NovelToon NovelToon
Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikahmuda
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

​Nayanika Sadira Pangestu, gadis kaya raya yang cantik, nakal, dan bar-bar, akhirnya kena batunya. Karena saking seringnya bikin pusing, ia "dibuang" orang tuanya ke sebuah pesantren pedalaman untuk bertobat.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 2

***

Langkah kaki Naya gontai saat mengikuti Bu Nyai Halimah melewati lorong panjang yang menghubungkan rumah utama (ndalem) dengan area kompleks asrama putri. Angin sore berembus, membawa aroma wangi sabun dan sisa-sisa air wudu dari para santriwati yang mulai memadati koridor.

Naya mengira dia akan menginap di kamar tamu mewah bernuansa kayu jati di dalam rumah utama yang sempat dilewatinya tadi. Namun, langkah Bu Nyai Halimah justru berhenti di depan sebuah pintu kayu besar dengan papan nama bertuliskan 'Kamar Khadijah 3'.

"Nah, Naya, mulai sore ini kamu akan tinggal di sini bersama teman-teman yang lain, ya?" Bu Nyai Halimah berbalik, menatap Naya dengan senyum keibuan yang tak luntur.

Naya melotot, nyaris menjatuhkan khimar pemberian Bu Nyai yang sedari tadi hanya ia sampirkan asal-asalan di bahunya. "Tunggu, tunggu, Bu Nyai. Maksudnya... saya tidur di sini? Ramai-ramai?"

"Iya, Nak. Di sini ada enam santriwati lain. Kamar ndalem memang nyaman, tapi Papa kamu menitipkan pesan ke Kyai agar kamu belajar mandiri dan berbaur. Menjadi santri yang seutuhnya," jelas Bu Nyai lembut seraya mengetuk pintu kamar.

Sebelum Naya sempat memprotes, pintu sudah terbuka dari dalam. Enam pasang mata menatap ke arah pintu, dan seketika itu juga suasana kamar menjadi hening. Naya mengintip ke dalam kamar dan rasanya ia ingin pingsan saat itu juga. Tidak ada kasur spring bed berukuran king size, tidak ada AC, apalagi televisi. Yang ada hanya hamparan kasur lantai tipis yang ditata berjejer rapi di atas lantai ubin, lemari-lemari kayu kecil di sudut ruangan, dan tumpukan kitab.

"Anak-anak, ini Nayanika. Teman baru kalian dari Jakarta. Tolong dibimbing dan dibantu beradaptasi, ya?" ujar Bu Nyai Halimah kepada penghuni kamar.

"Enggeh, Bu Nyai," jawab mereka serempak seraya membungkuk takzim.

Setelah Bu Nyai Halimah berpamitan dan meninggalkan lorong, Naya masih mematung di ambang pintu. Ia menatap jengah ke arah kasur lantai tipis yang akan menjadi tempat tidurnya. Dengan kasar, ia menyeret kopernya masuk, memutus keheningan dengan suara roda koper yang berdecit nyaring.

"Gila... ini kamar atau barak pengungsian sih?" gerutu Naya tanpa memedulikan tatapan heran dari sekelilingnya. Ia langsung mengempaskan pantatnya di atas salah satu kasur kosong. "Heh, kalian! AC-nya di mana? Gerah banget tahu enggak."

Seorang gadis berpipi tembam dengan jilbab instan kaos berwarna petis maju mendekati Naya. Bukannya takut dengan ketusannya Naya, matanya justru berbinar kagum melihat kaus ketat dan celana jins robek yang dipakai Naya.

"Wah... Mbak Naya keren banget! Kulitnya putih, kayak artis-artis di drakor yang sering diceritain sepupuku!" seru gadis itu heboh, mengabaikan pertanyaan tentang AC. "Kenalin, Mbak, namaku Sarah! Panggil aja Sarah. Aku dari Jombang."

Gadis lain yang bertubuh agak kurus dengan kacamata bulat ikut mendekat, tersenyum ramah. "Kalau aku Aliyah, Mbak. Salam kenal, ya. Maaf, di sini memang enggak ada AC, cuma ada kipas angin dinding itu. Kalau siang memang agak gerah, tapi kalau malam dingin banget kok."

Naya mengerutkan kening, menatap Sarah dan Aliyah bergantian. Sifat bar-bar-nya yang biasa disambut dengan adu mulut di Jakarta, kali ini justru dihadapi dengan kepolosan yang luar biasa.

