Demi memastikan calon tunangan yang akan dijodohkan orang tuanya, Bella terpaksa menyamar bekerja di perusahaan milik Gilang, pria yang dipilih oleh sang papa untuk menjadi suaminya.
Satria Wijaya,, papa Bella adalah seorang pengusaha kaya raya dan Bella adalah anak semata wayang pasangan Satria dan Hani. Bella tentu tidak ingin calon suaminya, bersedia menikah dengannya hanya karena harta dan ia pun ingin memastikan jika pria yang akan menjadi pendamping hidupnya adalah pria setia.
Namun, kesalahpahaman terjadi. Gilang justru menganggap Bella adalah wanita simpanan Satria karena Satria lah yang meminta Gilang untuk mempekerjakan Bella sebagai sekretaris Gilang tanpa melalui proses pengrekrutan karyawan pada umumnya.
Lantas, bagaimana perjalanan kisah mereka selanjutnya? Ikuti saja kisah Bella dan Gilang dalam novel Sekretaris Palsu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Tipe Pria Idaman
Memakai kaos turtle neck hitam dan celana katun mocca. Rambut diikat dengan kalung asesoris panjang yang dipakainya, Bella masih tetap memperlihatkan aura kecantikan yang sulit ditampik kaum Adam jika memandangnya. Tak heran jika Jimmy masih berusaha menaklukkannya meskipun berulang kali diperingatkan Gilang untuk tidak mendekati Bella.
Aksi nekat Bella yang menggoda Gilang merupakan berkah tersendiri bagi Jimmy. Akal bulusnya bisa ia gunakan untuk mengecoh Gilang, sehingga ia berhasil mengajak Bella dinner malam ini dengan memanfaatkan rasa khawatir Gilang.
"Bapak nggak takut digosipin sama saya?" tanya Bella ketika mereka duduk santai di sofa cafe.
Jimmy sengaja memilih salah satu meja yang terletak di balkon, menikmati indahnya pemandangan malam kota Jakarta.
"Saya sudah biasa digosipkan, nggak masalah buat saya." Jimmy menjawab dengan santai.
Bella menatap Jimmy yang memiliki sikap yang berlawanan dengan Gilang dalam menghadapi wanita.
"Kenapa kamu lihat saya seperti itu? Jangan bilang kamu mulai terpikat sama saya, ya!" Sadar dirinya diperhatikan Bella dengan lekat, Jimmy kembali mengeluarkan jurus-jurus ampuhnya dalam menggoda wanita.
Tak ada rona merah yang membias di wajah Bella. Justru tawa kecil lah yang akhirnya terdengar, merespon untaikan kata-kata Jimmy yang terindikasi menggodanya.
"Bapak bukan tipe pria idaman saya, Pak." Kalimat jawaban yang diberikan Bella membuat senyum merekah di bibir Jimmy lenyap seketika.
"Memangnya tipe pria yang kamu suka seperti apa?" Jimmy terpancing hingga menanyakan tipe pria yang diinginkan Bella menjadi kekasih hatinya, karena secara tak langsung, balasan Bella bagaikan penegasan jika wanita itu tak berminat padanya.
"Saya suka tipe pria yang setia, hanya berkomitmen pada satu wanita saja!" tegas Bella.
Jimmy menyeringai sambil menggaruk tengkuknya merasa tersindir oleh Bella.
"Kamu menyindir saya?" tanyanya, namun tak menampakkan rasa tersinggung.
"Memangnya Bapak merasa tersindir? Padahal saya nggak menyebut merk, lho, Pak!" Sebenarnya jawaban Bella memang sengaja ia tujukan sebagai sindiran pada Jimmy, tapi dia berkelit.
Jimmy terkekeh. Matanya masih menatap penuh kagum pada wanita di hadapannya saat ini.
"Nih cewek gemesin banget," batinnya, semakin besar keinginan untuk bisa dekat dengan Bella, kalau bisa dia ingin menjadikan Bella sebagai pendampingnya. Tidak perduli walau harus mengingkari janji pada calon tunangannya saat ini.
"Kamu suka pria yang setia pada satu wanita, apa karena itu kamu menggoda Gilang?" Jimmy mulai menyinggung sikap Bella pada Gilang siang tadi. Bella menyebut suka pria yang setia, tapi Bella justru menggoda Gilang yang akan menjadi menantu Pak Satria.
