NovelToon NovelToon
Kembaranku Penggantiku

Kembaranku Penggantiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 — Ayah yang Tidak Pernah Benar-Benar Hangat

Hujan turun makin deras.

Membasahi halaman rumah tua yang sekarang dipenuhi ketegangan dan bau darah.

Nadira berdiri membeku.

Kalimat ayah Arsen masih terngiang jelas di kepalanya.

“Kalau perlu semua saksi di sini bisa hilang malam ini.”

Itu bukan ancaman kosong.

Cara pria itu mengatakannya terlalu tenang.

Terlalu dingin.

Seolah nyawa manusia memang tidak berarti apa-apa baginya.

Dan hal paling mengerikan—

Arsen terlihat mengenal sisi itu.

“Ayah jangan mulai.”

Suara Arsen rendah.

Namun ada ketegangan yang belum pernah Nadira dengar sebelumnya.

Pria paruh baya itu menatap putranya lama.

Tatapan tajam yang penuh tekanan.

“Kamu bicara begitu demi mereka?”

Tatapannya bergeser pelan ke arah Nadira.

Dan Nadira langsung merasa tidak nyaman.

“Aku nggak peduli soal mereka.”

Jawaban Arsen terlalu cepat.

Namun entah kenapa…

Itu justru membuat jantung Nadira terasa aneh.

Karena ia tahu Arsen bohong.

“Ayah datang buat apa?”

Arsen melangkah maju sedikit.

Melindungi.

Selalu begitu.

Namun ayahnya hanya tersenyum tipis.

“Kamu tahu jawabannya.”

Tatapannya bergeser ke Adrian.

“Kamu terlalu lama hidup.”

Adrian tertawa kecil.

“Lucu.”

Ia menyeka darah di sudut bibirnya santai.

“Padahal dulu kita partner yang bagus.”

“Dulu.”

Suara ayah Arsen berubah dingin.

“Sekarang kamu cuma masalah.”

Deg.

Nadira langsung sadar.

Pria ini bahkan lebih berbahaya dari Adrian.

Karena Adrian masih menunjukkan emosi.

Sedangkan ayah Arsen—

Ia terasa kosong.

“Mending kita semua jujur malam ini.”

Adrian mulai berjalan perlahan di tengah hujan.

“Biar anak-anak ini tahu orang tua mereka sebenarnya siapa.”

Papanya langsung menegang.

“Diam.”

Namun Adrian mengabaikannya.

“Kalian pikir kecelakaan itu cuma soal dendam cinta?”

Tatapannya berubah tajam.

“Itu cuma awal.”

Nadira langsung merasakan firasat buruk lagi.

“Apa lagi…”

Adrian tersenyum kecil.

“Adik kalian.”

Jantung Nadira langsung berhenti sesaat.

“Kenapa semua selalu balik ke dia…”

Karena luka itu masih terlalu baru sekarang.

Masih terlalu sakit.

“Karena dia alasan semuanya hancur.”

Deg.

Semua langsung diam.

Bahkan hujan terasa ikut membeku.

“Jangan.”

Mamannya tiba-tiba bicara dengan suara gemetar.

Tatapannya penuh ketakutan.

“Jangan bahas dia lagi…”

Namun Adrian justru tertawa kecil.

“Kenapa?”

Tatapannya perlahan berubah tajam.

“Takut mereka tahu kenyataan?”

Papanya langsung melangkah maju marah.

“Aku bilang cukup!”

“Dia bukan anakmu.”

Deg.

Dunia Nadira langsung berhenti.

Apa?

Tubuh Nayla membeku.

Mamannya langsung menangis histeris.

Sedangkan Arsen refleks langsung menoleh ke Nadira.

Karena wajah gadis itu mendadak kehilangan warna.

“Apa…”

Suara Nadira nyaris hilang.

Adrian menatap langsung ke arah papanya.

Senyumnya perlahan berubah dingin.

“Sekarang bilang sendiri sama anakmu.”

