Arvand Pratama hanyalah seorang guru honorer santai yang menjunjung tinggi prinsip "kerja minimal, damai maksimal". Namun, hidupnya yang tenang mendadak hancur ketika ia dijebak untuk menjadi wali kelas 12 F—kelas buangan paling brutal, berisi sekumpulan murid bermasalah yang dicap sebagai parasit sekolah tanpa masa depan.
Saat Arvand berniat melarikan diri dan mengundurkan diri, sebuah Sistem Mengajar Mutlak misterius mendadak aktif di kepalanya. Sistem ini memberinya pilihan ekstrem: terima misi menjinakkan kelas 12 F dengan imbalan uang melimpah dan kemampuan guru supranatural, atau menolak dan mati mendadak karena serangan jantung!
Terjebak di antara ancaman kematian sistem, janji manis kepala sekolah untuk dinikahkan dengan guru matematika yang cantik, dan keliaran murid-murid 12 F yang siap menguji kewarasannya, petualangan Arvand pun dimulai. Mampukah guru honorer bermodal sistem ini mengubah kumpulan "produk gagal" menjadi barisan murid terbaik, atau justru ia yang akan mati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Gemuruh Nasihat di Balik Sunyinya Sinyal
Sambungan telepon digital di dasbor BMW 7 Series itu telah terputus beberapa menit yang lalu, meninggalkan keheningan yang terasa sangat pekat di dalam kabin mewah yang senyap. Namun, bagi Ani Fitriani Aulia, gema suara dari lereng Gunung Dieng seolah-olah masih menempel erat di sudut-sudut indra pendengarannya. Gadis remaja itu masih sesekali menyedot ingusnya pelan, meremas selembar tisu putih yang sudah basah oleh air mata haru yang tak bisa dibendung.
Kalimat demi kalimat, petuah demi petuah yang meluncur dari lisan kedua orang tua mereka, serta celotehan polos dari si bungsu Vina, seakan menari-nari di dalam ruang benaknya, mengukir sebuah prasasti tanggung jawab moral yang baru.
Arvand melirik ke arah kiri melalui sudut matanya. Ia melihat bagaimana bahu mungil adiknya masih sedikit berguncang. Nasihat Ayah Malik beberapa saat lalu memang sangat memukul ulu hati mereka berdua sebagai anak rantau.
"Vand, Ani... dengerin ucapan Bapak yang sudah bau tanah ini," suara berat Malik Pratama kembali terngiang di ingatan mereka. "Gusti Allah kalau mau mengangkat derajat manusia itu tidak perlu nunggu hitungan tahun, cuma butuh hitungan detik lewat perantara kripik kripto atau apa pun itu istilah kotanya. Tapi ingat, Nak... semakin tinggi pohon tumbuh, semakin kencang angin yang berembus. Jangan sampai ban mobil mewahmu itu membuat kamu lupa melangkah di atas tanah. Tetaplah jadi Arvand yang dulu, yang kalau berjalan selalu menunduk menghormati orang tua, dan yang kalau bicara tidak pernah meninggikan nada suara di depan orang miskin."
Ibu Sintia pun tidak kalah memberikan untaian nasihat yang sangat mendalam dari sudut pandang seorang ibu yang membesarkan anak dengan air mata prihatin.
"Nduk, Ani... kamu harus jadi benteng buat kakakmu," petuah Sintia Aulia meresap ke dalam sukma. "Masmu itu laki-laki, sekarang dia punya harta banyak. Kamu harus selalu ingatkan dia waktu salat, ingatkan dia untuk bersedekah. Dan buat kamu sendiri, jangan sampai pakaian kotamu nanti mengubah kesopanan bocah Wonosobo-mu. Tetap pakai jilbabmu yang menutup dada, tetap bicara dengan unggah-ungguh yang baik. Harta itu ujiannya lebih berat daripada kemiskinan, Nduk. Waktu kita miskin, ujian kita cuma sabar. Tapi waktu kita kaya, ujian kita adalah bersyukur dan menahan nafsu sombong."
Bahkan, si kecil Vina Talitha Qaireen yang baru duduk di bangku sekolah dasar pun tidak mau kalah ikut-ikutan menimpali dengan gaya meniru omongan guru mengajinya di TPA kampung halaman.
"Mas Arvand, Mbak Ani... kata Ustaz di mushola, kalau dapet rezeki banyak, nanti celengan masjidnya harus diisi sampai penuh banget, mboten boleh pelit! Terus... Mas Arvand mboten boleh beli mainan banyak-banyak buat Mas sendiri, harus dibagi sama Vina juga! Kalau Mas Arvand sombong, nanti Vina mboten mau ikut pindah ke kota yang ada kolam renangnya!" celetuk si bungsu dengan kelucuan yang sempat membuat seisi kabin bergetar oleh tawa haru.
