NovelToon NovelToon
Balas Dendam Nyonya Cha

Balas Dendam Nyonya Cha

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mayraa Ibnurafa

Han Ji-an rela dicap "mandul" dan dihina mertua demi menutupi aib suaminya, Kang Min-woo, yang tidak subur. Namun, ketulusannya dikhianati. Min-woo berselingkuh dengan sahabat sekaligus dokter kandungan Ji-an, memalsukan rekam medisnya, lalu mendepaknya tanpa sepeser uang pun.

​Di titik hancur, Ji-an dinikahi Cha Jin-wook, CEO nomor satu di Korea. Tiga tahun berlalu, Ji-an membuktikan kebohongannya dengan melahirkan dua anak. Kini, ia kembali ke Seoul sebagai Nyonya Besar Cha Group yang elegan, siap menghancurkan karier, rumah tangga, dan harga diri orang-orang yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Bara Terakhir di Bawah Langit Jeju ​

​Deru baling-baling helikopter pribadi Cha Group memecah kesunyian malam di atas landasan terbang privat kawasan Jungmun. Di dalam kabin yang mewah dan kedap suara, atmosfer dipenuhi oleh kehangatan yang begitu intens. Cha Jin-wook tidak melepaskan dekapannya pada Han Ji-an sejak mereka meninggalkan restoran tebing tadi.

​Jin-wook menyelimuti tubuh ramping Ji-an dengan jubah wolnya sendiri, lalu menarik wanita itu bersandar sepenuhnya di dada bidangnya. Jemari besarnya yang hangat bertaut erat dengan jemari lentik Ji-an, sementara tangan lainnya dengan sangat lembut mengusap perut rata istrinya yang masih menyembunyikan detak jantung baru.

​"Kau benar-benar keterlaluan, Han Ji-an," bisik Jin-wook, suaranya yang berat dan serak bergetar tepat di samping telinga Ji-an, mengirimkan jalinan desir hangat yang familier. "Terbang ke Jeju tanpa memberi tahu suamimu dalam kondisi hamil muda... kau tahu seberapa hancurnya jantungku saat melihat kursi makanmu kosong siang tadi?"

​Ji-an mendongak, menatap sepasang mata elang Jin-wook yang memancarkan kilatan rasa takut kehilangan yang amat sangat. Di bawah pendar lampu kabin yang temaram, wajah tampan suaminya tampak begitu frustrasi namun penuh dengan gairah protektif.

​"Aku hanya tidak ingin kau kehilangan fokus pada rapat mergermu, sayang," jawab Ji-an lembut, menyentuh rahang tegas Jin-wook untuk menenangkannya. "Dan lagipula, aku tidak selemah itu. Aku tahu bagaimana cara menjinakkan serigala tua seperti Nyonya Besar Kang."

​"Aku tidak peduli pada ratusan rapat merger atau serigala mana pun di dunia ini jika itu harus mempertaruhkan keselamatanmu dan anak kita," sergah Jin-wook posesif. Ia menunduk, menangkap bibir Ji-an dalam sebuah ciuman yang lambat, dalam, dan penuh dengan tuntutan rasa syukur. Ciuman itu berlangsung lama di antara deru mesin helikopter, menghapus sisa kemarahan Jin-wook dan menggantinya dengan kehangatan romantis yang membuat Ji-an memejamkan mata, memasrahkan dirinya dalam dominasi sang suami.

​Ketika pendar ciuman itu terlepas, Jin-wook mengecup kening Ji-an lama. "Mulai besok, aku akan memindahkan ruang kerjaku ke rumah. Aku tidak akan membiarkanmu lepas dari pandanganku bahkan untuk satu detik pun, Nyonya Cha."

​Sementara itu, di dalam restoran privat yang telah porak-poranda oleh kedatangan Ji-an, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai bagi mereka yang tertinggal.

​Nyonya Besar Kang terduduk lemas di kursinya, menatap dokumen dari Kementerian Kehakiman Swiss yang tergeletak di atas meja dengan pandangan kosong. Seluruh benteng hukum yang ia bangun selama berbulan-bulan dihancurkan dalam sekejap oleh selembar kertas yang ditandatangani mendiang kepala keluarga Cha.

​"N-Nyonya Besar..." Kang Min-woo melangkah mendekat dengan tubuh yang gemetar, wajahnya pucat pasi. "Apa yang harus kita lakukan sekarang? Tim hukum Han Ji-an... mereka benar-benar mendaftarkan gugatan balik. Jika kejaksaan bergerak besok pagi, aku... aku akan langsung ditangkap!"

​PLAKK!

​Nyonya Besar Kang berdiri dan melayangkan tamparan keras ke pipi Min-woo, menyisakan bekas kemerahan di wajah pria itu. Napas wanita tua itu memburu penuh amarah yang meluap-luap.

​"Semua ini karena kebodohanmu, Kang Min-woo!" teriak Nyonya Besar Kang, suaranya melengking tajam menembus keheningan malam. "Kau bilang Han Ji-an hanyalah wanita lemah yang bisa digoyahkan dengan isu hak asuh anak! Kau bilang kau tahu semua kelemahannya! Ternyata dia jauh lebih mematikan daripada tikus seperti dirimu!"

