Di hari pertama penobatannya sebagai Raja Lunaventia, Leonard Anvincet Hills menghilang tanpa jejak.
Saat membuka mata, ia tidak lagi berada di istana, melainkan di kamar seorang gadis bernama Azura.
Bagi Leonard, dunia ini benar-benar gila.
Kereta berjalan tanpa kuda.
Air mengalir dari dinding.
Orang-orang berpakaian aneh.
Dan yang paling keterlaluan, semua orang menganggapnya gila saat ia mengaku sebagai seorang raja.
Sementara Leonard mati-matian mencari jalan pulang ke kerajaannya, Azura justru harus menghadapi pemuda keras kepala yang selalu berbicara dengan bahasa bangsawan dan menganggap semua teknologi modern sebagai sihir.
Hari demi hari, pertengkaran mereka berubah menjadi kedekatan yang tidak pernah mereka duga.
Namun di balik hilangnya Leonard, tersimpan rahasia besar yang dapat mengubah dua dunia sekaligus.
Ketika kesempatan untuk kembali akhirnya muncul, apa yang akan dipilih seorang raja?
Takhtanya...
Atau gadis yang berhasil mencuri hatinya?
up rutin. 06:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HikmahToo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
nama yang tidak tercatat di manapun
Setelah mematikan motor.
Dia ngaca sebentar di spion, memastikan wajah dan rambutnya tidak berantakan tertiup angin
Dia gak pake helm, takut rambutnya rusak.
Setelah selesai, dia berbalik, berjalan anggun menuju kelasnya.
"AZURA!!!"
Azura tak menoleh, lanjut jalan sambil mainin rambut.
Tiffany berlari kesal, mensejajarkan langkahnya.
"Lo kenapa si? Udah dua hari ini Lo gak ngumpul sama kita?"
Zura mengangkat bahu acuh.
"Males"
Tiffany merangkul pundak Zura.
"Jangan gitu, entar malem ikut gak?"
Zura melirik sekilas.
"Ke mana? Sirkuit? Enggak ah"
Tiffany berdecak sebal.
"Ck... Kok gitu?"
Sahutnya tak senang.
Zura tak menjawab, dia nyelonong masuk kelas dan duduk di bangkunya.
Dengan Tiffany yang mengekor.
"Woy!! Baru sampe Ra?"
Tanya Tristan.
Zura menyimpan tasnya, menatap Tristan sengit.
"Gak liat!"
Sahutnya sinis.
Tristan mendekati Zura, menggaruk kepalanya bingung.
"Boleh... minjem catatan Lo gak? Gue lupa belum buat"
Pintanya pelan,di sertai cengengesan.
" Enggak!"
Tolak Zura mentah.
Ekspresi Tristan seketika berubah masam.
Tiffany terkikik geli.
Langsung di pelototi Tristan.
"Apa ngetawain gue?"
"Ya elu punya otak sekecil tai udang, bilang aja gak bisa, bukan belum bikin"
Sahut Tiffany.
Tristan menukik alis, menatap mereka kesal, menghentakkan kaki.
"Lo berdua pelit ya!"
Dia lalu berbalik ke kursi dengan perasaan dongkol.
Tiffany mendelik tak terima, dan menatap Azura yang tumbenan kalem.
"Kenapa murung? Gak ketemu Rafael?"
Tanyanya.
Zura menggeleng pelan, dia masih tidak mood untuk bicara.
Tiffany heran, dia mengangkat satu alis, terus memperhatikan Zura yang aneh hari ini.
"Lo kenapa si?"
Tanyanya frustasi.
Zura mematikan ponselnya.
"Entar malem siapa yang tanding?"
Tanya Zura tanpa menatap Tiffany.
Mata Tiffany berbinar.
"Iya gue lupa bilang, malem ini Angkasa sama Bagas bakal tanding"
Ucapnya antusias.
Mendengar itu, Azura melebarkan matanya.
" Serius?! Angkasa? Dia tanding?"
Ucapnya sedikit tak percaya.
Tiffany mengangguk cepat, dengan wajah berbinar.
" Lo jangan ngeraguin dia, walaupun dia gak bisa bawa motor gede, tapi kita liat aja entar"
Azura sebenarnya masih tidak berminat. Namun saat mendengar nama Angkasa disebut, rasa penasarannya muncul.
Karna dia ingin melihat teman gemulainya itu bawa motor, walaupun sedikit ragu.
"Yok lah!! Entar malem, jam berapa?"
Tiffany menaik-turunkan alis.
"Biasa"
Zura yang sudah mengerti, tersenyum senang.
Sesuai perkataannya.
Jody membawa Leon ke RSJ.
Untung saja Leon tidak tau apa itu RSJ.
Karna Jody tidak menjelaskannya, takut Leon ngamuk Karna Jody beneran mengira dirinya gila.
Jody Memberhentikan mobilnya.
Membuka seat belt.
Dia melirik Leon yang belum bisa membuka pintu, hanya diam tenang menunggu Jody.
'jika dipikir-pikir, aku Seperi supirnya'
Batin Jody sedikit dongkol.
Tapi dia tetap membukakan pintu untuknya Leon.
