Clarissa Anggreni, pemimpin mafia kejam yang dijuluki Queen of Damnation, tewas ditembak oleh sahabatnya sendiri, Kalina, dan kekasihnya, Rafael, karena perselingkuhan. Saat ajal menjemput, ia justru terbangun di tubuh Alisha Kirana Maharani – istri cupu korban KDRT dari konglomerat Giovan Salvatore Vizcaya, yang wajahnya persis seperti Rafael. Alisha baru saja jatuh dari lantai atas setelah ditembak orang tak dikenal. Keluarga Vizcaya mengira ia sudah mati. Tapi kini, di balik tubuh lemah Alisha, bersemayam jiwa seorang ratu maut. Di keluarga Vizcaya yang kejam, Alisha direndahkan sebagai pelayan. Giovan berselingkuh di depannya. Tapi Clarissa tidak pernah menjadi korban. Dengan kecerdikan, koneksi bawah tanah, dan haus balas dendam, Alisha (Clarissa) mulai menyusun rencana: ·Membalaskan kematian jasad aslinya kepada Rafael (Giovan) dan Kalina. · Menguasai keluarga Vizcaya dari dalam. · Menemukan siapa penembak yang hampir membunuh Alisha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertarik dengan Bini Orang:(
"Ayo, lima puluh putaran lagi baru istirahat!" teriak Alisha pada Rayhan yang sedang berlari.
"Ini u-udah lima puluh putaran, Lis," ucap Rayhan dengan napas terengah-engah.
"Ciih, baru juga lima puluh! Masih ada seratus lima puluh lagi nih."
"A-apa, kenapa banyak sekali!"
Bruk.
Rayhan menjatuhkan dirinya di bawah Alisha yang sedang berdiri, pria itu tampaknya kelelahan setelah lima puluh kali berlari.
"Ya sudah, istirahat hanya tiga menit."
"Hah, yang bener aja dong masa cuma tiga menit!"
"Cepat minum, waktumu tinggal dua menit lagi!" titah Alisha.
Rayhan segera berdiri dan berlari untuk mengambil minum karena dirinya memang sangat haus.
"Cepat, Rayhan!!" teriak Alisha.
Tak lama Rayhan kembali dengan sebotol minuman di tangannya. "Ini untuk kamu."
Alisha menarik minuman tersebut dan meminumnya. "Ayo kita lanjut lari lagi!"
Kepala Rayhan mengangguk, pria itu berlari mengikuti langkah Alisha dari belakang.
---
Di sisi lain, Giovan mencoba menghubungi Alisha namun sayangnya panggilannya tak terjawab.
"Ke mana dia? Masa iya, belum bangun," gumam Giovan.
Giovan kembali menghubungi Alisha, dan lagi-lagi panggilan masih belum diangkat.
Khawatir terjadi sesuatu, akhirnya Giovan menghubungi mommy-nya Emeline.
"Halo, Mom."
"Iya, Gov. Ada apa, Nak?"
"Mom, apa Alisha baik-baik saja?"
"Alisha? Oh, ya, dia baik-baik saja. Memangnya kenapa?"
"Tidak, aku hanya heran saja kenapa telepon dariku tidak dia angkat."
"Ahh, itu karena Alisha sedang joging bersama Rayhan, Gov. Mungkin karena itu juga dia tidak pegang ponsel."
"Apa, Mom? Rayhan?"
"Iya, Rayhan. Sepertinya mereka berdua sedang latihan."
"Latihan apa?"
"Mommy juga tidak tahu."
"Baiklah, Mom. Terima kasih infonya. See you."
"See you, sayang."
Tut...
Giovan mematikan panggilan teleponnya dengan Emeline. "Bisa-bisanya dia sama pria lain, sedangkan aku di sini mengkhawatirkannya!" gerutu Giovan.
---
"Hah, hah, sudah, Alisha, kita istirahat dulu!" pinta Rayhan.
Alisha menghentikan langkahnya, keduanya sudah dibanjiri keringat masing-masing setelah satu setengah jam berlari.
"Huft, tubuhku benar-benar panas!" gumam Rayhan yang tiba-tiba saja merasa gerah.
Alisha hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Rayhan, wanita itu menarik kunciran yang berada di pergelangan tangannya dan mengikat rambutnya tinggi.
Diam-diam Rayhan memerhatikan setiap gerak-gerik Alisha, entah mengapa pesona istri orang sangat menggoda imannya sekali.
Padahal Rayhan sudah pernah bersumpah, jika dia tidak akan terpikat pada istri orang apalagi sampai menjadi pembinor.
"Apa lihat-lihat?!" tanya Alisha sambil nada menyentak.
Rayhan tersentak kaget, pria itu segera mengalihkan tatapannya ke arah lain seraya berdehem.
"Perutmu, kenapa buncit? Kau hamil, kah?" tanya Rayhan sambil mencubit lemak di perut Alisha yang terekspos, karena Alisha hanya menggunakan tank top saja.
"Ciih, jangan pegang-pegang!" seru Alisha sambil menepis tangan Rayhan.
"Maaf, aku hanya salfok saja pada perutmu."
Alisha menundukkan kepalanya untuk melihat perutnya yang memang buncit karena lemak.