"Memang Pak Gilang tipe pria setia, ya?" Bukan sanggahan yang diucapkan Bella, justru pertanyaan yang bisa menjadi informasi soal kepribadian Gilang yang belum sepenuhnya ia ketahui. Jimmy sahabat dekat Gilang, sedikit banyak pasti tahu akan kisah asmara Gilang selama ini.
"Ya, Bos kita itu memang tipe pria setia. Setidaknya selama mengenal Gilang, dia hanya pernah mempunyai hubungan asmara dengan satu wanita dan itupun ketika masih awal-awal kuliah. Tapi, sekarang ini dia calon menantu Pak Satria. Mungkin karena itu dia marah waktu melihat kamu dekat-dekat sama calon mertuanya." Jimmy menjelaskan soal asmara Gilang yang hampir ia ketahui semuanya.
"Hmmm, hanya mempunyai satu mantan? Apa mantannya itu begitu berkesan sampai dia nggak cari pacar lagi sampai memutuskan menerima tawaran Papih?" gumam Bella menerka-nerka.
"Pak Gilang akan menikah dengan anaknya Pak Satria, Pak?" Berlaga innocent, Bella pura-pura tidak tahu tentang recana perjodohan Gilang dengannya anak Pak Satria.
Kerutan di kening Jimmy terbentuk. Dekat dengan Pak Satria, ia pikir Bella mengetahui rencana perjodohan tersebut.
"Kamu nggak tahu? Pak Satria nggak cerita sama kamu?" tanya Jimmy heran.
Bella menggerakkan kepalanya dengan cepat dan memberi sebuah jawaban, "Kemarin waktu ketemu dengan Bu Helen, Pak Gilang bilang kalau beliau akan bertunangan, saya nggak tahu kalau calon tunangannya itu ternyata anaknya Pak Satria." Begitu apik Bella memerankan sandiwaranya. "Pasti Pak Gilang cinta banget sama calon tunangan itu ya, Pak?" Bella ingin tahu lebih banyak tentang sikap Gilang terhadap rencana perjodohan mereka. Sebab, ketika ia menyinggung perjodohan mereka pada Gilang, air muka Gilang berubah total.
Jimmy tertawa mencibir dan berucap, "Mereka itu belum pernah bertemu apalagi kenalan." Seperti terhipnotis dengan lakon yang dimainkan Bella, Jimmy dengan enteng mengungkap soal hubungan Gilang dengan anak Pak Satria.
"Hahh, kok, bisa?" tanya Bella memasang wajah terkejut.
Jimmy menyesap minuman di meja sebelum menjawab pertanyaan Bella.
"Beberapa waktu lalu keuangan perusahaan 'kan mengalami kesulitan, karena sebagian modal ditarik oleh saudara tiri Bos. Waktu itu kami berusaha mencari jalan keluar, mencari orang yang bisa menolong kami. Kebetulan orang yang pertama kami datangi itu kantor Pak Satria untuk menawarkan saham perusahaan. Kebetulan Pak Satria menyetujui untuk membantu kami." Secara lengkap, Jimmy akhirnya memaparkan awal terjadinya perjodohan Gilang dan anak Pak Satria.
Bella mendengarkan setiap penjelasan Jimmy tentang Gilang. Tak ada yang beda seperti yang diceritakan papanya tentang Gilang.
"Jadi Pak Gilang juga terpaksa menerima perjodohan itu? Kenapa Pak Gilang nggak menolak kalau memang tidak setuju dengan rencana Pak Satria?" tanya Bella lagi.
"Gilang nggak ingin mempertaruhkan nasib karyawan Mahesa Persada. Gilang khawatir Pak Satria akan tersinggung dan akan membatalkan rencana memberi modal usaha jika menolak perjodohan itu. Nggak sedikit karyawan yang terancam akan kehilangan mata pencaharian jika Pak Gilang menolak." Jimmy memaparkan penyebab Gilang menerima perjodohan yang ditawarkan Pak Satria.
Bella tertegun mendengar cerita Jimmy mengenai sikap Gilang terhadap para karyawannya. Di balik sikap menyebalkan Gilang terhadapnya, ternyata Gilang seorang pemimpin yang sangat bertanggung jawab terhadap anak buah. Gilang rela mengesampingkan ego. Menggadaikan kebahagiaannya sendiri demi menyelamatkan nasib karyawannya.
