"Ini bukan tentang pergi meninggalkanmu. Ini beasiswa, Alfa. Kesempatan sekali seumur hidup yang diberikan Ibu Amara untukku bekerja dan belajar di Paris. Hanya tiga tahun..."
"Tiga tahun?!" Alfa tertawa sumbang, langkah kakinya maju mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Zia bisa merasakan aura intimidasi yang pekat.
"Kamu menyebut tiga tahun itu hanya? Kamu mau meninggalkanku di sini sendirian, sementara kamu bersenang-senang di Paris?!"
Zia menatap wajah pria yang teramat dicintainya itu dengan pandangan kabur oleh air mata. Alfa selalu seperti ini. Posesif, mengekang, dan selalu ingin memegang kendali penuh atas hidupnya. Namun, selama ini Zia selalu mengalah. Bagi Zia yang sebatang kara, kekangan Alfa adalah wujud dari rasa sayang yang teramat dalam.
Tapi apakah kali ini Zia kembali mengalah? Atau dia akan mengikuti kata hatinya? Pergi mengejar cita - citanya dan meninggalkan Alfa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mabuk
***
"Kamu datang sepuluh menit lebih lambat dari yang saya jadwalkan, Zia,"
Suara dingin Azad Abraham menyambut Zia begitu wanita itu melangkah mendekati meja nomor dua belas di restoran lantai dasar gedung Abraham Group. Azad tidak mendongak, dia tetap sibuk mengaduk kopi hitamnya dengan sendok perak yang berdenting pelan.
Zia meremas tali tas selempangnya, mencoba meredam detak jantungnya yang berpacu liar.
"Maaf, Tuan Azad. Jalanan agak macet tadi,"
"Duduk," perintah Azad pendek, nada suaranya tidak menerima bantahan.
Zia menarik kursi di hadapan pria paruh baya yang memancarkan aura kekuasaan yang luar biasa pekat itu. Di atas meja, dokumen rapat pemegang saham yang tadi pagi Zia terima kini tampak semakin nyata.
"Saya tidak suka bertele-tele dengan orang-orang dari kelas bawah," Azad meletakkan sendoknya, lalu menatap Zia dengan mata elangnya yang tajam dan menghina.
"Kamu sudah membaca memo yang saya kirim, kan? Dan saya tahu kamu bukan wanita bodoh yang tidak mengerti arti dari ancaman saya terhadap butik Amara,"
"Tuan Azad, saya mohon... jangan libatkan Mbak Amara atau butiknya," suara Zia bergetar, matanya mulai berkaca-kaca.
"Mbak Amara tidak tahu apa-apa tentang hubungan saya dan Alfa. Dia hanya orang baik yang menolong saya sejak orang tua saya meninggal,"
Azad tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat kering dan kejam.
"Orang baik? Di dunia bisnis tidak ada orang baik, Zia. Amara memanfaatkan bakat jahitmu untuk keuntungan butiknya, dan kamu memanfaatkan kelengahan putra saya untuk memperbaiki nasib miskinmu. Jangan berlagak suci di depan saya,"
"Saya tulus mencintai Alfa, Tuan!" Zia memberanikan diri menyela, dadanya sesak oleh tuduhan keji itu.
"Saya tidak pernah mengincar uang atau posisinya!"
"Cinta tidak bisa membeli saham, dan cinta tidak bisa menaikkan harga valuasi Abraham Group!" Azad memajukan tubuhnya, menatap Zia dengan pandangan yang mengintimidasi.
"Gara-gara mempertahankan wanita tidak jelas seperti kamu, Alfa berani menentang saya dan menolak perjodohan dengan Helena Wijaya. Hari ini, rapat pemegang saham sedang berlangsung di atas sana. Jika Alfa tetap keras kepala, siang ini dia bukan lagi CEO,"
Zia membekap mulutnya, air matanya luruh.
"Alfa... dia mengorbankan segalanya demi aku?"
