NovelToon NovelToon
Sistem Dewi Rubah

Sistem Dewi Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

⚠️⚠️TIDAK ADA UNSUR LGBT, NAMANYA JUGA DEWI RUBAH, YANG PALING DISUKAI ADALAH JIWA DAN TUBUH MEREKA⚠️⚠️

Bagaimana kalau seorang Dewi rubah yang dihukum malah melarikan diri? kucingnya yang selama ini seperti kucing biasa ternyata kucing dunia. bersenang-senang? tentu saja hal itu yang paling disukai nona rubah kita ini. bagaimana kesenangan nona rubah di dunia manusia dan pelarian nya? di setiap cerita akan beda judul utama karena dia tidak hanya melarikan diri, tetapi juga menjadi sistem kesenangan diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Cinta untuk Nona Muda" 12

Pagi itu, Lucy keluar dari apartemennya dengan langkah ringan. Matanya langsung menangkap sosok yang sudah tidak asing lagi, yaitu Kaito Fujiwara yang sedang bersandar di motor sport hitamnya. Cowok itu melipat tangan di saku jaket kulit dengan wajah datar seperti biasa. Di tangannya yang lain, ada sebungkus susu kotak rasa stroberi.

"Aku cuma lewat," katanya sebelum Lucy sempat bertanya.

"Tentu saja." Lucy mengambil susu itu dan tersenyum. "yayaya, kau selalu lewat. Setiap pagi. Di depan apartemenku."

Kaito tidak menjawab. Dia hanya menyerahkan helm dan menaiki motornya. Lucy sendiri sudah mulai terbiasa sekarang. Dia naik dengan lancar dan langsung memeluk pinggang Kaito tanpa perlu disuruh lagi. Motor pun melaju, membelah jalanan di pagi yang cerah.

Di gerbang SMA Seiran, pemandangan mereka berdua sudah tidak lagi menimbulkan kehebohan besar seperti hari pertama, meskipun bisik-bisik dan gosip hangat masih saja berembus di antara murid-murid.

"Lihat, mereka bareng lagi."

"Kaito Fujiwara bersama Lucy."

"Gila, cowok yang katanya anti perempuan itu sekarang sudah mirip sopir pribadi."

"Dia menjemputnya tiap pagi lho."

"Tapi mereka pacaran atau tidak sih?"

"Entahlah. Yang jelas, mereka cocok banget."

Lucy turun dari motor lalu menyerahkan kembali helmnya. "Terima kasih, Kaito."

"Hm."

Mereka berjalan berdampingan menuju gedung utama. Lucy tidak lagi berjalan menunduk seperti dulu. Punggungnya tegak, langkahnya ringan, dan senyumnya terlihat manis. Rambutnya diikat ekor kuda, kacamatanya sudah lama masuk kotak, dan wajahnya yang dulu kusam serta terlupakan kini terlihat bersinar.

Semenjak penampilannya di acara ulang tahun sekolah, semuanya memang berubah total. Murid-murid mulai menyadari keberadaannya. Cowok-cowok yang dulu mengabaikannya kini sering mencuri pandang, sementara murid perempuan yang dulu tidak menganggapnya ada sekarang sibuk berbisik tentang dirinya.

"Primadona baru."

Julukan itu mendadak muncul entah dari mana, mungkin dari kelas lain atau dari anak-anak klub musik. Yang jelas, dalam beberapa hari terakhir, nama Lucy terus disebut-sebut di setiap sudut sekolah. Kecantikannya yang tidak mencolok tapi memikat, kelucuannya saat pipi tembemnya menggembung kesal, hingga caranya berbicara yang lembut dan terkesan pemalu.

"Kepolosan," batin Lucy mendengar gosip-gosip itu. "Kalau mereka tahu isi kepalaku yang sebenarnya..."

Isi kepalanya saat ini, sambil berjalan di dekat Kaito, justru sedang mengagumi postur tubuh cowok itu. Ototnya terlatih dengan baik. Inti jiwanya pasti terasa seperti daging panggang yang dimasak dengan tingkat kematangan sempurna.

Dia menjilati bibirnya tanpa sadar.

"Kenapa?" tanya Kaito, menyadari gerakan spontan itu.

"Eh? A-apa?" Lucy langsung tersadar dari lamunannya. "Nggak kenapa-kenapa! Cuma... lapar."

"Kau selalu lapar."

"Itu tidak benar!" protes Lucy dengan pipi menggembung. "Aku cuma suka makan."

