Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.
Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin
Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.
Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya
Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebastian Mulai Masuk Kerja
Mobil Jason berhenti di depan rumah Kasandra, pria itu langsung turun sambil melihat jam tangannya.
Pagi masih cukup awal, ia berjalan masuk tanpa mengetuk karena sudah terbiasa keluar masuk rumah itu.
Suasana rumah masih sepi, Jason langsung melihat ke arah ruang tengah.
Di sana Bik Nisa sedang duduk di teras belakang sambil menggendong Agnes kecil yang sedang dijemur terkena matahari pagi, bayi itu terlihat tenang di pelukan Nisa.
Nisa tersenyum kecil sambil mengajak Agnes bicara pelan.
Jason hanya melirik sekilas, tatapannya datar, tidak ada rasa sayang sedikit pun.
Baginya… bayi itu bukan anaknya dan karena itu ia tidak merasa memiliki ikatan apa pun.
“Nisa,” panggil Jason singkat.
Nisa langsung berdiri cepat.
“Pak Jason.”
“Ibu Kasandra mana?” tanya Jason
“Masih tidur Pak.” Jawab Nisa
Jason mengangguk malas, ia bahkan tidak bertanya keadaan Agnes.
Tatapannya hanya sebentar singgah ke bayi kecil itu sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah.
Nisa menatap Jason pergi sambil menghela napas pelan, ia semakin merasa kasihan pada Agnes.
Bayi kecil itu seperti tidak diinginkan siapa pun, Jason langsung menuju kamar Kasandra.
Begitu masuk, wanita itu masih tidur sambil memeluk bantal.
Jason langsung membuka tirai kasar.
“Bangun.”
Kasandra mengerang pelan.
“Apa sih…”
“Udah siang.” Jawab Jason
Kasandra membuka mata malas.
“Kamu pagi-pagi ke sini ngapain?”
Jason duduk di pinggir ranjang.
“Aku tadi mau ajak kamu ke rumah Fisya.”
Kasandra langsung duduk.
“Serius? Aku kepingin lihat Tina anak kita"
Jason langsung menghela napas panjang.
“Tapi semalam kata kamu Fisya udah bilang jangan datang dulu sebelum pesta, ya kan?"
Kasandra langsung cemberut kesal.
“Ya juga sih tapi aku sudah gak sabar, ingin melihat dan mencium putri kecil kita itu"
Jason menatap Kasandra serius.
“Kita jangan gegabah dulu.”
Kasandra mendecih.
“Aku cuma mau lihat anakku sendiri.”
Jason langsung melihat pintu memastikan tidak ada orang.
“Pelan-pelan ngomongnya.”
Kasandra memutar matanya malas.
“Aku capek nunggu dan berpura-pura"
Jason meraih tangan Kasandra.
“Sedikit lagi semuanya bakal jadi milik kita.”
Ucapan itu membuat Kasandra akhirnya tersenyum.
“Benar juga.”
Jason mengangguk.
“Makanya sekarang kita ikuti dulu kemauan Fisya.”
Kasandra menyandarkan tubuhnya ke bahu Jason.
“Kalau dipesta nanti… Aku pengen gendong Tina.”
Jason tersenyum kecil.
“Nanti kamu bebas dekat sama dia.”
Kasandra terlihat puas, sedangkan di luar kamar, Nisa tanpa sengaja mendengar sedikit pembicaraan mereka saat lewat.
Wanita itu mengernyit bingung namun ia tidak terlalu memikirkan.
Ia kembali fokus menenangkan Agnes yang mulai rewel.
***
Sementara itu… Di kantor Alexander Group, mobil Fisya baru saja tiba.
Begitu turun dari mobil, beberapa karyawan langsung menyapa hormat.
“Pagi Bu Fisya.”
“Pagi.” Jawab Fisya
Fisya berjalan masuk dengan langkah tenang, hari ini penampilannya terlihat sangat elegan dan tegas.
Begitu masuk lobby… seorang pria sudah berdiri menunggu.
Sebastian Harrington Pria itu mengenakan setelan hitam rapi, tubuhnya tinggi dan tatapannya tajam.
Ia langsung membungkuk sedikit saat melihat Fisya.
“Pagi Nona.”
Fisya tersenyum tipis.
“Sudah datang?”
“Sudah.” Jawab Sebastian cepat
Fisya lalu berhenti tepat di depan Sebastian.
“Mulai hari ini kamu resmi bekerja di perusahaan ini.”
Sebastian mengangguk.
“Terima kasih.”
“Kamu akan jadi orang kepercayaanku dan mulai sekarang kamu selalu ikut denganku.” ucap Fisya
Sebastian menjawab tegas.
“Siap.”
Beberapa karyawan yang melihat langsung saling berbisik.
“Siapa dia?”
“Ganteng banget…” celoteh karyawan
“Cocok banget berdiri di samping Bu Fisya.” celoteh karyawan yang lain
“Kayak pasangan serasi" ucap yang lainya
Bisik-bisik itu semakin terdengar saat Fisya dan Sebastian berjalan bersama menuju lift.
Aura mereka memang terlihat cocok, Fisya elegan dan dingin sedangkan Sebastian terlihat tenang dan protektif.
