NovelToon NovelToon
Akhir Tragis Pelakor Yang Menghancurkan Hidupku

Akhir Tragis Pelakor Yang Menghancurkan Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: BI STORY

Aku menyelamatkannya dari kubangan lumpur, tapi dia justru menenggelamkanku ke dalam derita."

​Anita hidup dalam kesempurnaan. Dia memiliki kehormatan, kekayaan, dan Randy suami tercinta yang telah ia temani berjuang dari nol hingga sukses menjadi pengusaha properti kaya raya.

Namun, menara kebahagiaan itu runtuh seketika saat takdir mempertemukannya kembali dengan Valeria, sahabat masa kecilnya yang telah terpisah selama 15 tahun.

​Iba melihat nasib Valeria yang miskin dan terjerumus menjadi wanita malam, Anita dengan tulus mengulurkan tangan. Dia membawa Valeria masuk ke dalam kehidupannya dan memberikannya pekerjaan terhormat sebagai karyawan di kantor Randy.

Anita tidak pernah tahu bahwa malam pertama Valeria terjun ke dunia malam, pelanggan pertamanya adalah Randy. Dan sejak malam terkutuk itu, keduanya telah bermain api di belakangnya.

​Valeria yang digerogoti rasa iri mendalam atas kemewahan Anita, mulai melancarkan aksi liciknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BI STORY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seutas Benang Nyawa

​Rasa sakit yang teramat sangat, seperti disulut api yang tak kunjung padam, memaksa kelopak mata Anita terbuka. Kegelapan pekat langsung menyergap pandangannya.

Dinginnya angin malam hutan menusuk hingga ke tulang, beradu dengan sensasi terbakar yang luar biasa di seluruh wajahnya yang melepuh akibat air mendidih. Pipi kanannya yang bekas digigit tikus terasa berdenyut, mengalirkan rasa anyir darah yang membeku.

​Anita mencoba berteriak, namun suaranya tertahan oleh lakban hitam yang melilit erat mulutnya. Tangannya yang terikat di belakang punggung menyentuh tanah yang basah dan bebatuan tajam. Dia berada di dasar jurang.

​"Aku nggak boleh mati di sini. Vano... Vano masih butuh aku," bisik batin Anita, air matanya menetes, menimbulkan rasa perih yang luar biasa saat melewati kulit wajahnya yang rusak.

​Dengan sisa tenaga yang ada, Anita menggeser tubuhnya secara perlahan di atas tanah. Jemarinya meraba-raba kegelapan sampai dia menemukan sebuah batu cadas dengan sudut yang cukup runcing.

Sambil menahan napas karena rasa sakit di perutnya akibat pukulan Valeria, Anita mulai menggesekkan tali tambang plastik yang mengikat pergelangan tangannya ke ujung batu tajam itu.

​Srek... srek... srek...

​Setiap gerakan membuat kulit pergelangan tangannya lecet dan berdarah, namun Anita terus melakukannya dengan tekad murni untuk bertahan hidup.

​Sementara itu, di pinggiran kota, Trian mondar-mendir di depan lobi kantor Anita dengan perasaan yang sangat tidak tenang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.

Panggilan teleponnya ke ponsel Anita berkali-kali dialihkan ke kotak suara.

​Insting Trian berbisik bahwa ada sesuatu yang sangat buruk telah terjadi. Dia memutuskan untuk turun ke basemen parkir kantor, tempat yang sempat disebutkan Anita sebagai lokasi mobilnya berada.

Begitu sampai di slot parkir mobil milik Anita, Trian melihat pintu kemudi sedikit terbuka.

​Trian melangkah cepat dan memeriksa ke dalam kabin.

Detik itu juga, jantungnya serasa copot. Di atas jok kemudi, terdapat ceceran darah dan rambut yang rontok secara paksa.

​"Nggak... Anita!" pekik Trian panik.

​Tanpa membuang waktu, Trian langsung menghubungi Niko, sepupu ahli IT Anita yang dia kenal beberapa minggu lalu.

"Niko! Kakak sepupu lo dalam bahaya! Gue ada di basemen kantornya dan ada bekas kekerasan di mobilnya. Tolong lacak sinyal ponsel atau CCTV basemen sekarang juga!"

​Di seberang telepon, suara Niko terdengar mengetik dengan cepat.

"Sial! Sinyal ponsel Mbak Anita mati total dari jam lima sore, Bang! Tapi tunggu... gue lagi retas CCTV basemen. Ini dia! Jam lima lewat sepuluh, ada mobil sedan butut warna abu-abu masuk ke slot parkir Mbak Anita, dan beberapa menit kemudian mobil itu keluar. Gue lacak plat nomornya... itu mobil sewaan!"

​"Ke mana arah mobil itu pergi, Nik?!" tanya Trian dengan suara meninggi, dia sudah berlari menuju mobilnya sendiri.

​"Mobil itu mengarah ke jalur lintas utara, menuju kawasan hutan wisata terpencil di pinggiran kota. Lokasinya sepi dan banyak jurang. Gue bakal kirim koordinat rute terakhirnya ke ponsel lo!"

​"Gue berangkat sekarang. Hubungi polisi, suruh mereka menyusul ke koordinat itu!" gugup Trian sembari menginjak pedal gas mobilnya dalam-dalam, membelah keheningan malam dengan kecepatan penuh.