"Kalian enggak aneh lihat baju gue?" tanya Naya curiga, menunjuk celana jinsnya yang robek di bagian lutut.

Sarah terkekeh geli. "Aneh sih sedikit, Mbak. Tapi keren! Biasanya kan yang masuk sini langsung pakai gamis gombrang sambil nangis-nangis. Mbak Naya malah kelihatan kayak mau balapan mobil. Gagah!"

Mendengar celetukan polos Sarah, pertahanan Naya runtuh. Ia tertawa hambar. "Gue emang habis balapan semalam. Sialan, malah berakhir di tempat beginian."

"Wah, beneran Mbak?! Bisa nyetir mobil kencang-kencang kayak di film? Hebat banget!" Sarah semakin antusias, duduk bersila di dekat kaki Naya, diikuti oleh Aliyah yang ikut menyimak dengan antusias. Mereka langsung menyukai kepribadian Naya yang ceplas-ceplos, berani, dan terkesan sangat tulus tanpa kepura-puraan.

Namun, tidak semua orang di kamar itu menyukai kehadiran Naya. Di sudut kasur dekat jendela, seorang santriwati senior bernama Fida sedang melipat mukenahnya dengan gerakan kasar. Ia menatap Naya dari atas sampai bawah dengan tatapan sinis penuh rasa tidak suka.

"Keren dari mananya? Enggak sopan iya," sindir Fida cukup keras hingga terdengar ke seluruh penjuru kamar. "Masuk pesantren itu mau ibadah, mau tobat, bukan mau pamer paha dan pamer baju kurang bahan. Bikin risih yang lihat."

Suasana kamar mendadak menegang. Sarah dan Aliyah langsung terdiam, melirik Naya dengan cemas.

Naya, yang dasarnya berdarah panas dan tidak pernah mau mengalah, langsung berdiri dari kasur. Ia berjalan mendekati Fida dengan melipat kedua tangannya di dada.

"Eh, Mbak Hijau," panggil Naya ketus, merujuk pada warna jilbab yang dipakai Fida. "Gue ke sini karena dipaksa bokap gue, bukan kemauan gue sendiri. Kalau mata lu sakit lihat baju gue, ya merem aja! Enggak usah nyindir-nyindir pakai bawa urusan tobat. Urus aja pahala lu sendiri!"

"Kamu—!" Fida bangkit, wajahnya memerah karena terkejut ada santri baru yang berani membentaknya. "Kamu itu enggak punya tata krama ya! Berani ya bicara begitu sama senior!"

"Bodo amat sama senior! Siapa yang senggol gue duluan, ya gue babat!" balas Naya berapi-api.

"Sudah, sudah! Mbak Fida, Mbak Naya, sudah... sebentar lagi magrib," lerai Aliyah buru-buru, berdiri di tengah-tengah mereka sebelum terjadi baku hantam. Fida mendengkus keras, menyambar kitabnya, lalu melangkah keluar kamar sambil sengaja menyenggol bahu Naya.

"Awas lu ya!" umpat Naya, hendak mengejar Fida namun lengannya segera ditahan oleh Sarah.

"Jangan, Mbak Nay. Mbak Fida itu emang pengurus bagian kedisiplinan, sukanya nyari kesalahan orang. Tapi tenang, ada kita yang bakal jagain Mbak Nay!" bisik Sarah memberi semangat. Naya hanya mendengkus, mencoba meredakan emarahannya.

Siksaan yang sesungguhnya bagi Naya baru dimulai keesokan paginya. Jam dinding di kamar baru menunjukkan pukul 03.45 dini hari ketika alarm asrama berbunyi nyaring, disusul suara ketukan tiang listrik bertalu-talu di luar.

"Mbak Nay... Mbak Nay, bangun. Ayo antre kamar mandi, nanti kehabisan air," goyang Sarah pada bahu Naya yang masih terbungkus selimut tebal.

"Eungh... apa sih? Berisik banget! Masih jam empat malam juga..." igau Naya, menarik selimutnya sampai menutupi kepala. "Gue biasanya baru tidur jam segini, jangan diganggu..."

"Mbak Nay, ayo! Kalau telat nanti dihukum sama pengurus keamanan!" Aliyah ikut panik, menarik ujung selimut Naya.

Dengan nyawa yang belum terkumpul penuh dan kepala yang masih pening, Naya terpaksa duduk. Matanya merah, rambut pirangnya berantakan mirip singa. Sambil menggerutu tanpa henti, ia menyambar gayung plastik berwarna merah muda yang dipinjamkan oleh Sarah, lalu berjalan gontai keluar kamar menuju bilik kamar mandi umum di ujung lorong asrama.