Tidak ada jawaban.

Hanya suara hujan.

Dan napas semua orang yang mulai kacau.

“Papa…”

Air mata Nadira mulai jatuh lagi.

“Dia bohong kan?”

Papanya memejamkan mata kuat-kuat.

Namun diamnya…

Sudah cukup menghancurkan segalanya.

“Tidak…”

Tubuh Nadira langsung melemah.

Arsen buru-buru memegang pundaknya.

Namun Nadira bahkan hampir tidak sadar pria itu ada di sana.

Karena dunia di kepalanya baru saja runtuh lagi.

“Apa maksudnya bukan anak Papa…”

Mamannya menangis sambil menutup wajah.

Sedangkan Adrian tersenyum pahit.

“Lucu ya?”

Tatapannya penuh luka sekarang.

“Orang yang paling dibenci suami kamu…”

Ia menunjuk dirinya sendiri.

“…ternyata ayah kandung anak yang paling dia sayang.”

BRAKK!

Papanya langsung menghantam Adrian hingga pria itu jatuh ke tanah.

“DIAM!”

Namun semuanya sudah terlambat.

Karena Nadira mendengar semuanya dengan jelas.

Dan sekarang…

Semua potongan aneh selama hidupnya mulai terasa masuk akal.

Kenapa papanya selalu memperlakukannya berbeda.

Kenapa kakeknya lebih menyayanginya.

Kenapa Adrian begitu terobsesi padanya.

Karena…

Adrian adalah ayah kandungnya.

“Aku benci kalian…”

Suara Nadira pecah total.

Air matanya tidak berhenti.

“Aku benci kalian semua…”

“Nadira dengar Mama—”

“JANGAN SENTUH AKU!”

Bentakan itu membuat mamanya langsung diam sambil menangis.

Nadira mundur beberapa langkah.

Tatapannya kosong.

Hancur.

“Jadi selama ini…”

Ia tertawa kecil.

Namun terdengar menyakitkan.

“…aku hidup kayak orang bodoh.”

“Nadira…”

“Semua orang tahu kecuali aku.”

Papanya mencoba mendekat.

Namun Nadira langsung mundur lagi.

“Jangan dekat-dekat aku.”

Dan untuk pertama kalinya…

Tatapan gadis itu pada pria yang membesarkannya dipenuhi kebencian.

Arsen menggenggam tangannya pelan.

“Nadira.”

Namun gadis itu langsung menoleh.

Matanya merah penuh air mata.

“Kamu tahu?”

Deg.

Suasana langsung membeku lagi.

Karena Arsen tidak langsung menjawab.

Dan keterlambatan sekecil itu sudah cukup.

“Kamu tahu…”

Suara Nadira melemah.

Arsen menatapnya lama.

Lalu berkata pelan,

“Aku baru curiga beberapa hari lalu.”

Deg.

Air mata Nadira langsung jatuh lebih deras.

“Kenapa nggak bilang…”

“Aku mau pastiin dulu.”

“Kamu juga bohong.”

“Nadira—”

“Kalian semua sama aja!”

Ia langsung menarik tangannya kasar.

Dadanya terasa sakit sampai sulit bernapas.

Karena sekarang…

Ia tidak tahu siapa yang bisa dipercaya lagi.

“Lucu banget.”

Adrian bangkit perlahan sambil menghapus darah di bibirnya.

“Keluarga bahagia kalian akhirnya hancur juga.”

“Kamu senang?” bentak Nayla.

Namun Adrian justru diam beberapa detik.

Tatapannya perlahan jatuh ke Nadira.

Dan untuk pertama kalinya…

Ada sesuatu selain kegilaan di matanya.

Penyesalan.

“Kamu mirip ibumu.”

Deg.

Nadira langsung merinding.

“Jangan ngomong sama aku.”

“Aku cari kamu bertahun-tahun.”

“AKU NGGAK PEDULI!”

Tangisnya pecah lagi.

