NovelToon NovelToon
Aku Pergi Dan Tak Kembali

Aku Pergi Dan Tak Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 - Sandra yang Berbeda

Sandra yang Berbeda

Ruangan CEO kembali terasa tegang begitu Sandra Prasetyo masuk tanpa menunggu dipersilakan.

Senyumnya masih sama seperti biasa. tenang, rapi, dan seolah semua situasi bisa ia kendalikan. Tapi Mona merasakan sesuatu yang berbeda hari ini. Lebih dingin, lebih sadar dan lebih… final.

Tatapan Sandra langsung berhenti pada paper bag sarapan di meja Mona, lalu bergeser ke Wira dan terakhir ke Mona sendiri.

“Sepertinya aku datang di waktu yang salah,” ucap Sandra pelan.

Wira langsung menutup map di tangannya. “Ada apa?”

Nada suaranya datar seperti biasa, tapi Mona bisa merasakan ketegangan kecil di baliknya.

Sandra melangkah masuk lebih dalam. “Aku cuma mau bicara sebentar.”

“Di luar jam kerja.”

“Aku tidak peduli jam kerja.”

Wira menghela napas pelan. “Bicara.”

Sandra mengangguk kecil, namun matanya masih sesekali melirik Mona.

“Aku minta Mona keluar dulu.”

Deg

Mona langsung menegang, namun sebelum ia sempat bereaksi...

“Tidak.”

Wira menjawab cepat. Suara itu tidak tinggi, tapi tegas.

Sandra terdiam beberapa detik. Lalu tersenyum tipis.

“Masih sama ya.”

Wira mengernyit. “Apa maksudmu?”

“Kamu selalu melindungi orang yang kamu pilih.” Kalimat itu membuat ruangan sedikit berubah atmosfernya.

Mona menunduk pelan, merasa seperti orang yang sedang dibicarakan di tengah ruangan tanpa persiapan.

Sandra menarik napas kecil. “Aku tidak akan lama.”

Ia duduk di sofa kecil seperti biasa, namun kali ini posturnya tidak sedominan sebelumnya. Lebih santai, lebih… menyerah.

“Aku datang bukan untuk membuat masalah.”

Wira menatapnya lama. “Kamu sudah cukup sering membuat masalah.”

Sandra tertawa kecil. “Iya.”

Jawaban itu jujur dan justru itu yang membuat Wira diam.

Sandra menyandarkan punggungnya, lalu berkata pelan, “Aku akan mundur dari semua urusan keluarga Prasetyo.”

Ruangan langsung hening bahkan Mona mengangkat wajahnya sedikit karena terkejut.

Wira tidak langsung bereaksi, hanya menatap Sandra dengan ekspresi yang sulit dibaca.

“Mundur?” ulangnya akhirnya.

“Iya.”

“Kenapa?”

Sandra tersenyum kecil, tapi kali ini tidak ada kesan menang di dalamnya.

“Karena aku capek.” Kalimat itu sederhana.

Tapi Mona bisa merasakan ada cerita panjang di baliknya.

Sandra melanjutkan, “Aku sudah terlalu lama berada di lingkaran yang sama. Bisnis. Nama keluarga. Harapan orang lain.”

Ia menghela napas pelan. “Dan aku sadar… aku tidak lagi punya tempat di hidupmu.”

Tatapannya beralih ke Wira. Tidak memaksa, tidak memohon, hanya menerima dan itu jauh lebih kuat dari apa pun yang pernah Sandra tunjukkan sebelumnya.

Wira tetap diam, namun Mona bisa melihat sesuatu di wajahnya yang jarang muncul... rasa bersalah kecil.

Sandra berdiri lagi. “Aku hanya ingin menutup semuanya dengan benar.”

Lalu ia melirik Mona, kali ini lebih lama, lebih dalam.

“Dia orang yang baik,” ucap Sandra pelan.

Mona langsung tersentak. Sandra tersenyum tipis.

“Tapi dunia Wira tidak pernah sederhana.” Ia berhenti sejenak. “Dan kamu sudah mulai masuk ke dalamnya sekarang.”