​Min-woo memegangi pipinya yang terasa panas, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan rasa hina dan keputusasaan yang membakar dadanya. Ia menatap Nyonya Besar Kang dengan mata yang memerah penuh kebencian. "Kau yang merencanakan semua ini! Kau yang menjanjikan aku takhta di anak perusahaan logistik! Sekarang setelah gagal, kau menyalahkanku?!"

​"Pergi dari hadapanku!" usir Nyonya Besar Kang dingin, memalingkan wajahnya. "Hubungan kita selesai sampai di sini. Urus dirimu sendiri sebelum pengacara Cha Jin-wook menjebloskanmu ke dalam sel."

​Min-woo mundur selangkah demi selangkah, tertawa getir—sebuah tawa kosong dari seorang pria yang telah kehilangan segalanya untuk ketiga kalinya. Ia berbalik dan melangkah keluar dari restoran itu, menembus kabut tebal Jeju yang dingin dengan keputusasaan yang kini telah berubah menjadi kegilaan yang murni.

​Di bawah guyuran sisa gerimis, Min-woo berjalan menyusuri pinggiran tebing Pantai Jungmun. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan Han Ji-an yang tersenyum bahagia di dalam pelukan Cha Jin-wook—sebuah kebahagiaan yang dibangun di atas puing-puing kehancurannya.

​"Kau tidak boleh bahagia, Ji-an..." desis Min-woo, suaranya parau berbaur dengan suara deburan ombak yang menghantam batu karang di bawah tebing. "Jika aku tidak bisa kembali ke duniaku yang dulu... maka aku akan memastikan kau dan anak di dalam perutmu itu ikut hancur bersamaku. Ini belum berakhir."

​Min-woo meraba saku jaketnya, mengeluarkan ponsel murahnya, lalu menghubungi sebuah nomor rahasia—seorang kenalan lama dari dunia hitam logistik Incheon yang biasa mengurus "pekerjaan kotor" tanpa jejak. Kebangkrutan dan kehinaan telah mencabut sisa akal sehat Kang Min-woo, dan kini ia siap meluncurkan serangan fisik terakhir yang paling berbahaya langsung ke jantung pertahanan Hannam-dong.

​Kembali ke Seoul, keesokan paginya.

​Sesuai janjinya, Cha Jin-wook benar-benar mengubah ruang perpustakaan pribadi di penthouse menjadi ruang kerja sementaranya. Seluruh dokumen penting dan layar monitor bursa saham dipindahkan ke sana, membuat Sekretaris Kim harus bolak-balik membawa berkas dari kantor pusat.

​Ji-an melangkah masuk ke dalam perpustakaan dengan gaun terusan sutra longgar berwarna hijau pastel yang segar. Di tangannya, ia membawa nampan berisi teh jahe hangat untuk dirinya dan kopi hitam tanpa gula kesukaan suaminya.

​Melihat istrinya masuk, Jin-wook yang sedang membaca laporan keuangan langsung menutup berkasnya. Ia berdiri, mengambil alih nampan tersebut, lalu menuntun Ji-an untuk duduk di sofa panjang yang empuk.

​"Bagaimana keadaanmu pagi ini? Masih merasa mual?" tanya Jin-wook lembut, menempelkan telapak tangan hangatnya ke dahi Ji-an untuk memeriksa suhunya.

​"Aku baik-baik saja, sayang. Ramuan teh dari dokter kemarin sangat membantu," jawab Ji-an dengan senyuman hangat. Ia menyandarkan kepalanya di bahu tegap Jin-wook, menikmati aroma maskulin suaminya yang selalu menjadi penawar stres terbaik.

​Jin-wook mengambil cangkir kopi hitamnya, menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya kembali. Ia menoleh, menatap Ji-an dengan binar mata yang mendalam. Dengan gerakan yang sangat intim, ia menyatukan jemari mereka, mengecup punggung tangan Ji-an berulang kali sebelum beralih mengusap lembut perut Ji-an.

​"Rapat umum pemegang saham akan diadakan dua hari lagi, Ji-an. Setelah pembatalan gugatan dari Jeju resmi diumumkan oleh pengadilan siang ini, posisi kita di dewan komisaris sudah tidak bisa diganggu gugat lagi," ujar Jin-wook, suaranya terdengar penuh kemenangan. "Paman Tae-sung dan Nyonya Besar Kang sudah resmi kehilangan taring mereka."

​Ji-an mengangguk tulus, merasakan kedamaian yang begitu dalam di dalam pelukan suaminya. Namun, di layar monitor keamanan yang terpasang di sudut ruangan, bayangan sebuah mobil boks logistik misterius tampak melintas lambat di depan gerbang kompleks Hannam-dong, mengintai dengan mata yang penuh dengan racun dendam yang siap meledak.

​Badai hukum telah usai, namun bahaya fisik dari Kang Min-woo yang mulai gila siap mengancam kehamilan Nyonya Cha pada episode selanjutnya!

1
Mutia Kim🍑
Seneng banget deh Ji-An dapat pengganti yg jauh lebih baik🥰
Mutia Kim🍑
Memang lebih baik kamu pergi saja dari keluarga toxic itu Ji-an😌
Mayraa_Tapaa: makasih ka udah mampir
total 1 replies
Mayraa_Tapaa
Mampir ya readers readers yg baik dan keren-keren, udah up banyak episode loh jadi enak bacanya...setiap hari juga bakal up min 4 episode sehari ya....
kutunggu kehadiran kaliam🤗✨️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!