"Ini lemak bodoh! Aku tidak sedang hamil."
"Ahh, iya. Bicara tentang hamil, apa Giovan masih belum menyentuhmu?" tanya Rayhan.
Alisha memerhatikan wajah Rayhan dengan datar, entah apa maksud Rayhan mempertanyakan hal ini padanya.
"Sudah atau belumnya, tidak ada urusannya denganmu!" jawab Alisha.
Alisha hendak pergi tapi, suara Rayhan menghentikan langkah kakinya.
"Aku hanya bingung saja, apa yang membuat Giovan tidak tertarik denganmu, padahal kau ini cantik," ucap Rayhan.
Alisha membalikkan tubuhnya. "Masalah tertarik atau enggaknya, memang apa urusannya denganmu?" tanya Alisha.
"Tidak ada urusannya denganku sih, tapi bukankah jika kau hamil, maka Kakek akan memberikan 70% aset Vizcaya untuk anakmu."
Alisha menganggukkan kepalanya. "Soal itu kamu tenang saja, aku dan Giovan sudah memikirkannya."
"Hm?"
"Aku pastikan 70% aset Vizcaya akan jatuh ke tangan anakku!"
"Caranya? Kalian saja tidak pernah berhubungan badan."
Alisha terdiam, apa yang Rayhan ucapkan ada benarnya juga. Giovan sedang pergi dan Alisha baru melakukannya sekali, apa dia bisa langsung hamil? Entahlah, tapi Alisha sangat yakin jika benih Giovan akan manjur.
"Kata siapa aku dan Giovan tidak pernah berhubungan badan?"
Rayhan tampak terkejut. "Jadi, kalian sudah.."
"Tentu saja, sudah! Giovan mana tahan melihat tubuhku yang seksi ini!"
"Astaga, kapan?" tanya Rayhan tak percaya.
"Untuk apa kau bertanya?! Kau ingin mengintip, hah?!"
"T-tidak, bukan itu maksudku."
---
Gara-gara Rayhan membahas anak, Alisha jadi takut jika dalam waktu sebulan ini dia tidak bisa hamil.
"Tapi, saat aku melakukan itu aku sedang dalam masa subur!" gumamnya.
"Katanya kalau sedang dalam masa subur, maka anaknya akan cepat jadi!"
"Huft, semoga saja Tuhan mengizinkan aku untuk hamil."
---
Sedangkan di sisi lain, Elena yang sudah lama bersembunyi dari Edward kini sedang muntah-muntah.
Huek. Huek.
"Aduh, ini kenapa sih!"
Ia mengusap mulutnya sendiri dan berdiri di hadapan cermin. "Akhir-akhir ini aku sering mual, sebenarnya ada apa ini?"
"Apa aku hamil?"
"Hah, kalau iya, bagaimana ini?"
Elena segera keluar dari kamar mandi dan mengambil mantelnya untuk pergi ke rumah sakit.
---
Sementara itu, Giovan juga sedang berada di rumah sakit karena Edward yang tiba-tiba saja demam, mungkin karena musim dingin yang sedang terjadi.
Dia duduk di salah satu bangku tunggu sambil menunggu Kakeknya yang belum keluar.
Elena berjalan melewati Giovan, dan mengambil nomor antrian. Sedangkan Giovan justru tak mengenali Elena saat gadis itu melewatinya begitu saja.
"Come on, Miss Elena, the room is right here."
"Ya, thanks you."
Elena memasuki ruangan dokter dan dia langsung diperiksa oleh dokter kandungan di sana.
"Do you speak Indonesian?" tanya Elena pada dokter itu.
Dokter itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Ya, saya bisa, Nona," jawabnya.
"Apa aku betulan hamil?" tanya Elena.
"Sebentar ya, Nona. Kita periksa dulu," jawab sang dokter.
Dokter tersebut menaruh gel di perut Elena dan langsung memeriksa. "Nah, lihat itu, Nona."
"Ini adalah anak Anda."
Elena menatap dokter itu dengan bingung. "Berarti saya betulan hamil, Dok?"
"Iya, Nona. Selamat."
Elena tidak tahu harus bereaksi seperti apa, dia memang ingin hamil tapi setelah mengetahui dirinya betulan hamil, Elena jadi ragu sendiri.
Dokter itu memberikan beberapa vitamin untuk Elena dan menyarankan Elena untuk tidak meminum alkohol dulu.
"Terima kasih, Dok."
"Sama-sama."
Elena keluar dari ruangan dokter sambil menundukkan kepalanya, dia meremas foto USG anaknya sendiri.
"Bagaimana ini?" bingungnya.
Masalahnya Elena tidak tahu, anak siapa yang berada di dalam kandungannya.
"Aku harus minta tanggung jawab pada sia.."
BRUKK.
"Ahh, sorry, Miss."
Elena berdecak kesal dan melihat foto USG anaknya terjatuh. "Sorry, sorry."
Pria yang menabrak Elena segera memungut foto USG itu dan memberikannya pada...
"Elena?!"
"Giovan."
Kepala Giovan menunduk untuk melihat foto USG yang berada di tangannya. "El, kamu.."
"Aku hamil."
---
Bersambung
ini Novel baru aku👈✍️