NovelToon NovelToon
TALI MERAH & TEH TARIK

TALI MERAH & TEH TARIK

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:32
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Hari berganti hari, namun ritme hidup kami kini berjalan dengan pola yang sama namun penuh makna. Aku masih tetap sama. Datang pagi, membawa sarapan, membantu pekerjaannya, menjaga jarak namun selalu siap sedia saat ia butuh, dan pulang malam setelah memastikan semuanya aman.

Aira pun masih sama. Di luar, ia tampak masih dingin, masih kaku, masih menjawab seperlunya saja. Namun jika diamati lebih teliti, aku mulai melihat ada perubahan kecil yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.

Pandangannya yang dulu tajam dan penuh kewaspadaan, kini perlahan mulai melembut. Kalimat penolakannya yang dulu tegas dan dingin, kini mulai terdengar ragu, seolah ia sendiri tak yakin lagi apakah ia masih ingin menolak kehadiranku atau tidak.

Ia sedang berperang dengan dirinya sendiri. Aku tahu itu. Di satu sisi, logikanya mengingatkan akan rasa sakit masa lalu, mengingatkan agar tetap waspada dan tak mudah percaya.

Namun di sisi lain, hatinya perlahan mulai merasakan ketulusan yang kuberikan setiap hari, merasakan kehadiran yang tak pernah goyah, merasakan perhatian yang tak pernah menuntut balas.

Pagi itu, langit mendung dan udara terasa sangat dingin. Aira datang dengan wajah yang sedikit pucat, tangannya terus mengusap pelan leher dan bahunya yang terasa kaku karena kedinginan.

Aku tahu ia punya riwayat sakit pada leher dan bahu, penyakit lama yang sering kambuh kalau cuaca sedang tak bersahabat atau saat ia terlalu lelah bekerja.

Seperti biasa, aku sudah menunggu di sana dengan membawa sarapan dan juga sebotol minuman jahe hangat yang kusiapkan sendiri di rumah. Aku meletakkan semuanya di meja, tepat di hadapannya.

"Minum ini dulu, Ra. Hangat.kamu kelihatan kedinginan," ucapku pelan, nada bicaraku wajar dan biasa saja.

Aira melirik botol itu, lalu mengangkat wajahnya menatapku.

"Lagi-lagi bawa sesuatu? Aku bilang nggak usah repot-repot terus, Arjun. Aku bisa beli di warung sebelah kalau mau."

Kalimat penolakan yang biasa itu keluar lagi, namun kali ini suaranya tak setajam dulu. Bahkan tangannya perlahan terulur mengambil botol itu, merasakan suhu hangat yang menembus telapak tangannya.

"Aku tahu. Cuma sekadar bawa saja, nggak ada maksud apa-apa," jawabku santai sambil tersenyum tipis, lalu mundur sedikit kembali ke tempat dudukku agar ia merasa nyaman.

"Itu racikan jahe biasa, biar badan kamu nggak kaku. Kamu kan kalau dingin begini pasti susah gerak."

Aira diam. Ia membuka tutup botol itu, mencium aromanya sebentar, lalu meminumnya perlahan. Sepanjang waktu itu, matanya sesekali melirik ke arahku, penuh kebingungan. Ia bingung mengapa aku begitu hafal kebiasaan dan kelemahan tubuhnya, bingung mengapa aku mau bersusah payah membuatkan sesuatu yang sederhana namun pas sekali dengan apa yang ia butuhkan.

Siang harinya, kafe sangat ramai. Pelanggan berdatangan silih berganti, membuat Aira kewalahan melayani pesanan, mencatat pembayaran, hingga mengantarkan makanan ke meja-meja.

Ia bergerak cepat, wajahnya berkeringat, napasnya mulai terasa berat karena terlalu sibuk. Dan aku melihatnya, melihat bagaimana gerakan bahu kirinya mulai terbatas, melihat bagaimana ia sesekali meringis pelan menahan nyeri yang mulai menyerang.

Tanpa disuruh, aku segera beranjak. Aku mengambil alih tugas mengantar pesanan ke meja-meja, tugas yang membutuhkan banyak bergerak dan mengangkat nampan. Aku bergerak cekatan, memastikan Aira hanya perlu duduk di balik kasir dan mengurus pembayaran saja, pekerjaan yang tak terlalu membebani fisiknya.

