NovelToon NovelToon
Sekretaris Palsu

Sekretaris Palsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: REZ Zha

Demi memastikan calon tunangan yang akan dijodohkan orang tuanya, Bella terpaksa menyamar bekerja di perusahaan milik Gilang, pria yang dipilih oleh sang papa untuk menjadi suaminya.

Satria Wijaya,, papa Bella adalah seorang pengusaha kaya raya dan Bella adalah anak semata wayang pasangan Satria dan Hani. Bella tentu tidak ingin calon suaminya, bersedia menikah dengannya hanya karena harta dan ia pun ingin memastikan jika pria yang akan menjadi pendamping hidupnya adalah pria setia.

Namun, kesalahpahaman terjadi. Gilang justru menganggap Bella adalah wanita simpanan Satria karena Satria lah yang meminta Gilang untuk mempekerjakan Bella sebagai sekretaris Gilang tanpa melalui proses pengrekrutan karyawan pada umumnya.

Lantas, bagaimana perjalanan kisah mereka selanjutnya? Ikuti saja kisah Bella dan Gilang dalam novel Sekretaris Palsu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Identitas Bella

Gilang tak sendiri mencari informasi tentang Bella di kantornya. Bukan dengan Jimmy, melainkan ditemani Pak Oktavianus, kepala HRD, dia mencari file data Bella.

Meskipun ia pemilik sekaligus bos di perusahaan itu, Gilang tak ingin lancang mengobrak-abrik arsip pegawai tanpa sepengatahuan orang yang bertanggung jawab pada divisi tersebut, karenanya ia langsung menghubungi Pak Oktavianus untuk membantunya ketika perjalanan menuju kantornya.

"Hanya ada KTP dan ijazah SMA saja, Pak." Pak Oktavianus menyodorkan arsip milik Bella pada Gilang.

Gilang menerima amplop berisi arsip Bella. Pertama ia lihat adalah lembar ijazah SMA ternama dan favorit di Jakarta, semua nilai yang tertera tak ada satu mata pelajaran pun yang nilainya di bawah sembilan puluh lima, menandakan jika Bella memang wanita yang pintar.

Kini Gilang mengamati kartu tanda penduduk Bella, nama, tanggal lahir dan yang terpenting adalah alamat yang tertera pada kartu identitas itu.

Keningnya seketika mengeryit membaca alamat tempat tinggal Bella ternyata bukan di Bandung seperti cerita Bella dulu, melainkan kawasan yang ia ketahui merupakan salah satu kawasan pemukiman elit di Jakarta.

Gilang merogoh ponselnya dan mendokumentasikan KTP Bella melalui kamera ponselnya.

"Maaf, kalau boleh tahu, ada masalah apa sebenarnya, Pak?" Pak Oktavianus merasa penasaran, karena dirinya diminta ke kantor malam-malam begini hanya untuk menunjukkan data salah satu pegawai.

Dia memang merasa, kehadiran Bella di kantor Mahesa Persada memang suatu kejanggalan, namun, saat ia tahu Bella adalah titipan pengusaha yang membantu masalah keuangan perusahaan, ia tak mencoba menyelidiki tentang Bella.

"Tidak ada apa-apa, Pak Oktav, hanya ingin pegang data Bella saja. Saya perlu dengan ini." Untuk saat ini, Gilang belum bisa menceritakan soal dugaannya tentang Bella, sehingga ia tak jujur mengatakan alasannya datang mencari arsip Bella.

Pak Oktavianus tak berani bertanya kembali. Dia mengerti, sepertinya bosnya itu merahasiakan sesuatu. Dia bekerja untuk Gilang, tak mungkin ia akan membantah apa yang diucapkan Gilang.

"Tolong rahasiakan hal ini dari siapa pun juga, Pak Oktav. Sementara ini, jangan ada yang tahu kalau saya datang mencari arsip Bella, termasuk pada Jimmy!" Untuk pertama kalinya, Gilang mengabaikan sahabatnya itu. Selama ini, tak ada rahasia sekecil apapun yang ia sembunyikan dari Jimmy. Tapi, kali ini dia ingin memastikan lebih dulu soal identitas Bella sebelum menceritakannya pada Jimmy.

"Baik, Pak." Pak Oktavianus mengerti apa yang diperintah oleh Gilang.

Setelah mendapatkan data tentang Bella, tak membuang waktu, Gilang langsung mencari alamat yang tertera di KTP Bella, hingga kini mobilnya berhenti di sebuah kawasan perumahan yang tidak bisa diakses dengan mudah oleh orang asing terkecuali tamu yang diketahui security yang berjaga di gerbang perumahan itu atas izin pemilik rumah di kawasan tersebut.

