Seorang pemuda dari Klan Lin, Lin Huang mencoba mencari jalannya sendiri di tengah keputusannya. Hingga suatu hari, kejadian tak terduga yang dia alami justru menjadi titik balik baginya untuk hidup di tempat yang hanya peduli pada kekuatan ini... Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keterkejutan Semua Orang
Di leher pemuda Iblis itu, tergantung sebuah rantai besi yang mengikat lebih dari tiga puluh lencana perunggu yang saling berdentang.
Pemuda Iblis itu mengangkat wajahnya, menatap Huang dengan sepasang mata merah darah yang kosong namun memancarkan kegilaan bertarung yang murni. Begitu pandangannya terkunci pada Huang, sudut bibirnya terangkat, menyunggingkan senyum bengis yang memperlihatkan taring tajamnya.
"Manusia... aura fisikmu... sangat menarik," suara pemuda Iblis itu parau dan berat, seolah jarang digunakan. "Kau terasa... sangat kuat. Mari kita lihat, apakah tulang-tulangmu sekeras babi hutan di Benua Barat!"
BOOM!
Tanpa menunggu jawaban, pemuda Iblis itu menghentakkan kakinya hingga tanah di sekitarnya ambles, melesat maju bagai badai hitam yang membawa aura kematian murni langsung ke arah wajah Lin Huang. Ujian pertama ini baru saja mempertemukan Huang dengan salah satu monster sejati dari kalangan generasi muda Ras Iblis.
Serangan pemuda Iblis itu datang seperti hantaman badai gunung. Udara di depan Huang seolah meledak karena tekanan cakar hitamnya yang diselimuti oleh Qi kegelapan yang pekat.
Huang tahu dia tidak bisa meremehkan lawan kali ini. Pemuda Iblis di hadapannya berada di puncak Ranah Fondasi Jiwa, selangkah lagi menuju Ranah Formasi Inti. Di atas semua itu, bakat bertarung alaminya sebagai Ras Iblis murni membuat serangannya berkali-kali lipat lebih mematikan daripada Lu Chen yang sombong di gerbang tadi.
TAP!
Huang menyilangkan kedua lengannya di depan dada, mengandalkan kekuatan fisik murninya untuk menahan terjangan itu.
BUMMM!
Benturan hebat terjadi. Gelombang kejutnya menyapu bersih semak-semak dan meruntuhkan beberapa pohon di sekitar mereka. Tubuh Huang terdorong ke belakang, kakinya mengikis tanah sedalam beberapa inci sebelum akhirnya berhenti. Lengannya terasa panas dan sedikit mati rasa, sementara pakaian kain hitamnya di bagian lengan robek, memperlihatkan kulitnya yang sewarna perunggu memancarkan kilatan ungu samar yang langsung disembunyikannya.
"Hahaha! Menarik! Kau manusia pertama yang tidak hancur menjadi serpihan daging setelah menahan cakarku!" pemuda Iblis itu tertawa gila. Kehausan akan darah di matanya semakin membara.
Tanpa memberikan Huang waktu untuk bernapas, dia melesat kembali. Gerakannya sangat liar, cakarnya mencambuk udara dari berbagai sudut, menciptakan jaring-jaring energi hitam yang mematikan.
Huang berguling ke samping, menghindari tebasan yang membelah batu besar di belakangnya menjadi dua. Dia sadar, jika dia terus-menerus bertahan tanpa menggunakan Qi, fisiknya akan hancur perlahan. Namun, jika dia menggunakan energi Asura secara terang-terangan, para penguji di luar hutan pasti akan mendeteksinya.
'Aku harus memadatkan energi itu di dalam kepalan tanganku, menyamarkannya sebagai Qi elemen bumi yang berat!' pikir Huang cepat.
Saat cakar pemuda Iblis itu kembali mengarah ke lehernya, Huang merendahkan tubuhnya secara ekstrem. Meridian ungu di dalam tubuhnya berputar terbalik dengan kecepatan tinggi, memadatkan energi purba Asura tepat di pusat tinju kanannya. Udara di sekeliling tangannya tidak lagi mendenging ungu, melainkan bergetar hebat seolah-olah berat tangan Huang bertambah menjadi seberat gunung.
"Tinjuan Reruntuhan Bumi!" pekik Huang dalam hati, memberikan nama samaran pada tekniknya.
Tinju berat Huang menghantam lurus, membentur tepat di bagian tengah telapak cakar sang pemuda Iblis.
DUAARRR!
Ledakan kali ini jauh lebih terkonsentrasi. Tanah di bawah mereka berdua retak membentuk kawah melingkar yang dalam. Senyum gila di wajah pemuda Iblis itu mendadak membeku. Dia merasakan sebuah energi yang luar biasa padat, dingin, dan memiliki daya hancur yang tak masuk akal menembus pertahanan Qi kegelapannya, merembes masuk dan meretakkan tulang-tulang di tangan kanannya.
KRETEK!
Pemuda Iblis itu terlempar ke belakang sejauh puluhan meter, menabrak pohon raksasa hingga tumbang sebelum akhirnya mendarat dengan bertumpu pada satu lututnya. Darah hitam pekat menetes dari sudut bibirnya, dan tangan kanannya yang berupa cakar besar kini bergetar hebat, terkulai lemas dengan tulang-tulang yang bergeser.
Huang sendiri mundur lima langkah, napasnya sedikit memburu. Luka dalam di tubuhnya kembali berdenyut, namun regenerasi instan dari tubuh barunya dengan cepat menekan rasa sakit tersebut.