"Ya, dan dia akan menjadi gelandangan karena kebodohannya sendiri," Azad bersandar kembali pada kursinya, lalu mengeluarkan selembar cek dari dalam saku jasnya. Dia meletakkannya di atas meja, lalu mendorong sebuah pulpen mewah ke hadapan Zia.
"Ini cek kosong. Tulis angka berapa pun yang kamu mau untuk menjamin hidupmu sampai tujuh turunan. Syaratnya cuma satu, pergi dari kehidupan Alfa, keluar dari Jakarta, dan jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi di hadapan putra saya,"
Zia menatap cek kosong itu dengan pandangan kabur. Tubuhnya bergetar hebat antara rasa terhina dan ketakutan akan kehancuran Alfa.
"Saya beri kamu waktu sampai besok pagi untuk mengosongkan apartemen Alfa," Azad berdiri, merapikan setelan jasnya tanpa menunggu jawaban dari Zia.
"Jika besok pagi kamu masih ada di kota ini, bukan hanya Alfa yang hancur, tapi saya pastikan butik Amara akan digulung tikar minggu ini juga karena pelanggaran izin yang bisa saya rekayasa dalam semalam. Pikirkan itu baik-baik, Desainer Miskin,"
Azad melangkah pergi dengan angkuh, meninggalkan Zia yang terduduk lemas di kursinya, menangis dalam diam dengan tubuh yang terus berguncang.
Malam harinya, sebuah bar eksklusif di kawasan pusat bisnis Jakarta menjadi saksi kegelapan yang kian pekat. Denting gelas kristal beradu dengan musik jaz bertempo lambat yang mengalun dari sudut ruangan VIP.
Alfa duduk di sofa beludru merah dengan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya sudah terbuka. Wajahnya mengeras, tatapannya kosong menatap deretan botol minuman keras di atas meja. Di sampingnya, Zia duduk dengan gaun satin hitam sederhana, wajahnya tampak pucat dengan sisa-sisa kesedihan yang coba dia sembunyikan di balik riasan tipis.
Rapat pemegang saham tadi siang berakhir dengan ketegangan tinggi. Azad tidak benar-benar mendepak Alfa hari itu juga karena intervensi dari beberapa kolega, namun Azad memberikan tenggat waktu terakhir, jika investasi dari klien Jepang malam ini gagal dimenangkan oleh Alfa secara mandiri, maka posisi CEO-nya sah dicabut.
"Alfa, minumlah air putih dulu. Kamu sudah menghabiskan setengah botol wiski sebelum kliennya datang," bisik Zia penuh kekhawatiran, mencoba meraih gelas di tangan Alfa.
"Biarkan aku, Zia!" Alfa menepis tangan Zia dengan kasar, meskipun sedetik kemudian dia menyesali gerakannya dan menggenggam jemari wanita itu dengan erat.
"Aku harus memenangkan proyek malam ini. Jika konsorsium Jepang ini sepakat berinvestasi langsung di bawah kendaliku, Azad tidak akan bisa menyentuh posisiku lagi, sekalipun dia pemilik saham mayoritas,"
Zia menatap Alfa dengan rasa iba yang teramat dalam. Pria ini begitu rapuh di balik topeng arogansinya.
"Tapi tubuhmu bisa rusak kalau kamu minum seperti ini..."
"Aku tidak peduli! Yang aku peduli adalah mempertahankan apa yang menjadi milikku. Perusahaanku, dan... kamu!" Alfa menatap Zia dengan mata yang mulai sayu akibat pengaruh alkohol, namun ada kilat kepemilikan yang sangat kuat di sana.
Tak lama kemudian, pintu ruang VIP terbuka. Pria paruh baya asal Jepang, Mr. Tanaka, masuk bersama dua orang asistennya. Alfa langsung berdiri, mengubah ekspresi wajahnya menjadi ramah dan profesional dalam sekejap, menyambut sang investor dengan jabat tangan erat.
"Ah, Mr. Abraham. Senang bertemu dengan Anda secara pribadi di luar jam kantor," ucap Mr. Tanaka dalam bahasa Inggris yang fasih. Tatapannya kemudian beralih pada Zia yang berdiri di samping Alfa.