Salah satu karyawan perempuan bahkan tersenyum gemas.
“Kalau mereka jalan bareng kayak pasangan drama…”
Namun tiba-tiba… Jason tiba di kantor dan masuk dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan dan tatapan nya sangat dingin
“Apa yang kalian bisik-bisikkan?” bentak Jason
Semua karyawan langsung diam, Jason menatap tajam mereka satu per satu.
“Saya bayar kalian buat kerja! Bukan buat gosip!”
Semua langsung menunduk ketakutan.
“Maaf Pak…”
Salah satu karyawan wanita yang memang tidak menyukai Jason yang sok berkuasa
"Yang bayar kami bukan dia ngapain aku takut" batinnya
Lalu ia menatap Jason sekilas lalu duduk dengan santai nya
Jason mendecih kesal lalu menoleh ke arah lift yang baru saja tertutup.
Wajahnya langsung berubah dingin, ia tadi sempat melihat Fisya berjalan bersama pria asing itu entah kenapa dadanya langsung panas.
Jason langsung berjalan cepat menuju ruang kerja Fisya.
Tanpa mengetuk…
Brak! Pintu dibuka kasar.
Fisya yang sedang duduk membaca dokumen langsung mengangkat wajah.
Sedangkan Sebastian duduk di meja kerja kecil tepat di depan meja Fisya sambil memeriksa beberapa data.
Jason langsung menunjuk Sebastian.
“Apa-apaan ini?”
Suasana ruangan langsung tegang.
Fisya tetap tenang.
“Ada apa?”
Jason menatap marah.
“Kenapa kamu satu ruangan sama orang asing ini?”
Sebastian langsung berdiri namun Fisya mengangkat tangan memberi isyarat agar pria itu tetap tenang.
“Dia bukan orang asing.” ucap Fisya
Jason tertawa sinis.
“Oh ya?”
Fisya menyandarkan tubuhnya santai.
“Mulai hari ini Sebastian adalah orang kepercayaanku dan dia juga bodyguard-ku.”
Jason langsung membelalak.
“Bodyguard?”
“Iya.” Jawab Fisya
“Kamu gak percaya sama aku?” tanya Jason sambil menatap tajam kearah Fisya
Fisya tersenyum kecil.
“Kenapa aku harus mempertaruhkan keselamatanku?”
Jason makin kesal.
“Aku suami kamu!”
Fisya mengangguk santai.
“Dan?”
Jason langsung terdiam beberapa detik.
Fisya lalu melanjutkan sambil menatap tajam suaminya.
“Mas gak mungkin bisa jagain aku dua puluh empat jam.”
Jason mengepalkan tangannya.
“Aku masih bisa lindungi kamu.”
Fisya tersenyum tipis.
“Benarkah?”
Nada suaranya terdengar menyindir, Jason langsung merasa tidak nyaman.
Fisya kembali bicara tenang.
“Lagipula… aku rasa akhir-akhir ini aku memang butuh perlindungan tambahan.”
Ucapan itu langsung membuat Jason menegang, tatapan Fisya terasa seperti mengetahui sesuatu namun Jason mencoba tetap tenang.
“Kamu sangat berlebihan.” ucap Jason
Fisya tersenyum kecil.
“Dunia bisnis itu keras Mas kadang orang terdekat saja bisa menusuk dari belakang.”
Sebastian yang mendengar hanya diam sedangkan Jason langsung terdiam, kalimat itu terasa sangat menohok.
Fisya lalu menatap Sebastian.
“Duduk saja”
Sebastian langsung kembali duduk tenang dan Jason melihat itu dengan rahang mengeras.
“Aku gak suka ada laki-laki asing dekat kamu terus.” ucap Jason
Fisya tertawa kecil.
“Lucu sekali.”
Jason mengernyit.
“Apa yang lucu?”
Fisya menatap Jason lurus.
“Mas boleh dekat dengan perempuan lain tapi aku gak boleh punya bodyguard?”
Wajah Jason langsung berubah, ia jelas merasa tersindir.
“Aku gak pernah berbuat seperti itu? Dan apa maksud ucapan mu tadi?” tanya Jason yang tidak terima dengan tuduhan Fisya
Walaupun sebenarnya itu nyata adanya
Fisya langsung menyela
“Tenang saja, aku gak tertarik melakukan hal yang sama.”
Jason makin kesal karena setiap ucapan Fisya terasa menusuk harga dirinya.
“Aku cuma gak nyaman.”
Fisya tersenyum dingin.
“Kalau begitu biasakan.”
Jason langsung menatap Sebastian lagi, tatapannya penuh tidak suka.
Sedangkan Sebastian membalas tatapan itu dengan tenang tanpa rasa takut sedikit pun.
Jason semakin merasa tersaingi entah kenapa, kehadiran Sebastian membuatnya tidak nyaman.
Seolah pria itu bisa menjadi ancaman besar untuk dirinya dan perasaan itu ternyata bukan tanpa alasan..
"Orang itu lagi, yang telah mengacaukan rencanaku kemarin, awas kamu Sebastian" batin Jason sambil mengepalkan tangannya
__Bersambung__