"Dia beralamat di kawasan perumahan elit, tapi dia mengaku orang tuanya di Bandung dan dia kini tinggal di apartemen yang sama denganku, Sebenarnya apa yang dia rencanakan?" Gilang masih mencoba mencari jawaban.

Keesokan harinya ...

Gilang merapihkan blazer-nya sebelum keluar dari lift yang membawanya dari lantai dasar ke lantai ruang kerjanya berada.

Ting

Dia melangkah ke luar lift, berusaha sesantai mungkin menuju ruangannya. Jimmy sudah memberinya kabar jika Bella sudah kembali beraktivitas dan ia tak ingin menunjukkan kecemburuannya atas apa yang ia lihat semalam ketika Pak Satria berada di apartemen Bella dan juga kecurigaannya pada Bella.

"Selamat pagi, Pak." Bella menyapa seperti biasa, hanya saja agak canggung, mungkin karena Gilang memergokinya bersama Pak Satria semalam.

"Pagi ..." Gilang membalas dengan mengulum senyum tipis.

Bella terkesiap, tak menyangka Gilang akan membalas begitu hangat. Walau belum lama mengenal Gilang, namun, Bella mulai mengenal karakter pria itu, terutama saat dikendalikan cemburu ketika dirinya bersama pria lain. Tapi apa yang ia lihat saat ini, Gilang justru lebih tenang, seakan tak terjadi sesuatu kemarin.

"Kamu sudah beraktifitas? Apa kamu sudah benar-benar fit?" Apalagi kini Gilang menanyakan tentang kondisinya, tak seperti biasanya yang selalu menampakkan kekesalan jika terbelenggu rasa cemburu.

"Saya sudah sembuh, Pak. Obat juga sudah saya siapkan untuk berjaga-jaga," jawab Bella, sedikit menarik nafas lega, karena tak harus mendengar cibiran Gilang.

"Ya sudah, jangan terlalu diforsir tenaganya dan jangan telat makan juga," ujar Gilang lalu melangkah menuju ruangannya.

"Baik, Pak," sahut Bella.

"Tumben banget dia nggak marah. Tapi, syukur, deh. Aku nggak mau perlu ngasih klarifikasi ke dia" Bella mengusap dadanya, bersyukur karena dia tak mendapat intimidasi dari Gilang.

Hari ini semua berjalan lancar, tak ada masalah yang terjadi. Pekerjaan Bella pun berjalan normal, Gilang sama sekali tak menyinggung soal keberadaannya bersama sang papa di apartemen semalam.

***

Dari balik jendela ruangannya, Gilang memperhatikan Bella yang sedang beraktivitas meja kerja wanita itu.

"Dia benar-benar memainkan perannya dengan apik? Sampai aku nggak berpikir ke sana." Gilang menyadari kebodohannya, tak berpikir untuk mencari tahu soal Bela sebelumnya.

Dia lalu kembali ke meja kerja dan mengambil ponsel yang ia taruh di dekat laptop. Jarinya dengan cepat mencari nomor kontak Ibu Hani. Dia sempat diberi nomor kontak Ibu Hani saat berkunjung ke kantor Star Gemilang, karena dirinya sudah dianggap sebagai calon menantu oleh keluarga Pak Satria.

Gilang menarik nafas dalam-dalam dan menghempaskannya perlahan. Ini pertama kalinya ia berkomunikasi via telepon dengan Ibu Hani. Ada rasa canggung di hatinya, secara tiba-tiba menghubungi calon ibu mertuanya itu. Namun, mungkin dari Ibu Hani dia bisa menyingkap soal identitas Bella yang sebenarnya.

Gilang lalu menyambungkan nomer telepon Ibu Hani, dengan perasaan berdebar menunggu respon Ibu Hani.

"Assalamualaikum, Ibu. Ini Gilang, Bu. Ibu, apa kabar?" Tanpa diduga panggilan teleponnya terhubung dengan Ibu Hani.

"Waalaikumsalam, oh, Gilang. Alhamdulillah, Mamih baik. Wah, Ada apa ini kamu telepon Mamih, Gilang?" Dari dari nada bicaranya, sepertinya Ibu Hani terkejut dihubungi oleh Gilang.

"Tidak ada apa-apa, Bu. Hanya ingin menyapa saja, tiba-tiba saya teringat sama Ibu. Saya senang bisa bertemu dan mengenal Ibu, kebetulan saya sudah tidak punya orang tua, jadi saya seperti melihat Ibu saya sendiri ketika bertemu dengan Ibu." Gilang bermanis kata.

"Mamih juga akan jadi orang tua kamu, Gilang. Kamu 'kan calon menantu Mamih," sahut Ibu Hani hangat.

