NovelToon NovelToon
Shower Of Blood

Shower Of Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:200
Nilai: 5
Nama Author: ShAdOwFaNg

"Ugh..
aku harus..."

Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.

tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 21 : Rencana Baru

"Mmm... Apakah kamu tau sesuatu tentang, Aqua Vitae?"

Tuk, Duk, Bruk

Hening, semua alkemis yang ikut makan bersama mereka terdiam.

"A... Aqua Vitae? Obat paling mujarab itu? Kamu butuh buat apa Theo?" Robertus berusaha menanyakan tujuan Theo mencari obat itu dengan tergagap.

"Sebenernya, cuka yang paling murni hanya bisa dibuat dari Aqua Vitae."

"Kenapa? Kenapa nggak pake whiskey atau bir aja?"

Theo menggeleng, "Nggak bisa. Whiskey dan bir masih terlalu kotor untuk membuat cuka putih yang jernih."

"Nggak, di sini nggak ada. Mungkin, di ibukota Kerajaan Barat ada barang itu."

"Hmm... Baiklah, aku akan pergi ke ibukota Kerajaan Barat."

"Apa? Kamu? Ke ibukota?" tanya Silas kepada Theo.

"Ya, tapi aku nggak punya peta," ucap Theo dengan menganggukan kepalanya.

"Jadi... Kamu akan meninggalkan kami?" Lucy bertanya dengan wajah agak sedih.

"Yah, sepertinya begitu."

Theo memandang kedua temannya dengan pandangan yang sangat tidak enak.

Sebenarnya, jauh di dalam lubuk hati Theo. Theo sangat tidak ingin meninggalkan tempat itu.

"Hei, kawanku. Setidaknya berhati-hatilah dengan Joseph."

"Ha? Joseph?"

"Ya intinya Joseph."

Theo tidak begitu menghiraukan ucapan Robertus. Ia hanya memikirkan solusi agar bisa tetap bersama dengan Silas dan Lucy.

"Lucy... Silas... Sepertinya, kita memang harus berpisah di sini. Meskipun begitu, kita masih satu kelompok kan? Silas... Lucy..."

Theo merangkul kedua temannya dan menatap mereka dalam-dalam.

Tiba-tiba, Robertus mencetuskan sebuah ide.

"Tunggu, Aha... Aku lupa kalian sekelompok. Gimana kalo, aku bikin surat utusan kalian ku kirim ke rumah kuil di pinggiran ibukota?"

"Boleh!" Theo segera menyetujui ide itu dengan cepat.

"Umm..." Silas dan Lucy segera menganggukkan kepala mereka.

"Ok, sebelum itu, aku akan meminta cuka yang kamu buat. Tenang saja, akan aku bayar tiga koin emas setiap tong. Aku minta dua puluh tong." Robertus mengambil sebuah kantong dan mengeluarkan enam puluh keping koin emas.

"Ini..." Theo menerima uang itu dengan berat hati, bagaimanapun dia tau kalau cuka itu tidak perlu dibuat lama.

"Baiklah, akan aku terima dengan senang hati."

Theo meninggalkan ruangan itu, diikuti oleh Silas dan Lucy.

Di perjalanan menuju tavern, Theo meminta Lucy dan Silas mengantarnya sebentar mampir ke toko tong kayu di sekitar.

"Ayo mampir ke toko tong kayu dulu."

Langkah mereka berhenti di pinggiran kota, pada sebuah bangunan dengan lusinan tong tertumpuk di depan.

"Hei, menyingkir dasar bau!" Seorang pria tua berteriak kepada mereka.

Tampak pria itu sudah dipenuhi oleh kerutan dan keriput. Namun, goresan di tangannya sangat mampu menjelaskan keahliannya dalam membuat tong.

"Halo, permisi pak. Saya mau beli tong yang besar. Kira-kira ada tidak ya?"

"Hah? Tong besar? Aku tidak menjualnya. Tapi, kau bisa datang dalam lima hari untuk mendapatkannya."

Theo memegang sebuah kertas, lalu ia menulis ukuran yang ia perlukan.

"Bagaimana kalau, aku membeli sepuluh tong besar dengan ukuran kira-kira seratus botol, sepuluh tong dengan ukuran 75 botol, dan sepuluh tong dengan ukuran lima puluh

botol," ucap Theo sambil memberikan kertas berisi ukuran tong pesanannya.

"Apa? Hahahahaha, dasar anak muda sombong. Pergi kau, bagaimana mungkin ada orang yang bisa membayar tiga puluh keping koin emas. Aku tidak menerima pembayaran dengan mencicil." Kakek itu mengusir Theo dengan gestur tangan yang khas.

Glotak

"Tiga puluh keping emas. Kubayar lunas."

Theo mengeluarkan tiga puluh keping koin emas, lalu menumpuknya perlima keping.

"Apa? Baiklah, ahahhahaha. Aku suka gayamu anak muda. Pesanan atas nama Theo, akan aku kerjakan."

Kakek itu membalikan badannya, lalu ia pergi dari pandangan Theo.