"Pantas Papih ngotot ingin menikahi aku dengan dia." Rasa kagum pada Gilang tanpa disadari hingga di hati Bella. Dia mulai mengerti alasan kuat papanya memaksakan perjodohan dirinya dengan Gilang. Tanpa sadar senyum lega terukir di sudut bibir Bella.
"Ummm, saya nggak sangka Pak Gilang begitu bijaksana." Kalimat tulus terucap dari bibir Bella.
Jimmy melirik Bella ketika wanita itu mengucapkan kalimat kekaguman untuk Gilang.
"Hey, jangan kagum apalagi jatuh cinta sama dia, sainganmu berat!" bisik Jimmy mengingatkan, khawatir Bella benar-benar jatuh hati pada Gilang.
Bella terkekeh mendengar Jimmy yang mengingatkan agar tidak berniat mengganggu rencana perjodohan Gilang.
"Pak Gilang sosok komplit, Pak. Selain ganteng, setia, bertanggung jawab, CEO pula, Saya mengagumi beliau." Bella harus mengakui kekagumannya pada sikap dan tanggung jawab Gilang sebagai pemimpin perusahaan.
"Hahaha, kalau kamu cari CEO, tenang saja, Bella. Sebentar lagi saya akan menggantikan Gilang jadi CEO Mahesa Persada." Teringat janji yang diucapkan Gilang, dengan percaya diri Jimmy membocorkan niat Gilang menyerahkan kepemimpinan perusahaan Mahesa Persada kepadanya.
Bola mata yang dihiasi bulu mata lentik Bella membeliak, menduga Jimmy akan mengkhianati Gilang
"Pak Jimmy mau mengkudeta Pak Gilang?" tudungnya kemudian.
Tawa Jimmy seketika pecah dianggap akan berkhianat pada sahabatnya sendiri.
"Saya itu tipe sahabat dan anak buah yang loyal, Bella. Nggak mungkin saya mengkhianati Gilang." Jimmy membantah tuduhan Bella. "Gilang pernah bilang, kalau dia menikah dan diminta Pak Satria mengurus perusahaan beliau, Gilang meminta saya untuk menggantikan posisinya di Mahesa Persada," cerita Jimmy.
"Dia ternyata berambisi ingin berkuasa di perusahaan papih juga ternyata." Kekaguman Bella pada sosok Gilang tiba-tiba terkikis mendengar rencana Gilang yang disampaikan Jimmy. Menjadi menantu orang kaya raya seperti papanya, siapa yang bernafsu ingin menguasai harta sang papa? Itu merupakan tawaran menggiurkan menurutnya.
"Pak Satria itu punya anak semata wayang dan nggak berminat mengelola perusahaan papanya, sementara beliau sudah menua, butuh seseorang yang bisa membantunya." Jimmy melanjutkan ceritanya.
"Astaga, Papih kenapa curhat gitu ke semua orang? Nanti aku dianggap anak yang nggak bertanggung jawab." Bola mata Bella berputar, karena penolakannya mengurus usaha papanya diketahui banyak orang.
"Gilang nggak mengecewakan Pak Satria diberi kepercayaan itu dan ingin fokus membantu perusahaan Pak Satria, karena itu dia minta saya yang handle Mahesa Persada."
Untung saja Jimmy segera menyambung ceritanya hingga Bella menarik nafas lega.
"Hey, kenapa kita terus membahas bos kita? Padahal kita sedang kencan." Menyadari dirinya banyak bicara tentang Jimmy, dia menginterupsi dirinya sendiri.
"Oh ya, ngomong-ngomong, kamu bisa tinggal di apartemen itu. Itu salah satu apartemen mahal di kota ini. Apa orang tuamu yang sewakan apartemen untukmu?" Jimmy akhirnya bisa menyampaikan pertanyaan yang membuatnya penasaran. Untuk seorang karyawan biasa seperti Bella, bisa menyewa apartemen mahal seperti yang dimiliki Gilang adalah hal yang mengejutkan.
"Ummm ..." Bola mata Bella bergerak ke kanan dan ke kiri secara bergantian sambil mencari alasan untuk memberi jawaban pada Jimmy. "Itu papa aku minta bantuan Pak Satria untuk carikan saya tempat tinggal, Pak. Terus saya malah disewakan apartemen itu," jawab Bella dengan menyeringai.
❤️❤️❤️
Bersambung
bakal makin gencar gak nih Bella menggoda Gilang setelah dengar cerita Jimmy😁
.