Tersedak boba membawa petaka! Alara, cewek modern bermulut pedas, mendadak isekai jadi Selir Alara Villin—selir terbuang Dinasti Ruelle yang lemah dan ditindas di Istana Dingin. Tragisnya lagi, dia diberi makan bubur basi yang airnya lebih banyak daripada nasi.
Sebagai pencinta makanan sejati, Alara menolak mati kelaparan. Dia pun nekat menyelinap ke paviliun pribadi Kaisar Kaivan dan mencuri paha ayam panggang sang penguasa.
Sialnya, aksi Alara tertangkap basah. Bukannya bersujud ketakutan menghadapi sang Kaisar yang terkenal kejam dan sedingin es, Alara malah menodongnya:
"Anda kurung saya tanpa makanan layak. Baru ambil satu paha ayam, Anda masih utang sembilan puluh sembilan ayam lagi sama saya. Sini bayar!"
Kaisar Kaivan yang gengsian setengah mati mendadak dibuat jantungan oleh logika absurd selir bar-barnya ini. Siapa sangka, di balik wajah esnya, sang Kaisar aslinya jago lawak, gampang panik, dan takut kecoa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Putri Aurora (Pertemuan Dua Cewek Alpha)
Kabar kedatangan rombongan diplomatik dari Kerajaan Utara Khitan langsung mengubah atmosfer Istana Dalam menjadi panggung politik yang panas.
Ibu Suri menyambut berita ini dengan senyum paling lebar yang pernah terlihat di wajahnya dalam sebulan terakhir. Baginya, Putri Aurora adalah peluru perak yang sempurna untuk mengenyahkan Alara sekaligus mengamankan takhta Permaisuri Utama dengan sekutu militer yang kuat.
Siang itu, Aula Perjamuan Barat dipenuhi oleh aroma teh melati premium dan parade kemewahan. Alara yang kini berstatus Selir Tingkat Utama wajib hadir, duduk di barisan sisi kanan dengan gaun sutra hijau zamrud berkerah asimetris yang membuatnya terlihat segar namun tetap berkelas.
"UTUSAN KERAJAAN UTARA... PUTRI AURORA MEMASUKI AULA!"
Langkah kaki yang tegas terdengar beritme di atas lantai marmer. Sosok Putri Aurora muncul, dan Alara harus mengakui secara objektif kalau uler impor yang satu ini punya spek yang tidak main-main.
Aurora tidak berjalan meliuk-liuk menye-menye seperti Selir Shina. Dia melangkah tegap dengan postur sempurna, mengenakan gaun kulit berlapis sutra merah tua khas prajurit utara yang modis namun tangguh. Rambutnya di kuncir kuda tinggi dengan hiasan emas berbentuk elang, dan sepasang mata safir nya memancarkan aura dominasi instan. Dia adalah definisi nyata dari seorang Cewek Alpha.
Aurora memberikan salam penghormatan kepada Kaivan yang duduk di singgasana dengan gaya militer yang kaku namun elegan.
"Aurora dari Khitan memberi salam kepada Yang Mulia Kaisar Kaivan yang agung. Semoga aliansi pedang kita tetap tajam melintasi perbatasan."
Kaivan hanya mengangguk datar, wajah esnya terpasang sempurna.
"Selamat datang di Ruelle, Putri Aurora. Semoga perjalananmu menyenangkan."
Setelah formalitas selesai, mata safir Aurora mulai memindai barisan kursi selir. Tatapannya langsung terkunci pada Alara yang sedang asyik memilin kue sus kering di piringnya dengan wajah santai.
Sebagai ahli strategi perang, Aurora sudah menerima laporan intelijen bahwa wanita berbaju hijau inilah yang belakangan ini mengacak-acak sistem waris istana dalam dan mengunci perhatian Kaisar.
"Yang Mulia," Aurora tersenyum tipis, suaranya terdengar jernih namun menekan.
"Saya mendengar bahwa belakangan ini Istana Dalam Ruelle kedatangan seorang selir yang sangat... unik. Berhasil merevolusi industri tekstil dan mengerti hukum daerah. Apakah itu wanita yang sedang asyik mengunyah kue di pojok sana?"
Seluruh aula mendadak hening. Ibu Suri langsung memasang wajah penuh kemenangan, menantikan Alara gemetaran menghadapi intimidasi sang putri perang.
Alara meletakkan kue sus keringnya pelan, mengelap jarinya dengan sapu tangan, lalu bangkit berdiri dengan keanggunan yang tidak kalah mutlak. Dia menatap lurus ke dalam mata safir Aurora tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Melapor pada Putri Aurora yang terhormat," ucap Alara, suaranya terdengar santai namun renyah di seantero aula.