"Hei!" Theo yang memiliki pertanyaan di kepalanya segera memanggil kakek yang sudah menghilang itu. Namun, tidak ada balasan atau respon dari kakek itu.

"Bagaimana dia tau namaku?" Theo terus memikirkan hal itu sepanjang perjalanan.

Ketika Theo dapat mencium wangi bir dan anggur, serta daging panggang. Dia segera berlari, masuk ke dalam tavern.

"Paman, pesan babi gorengnya dua porsi, dan tidak lupa bir hitamnya empat porsi."

"Empat? Yakin Theo?" tanya Lucy karena ia heran, mengapa Theo memesan banyak bir.

"Emm... Paman, aku tidak jadi pesan empat bir. Aku beli enam bir hitam dan tiga wine buah madu." Theo berteriak sekencang-kencangnya, berharap ada setidaknya satu atau dua orang yang mendengar.

"Hei, di sini ada wine? Minuman para bangsawan itu? Ah pasti mahal." Berbagai bisikan mulai memenuhi tavern.

"Harganya lima koin perak per botol kan paman?" Theo kembali berteriak, menanggapi orang yang mulai bergosip tentang wine itu.

"Ya!" Paul yang mulai mengerti permainan Theo segera membalasnya dengan sekuat tenaga.

"Ha? Murah? Pasti wine murahan yang tidak enak."

Sriing

Seluruh ruangan terdiam, semua gosip tentang wine yang buruk segera ditepis oleh aroma madu manis yang keluar dari wine itu.

Tes

Orang-orang di tavern mulai meminta pelayan membawakan wine buah madu itu, bahkan beberapa pelanggan mulai ribut untuk mendapatkan wine itu.

"Sudah-sudah, bagaimana kalau begini. Hei pemilik, setujukah kamu kalau wine ini di lelang saja?"

"Ya, tentu saja." Paul mengangguk dengan senang, terus mengikuti sandiwara Theo.

"Hei Theo, jangan menipu." Beberapa kali Silas dan Lucy berbisik kepada Theo, mengingatkannya untuk tidak menipu orang lain.

"Tenang saja," bisik Theo.

"Baiklah, bagaimana kalau begini. Aku akan menjadi pembawa acara lelang ini. Karena harga minuman ini adalah lima keping perak, maka kita jadikan itu sebagai harga dasar. Setuju?"

Sontak seluruh orang di ruangan itu berteriak, "Ya! Ya! Ya!"

Entah bagaimana, Theo seakan berhasil membuat dirinya menjadi pusat perhatian di tavern itu.

"Baiklah hadirin sekalian, kita akan mulai pada botol pertama wine buah madu."

"Enam keping perak!" Seorang pria meneriakkan harga.

"Tujuh keping!" teriak seorang wanita.

"Delapan keping!" Teriak pria lain di barisan belakang.

Setelah beberapa kali menawar harga, botol pertama terjual dengan harga 95 keping perak. Jauh dari harga seharusnya.

Malam itu, bar dipenuhi dengan sorakan dan teriakan dari para pelanggan yang menginginkan wine buah madu.

"Ha, Gila. Kau tau, bahkan pendapatan dari penjualan wine itu jauh melebihi pendapatan dari penjualan bir selama setahun belakang."

Clap clap clap

Theo mendapatkan tepuk tangan keras dari Paul.

"Bukan apa-apa, aku hanya menggunakan gairah manusia mereka untuk mendapatkan uang."

"Apanya yang bukan apa-apa, kita mendapatkan sepuluh ribu koin perak. Itu sama aja dengan penghasilan selama setahun belakangan. Kalau begitu, ini."

Paul mengulurkan enam ribu koin perak.

"Ini setara dengan enam puluh keping emas, silahkan kau gunakan untuk apapun."

Theo segera menganggukkan kepalanya lagi, ia segera tau apa yang bisa dia pakai untuk membuat wine lebih banyak.

"Mari kita tidur dulu." Theo segera masuk ke dalam kamarnya dan tertidur pulas di atas kasur.

Keesokan paginya, Theo segera pergi ke arah sebuah bengkel penempa.

"Permisi, aku mau beli alat."

"Apa? Alat? Aku tidak menerima pemesanan apapun selain senjata."

"Kubayar satu koin emas." Theo mengulurkan sekeping koin emas.

"Mmm... Baiklah, akan aku kerjakan."

"Baiklah, kira-kira kapan jadinya?"

"Tunggulah sampai empat hari lagi."

Theo segera pergi, ia pergi ke tavern dan kembali ke kamarnya.

Theo memasuki ruang jiwanya.

"Waaah, buah madu ini mulai semakin banyak. Aku sekarang mau memisahkan biji dan buahnya dulu ah."

Theo memanen semua buah madunya, lalu ia membelah buah madu dan mengeluarkan bijinya.

Bau manis yang pekat bertambah seiring bertambahnya jumlah biji yang bertumpuk.

Tiba-tiba, terdengar suara yang sangat tidak asing bagi Theo.

"Zzzzzzz nguunhgggg!"

...****************...

,End Ch. 21 : Rencana Baru

Makasih semuanya udah baca karyaku, jangan lupa like, comment dan favorit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!