"Dan... siapa wanita cantik ini?"
"Ini Zia, tunangan saya," jawab Alfa tanpa ragu, merangkul pinggang Zia dengan protektif.
Zia terkejut mendengar kata tunangan keluar dari mulut Alfa, namun dia terpaksa tersenyum dan membungkuk sopan demi kelancaran bisnis Alfa.
"Senang bertemu dengan Anda, Mr. Tanaka,"
Malam pun berlanjut menjadi ajang negosiasi yang melelahkan diiringi dengan tradisi minum bersama. Mr. Tanaka adalah tipe pebisnis lama yang menilai kesolidan rekan bisnisnya dari seberapa kuat mereka mengimbangi minuman keras. Gelas demi gelas sake dan wiski terus dituangkan.
Alfa, yang malam itu didorong oleh stres luar biasa akibat ancaman Azad, meminum setiap gelas yang disodorkan tanpa menolak. Bahkan Zia, demi membantu Alfa mencairkan suasana dan menyenangkan hati klien, terpaksa ikut meneguk beberapa gelas minuman beralkohol tinggi yang ditawarkan oleh asisten Mr. Tanaka.
"Anda memiliki visi yang luar biasa, Mr. Abraham. Dan tunangan Anda... dia sangat menawan dan cerdas saat menjelaskan konsep desain untuk resor baru kita," puji Mr. Tanaka setelah hampir dua jam mereka berbincang.
Dia menandatangani lembar kesepakatan awal di atas meja.
"Saya setuju untuk menanamkan modal. Besok tim saya akan mengurus legalitasnya,"
"Terima kasih atas kepercayaannya, Mr. Tanaka," ujar Alfa, suaranya sudah terdengar agak berat dan pelo.
Begitu Mr. Tanaka dan rombongannya pamit meninggalkan bar, ketegangan di tubuh Alfa runtuh seketika. Dia limbung dan jatuh terduduk di sofa. Efek alkohol yang sedari tadi dia tahan kini menyerang kesadarannya dengan telak.
Zia, yang kepalanya juga sudah mulai berputar hebat dan pandangannya mengabur, mencoba memapah Alfa.
"Alfa... kita berhasil. Ayo... ayo kita pulang ke apartemen,"
"Zia..." Alfa meracau, melingkarkan lengannya di leher Zia, menyandarkan seluruh berat tubuhnya pada wanita itu.
"Kita menang... Azad tidak bisa memisahkan kita lagi..."
Dengan sisa-sisa kesadaran yang menipis, Zia memesan taksi melalui pelayan bar. Sepanjang perjalanan menuju apartemen, keduanya saling bersandar dalam kondisi mabuk berat. Otak Zia dipenuhi oleh bayang-bayang ancaman cek kosong dari Azad, sementara otak Alfa dipenuhi ketakutan kehilangan takhta dan wanita yang menjadi obsesinya.
Begitu pintu apartemen mewah itu tertutup, Alfa langsung mendorong tubuh Zia ke dinding lorong. Sentuhan itu kasar namun sarat akan keputusasaan.
"Alfa... tunggu... aku pusing sekali," lirih Zia, mencoba mendorong dada Alfa, namun kekuatannya hilang entah ke mana. Kepalanya serasa berputar, dan efek alkohol membuat seluruh sensor di tubuhnya menjadi sangat sensitif.
"Jangan dorong aku, Zia... malam ini saja, biarkan aku memilikimu sepenuhnya," bisik Alfa di depan bibir Zia. Napasnya memburu, hangat dan beraroma wiski.
"Aku lelah berpura-pura kuat di depan semua orang. Hanya bersamamu aku bisa bernapas,"
Air mata Zia mengalir, berbaur dengan rasa pening yang luar biasa. Kata-kata Alfa terdengar seperti jeritan minta tolong dari seorang anak kecil yang ketakutan. Ditambah dengan rasa takut bahwa ini mungkin menjadi malam terakhirnya bersama Alfa sebelum dia terpaksa pergi demi menyelamatkan butik Amara, Zia akhirnya berhenti meluncurkan penolakan.