Mona tidak menjawab, karena itu benar. Sandra menoleh ke Wira lagi.

“Jaga dia kalau kamu memang serius.”

Wira mengernyit. “Aku tidak perlu kamu mengajarkan itu.”

Sandra tertawa kecil. “Iya. Kamu memang tidak pernah butuh siapa pun.”

Hening dan untuk pertama kalinya… Wira tidak membantah.

Sandra akhirnya berdiri untuk pergi, namun sebelum membuka pintu, ia berhenti sebentar.

“Aku pernah berpikir aku bisa kembali ke hidupmu.”

Wira tidak menjawab. “Tapi ternyata tidak semua pintu bisa dibuka dua kali.”

Lalu ia keluar. Pintu tertutup pelan dan ruangan kembali sunyi. Beberapa detik tidak ada yang bicara.

Mona masih berdiri kaku di tempatnya. Wira berjalan perlahan ke arah jendela. Tangannya masuk ke saku.

Sandra… benar-benar berubah. Tidak ada lagi tekanan, tidak ada lagi tuntutan, hanya kelegaan yang aneh.

Mona akhirnya bersuara pelan, “Dia… sudah selesai ya, Pak?”

Wira tidak langsung menjawab. Lalu berkata pelan, “Iya.”

Mona menunduk. Entah kenapa, ia tidak merasa senang. Tidak juga sedih, hanya kosong, seperti ada sesuatu yang masih tersimpan.

Karena meskipun Sandra terlihat seperti masa lalu Wira… itu tetap bagian dari hidup pria itu.

Wira menoleh ke Mona. “Kamu kenapa diam?”

Mona tersenyum kecil. “Tidak apa-apa.”

Tapi Wira tidak percaya. Ia berjalan mendekat.

“Bohong lagi.”

Mona menghela napas kecil. “Saya cuma… merasa aneh.”

“Aneh kenapa?”

“Karena semua orang di sekitar Bapak… sepertinya punya cerita yang panjang dengan Bapak.”

Wira diam dan itu sudah cukup menjadi jawaban.

Mona melanjutkan pelan, “Saya cuma takut… saya cuma jadi orang baru yang sebentar.”

Deg

Wira langsung menatapnya tajam.

“Siapa yang bilang begitu?”

“Tidak ada. Tapi…”

“Tidak ada tapi.” Suara Wira sedikit lebih tegas dari biasanya.

Mona langsung terdiam. Wira mendekat lagi, kali ini jaraknya sangat dekat, terlalu dekat.

“Aku tidak pernah menjadikanmu ‘orang sebentar’.”

Mona menahan napas.

“Kalau kamu takut…” Ia berhenti sebentar, alu menatap Mona lurus. “Berhenti lari.”

Jantung Mona langsung berdebar keras. Karena kalimat itu bukan perintah, tapi permintaan.

***

Sore harinya, Mona keluar dari kantor dengan pikiran yang tidak tenang.

Sandra sudah pergi, tapi justru itu yang membuat suasana terasa lebih sepi dari sebelumnya.

Di parkiran, Wira sudah menunggu di mobil. Seperti biasa.

“Ayo.”

Mona masuk tanpa banyak bicara, namun sebelum mobil bergerak, Wira berkata pelan, “Besok kita makan malam di luar.”

“Hah?”

“Hanya kita.”

Mona menoleh cepat. “Kenapa tiba-tiba?”

Wira menatap jalan di depan. “Karena aku mau kamu berhenti terlalu banyak berpikir.”

Mona terdiam, lalu pelan bertanya, “Pak…”

“Hm?”

“Bapak tidak takut?”

Wira mengerutkan sedikit alis. “Takut apa?”

“Kalau nanti semuanya jadi serius…”

Wira menghela napas pelan, lalu menjawab tanpa ragu, “Aku sudah terlambat untuk takut.”

Mobil melaju pelan dan Mona hanya bisa menatap jalan di luar jendela sambil menyadari satu hal... hubungan mereka tidak lagi bisa kembali seperti dulu.

Terlalu jauh sudah melangkah dan entah kenapa… hatinya tidak ingin mundur juga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!