Kaito menatap pipi tembem itu dan mendadak merasakan dorongan aneh untuk mencubitnya. Karena salah tingkah, dia buru-buru mengalihkan pandangan.

Di depan gerbang kelas, Yuki dan Haru ternyata sudah menunggu. Begitu melihat Lucy datang, mereka langsung berlari menghampiri.

"LUCY! PAGI!" Yuki segera merangkul lengan Lucy.

"Eh, Kaito! Pagi juga!" Haru melambai agak canggung.

Kaito hanya mengangguk singkat sebelum berjalan masuk ke kelas, meskipun dia sempat menoleh sekilas ke arah Lucy sebelum menghilang di balik pintu.

Begitu Kaito tidak kelihatan lagi, Yuki dan Haru langsung mencecar Lucy habis-habisan.

"GILA! KALIAN JADI PACARAN?!"

"BELUM!" jawab Lucy cepat.

"Tapi dia menjemput kamu tiap hari!"

"Itu... dia cuma kebetulan lewat..."

"LEWAT APANYA?! RUMAH KALIAN KAN BEDA ARAH!"

Lucy hanya bisa memasang ekspresi malu, sebuah akting yang sekarang versinya sudah semakin sempurna.

Sebelum melangkah masuk ke kelas, Lucy mengeluarkan ponselnya dan mengirim sebuah pesan.

Lucy: Pagi! Aku sudah membuat sesuatu untuk kamu lho. Tapi kamu tidak datang ya? Sabar ya, nanti aku kasih pas kamu sudah balik. 😊🍓

Pesan itu terkirim begitu saja. Dan seperti yang sudah dia duga, tidak ada balasan langsung. Lili sudah memberitahunya pagi tadi kalau Ren masih sangat sibuk dengan acara keluarga, sejenis pesta-pesta orang kaya yang tidak bisa dia hindari. Dia tidak akan masuk sekolah hari ini.

"Bagus," pikir Lucy. "Aku bisa fokus ke Kaito dulu."

Mengenai sesuatu yang dia janjikan tadi, dia sebenarnya belum membuat apa-apa.

"Nanti saja gampang pakai sihir," batinnya santai. "Ngapain dibuat susah."

Di dalam kelas, Lucy duduk di bangkunya. Namun pikirannya sama sekali tidak tertuju pada pelajaran. Matanya menerawang ke luar jendela, memperhatikan halaman sekolah yang dipenuhi barisan pohon.

"Pohon itu ada buahnya tidak ya?"

"Kau itu Dewi Rubah, bukan monyet," komentar Lili di dalam kepalanya.

"Aku tahu. Tapi buah di pohon milik manusia rasanya berbeda."

"Kau punya kebun buah sendiri di kastil. Ada pohon apel emas, pohon anggur kristal, sampai pohon persik surgawi."

"Tapi itu semua buah ilahi. Aku sedang ingin buah manusia biasa. Lihat saja pohon-pohon itu, apa ada yang sedang berbuah?"

Dia meneliti pohon-pohon di halaman satu per satu. Pohon sakura tidak berbuah, pohon maple tidak berbuah, dan pohon ek juga sama saja. Semuanya nihil.

Wajahnya langsung berubah murung.

Kaito yang duduk dua baris di depannya tidak sengaja menoleh. Dia melihat Lucy sedang menatap keluar jendela dengan ekspresi yang sangat sedih, membuat alis cowok itu berkerut.

"Kenapa dia sedih?"

Kaito ikut melempar pandangan ke arah halaman sekolah, tapi tidak ada yang istimewa dari pohon-pohon di sana.

"Apa dia sedang memikirkan sesuatu? Atau seseorang?"

Pikiran Kaito langsung tertuju pada satu nama, yaitu Ren Arisugawa. Dia ingat pernah melihat Lucy dan Ren pulang bersama malam itu. Apakah gadis itu merasa sedih karena Ren tidak masuk sekolah hari ini?

Rahang Kaito seketika mengeras.

Sementara itu, Lucy masih menatap keluar dengan penuh keputusasaan. "Tidak ada satu pun pohon yang berbuah. Dunia ini benar-benar kejam."

Saat jam istirahat tiba, Lucy berdiri untuk meregangkan tubuhnya. Namun sebelum dia sempat melangkah, Yuki dan Haru sudah menarik tangannya untuk keluar kelas.

"Lucy! Ke kantin yuk!"

"Ada menu baru, pudding stroberi!"

Mata Lucy seketika berbinar. "Pudding stroberi?!"