Saat ia hendak bangkit hendak mengambil nampan berisi makanan, aku segera mendekat dan mengambilnya lebih dulu.

"Duduk saja sana, Ra. Kamu urus yang di meja saja. Biar aku yang antar ke luar," ucapku cepat namun lembut, mencegahnya bergerak.

"Tapi kan itu tugas aku... nanti ada yang komplain kalau aku diam saja," jawabnya ragu, matanya menatapku cemas.

"Tenang saja. Aku sudah bilang ke semuanya kalau kamu lagi agak kurang enak badan . Nggak ada yang protes. Lagian kan aku ada di sini, jadi tenaga tambahan gratis," candaku pelan, berusaha mencairkan suasana agar ia tak merasa bersalah.

Aira diam di tempat. Ia menatapku yang bergerak sibuk keluar masuk ruangan, membawa pesanan, membersihkan meja yang sudah kosong, dan melakukan semuanya dengan senyum tenang.

Di matanya, aku melihat ada rasa bersalah yang bercampur dengan rasa haru. Ia sadar, aku melakukan ini semua bukan sekadar membantu, tapi karena aku sangat memperhatikan kondisinya, lebih dari apa pun.

Saat keramaian mulai mereda, Aira duduk diam di kursi kasir, mengusap pelan bahu kirinya yang masih terasa nyeri. Aku mendekat dengan secangkir air hangat, meletakkannya di dekatnya.

"Kalau sakit lagi, coba dipijat pelan-pelan saja. Jangan dipaksa," ucapku lembut, mataku menatap pergerakan tangannya yang sedang menahan nyeri itu.

Aira menghentikan gerakan tangannya, menatapku lama sekali.

"Arjun... kamu ini sebenarnya kenapa sih?" tanyanya tiba-tiba, nadanya bercampur antara bingung dan emosi yang tertahan.

"Kamu tahu semua hal kecil soal aku. Kamu ingat apa yang aku suka, apa yang aku butuh, apa yang bikin aku sakit. Kamu selalu ada di saat aku kewalahan. Kamu nggak pernah minta apa-apa balik. Padahal aku jahat sama kamu, aku dingin, aku curiga, aku selalu nolak kamu... kenapa kamu malah makin baik?"

Pertanyaan itu meluncur keluar, seolah sudah lama tersimpan di ujung lidahnya dan tak sanggup lagi ditahan.

Aku menatapnya dalam-dalam, menatap wajah yang mulai tampak lelah berperang dengan perasaannya sendiri. Aku tersenyum tenang, senyum yang penuh ketulusan.

"Karena aku benar-benar cinta sama kamu, Ra," jawabku pelan namun tegas, tanpa ragu sedikit pun.

"Dan karena aku tahu, betapa dalam rasa sakit yang pernah kamu terima. Aku tahu, kamu dingin dan curiga bukan karena kamu jahat atau nggak mau nerima kebaikan. Tapi karena kamu sedang menjaga diri kamu sendiri, supaya nggak sakit lagi. Aku ngerti itu. Justru karena aku ngerti, aku makin nggak mau pergi. Aku makin mau buktiin, kalau kebaikan itu ada, kalau ketulusan itu nyata, dan kalau ada orang yang bakal jagain kamu sampai kamu merasa aman lagi."

Aira terdiam. Matanya kembali berkaca-kaca, namun kali ini ia berusaha sekuat tenaga menahannya agar tak jatuh. Ia memalingkan wajah, tak sanggup lagi menatap tatapan tulusku yang seolah bisa menembus sampai ke dasar hatinya yang paling dalam.

"Kamu terlalu baik, Arjun..." gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

"Aku jadi takut sendiri. Takut kalau nanti ternyata aku yang jadi ketergantungan sama kamu, terus... terus kamu pergi."

Kalimat itu menyentuh hatiku begitu dalam. Itu adalah ketakutan terbesarnya. Bukan takut aku menyakitinya dengan sengaja, tapi takut ia mulai terbiasa dan percaya, lalu aku berubah atau pergi meninggalkannya seperti orang lain.

Aku melangkah selangkah mendekat, cukup dekat namun tetap tak menyentuhnya.

