akan menyiksa diri seperti ini.”
Evelyn menutup matanya sejenak.
“Nek... aku hanya tidak ingin terlihat lemah.”
Suara di seberang sana melembut. “Kamu boleh kuat di depan dunia, Evelyn. Tapi tidak perlu di depan nenek.”
Hening beberapa detik.
Untuk pertama kalinya hari itu, tembok dingin Evelyn sedikit retak.
“Aku... hanya kecewa,” ucapnya pelan.
“Aku tahu tapi bukan dengan ini cara lari dari rada sakit sayang.."
“Dan aku tidak ingin itu mempengaruhi pekerjaanku.” jawab Eve.
“Itu justru yang sedang terjadi,” jawab neneknya tenang. “Kamu melarikan diri ke pekerjaan.”
Evelyn terdiam.
“Kamu sudah makan belum?” tanya neneknya lagi.
Evelyn menghela napas.
“Belum.”
“Makan sekarang.”
“Nek, aku.."
“Makan, Evelyn... jika tidak, nenek akan datang ke perusahaan mu membawa makanan dan akan menyuapi mu di depan karyawan karyawan mu..." ancam nyonya Renata.
Nada suara itu tegas—tidak bisa dibantah.
Evelyn akhirnya menyerah." baiklah..”
“Bagus. Setelah itu istirahat sebentar.”
Evelyn tersenyum kecil.
“Iya, Nek.”
“Dan satu lagi.”
“Apa?”
“Apapun yang terjadi, kamu tetap cucu nenek yang paling kuat.”
Mata Evelyn sedikit berkaca-kaca.
“Terima kasih, Nek.”
Setelah telepon ditutup, Evelyn menatap meja kerjanya yang masih terlihat tumpukan berkas.
“Makan siang dulu...” gumamnya pelan.
...****************...