Mereka bertiga berjalan ke kantin sambil bergandengan tangan. Di sepanjang koridor, beberapa murid tampak melambaikan tangan ke arah Lucy.

"Eh, itu Lucy!"

"Si primadona baru!"

"Lucu banget sih dia!"

"Cantik, imut, polos. Beda banget sama primadona yang sebelumnya."

Lucy menunduk malu-malu demi menjaga aktingnya. Di dalam hati, dia tentu saja menyeringai puas. "Primadona. Aku suka gelar itu."

Begitu sampai di kantin, mereka mengambil tempat di meja pojok. Lucy memesan porsi makanan yang lumayan banyak, mulai dari nasi kari, ayam goreng, sup miso, puding stroberi, hingga jus stroberi. Yuki dan Haru sudah tidak heran lagi melihat porsi makannya yang luar biasa itu.

"Eh, Lucy." Yuki menyenggolnya pelan. "Kamu sama Kaito beneran nggak pacaran?"

"Belum," jawab Lucy santai sambil menyuap nasi karinya.

"BELUM?!" Kedua temannya langsung heboh sendiri.

"Berarti nanti bakal PACARAN?!"

"Kalian itu dekat banget! Dia menjemputmu tiap pagi, padahal dulu dia tidak pernah mau dekat dengan perempuan!"

"Kamu tahu tidak? Kemarin ada yang bilang kalau Kaito itu CP terbaik buat kamu!"

Lucy hampir saja tersedak. "CP?!"

"Couple pairing! Pasangan!" Haru menjelaskan dengan semangat. "Banyak yang nge-ship kalian tahu!"

"Kaito si cowok dingin yang anti cewek, ketemu Lucy si gadis imut yang polos. Itu kombinasi yang sempurna!"

"Polos," batin Lucy berdialog sendiri. "Kalau mereka tahu apa yang sedang kupikirkan sekarang..."

Isi pikirannya saat ini masih seputar otot Kaito, aroma tubuh Kaito, dan inti jiwa cowok itu. Dia masih penasaran kapan bisa mencicipinya.

Dia menjilati sisa pudding di bibirnya lalu lanjut makan.

Di meja seberang kantin, Kaito dan rombongan Five Shadows baru saja masuk. Riku langsung menyenggol lengan Kaito begitu mendeteksi keberadaan Lucy.

"Woy, itu Mochi-chan."

"Jangan panggil dia begitu," desis Kaito tajam.

"Tapi lihat cara dia makan. Pipinya sampai menggembung begitu mirip tupai."

Kaito melirik sedikit dan langsung menyesali keputusannya. Lucy sedang menikmati puding stroberinya dengan pipi penuh dan mata yang berbinar bahagia. Penampilannya benar-benar terlihat sangat menggemaskan.

"Gemes," gumam Daiki spontan.

"Diam."

"Kamu mengaku saja, Kaito. Kamu suka dia, kan?"

Kaito tidak menjawab, tapi kali ini dia juga tidak berniat menyangkalnya.

Sepulang sekolah, Lucy kembali ke ruang kelas setelah selesai mengambil beberapa tugas dari guru. Namun langkahnya terhenti di depan papan pengumuman karena melihat sebuah poster yang menarik perhatian.

"Jajanan Favorit: Mochi Strawberry"

Poster itu memajang foto mochi berwarna merah muda yang terlihat sangat menggoda. Di bagian bawahnya tertulis sebuah pengumuman kalau menu itu edisi terbatas, hanya disediakan 50 kotak per hari, dan menyarankan murid untuk segera membelinya di kantin.

Hari ini, edisi terbatas, mochi strawberry.

Sialnya, Lucy baru melihat poster itu sekarang ketika kantin sudah tutup dan mochi tersebut pasti sudah ludes.

"Tidak mungkin..." bisiknya terpukul.

Dia tetap mencoba berlari ke kantin, namun meja penjualnya sudah rapi. Setelah bertanya pada petugas kebersihan yang sedang bertugas, mochi edisi terbatas itu memang dikonfirmasi sudah habis terjual sejak jam istirahat kedua tadi.

"Terjual habis..." Mata Lucy seketika berkaca-kaca.

Dia berjalan kembali ke kelas dengan langkah gontai dan lesu. Pipinya yang biasanya terlihat ceria kini mendadak layu. Dia duduk di bangkunya sambil menatap layar ponselnya dengan pandangan kosong.

Mochi strawberry impiannya sudah hilang, lenyap, dan punah.