"Ra, dengerin aku," ucapku serius, suaraku rendah namun tegas dan meyakinkan.

"Jangan takut aku pergi. Jangan takut aku berubah. Justru aku yang takut. Aku takut kalau aku kurang baik, kalau aku kurang sabar, kalau aku kurang tulus... aku bakal gagal bikin kamu percaya. Aku bakal gagal hapus rasa takut itu dari diri kamu. Jadi jangan takut kamu ketergantungan sama aku. Jadikan aku tempat kamu bersandar, jadikan aku tempat kamu pulang. Aku bakal ada di sini selamanya, sampai kamu sendiri yang percaya... bahwa aku nggak bakal ke mana-mana."

Keheningan kembali menyelimuti kami. Aira masih membuang muka, namun bahunya yang kaku perlahan mulai rileks. Ia tak menjawab lagi, tapi aku tahu, kata-kata itu masuk. Aku tahu, setiap ucapanku, setiap tindakanku, sedang perlahan meruntuhkan dinding pertahanan yang ia bangun begitu kokoh bertahun-tahun lamanya.

Sore itu, saat jam kerja hampir selesai, Aira harus menutup catatan keuangan harian. Biasanya ia mengerjakannya sendirian sampai malam, teliti sekali dua kali hingga yakin tak ada kesalahan.

Tapi hari ini, matanya terlihat lelah, sakit kepalanya mulai menyerang karena menahan nyeri bahu seharian.

Aku mendekat pelan, meletakkan segelas air dan sedikit obat pereda nyeri di meja dekatnya.

"Minum dulu, istirahat sebentar. Nanti kalau masih sakit, nggak usah dipaksa bereskan semuanya sekarang. Besok pagi saja dilanjut," ucapku lembut.

Aira menatap obat itu, lalu menatapku.

"Kamu mau nunggu sampai aku selesai?" tanyanya ragu.

"Selama apa pun kamu butuh, aku bakal nunggu," jawabku ringan dan pasti.

"Pulangnya jangan malam-malam sekali, nanti jalanan sepi. Aku nunggu di luar saja kalau kamu malu, tapi aku tetap ada di sini sampai kamu pulang."

Ia mengangguk pelan, meminum obat itu, lalu kembali bekerja dengan lebih tenang, seolah mengetahui ada aku di dekatnya membuat rasa cemasnya sedikit berkurang.

Malam itu, saat kami berjalan beriringan menuju jalan raya untuk menunggu kendaraan, langkah Aira sedikit melambat. Ia berjalan di sebelahku, agak menjauh sedikit seperti biasa, tapi kali ini jarak itu terasa makin sempit.

"Arjun..." panggilnya pelan di tengah keheningan malam.

"Ya?" jawabku segera, menoleh ke arahnya.

Ia menatap lurus ke depan, tak berani menatapku.

"Kamu... jangan capek ya. Jangan bosan. Jangan berubah."

Kalimat pendek itu terucap begitu saja, terdengar seperti permohonan kecil yang tersembunyi di balik sisa-sisa pertahanannya. Itu adalah langkah kecil yang besar artinya. Itu tandanya ia mulai takut kehilangan aku, sama seperti aku takut kehilangan dia.

Hatiku terasa hangat dan bahagia luar biasa, namun aku tetap tenang. Aku melangkah sejajar dengannya, menjaga langkahku agar tak terlalu cepat atau terlalu lambat.

"Nggak akan, Ra. Aku janji. Selama kamu belum yakin, selama kamu belum percaya... aku bakal tetap begini. Selamanya."

Malam itu berakhir dengan rasa damai yang baru mulai tumbuh. Aira belum sepenuhnya percaya, belum sepenuhnya membuka hati. Aku tahu itu masih butuh waktu lama. Tapi aku juga tahu, di balik sikap dingin dan kaku yang masih ia pertahankan... ada hati yang mulai bergetar, ada rasa yang mulai tumbuh, dan ada keyakinan kecil yang mulai ia bangun perlahan bahwa mungkin, kali ini berbeda. Bahwa mungkin, aku benar-benar berbeda.

Dan aku akan terus membuktikannya. Hari demi hari. Kesabaran demi kesabaran. Sampai hari di mana ia tak lagi ragu untuk memanggilku miliknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!