NovelToon NovelToon
My Cold Husband, Rafael

My Cold Husband, Rafael

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Noor.H.y

Patah hati setelah memergoki kekasih yang begitu ia cintai berselingkuh di belakangnya, membuat Kanaya menyerah pada keadaan. Dengan hati yang masih terluka dan kecewa, ia akhirnya menerima perjodohan yang sejak lama telah direncanakan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria bernama Rafael. Seorang pria tampan namun dingin, tenang, dan sulit di tebak.
Bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah jalan pelarian untuk mengubur rasa sakit hatinya. Namun, siapa sangka dibalik sikap Rafael yang kaku dan tak perduli, tersimpan ketulusan yang perlahan mampu membuat hati Kanaya kembali percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Hadiah pernikahan

Rafael dan Kanaya duduk berdampingan di kursi belakang mobil mewah yang melaju meninggalkan area hotel. Suasana di dalam kabin begitu tenang, hanya terdengar suara halus mesin dan alunan musik instrumental yang diputar pelan.

Suasana di dalam mobil dipenuhi keheningan yang terasa canggung, namun anehnya tidak membuat siapa pun merasa benar-benar tidak nyaman.

Kanaya duduk tenang di kursi belakang. Kedua tangannya bertumpu di pangkuan, sementara pandangannya lurus menatap pemandangan di balik jendela. Pepohonan dan deretan bangunan berlalu begitu saja, tetapi pikirannya melayang entah ke mana.

Sesekali ia menghela napas pelan, masih berusaha mencerna perubahan besar yang terjadi dalam hidupnya hanya dalam waktu singkat.

Di sampingnya, Rafael tampak sama tenangnya. Ia bersandar santai sambil memegang tablet di tangan, jemarinya bergerak cepat membuka dokumen demi dokumen dan membalas beberapa email pekerjaan. Raut wajahnya tetap datar dan serius, seolah perjalanan itu hanyalah waktu luang di sela kesibukannya.

Pak Santo yang duduk di kursi kemudi melirik melalui kaca spion tengah. Melihat kedua penumpangnya sama-sama diam, ia hanya tersenyum tipis dalam hati.

"Eh.. Pak, kok lewat sini sih. Harusnya kan belok kanan bukan ke kiri, ini bukan jalan rumahku." seru Kanaya saat melihat Pak Santo membelokkan mobilnya ke arah kiri.

"Siapa yang mau kerumah kamu," kata Rafael datar, masih sibuk dengan layar tablet di tangannya.

Kanaya menoleh, "Terus kita mau kemana ?"

"Kerumah kita."

Belum sempat Kanaya bertanya kembali, pandangannya sudah teralihkan ke luar jendela saat mobil yang mereka tumpangi melambat dan memasuki sebuah kawasan perumahan elite.

Di sepanjang jalan, deretan pohon palem tertata rapi di sisi kanan dan kiri. Taman-taman yang terawat dengan hamparan bunga berwarna-warni membuat suasana terlihat asri dan tenang. Rumah-rumah megah bergaya modern berdiri berjajar dengan pagar tinggi serta sistem keamanan yang tampak begitu ketat.

Mobil yang dikemudikan Pak Santo berbelok memasuki sebuah gerbang otomatis berwarna hitam dengan ornamen emas. Gerbang itu terbuka perlahan setelah petugas keamanan memberi hormat.

Mobil melaju.

Tak lama kemudian, sebuah rumah megah dua lantai bergaya Eropa modern terlihat berdiri anggun di hadapan mereka. Dinding berwarna putih gading berpadu dengan pilar-pilar tinggi serta jendela-jendela besar berbingkai hitam yang memancarkan kesan elegan. Atap berwarna abu-abu gelap melengkapi desainnya, sementara balkon di lantai atas dihiasi tanaman hijau yang tertata rapi.

Di halaman depan, hamparan rumput yang terawat membentang luas dengan sebuah air mancur di tengah taman. Jalan setapak dari batu alam mengarah langsung ke pintu utama yang terbuat dari kayu jati berukir sederhana namun berkelas. Beberapa mobil mewah terparkir rapi di garasi samping rumah.

Mobil yang ditumpangi Rafael dan Kanaya melambat hingga akhirnya berhenti tepat di depan teras.

Kanaya terpaku beberapa saat, matanya berkeliling mengamati setiap sudut rumah itu.

"Ini..." gumamnya lirih.

Rafael yang baru saja menutup tabletnya mengikuti arah pandangan Kanaya. "Rumah kita."

Pak Santo turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil bagi mereka.

"Jadi.. Kita tinggal disini ? Berdua aja ?" tanya Kanaya, saat turun dari mobil.

"Hm.." balasnya singkat.

Pintu utama terbuka perlahan. Seorang wanita paruh baya bertubuh gempal berjalan menghampiri mereka dengan langkah tenang. Senyum hangat menghiasi wajahnya, memancarkan keramahan yang langsung membuat suasana terasa lebih nyaman.