Kaito yang sedang membersihkan mejanya menyadari perubahan drastis pada suasana hati Lucy. Gadis yang tadi pagi terlihat ceria itu sekarang tampak lemas seperti anak kucing yang kehujanan. Matanya sayu dan rambutnya bahkan terlihat tidak sebersemangat biasanya.

"Dia sedih lagi," pikir Kaito. "Dan sepertinya kali ini lebih parah."

Kaito memperhatikan ponsel yang sedang dipegang oleh Lucy. Gadis itu terus menatap layarnya dengan ekspresi yang tampak hancur.

"Apa dia sedang menunggu pesan dari seseorang?"

Kecurigaannya pada nama Ren Arisugawa kembali muncul di kepala. Kaito mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja.

Padahal, isi kepala Lucy saat ini dipenuhi oleh mochi strawberry. Kenapa dunia ini harus sekejam ini? Kenapa harus dibatasi hanya 50 kotak? Kenapa tidak dibuat 50.000 kotak saja sekalian? Dia ini seorang Dewi, rasanya dia sanggup menghancurkan dunia ini hanya karena perkara mochi.

"Tolong jangan menghancurkan dunia hanya karena mochi," suara Lili terdengar sangat lelah di kepalanya.

"Aku tidak bisa janji."

Sepanjang perjalanan pulang, Lucy belum juga pulih dari kesedihannya. Dia berjalan di samping Kaito dengan langkah lambat dan mata yang masih kosong. Ponselnya terus digenggam erat, memperlihatkan layar chat dengan Ren yang belum mendapat balasan.

Kaito merekam semua gerak-gerik itu dalam diam. Ponsel, layar chat, dan ekspresi sedih yang mendalam.

"Dia sedih karena menunggu pesan dari Ren," pikir Kaito salah paham. "Dan Ren ternyata tidak membalasnya."

"Kenapa?" tanya Kaito memecah keheningan secara tiba-tiba.

Lucy mendongak bingung. "Eh?"

"Kamu sedih. Kenapa?"

"Ah... nggak apa-apa kok..." Lucy menggeleng sambil mencoba memasang senyum tipis yang sama sekali tidak meyakinkan. "Cuma masalah kecil."

"Masalah kecil katanya," batin Kaito tidak percaya. "Tapi wajahmu terlihat seperti orang yang ingin menangis."

Kaito memilih tidak bertanya lebih jauh. Namun selama sisa perjalanan, dia terus mencuri pandang ke arah Lucy dari kaca spion. Gadis itu memeluk pinggangnya seperti biasa, tapi kali ini pelukannya terasa agak lemah dan terasa rapuh.

"Siapa pun yang sudah membuatmu sedih," pikir Kaito dalam hati, "aku akan..."

Dia tidak melanjutkan kalimatnya karena sadar dia tidak punya hak untuk mencampuri urusan tersebut.

Begitu sampai di depan apartemen, Lucy segera turun dari motor. "Terima kasih banyak ya, Kaito. Sampai jumpa besok."

"Lucy."

Langkah gadis itu tertahan.

Kaito sempat membuka mulutnya lalu menutupnya kembali dengan ragu. Akhirnya dia berkata, "Apa pun yang sedang membuatmu sedih, tidak apa-apa. Kamu boleh sedih. Tapi jangan terlalu lama ya."

Lucy menatap cowok itu dengan mata membulat. Kaito yang mendadak salah tingkah langsung mengalihkan pandangan, menyalakan mesin motornya, dan segera pergi dari sana sebelum Lucy sempat merespons kalimatnya.

"Dia mengira aku sedang sedih karena masalah yang sangat serius," pikir Lucy heran. "Padahal aku hanya memikirkan mochi."

Dia terkekeh pelan sebelum melangkah masuk ke dalam apartemennya.

Malam harinya, Lucy sudah duduk santai di atas kasur dengan piyama kelinci pemberian dari Nao. Rambutnya yang sekarang berwarna setengah biru dan setengah hitam dibiarkan tergerai bebas. Softlens hitamnya juga sudah dilepas, menampilkan sepasang mata biru safir yang indah. Di depannya, layar laptop sudah menyala dan siap untuk memutar film.

Namun sebelum filmnya dimulai, sebuah pesan baru masuk.

Pesan Baru dari: Ren Arisugawa

Lucy sempat melirik ponselnya sekilas. Karena melihat ada notifikasi masuk, dia memilih mengabaikannya dan lanjut membuka aplikasi streaming film. Dia sudah tidak sabar ingin menonton sambil menikmati cemilan.