Alfa mencium Zia dengan intensitas yang membakar. Gairah yang dipicu oleh alkohol dan emosi yang tertekan selama berhari-hari meledak begitu saja. Alfa mengangkat tubuh Zia, membawanya menuju kamar tidur utama dalam kegelapan yang remang.
Di atas ranjang yang luas itu, di bawah pengaruh zat yang mengaburkan akal sehat, keduanya tenggelam dalam lautan keintiman yang panas. Alfa menyalurkan seluruh rasa takutnya melalui sentuhan-sentuhan yang menuntut, sementara Zia menerima setiap pasrah sebagai bentuk perpisahan yang manis namun menyakitkan.
Mereka bercinta dalam kondisi setengah sadar, melupakan sejenak batasan dunia nyata dan rahasia medis yang sempat diucapkan Alfa pagi sebelumnya.
Keesokan paginya, matahari bersinar terlalu terik, menembus gorden satin yang tidak tertutup rapat.
Zia terbangun dengan rasa sakit yang luar biasa di kepalanya. Tubuhnya terasa remuk. Saat dia menoleh ke samping, ranjang itu sudah kosong. Hanya ada bekas kerutan di seprai yang menandakan Alfa sempat tidur di sana.
Zia bangun dengan perlahan, melilitkan selimut di tubuhnya, lalu melangkah ke kamar mandi. Rasa mual yang teramat sangat mendadak bergejolak di dadanya. Dia berlari ke arah wastafel dan memuntahkan cairan bening berulang kali hingga tubuhnya lemas.
"Mungkin ini cuma efek samping alkohol semalam," bisiknya pada diri sendiri sambil membasuh wajahnya dengan air dingin.
Zia berjalan kembali ke kamar, bermaksud merapikan pakaiannya yang berserakan di lantai. Namun, pandangannya terisap pada meja rias. Di sana, tergeletak sebuah amplop cokelat tebal yang diletakkan di samping kunci apartemen.
Zia mendekat dan membuka amplop itu. Di dalamnya bukan dokumen bisnis, melainkan sebuah cek kosong yang kemarin diberikan oleh Azad Abraham, beserta sebuah surat perjanjian bermaterai yang menyatakan bahwa Zia Anastasia bersedia menerima uang kompensasi dan berjanji tidak akan pernah menemui Alfa Abraham lagi seumur hidupnya.
Air mata Zia kembali menetes. Dia ingat ancaman Azad tentang butik Amara. Namun, saat dia menatap pantulan dirinya di cermin, mengingat bagaimana Alfa memeluknya dengan penuh keputusasaan semalam, Zia meremas surat perjanjian itu dengan geram.
"Aku tidak bisa pergi begitu saja... aku harus membicarakannya dengan Alfa sekali lagi," gumam Zia dengan tekad yang tersisa.
Zia tidak tahu, bahwa apa yang terjadi di atas ranjang itu semalam, di bawah pengaruh alkohol dan kepasrahan akan menjadi sumbu pendek dari bom waktu yang siap menghancurkan seluruh sisa hidupnya dalam beberapa minggu ke depan.
***
Tiga minggu kemudian.
Zia berdiri di dalam kamar mandi butik Amara dengan tangan yang bergetar hebat hingga alat kecil berbentuk pipih di genggamannya hampir terjatuh ke lantai marmer.
Napasnya tertahan di tenggorokan. Matanya melotot menatap dua garis merah muda yang tertera dengan sangat jelas di alat tes kehamilan tersebut. Dua garis tegas yang menandakan ada kehidupan baru yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.
"Garis dua? Tapi... tapi bagaimana bisa?" bisik Zia dengan wajah pucat pasi, seluruh tubuhnya mendadak mati rasa.
Pintu kamar mandi tiba-tiba diketuk keras dari luar, mengejutkan Zia hingga jantungnya serasa melompat keluar.
"Zia? Kamu di dalam? Alfa datang mencarimu, dia menunggumu di depan!" suara Amara terdengar cemas dari balik pintu.