​Di dasar jurang, setelah hampir satu jam yang menyiksa, tali tambang di pergelangan tangan Anita akhirnya terputus. Dengan tangan yang gemetar dan mati rasa, Anita segera menarik paksa lakban hitam yang menempel di mulutnya.

​Srettt!

​"Aaahhh!" Anita merintih pelan saat lakban itu terlepas, ikut menarik sebagian kulit bibirnya yang kering.

Dia mengatur napasnya yang memburu, lalu dengan sisa kekuatannya, dia melepaskan ikatan di kakinya.

​Namun, tubuh Anita sudah terlalu lemah karena hipotermia dan syok akibat luka bakar.

Dia tidak bisa memanjat tebing jurang yang curam itu dalam kegelapan. Dia hanya bisa bersandar di batang pohon tumbang, memeluk tubuhnya sendiri yang menggigil hebat di bawah guyuran kabut malam yang dingin.

​Pukul 11 malam, sebuah mobil berhenti mendadak di tepi jalan sepi di tengah hutan berkabut. Trian keluar dari mobil dengan sebuah senter besar di tangannya. Sesuai koordinat Niko, mobil sewaan Valeria sempat berhenti lama di area tebing ini.

​"Anita! Anita! Kamu di mana?!" teriak Trian, suaranya menggema membelah sunyinya hutan.

​Dia mengarahkan cahaya senter ke arah bawah jurang yang dipenuhi semak berduri. Trian berjalan menyusuri bibir tebing, mengabaikan udara dingin yang menusuk jaketnya.

"Anita! Tolong jawab aku kalau kamu dengar!"

​Di dasar jurang, sayup-sayup suara teriakan Trian tertangkap oleh indra pendengaran Anita yang mulai melemah. Anita membuka matanya yang berat, melihat berkas cahaya senter yang menembus sela-sela pepohonan dari atas tebing.

​"Tri... Trian..." panggil Anita, namun suaranya terlalu parau dan lemah. Dia mengumpulkan seluruh napasnya, lalu berteriak sekuat yang dia bisa.

"Trian! Aku di bawah!"

​Mendengar sahutan lemah itu, Trian langsung mengarahkan senternya ke satu titik di dasar jurang. Cahaya itu menangkap sosok wanita yang terbaring lemah dengan pakaian yang kotor dan wajah yang rusak.

​"Anita!" tanpa pikir panjang mengenai keselamatannya sendiri, Trian nekat melompat turun, merosot melewati lereng jurang yang curam dan licin.

Dia terjatuh beberapa kali, tangannya tergores ranting pohon, namun dia tidak peduli.

​Trian tiba di dasar jurang dan langsung berlutut di samping Anita.

Saat cahaya senter memperjelas kondisi wajah Anita yang melepuh hancur dan berdarah, air mata Trian seketika tumpah. Dadanya bergemuruh oleh kombinasi rasa sakit yang teramat sangat dan kemarahan yang membakar.

​"Anita... apa yang dia lakuin sama kamu?" bisik Trian dengan suara tercekat, mendekap tubuh Anita yang sedingin es ke dalam pelukannya yang hangat.

​"Vano... selamatkan Vano... Valeria gila..." rintih Anita lemah sebelum matanya kembali terpejam, kehilangan kesadaran di pelukan Trian.

​Trian mempererat dekapannya, menyandarkan kepala Anita di dadanya. Sambil menatap ke arah kegelapan malam, mata Trian berkilat penuh dendam yang mematikan.

"Aku bersumpah, Anita. Demi setiap tetes darah dan rasa sakit yang kamu rasain malam ini... Valeria nggak akan pernah aku biarkan hidup tenang!"

Sementara itu, di kediamannya, Bu Kiara, ibu kandung Anita terus berjalan bolak-balik di ruang tamu dengan raut wajah yang dipenuhi kepanikan.

Jarum jam sudah bergerak melewati angka satu dini hari, namun anak perempuannya itu belum juga mengabari atau menampakkan batang hidungnya, padahal Vano sudah lama tertidur lelap di kamar.

​Bu Kiara berulang kali mencoba menghubungi nomor ponsel Anita, namun suara operator yang dingin kembali menyahut bahwa nomor tersebut tidak aktif.

Perasaan bersalah dan firasat buruk yang teramat sangat seketika mencengkeram dirinya.

Sambil menggenggam ponselnya dengan tangan yang gemetar, air mata Bu Kiara mulai berlinang deras, insting keibuannya berteriak bahwa sesuatu yang sangat mengerikan baru saja menimpa putri tercintanya.

Bersambung

1
Eridha Dewi
aneh
Ariany Sudjana
semoga Anita bisa diselamatkan, dan pelacur murahan itu, juga Randy, harus dihukum mati
Eneng Farida
autor ini mh salah judul kali ya bkn hrusnya judulnya akhir hidup isri sah bkn sebaliknya
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan yang bodoh kamu itu Valeria, kamu akan menyeret Anita dan Randy, yang ada juga kamu dan Randy yang akan jatuh, Anita sih cerdas, sudah mengamankan aset, dasar pelacur murahan yang bodoh 😂😂🤣🤣 hanya bisa ngangkang demi jadi istri konglomerat, tapi otaknya tolol 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
hahaha dasar pelacur murahan kamu itu Valeria, gimana rasanya aset yang kamu andalkan itu rusak parah disengat tawon?
Ariany Sudjana
hahahaha pelacur murahan ga mempan sama sengatan tawon ternyata 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
padahal Anita langsung saja masuk ke kantor Randy, jangan bicara dulu, kan lebih seru jadinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!