"Lili, tolong ambilkan cemilan di dapur dong."

Lili yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya menguap lebar. "Aku ini kucing, bukan pelayanmu."

"Kamu itu sistem, posisinya bahkan lebih rendah dari pelayan."

"..."

Lili melompat dari atas kasur dengan wajah masam. Namun saat mendarat di atas meja, cakarnya tidak sengaja menyentuh layar ponsel Lucy yang tergeletak di sana.

Ting.

Layar chat dengan Ren mendadak terbuka dan menampilkan rentetan pesan yang panjang.

Ren Arisugawa: Maaf.

Ren Arisugawa: Aku baru saja selesai.

Ren Arisugawa: Kamu masih bangun?

Ren Arisugawa: Lucy?

Ren Arisugawa: Kamu marah ya?

Ren Arisugawa: Aku benar-benar tidak bisa membalas pesanmu tadi. Ada acara keluarga dan sama sekali tidak boleh memegang ponsel.

Ren Arisugawa: Kamu tadi bilang sudah membuatkan sesuatu untukku.

Ren Arisugawa: Apa itu?

Ren Arisugawa: Lucy.

Ren Arisugawa: Aku tahu kamu pasti membaca pesan ini.

Ren Arisugawa: ...

Ren Arisugawa: Maaf ya.

Ren Arisugawa: Aku tidak ada maksud untuk mengabaikanmu.

Ren Arisugawa: Besok aku sudah pulang dan akan langsung ke sekolah.

Ren Arisugawa: Kamu bakal datang, kan?

Ren Arisugawa: Aku... ingin bertemu denganmu.

Ren Arisugawa: Lucy?

Ren Arisugawa: Selamat malam.

Ren Arisugawa: Mimpi indah ya.

Ren Arisugawa: ...

Ren Arisugawa: Aku merindukanmu.

Ada dua puluh pesan yang masuk, dan Lucy sama sekali tidak menyadarinya.

Alasannya sederhana, karena begitu ponselnya bergetar tadi, dia sengaja mematikan semua notifikasi aplikasi lain agar bisa fokus menonton film tanpa ada gangguan dari siapa pun.

"Lili! Mana cemilannya!" seru Lucy lagi.

Lili mendengus kesal sebelum mendadak memunculkan sesuatu dari udara kosong. Benda itu ternyata bukan cemilan biasa, melainkan dua kotak mochi strawberry edisi terbatas yang persis seperti yang habis terjual di kantin siang tadi.

Lucy menatap dua kotak di depannya dengan mata terbelalak tidak percaya. "LILI! KAMU... BAGAIMANA BISA... MOCHI INI..."

"Aku ini sistem, mengkloning makanan dari data dunia ini adalah perkara mudah." Lili menjilat cakarnya santai. "Melihatmu merana seharian hanya karena mochi itu sangat menyedihkan. Jadi cepat makan saja."

Lucy langsung memeluk kedua kotak mochi itu dengan penuh suka cita. "Lili, kamu adalah sistem terbaik di seluruh alam semesta!"

"Aku tahu."

Lucy duduk dengan nyaman di kasurnya, membuka kotak mochi pertama, dan mulai makan dengan lahap sambil menikmati jalannya film. Di atas meja, layar ponselnya sempat menyala sekali lagi untuk terakhir kali.

Ren Arisugawa: Selamat malam. Aku merindukanmu.

Sesaat kemudian, layarnya kembali meredup.

Lucy sama sekali tidak mengetahuinya. Dia terlalu larut dalam dunianya bersama mochi strawberry dan filmnya, tertawa saat ada adegan lucu, ikut terharu saat adegannya sedih, hingga akhirnya ketiduran dengan sisa tepung mochi yang masih menempel di sudut bibirnya.

Lili menatap ponsel yang tergeletak di meja, lalu beralih menatap Lucy yang sudah tertidur pulas.

"Gadis ini tidak tahu saja," gumam Lili pelan. "Besok pasti akan ada kejutan besar di sekolah."

Lili kemudian melompat ke atas bantal dan ikut meringkuk di sana. Di luar jendela, cahaya bulan bersinar terang, memayungi kota tempat dua orang pemuda yang saat ini sedang memikirkan gadis yang sama, tanpa tahu kalau gadis yang mereka pikirkan justru sedang bermimpi indah tentang mochi dan kelezatan inti jiwa manusia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!