“Kamu pembunuh!”

Senyum Adrian langsung hilang.

Tatapannya berubah kosong.

“Iya.”

Jawaban itu terlalu cepat.

Terlalu jujur.

“Aku pembunuh.”

Hening.

“Dan aku pantas dibenci.”

Kalimat itu membuat suasana berubah aneh.

Karena untuk pertama kalinya…

Pria itu terdengar seperti manusia.

Bukan monster.

Namun sebelum siapa pun bicara lagi—

Ayah Arsen melangkah maju.

“Aku capek lihat drama keluarga ini.”

Tatapannya dingin.

“Semua masalah selesai malam ini.”

Beberapa pria bersenjata langsung bergerak maju.

Mamannya langsung panik.

“Jangan!”

Papanya berdiri melindungi keluarganya refleks.

Sedangkan Arsen langsung menarik Nadira ke belakang tubuhnya lagi.

“Kalian nggak akan sentuh mereka.”

Tatapan ayahnya langsung tajam.

“Kamu lawan ayah sendiri?”

“Aku lawan orang yang mau bunuh orang nggak bersalah.”

Deg.

Nadira langsung menatap Arsen.

Dan jantungnya terasa sakit.

Karena bahkan di situasi seperti ini…

Pria itu masih melindunginya.

“Ayah…”

Suara Arsen rendah.

Namun penuh amarah yang ditahan.

“Cukup.”

Ayahnya tertawa kecil.

“Kamu berubah gara-gara perempuan.”

“Kalau jadi manusia dianggap berubah…”

Tatapan Arsen mengeras.

“…berarti dari awal kita memang beda.”

Deg.

Untuk pertama kalinya…

Ayahnya terlihat marah.

Sangat marah.

“Kamu pikir aku bangun semua ini buat apa?!”

Bentakannya menggema.

“Aku lindungi keluarga kita!”

“Dengan nyuci uang?”

“Dengan bunuh orang?!”

Suasana makin panas.

Dan Nadira mulai sadar.

Arsen juga korban.

Ia tumbuh di keluarga yang sama rusaknya.

Sama dinginnya.

Tiba-tiba—

DUARR!

Suara tembakan terdengar.

Semua langsung tersentak.

Nadira membeku saat melihat Adrian jatuh berlutut.

Darah mengalir dari perutnya.

Mamannya langsung menjerit.

“ADRIAN!”

Ayah Arsen masih memegang pistol.

Wajahnya dingin tanpa penyesalan.

“Aku udah muak.”

Tubuh Nadira langsung dingin total.

Karena untuk sepersekian detik…

Ia merasa melihat dirinya sendiri di mata Adrian.

Takut.

Kesepian.

Dan penuh penyesalan.

Adrian batuk darah pelan.

Namun anehnya…

Ia malah tertawa kecil.

“Telat…”

Tatapannya perlahan jatuh ke Nadira.

“Aku memang pantas mati.”

Air mata Nadira langsung jatuh lagi.

Ia membenci pria ini.

Sangat membencinya.

Namun sekarang…

Melihatnya sekarat di depan mata tetap terasa menyakitkan.

Karena bagaimanapun…

Pria itu ayah kandungnya.

“Nadira…”

Suara Adrian melemah.

Namun Nadira tidak bergerak.

Tubuhnya membeku.

“Aku nggak pernah minta kamu maafin aku.”

Darah terus keluar dari bibir pria itu.

“Tapi ada satu hal…”

Napasnya mulai berat.

“Kamu harus tahu.”

Arsen langsung waspada.

Namun Adrian justru tersenyum tipis.

“Adikmu…”

Tatapannya perlahan kabur.

“…mungkin masih hidup.”

Deg.

Dunia kembali berhenti.

“Apa…?”

Namun sebelum siapa pun sempat bereaksi—

DUARR!

Tembakan kedua terdengar.

Dan kali ini…

Tubuh Adrian langsung jatuh tak bergerak di tanah basah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!