Kondisi di area kamar mandi benar-benar membuat Naya naik darah. Puluhan santriwati sudah berbaris rapi memanjang, memegang gayung dan peralatan mandi masing-masing dalam antrean yang mengular. Udara subuh yang menusuk tulang membuat Naya menggigil, ditambah rasa kantuk yang luar biasa.

Setelah menunggu hampir lima belas menit dengan mata terpejam sambil bersandar pada dinding koridor, tiba giliran Naya yang berada di barisan depan sebuah bilik kamar mandi. Namun, tepat ketika pintu bilik terbuka dan seorang santriwati keluar, sesosok tubuh dengan cepat menyerobot masuk ke dalam sebelum Naya sempat melangkah.

Itu Fida. Dengan wajah tanpa dosa, senior itu menatap Naya sekilas sebelum memegang gagang pintu.

"Eh, Mbak Hijau! Maksud lu apa main serobot aja?!" bentak Naya, rasa kantuknya hilang seketika digantikan kobaran emosi. Suaranya yang melengking keras membuat koridor kamar mandi yang tadinya riuh rendah langsung hening seketika. Semua santriwati menoleh ke arah mereka.

Fida membalikkan badan, menatap Naya dengan senyum meremehkan. "Saya senior di sini, dan saya ada tugas piket subuh ini. Jadi saya harus didahulukan. Santri baru harus tahu sopan santun dan mengalah."

"Sopan santun mata lu peyang!" teriak Naya, melangkah maju dan menahan pintu kamar mandi dengan kakinya yang beralaskan sandal jepit. "Gue udah antre di sini sampai kaki gue kesemutan, dan lu main masuk aja bawa-bawa jabatan? Enggak ada! Keluar lu dari dalam, atau gue seret?!"

"Nayanika! Jaga ucapan kamu! Ini pesantren, bukan jalanan!" Fida balas membentak, tidak mau kalah di depan santri-santri lain.

"Gue enggak peduli! Mau di pesantren, mau di kuburan, yang namanya nyerobot antrean itu namanya enggak tahu diri! Keluar enggak?!" Naya mulai menarik lengan baju Fida dengan kasar, membuat gayung di tangan Fida terjatuh dan menimbulkan suara kelontangan yang nyaring di atas lantai ubin.

"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut di koridor asrama putri?!"

****

Bersambung....

1
Kholiq Masbuhin
greget banget thorrr,antek2 Fida bikin darting.mapus di bikin Naya kicep🤣🤣
Kholiq Masbuhin
🥹🥹bikin mewekkk, semangat terus Thor
Kholiq Masbuhin
huhuhuhu terharu q thorr🥹🥹, seperti masuk dalam ceritanya
Kholiq Masbuhin
gilaaaa lanjutkan thorrrr,kamu membuat aku menghaluuuuu
Kholiq Masbuhin
thorrrrrrrrrrrrrr bom bas tis,ya Allah mengguncang hatiku,sampe deg deg serrrrrrrr.tidak bisa berkata-kata,karyamu bagusss bangettttt.semoga semakin bagus thorrrrr,lope lope banyak banyak🤍🥰😘
Kholiq Masbuhin
aaaaaa thorrrr di lope lope sama alur ceritanya 🥰🥰 ku tunggu punya yg banyak2 ya thorrrrr, semangat 💪
Kholiq Masbuhin
up nya jam berapa Thor ?setiap hari apa gimana? di tunggu Thor, semangat 💪💪😘
Kholiq Masbuhin
bagus banget,alur ceritanya santai ringan dan enak di bacanya.semangat nulisnya ya
Kholiq Masbuhin
suka banget sama alur ceritanya ,ringan dan santai.enak di bacanya.aku pernah baca novel seperti punyamu ini Thor, serupa tapi tak sama.semangatttt terus ya nulisnya,🤍
Kholiq Masbuhin: /Drool/
total 2 replies
Runi Mayantri
gus zayyan ud mulai trtarik ma si nay😄😄😄😍
Ell Fikar
udh up banyak tp msh kurang rasanya
ahhhh gus zayyan, naya yg di perhatiin aku yg baperrrrrrr

lanjut thor up yg banyak
guest1053527528
lanjut thor bagus ceritax dengan aksi bar2 dan menentang sy suka itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!