"Oh, iya, Bu. Ngomong-ngomong selama ini saya belum pernah berkomunikasi dengan Kathy, karena saya belum punya nomor Kathy, Bu. Mungkin Ibu bisa memberi saya nomor ponsel Kathy, supaya kami bisa saling kenal lebih akrab." Jawaban Ibu Hani membuka jalan bagi Gilang untuk menyamarkan tujuan sebenarnya ia menelepon Ibu Hani.

"Oh, Papih belum kasih tahu nomer Kathy, ya?" Kali ini nada bicara ibu Hani terdengar gugup, ketika disinggung soal Kathy. "Ya sudah, nanti Mamih kirim ke kamu Gilang," lanjutnya kemudian.

"Baik, Bu. Terima kasih. Oh ya, saya ingin sekali memberi hadiah untuk Ibu, sebagai tanda terima kasih saya karena Ibu sudah sangat baik pada saya. Tapi, saya bingung ingin dikirim ke mana hadiahnya." Tujuan Gilang tentu saja mencari tahu alamat Pak Satria.

"Hadiah? Hadiah apa, Gilang? Nggak usah repot-repot kasih hadiah segala buat Mamih?" Ibu Hani memang tak mengharapkan diberi hadiah oleh Gilang.

"Hanya hadiah kecil, Bu. Mungkin nilainya tidak seberapa, hanya saja ini sebagai bentuk rasa sayang, karena saya sudah menganggap Ibu seperti orang tua saya sendiri." Gilang membujuk Ibu Hani untuk menerima hadiah yang akan ia berikan.

"Baiklah, kalau kamu memaksa. Kamu bisa antar saja ke rumah atau titip aja ke Papih." Akhirnya Ibu Hani mengalah.

"Alangkah baiknya kalau saya antar ke rumah, Bu. Sekalian saya silaturahmi ke Ibu." Cukup berdebar Gilang menyampaikan keinginannya yang terkesan memaksa itu.

"Hmmm, ya sudah, nanti Mamih kirimkan alamatnya ke kamu, Gilang." Ibu Hani pun setuju Gilang berkunjung ke rumahnya, tanpa menyadari jika itu adalah jebakan Gilang untuk mengetahui tempat tinggal Pak Satria.

❤️❤️❤️

Bersambung ....

1
ρυтяσ kang'typo✨
uhuuuuyy... Bella g bisa lupain bentuk tubuh Gilang🤣🤣🤣
ρυтяσ kang'typo✨
hayoooo mala u yang mikir mecuuuuuum Bel😄😄😄
Juwitae
cieee.. cieeee🤣🤣
Ernalita Sitompul
seru bangeet thor..trmksh
lanjuut😄
Dest Cookies
bella.. udah ngaku aja.. kamu suka banget kan dipeluk gilang.. diambil orang baru tau rasa..untung gilang udah bisa nebak kl bella calon istrinya..
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ՇɧeeՐՏ🍻
pagi2 udah di kasih tontonan gratis Bel.pasti bakal teringat terus oleh Bella.
Juwitae
Ayo lho Bella rahasiamu udh ketahuan sama Gilang. Jimmy jadi malu kan sama Bella 😄
ρυтяσ kang'typo✨
itu udah paten Jim.... Bella milik Gilang 🤣🤣🤣
ρυтяσ kang'typo✨
yaaaaa, Jimmy kau g ada kesempatan untuk. mendekati Bella kembali🤣🤣🤣🤣
Esther
Bella milik Gilang seorang, ingat itu Jimmy😂
Ernalita Sitompul
ah nanti terbongkarlah gara2 jimmy keceplosan😄😄😄
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ՇɧeeՐՏ🍻
udah di hak paten Bella cuma untuk Gilang😄
maju terus Gilang😁
sri susanti
lanjut,, sore up lagi kak,,
Dest Cookies
akhirnya bella menyadari juga kl gilang itu baik dan tampan.. gilang makin posesiif aja sama bella....
ρυтяσ kang'typo✨
kaaaaan.....malah sekarang u yang ketakutan kalo Gilang beneran suka sama Kathy🤣🤣🤣
Esther
nah sekarang kamu yang takut Bella.....ayo lanjutkan sandiwaramu Gilang.😂
Ernalita Sitompul
bella pusing sendiri😄😄😄
Dest Cookies
aduh.. mam zha aku jd gemes nih... duble up dong.. bella pasti panik dengar gilang mau ke amrik ketemu katty..
Popo Hanipo
makanya jangan kelamaan bersandiwara bel
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ՇɧeeՐՏ🍻
gantian sekarang Bella yang ketar-ketir. dan Gilang yang menikmati peran sandiwaranya sekarang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!