"Nama saya Alara Villin. Dan ya, saya memang suka mengunyah, karena menurut riset medis modern, nutrisi yang cukup sangat penting untuk menjaga massa otak agar tidak lemot saat diajak bicara soal strategi... atau soal diplomasi."
*DEG'
Para menteri tua langsung menahan napas. Alara baru saja membalas sindiran sang Putri secara instan dan terang-terangan!
Aurora menaikkan sebelah alisnya, seringai tertantang muncul di bibirnya.
"Menarik. Di Utara, kami menghargai wanita yang bicara blak-blakan. Namun, di medan perang yang sesungguhnya, kata-kata tidak bisa memenangkan wilayah. Hanya taktik dan kekuatan mental yang absolut yang diakui."
Aurora melangkah mendekati meja Alara, membungkuk sedikit hingga jarak wajah mereka cukup dekat.
"Kudengar kau memindahkan kediamanmu tepat di sebelah Paviliun Naga Emas. Tapi ingat, Nona Alara... seekor burung hantu malam yang lincah tetap tidak akan pernah bisa bersanding terbang bersama seekor Naga Langit di atas awan. Tempat terbaiknya tetaplah di dahan pohon yang rendah."
Ini adalah metafora sindiran tingkat tinggi yang artinya Lu cuma selir buangan yang kebetulan beruntung, gak bakal selevel sama gue yang calon Permaisuri.
Alara justru tersenyum sangat manis, menyipitkan mata bulatnya dengan gaya savage khas cewek metropolitan yang kenyang asam garam drama netizen.
"Putri Aurora yang bijaksana, analogi burung hantu Anda bagus sekali," balas Alara dengan nada yang sangat ramah namun menusuk dalam.
"Tapi seingat saya, Naga Langit itu sukanya terbang bebas, bukan dikurung dalam sangkar aliansi politik atau diikat pake tali pedang perbatasan. Dan soal tempat terbaik... naga di istana ini kebetulan sukanya turun ke dahan pohon yang rendah cuma buat nyari... camilan sore yang bikin dia nyaman, daripada terbang tinggi di awan tapi udaranya sedingin es dan bikin kesepian. Iya kan, Yang Mulia?"
Alara sengaja melirik ke arah Kaivan dengan kerlingan mata usil yang penuh arti, melempar bola panas ke singgasana tertinggi.
*UHUK!'
Kasim Wen yang berdiri di samping Kaivan langsung batuk kering untuk menyembunyikan senyumnya. Sementara Kaivan... sang Kaisar Es yang biasanya kaku, mendadak memalingkan wajahnya ke arah lain dengan kepalan tangan di depan mulut, mencoba menahan kedutan senyum bangga sekaligus salah tingkah karena urusan "camilan nyaman" mereka dibawa-bawa di depan forum diplomatik.
Wajah Putri Aurora langsung mendadak kaku, senyumnya membeku seketika. Dia tidak menyangka kalau selir yang dianggapnyavgadis desa beruntung ini punya lidah setajam silet yang sanggup membalikkan serangan verbalnya dalam hitungan detik, bahkan berani menggunakan Kaisar sebagai tameng pembelaan.
Ibu Suri yang melihat kubunya mulai tersudut langsung menggebrak meja gioknya.
"Lancang kau, Alara! Berani-beraninya kau menyindir tamu agung kekaisaran!"
"Ah, Ibu Suri, saya tidak menyindir," sahut Alara polos tanpa dosa.
"Ini namanya diskusi interaktif lintas budaya antar-perempuan mandiri. Iya kan, Putri Aurora?"
Aurora mengepalkan tangannya di balik jubah kulitnya, menatap Alara dengan pandangan mata yang kini dipenuhi oleh hawa persaingan yang menyala-nyala.
"Benar, Ibu Suri. Diskusi ini... sangat mencerahkan. Aku rasa kehadiranku di istana ini selama sebulan ke depan tidak akan membosankan sama sekali."
"Sama-sama, Mbak Aurora. Pintu Paviliun Mawar Merah selalu terbuka kalau Anda mau mampir buat belajar cara bikin cireng atau curhat soal beratnya jadi cewek Alpha," pungkas Alara dengan senyuman kemenangan mutlak jilid kesekian.
Babak pertama pertemuan dua cewek Alpha resmi berakhir dengan skor 1-0 untuk kemenangan sang Selir Lapar!
---
Bersambung~
makasih Thor cerita menghibur bgt ttp semangat ya💪💪💪