Pemuda Iblis itu menatap tangan kanannya yang cacat, lalu menatap Huang. Alih-alih marah atau ketakutan, matanya justru memancarkan rasa hormat yang aneh—sebuah karakteristik khas Ras Iblis yang hanya tunduk pada kekuatan mutlak.
"Namaku... Xing Ye," pemuda Iblis itu berdiri perlahan, memegangi tangan kanannya yang terluka. "Manusia, kau sangat kuat. Aku kalah dalam adu kekuatan fisik kali ini."
Dia meraih rantai besi di lehernya yang berisi puluhan lencana, lalu menarik paksa segenggam lencana perunggu dan melemparkannya ke arah Huang. Ada sekitar sepuluh lencana yang melayang di udara.
"Ini hadiah untuk pemenang. Di akademi nanti, aku akan menantangmu lagi setelah aku menembus Ranah Formasi Inti!" kata Xing Ye dengan seringai liar. Sebelum Huang sempat menjawab, sepasang sayap robeknya mengepak keras, membawa tubuh kekarnya melesat naik ke udara dan menghilang di balik kabut hutan.
Huang menangkap sepuluh lencana tersebut dengan ekspresi heran. Dia tidak menyangka bahwa Ras Iblis bisa bersikap se-ksatria itu setelah kekalahan. Dengan lencana-lencana ini di tangannya, Huang kini memegang total sebelas lencana—jumlah yang lebih dari cukup untuk menempatkannya di jajaran peringkat atas ujian.
---
TEEEEEEENNNNGG!
Suara lonceng perunggu raksasa tiba-kira bergema dari langit Hutan Ilusi, menandakan bahwa waktu enam jam telah habis dan ujian pertama resmi berakhir.
Kabut tebal di sekeliling Huang perlahan mulai terangkat, memperlihatkan area hutan yang telah hancur berantakan akibat pertempuran. Di kejauhan, sebuah pilar cahaya emas raksasa muncul, menjadi pemandu jalan bagi para peserta yang berhasil bertahan hidup untuk menuju ke alun-alun utama Akademi Empat Jagat.
Huang memasukkan lencana-lencananya ke dalam kantong kain, merapikan pakaiannya yang compang-camping, lalu berjalan dengan langkah tenang menuju pilar cahaya tersebut. Langkah pertamanya di dalam akademi telah memakan korban seorang jenius Ras Iblis, dan Huang tahu, namanya akan segera memicu riak besar di tempat berkumpulnya para monster ini.
Pilar cahaya emas mengantarkan Huang dan para peserta yang tersisa kembali ke alun-alun utama Akademi Empat Jagat. Kabut Hutan Ilusi kini telah sepenuhnya sirna, menyisakan pemandangan yang kontras di bawah langit sore yang benderang.
Dari ribuan peserta yang mengantre di gerbang beberapa jam lalu, kini hanya tersisa kurang dari separuhnya yang berhasil menginjakkan kaki di lantai marmer putih alun-alun. Mayoritas dari mereka terluka parah; zirah yang robek, darah yang mengering, dan tatapan mata yang dipenuhi trauma. Di dunia kultivasi, seleksi alam tidak pernah mengenal kata belas kasihan.
Di tengah alun-alun, melayang sebuah prasasti batu giok raksasa. Di atas permukaannya yang jernih, sederet nama perlahan terukir dengan cahaya keemasan berdasarkan jumlah lencana yang berhasil dikumpulkan.
Huang berjalan tenang di barisan belakang, namun pandangannya tetap tertuju pada prasasti tersebut.
Peringkat Ujian Pertama: Perburuan Lencana Jiwa
1. Mo Rong (Ras Manusia - Kekaisaran Langit Pusat) : 45 Lencana
2. Xing Ye (Ras Iblis - Klan Tanduk Hitam) : 22 Lencana
3. Bai Lian (Ras Siluman - Klan Rubah Salju) : 18 Lencana
Lin Huang (Ras Manusia - Kota Batas Awan) : 11 Lencana
Kemunculan nama Lin Huang di urutan kesepuluh besar seketika memicu bisik-bisik riuh di antara para peserta.
"Lin Huang? Siapa dia? Mengapa aku belum pernah mendengar nama jenius dari Kota Batas Awan?"
"Lihat pakaiannya, dia hanya rakyat jelata! Bagaimana mungkin dia bisa mengumpulkan sebelas lencana dan mengalahkan para pangeran kekaisaran?"
Tidak jauh dari sana, Lu Chen—pemuda angkuh yang sebelumnya dilempar Huang di gerbang—berdiri dengan wajah pucat kebiruan. Lehernya masih dibalut kain obat, dan saat matanya tidak sengaja berpapasan dengan tatapan dingin Huang, Lu Chen langsung memalingkan wajahnya dengan tubuh yang gemetar ketakutan. Dia menyadari bahwa jika di gerbang tadi Huang berniat membunuhnya, dia sudah menjadi mayat sekarang.
Di sisi lain alun-alun, Xing Ye, sang pemuda Iblis bersayap robek, tampak bersandar pada sebuah pilar batu. Tangan kanannya telah dibalut zirah perban magis. Ketika dia melihat Huang, dia tidak menunjukkan permusuhan, melainkan mengangkat kendi araknya tinggi-tinggi ke arah Huang, menyunggingkan seringai liar yang seolah berkata: 'Aku mengawasimu.'