Leon turun, matanya menatap sekitar dengan kagum.
Di depannya, Bangunan RSJ berdiri mewah di penuhi cermin, dengan banyaknya orang yang memakai pakaian yang sama.
Di kiri dan kanan, begitu banyak kereta tanpa kuda berjejer rapi.
Lalu dia mengerut bingung ketika melihat motor, dia mendekati motor tersebut, menyentuhnya perlahan, menelusuri setiap sudutnya dengan jari.
Matanya sedikit berbinar.
Jody tidak mendapati Leon berada di belakangnya, berbalik untuk mencari, dia menepuk jidat ketika melihat pemuda itu tengah mengamati motor ninja biru yang tengah terparkir.
Dan itu malah semakin memperkuat dugaan Zura tentang pria itu.
Jody menghampiri Leon, menepuk pundaknya.
"Kamu lagi ngapain? ayok ikut saya"
Ucapnya pelan.
Leon menatap Jody, dia kemudian menunjuk motor.
"Apa ini kuda besi?"
Tanyanya polos.
Jody hampir tersedak ludahnya sendiri.
"Bukan"
Leon memiringkan kepalanya.
"Benar,dia tidak punya kaki. Lalu apa namanya?"
Jody membetulkan kacamata, berdehem pelan.
"Ini motor, sekarang ayok ikut saya"
Ucapnya pelan.
Dia sedikit malu oleh perawat yang memperhatikan mereka.
Jadi dia buru-buru membawa Leon masuk ke dalam.
Leon mengangguk, mengekor di belakang Jody.
Jody duduk berdiri di depan meja resepsionis.
Dia menunggu perawat yang tidak ada di sana.
Leon sibuk melihat-lihat sekeliling dengan tajam, waspada jika saja tiba-tiba senjata melesat ke arahnya.
Karna orang-orang di sini sangat aneh, bahkan pria tua di sudut tembok tengah tertawa-tawa seraya memegangi boneka dan pisau mainan.
Perawat perempuan itu akhirnya kembali, tersenyum lembut pada Jody.
"Ada yang bisa saya bantu- pak?"
Ucapnya pelan, matanya langsung terpaku pada Leon yang menarik perhatianya.
"Apa di sini pernah ada pasien yang namanya Leon?"
Sahut Jody.
Perawat itu tak menjawab, dia terus menatap Leon yang risih di perhatikan.
"Permisi mba?"
Jody bertanya heran, karna perawat itu tak kunjung menjawab.
Perawat itu sedikit tersentak, tersenyum pada Jody seraya mengikat alis.
"Ah Maaf, kenapa pak?"
Sahutnya sedikit malu.
Tapi matanya terus curi-curi pandang pada Leon.
Jody tersenyum mengerti, Leon memang ganteng, makanya perawat ini sampai terpana.
"Apa di sini ada pasien yang bernama Leon?"
Tanya Jody lagi.
Perawat itu sempat terdiam beberapa detik sebelum kembali fokus pada layar laptopnya.
Setelah menemukannya, perawat itu tersenyum mengangguk.
"Leon? Ah, ada pak. Apa bapa kerabat beliau?"
Perawat tersenyum manis pada Jody, lebih tepatnya, supaya di lirik oleh Leon.
Namun Leon terus menatap ke depan dengan tajam, aura rajanya tidak bisa terbantahkan.
Jantung Jody seolah berhenti, sangat tidak percaya jika Leon di sampingnya adalah ODGJ.
Dia menatap cemas perawat yang terus tersenyum manis.
"Boleh tau nama panjangnya?"
Tanya nya untuk memastikan.
Perawat mengangguk senang.
Dia mulai membaca nama-nama yang tertera.
"Boleh, hanya ada tiga orang yang bernama Leon"
Jody semakin memajukan tubuhnya, berharap nama Leonard tidak ada di sana.
"Pertama, Leon adijaya Kusuma, kedua leonardox, ketiga, Leo jemtaine"
Perawat itu menatap Jody sekilas.
"Boleh tau kerabat bapa yang mana? Saya bisa mengantarnya untuk ketemu, namun waktunya di batas ya pak"
Ucap perawat tersebut, dia menunduk ketika mata Leon tak sengaja menatapnya.
Jody masih penasaran.
"Mereka bertiga ada di sini kan?"
Perawat itu mengangguk tersenyum.
"Iya, mereka bertiga di sini"
Jody menghela nafas lega, setidaknya Leon memang bukan ODGJ.
Leon menatap Jody, meminta jawaban.
"Nama kamu gak ada di sini, mungkin kamu memang bukan dari negara ini"
Ucap Jody.
Bahu Leon merosot perlahan.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, dia merasa takut.
Jika Lunaventia tidak ada...
Dan namanya tidak tercatat di mana pun...
Lalu sebenarnya siapa dirinya?
'jadi lunaventia benar-benar tidak ada? Lalu selama ini aku-?'
Batin Leon, merasa bingung dengan dirinya sendiri.
Perawat agak sedikit tersentak, menatap Leon tak percaya.
'dia pasien RSJ?'
Batin nya menebak.
Bersambung....