"Selamat datang, Den, Non." sapanya lembut sambil sedikit menundukkan kepala sebagai bentuk hormat.

Tatapannya kemudian beralih pada Kanaya dengan sorot mata penuh kehangatan. "Ini pasti Nona Kanaya, ya? Saya Sumiati, biasa dipanggil Mbok Sum. Senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan non Kanaya."

Kanaya membalas senyum itu dengan sedikit kikuk, "Ah iya Mbok, saya Kanaya. Salam kenal."

"Mbok sum, tolong bawakan barangnya ke dalam." kata Rafael, lebih dulu masuk ke dalam rumah.

"Mari masuk non, Mbok tunjukkan kamarnya." kata Mbok Sum pelan. Kanaya hanya mengangguk, berjalan mengikuti Mbok Sum.

Sedangkan Rafael, entahlah. Lelaki itu sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah, tidak tahu pergi kemana lagi.

Begitu melangkah ke dalam, Kanaya kembali dibuat terpana. Interior rumah itu didominasi warna krem dan putih dengan sentuhan kayu yang elegan. Sebuah lampu kristal besar menggantung di langit-langit ruang utama, sementara tangga melengkung menuju lantai dua menambah kesan megah namun tetap hangat.

"Rumahnya bagus, nyaman juga." lirihnya.

Mbok Sum yang ada di sampingnya tersenyum, "Alhamdulillah, Mbok senang. Akhirnya Den Rafael menikah dan beruntung menemukan wanita cantik, manis, seperti nona Kanaya." lirihnya.

Kanaya terkekeh, "Mbok bisa aja. Dia yang beruntung, tapi aku yang apes." gerutunya.

"Loh, kok apes non ?"

Kanaya mendengus, "Gimana nggak apes, orang aku yang cantik, manis, humble gini ketemu sama manusia es."

Mbok Sum tertawa, "Non Kanaya ini bisa aja. Eh, sebenarnya Den Rafael ini baik kok, perhatian, mungkin memang sikapnya ini cuek dan irit bicara."

"Tapi, biasanya kalau orang yang begini kalau sudah jatuh cinta itu bakalan bucin, cintanya ugal-ugalan Non."

"Masa sih ?"

Mbok Sum mengangguk, "Biasanya sih gitu, seperti di drama cina yang biasa Mbok lihat itu." Mbok Sum kembali terkekeh.

"Aishh.. Mbok Sum malah korban drama cina. Nggak usah kebanyakan nonton drama, nanti jadi halu pengen jadi ceo mendadak."

"Yah, namanya juga hiburan non." kata Mbok Sum. Lalu berhenti di depan sebuah kamar, lalu membukakan pintunya.

"Sudah sampai Non, ini kamarnya. Kalau ada apa-apa panggil saya aja Non, saya akan siap dua puluh empat jam melayani anda." katanya, kemudian pamit untuk turun kebawah lagi.

"Makasih ya Mbok." balas Kanaya.

* *

Di taman belakang yang dipenuhi hamparan rumput hijau dan deretan bunga yang tertata rapi, Rafael berdiri dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Wajahnya datar dan serius.

Ponsel di telinganya tersambung dengan Andra, tangan kanannya sesekali memijat pelipis sambil mendengarkan laporan yang disampaikan.

"Jadi, bagaimana hasil pertemuan dengan klien tadi?" tanya Rafael tenang.

"Draf kerja samanya sudah mereka setujui, Pak. Tinggal menunggu tanda tangan akhir besok pagi. Tapi ada sedikit revisi di bagian pembagian saham," jelas Andra dari seberang sana.

Rafael menatap kolam kecil di depannya, berpikir beberapa detik.

"Kirimi saya semua dokumennya sekarang. Nanti saya pelajari malam ini. Kalau revisinya masih masuk akal, kita ikuti. Kalau merugikan perusahaan, langsung ajukan negosiasi ulang."

"Baik, Pak Rafael."

"Besok pagi saya akan ke kantor. Atur jadwal meeting jam sembilan pagi. Sebelum itu jangan ada janji dengan siapapun."

"Siap, Pak. Saya mengerti."

Rafael menutup ponselnya, memastikan layar itu benar-benar mati sebelum memasukkannya ke dalam saku celana.

Namun baru saja beberapa langkah, deringan telepon miliknya kembali berbunyi.

"Ya.. Opa ?" ucapnya pelan, saat menerima telepon dari Opa Theo.

"Jadi benar kamu tidak mau tinggal di rumah besar saja ?" kata Opa Theo di seberang sana.

"Hm.. Bukannya kemarin keputusanku sudah final kemarin, dan Opa juga setuju lalu memberikan rumah ini padaku."

Napas berat sang kakek terdengar di seberang telepon saat kembali mendengar penolakan sang cucu. "Ya sudah kalau begitu, jaga Kanaya baik-baik. Jangan lupa besok malam ajak dia kerumah untuk makan malam bersama."

"Baik, Opa."

Dari awal sebelum pernikahannya dengan Kanaya, Opa Theo sudah memutuskan agar Rafael kembali tinggal di rumah besae miliknya. Namun keinginan sang kakek tidak sejalan dengan keinginan sang cucu.

Rafael tidak menyetujui nya dengan berbagai alasan, malah memilih untuk tetap tinggal di apartemennya. Karena tidak ingin pusing dan meributkannya kembali, Opa Theo akhirnya memberikan sebuah hadiah rumah mewah yang kini ditinggali oleh Rafael dan Kanaya.

* *

Kanaya melihat sekeliling kamarnya yang cukup besar dan luas. Dominasi warna krem dan putih membuat ruangan itu terasa hangat sekaligus elegan. Jendela besar menghadap taman belakang, sementara sebuah sofa kecil berada di sudut ruangan lengkap dengan meja kayu berisi vas bunga segar.

Rasa penasarannya membawanya melangkah menuju walk-in closet.

Saat pintu lemari dibuka, matanya langsung melebar.

Deretan gaun dengan berbagai warna tergantung rapi, mulai dari dress kasual, pakaian kerja, hingga beberapa gaun pesta yang masih dibungkus plastik pelindung. Di rak bawah tersusun sepatu dengan ukuran yang tampak sama dengan miliknya, sementara di sisi lain berjajar tas dan beberapa kotak aksesori.

"Ini..? " gumam Kanaya pelan.

Perlahan ia menyentuh salah satu dress berwarna biru muda yang bahannya lembut di ujung jemarinya. Labelnya bahkan masih utuh, menandakan pakaian itu belum pernah dipakai.

Ia membuka laci berikutnya dan menemukan pakaian santai, piyama, hingga syal yang ditata berdasarkan warna. Semuanya terlihat dipersiapkan dengan sangat teliti.

Kanaya mengernyit bingung.

"Wah.. Dia benar-benar sudah menyiapkan semua ini.."

* *

Kanaya baru saja menutup pintu walk in closet ketika langkahnya terhenti.

Di ambang pintu kamar, Rafael baru saja masuk sambil menatap layar ponselnya. Jas yang sejak tadi dikenakannya sudah dilepas, hanya menyisakan kemeja putih dengan lengan tergulung rapi hingga siku.

Mereka sama-sama terkejut.

Kanaya yang gugup refleks melangkah mundur. Namun tanpa sadar, tumitnya menginjak ujung karpet yang sedikit terlipat.

"Akh—"

Tubuhnya kehilangan keseimbangan.

Rafael sontak mengangkat kepala. Dengan langkah cepat ia meraih lengan Kanaya sebelum gadis itu benar-benar jatuh.

Sayangnya, gerakan itu justru membuat keseimbangan Rafael ikut goyah.

Bruk.

Kanaya jatuh lebih dulu ke atas sofa panjang di dekat jendela, sementara Rafael ikut terdorong ke depan hingga satu tangannya bertumpu di sandaran sofa, tepat di samping kepala Kanaya.

Jarak mereka kini begitu dekat.

Kanaya membelalakkan mata. Ia bahkan bisa melihat pantulan wajahnya di bola mata pria itu.

Sedetik. Dua detik. Tidak ada yang berbicara.

Suara detak jam di dinding terasa jauh lebih pelan dibandingkan debar jantung Kanaya yang kini memenuhi telinganya. Dengan kedua mata mereka yang saling menatap dalam kesunyian itu.

* * * *

1
Noey Aprilia
Ya suami kutub lh,apa lg.....🤣🤣🤣....
Noey Aprilia
Mskpn klkas,tp ttp prhtian....
skrng psah kmar,tar lma2 jg dia dtng sndri.....🤭🤭🤭...
Noey Aprilia
Rafael nih tipe2 kulkas,tp aslinya prhtian....dia ga tau msti brskap ky gmna,mkanya kya acuh gt....tp ykin bgt kl bntr lg dia bkln bucin parah....
Noey Aprilia
Kanaya....tau ga kl sbnrnya km yg nyosor dluan?????🤭🤭🤭....
yg ngsih btas spa,yg lmpar bntal spa...
tp gengsi buat ngaku sih.....
Noey Aprilia
Enth spa yg bkln bucin dluan....ga sbr aja nunggu mreka mesra,trs bkin sng mntan nangis guling2...
Noey Aprilia
Hai kk...
Aku udh mmpir....slm knal....
btw,gmna nih mlm prtmanya???
bkln perang atw sling adu punggung???atw yg 1 tdr d rnjang,yg 1 d sofa....🤣🤣🤣
Noey Aprilia: Sama2....smngttt...😘😘😘
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!