Arvand menghela napas panjang, mengendurkan sedikit cengkeraman tangannya pada kemudi berlapis kulit Merino. Kalimat-kalimat itu adalah jangkar spiritualnya. Di saat dunia luar mungkin akan segera memujanya sebagai seorang guru honorer miliarder yang misterius, petuah dari gubuk kayu di Wonosobo itulah yang akan menjaganya agar tetap memijak bumi, tidak terseret oleh arogansi yang bisa menghancurkan fungsi luhur dari Sistem Mengajar Mutlak.
"Ani," panggil Arvand dengan nada suara yang sangat lembut, sengaja memecah lamunan adiknya yang masih menatap keluar jendela kaca film gelap.
Ani tersentak kecil, lalu mengusap sisa air mata di sudut matanya yang agak sembap dengan ujung jilbab kaosnya. "Nggih, Mas? Ada apa?"
"Kamu masih sedih memikirkan ucapan Ayah dan Ibu tadi?" tanya Arvand sambil memutar kemudi perlahan, membelokkan siluet bodi panjang BMW 7 Series itu masuk ke kawasan jalan sekunder yang agak menjauh dari pusat keramaian gedung bertingkat.
Ani menggelengkan kepalanya pelan, sebuah senyuman tipis yang sangat tulus terbit di wajahnya yang polos. "Mboten sedih yang gimana-gimana, Mas. Ani cuma terharu banget. Rasanya... beban berat yang selama ini mengganjal di pundak Ayah sama Ibu mendadak diangkat begitu saja oleh Gusti Allah lewat perantaraan Mas Arvand. Ani cuma merasa bersyukur, tapi juga takut kalau Ani mboten bisa menjaga amanah nasihat dari Ibu tadi."
"Mas mengerti, Ani. Mas juga merasakan hal yang sama," ucap Arvand, hatinya menghangat melihat kedewasaan pemikiran adiknya. "Makanya, malam ini, untuk merayakan langkah awal kehidupan baru kita, bagaimana kalau kita makan malam dulu sebelum menuju ke rumah baru kita?"
Mendengar kata 'makan malam', perut Ani secara tidak sengaja mengeluarkan suara keroncongan yang cukup nyaring di dalam kabin yang senyap, membuat wajah gadis remaja itu mendadak memerah karena malu. Memang sejak siang tadi, setelah pulang sekolah dan langsung disibukkan dengan urusan berkemas di Kos Sekali Nunggak Viral, perut mereka belum kemasukan makanan apa pun selain air putih dari dapur umum Mbok Sum.
Arvand tertawa terpingkal-pingkal mendengar kode alamiah dari perut adiknya tersebut. "Hahaha! Nah, kan... bener dugaan Mas. Perutmu sudah melakukan unjuk rasa massal sejak tadi ternyata."
Ani hanya bisa memanyunkan bibirnya yang tipis dengan gaya menggemaskan. "Ih, Mas Arvand mah... namanya juga manusia, Mas. Apalagi dari tadi hawanya dingin karena AC mobil ini bener-bener sejuk banget kayak di lereng Dieng."
"Iya, iya, Mas paham. Nah, sekarang Mas mau tanya sama kamu," kata Arvand sambil memperlambat laju kendaraan mewah berharga miliaran rupiah tersebut di lajur kiri jalan. "Sekarang kan kondisi keuangan kita sudah jauh lebih dari cukup. Uang di rekening Mas sudah tidak akan habis meskipun kita makan di restoran bintang lima setiap hari. Kamu mau Mas ajak makan di restoran mewah yang ada di dalam mall besar itu? Yang pelayannya pakai jas rapi, yang makanannya estetis, dan sekali makan harganya bisa setara dengan gaji honorer Mas selama tiga bulan?"
Ani tampak berpikir sejenak. Matanya sempat berbinar membayangkan kemewahan restoran yang sering ia lihat di tayangan televisi atau konten media sosial para artis kota. Namun, tak lama kemudian, bayangan wajah ibunya yang sedang menggoreng bala-bala di atas wajan berjelaga hitam kembali terlintas di benaknya. Nasihat sang ayah untuk tetap menginjak bumi seolah langsung menepis ego mudanya.
"Hmm... kalau Ani boleh jujur dan memilih, sekali-kali kita makan di tempat yang mewah ya mboten apa-apa, Mas. Ani juga penasaran rasanya kayak gimana," tutur Ani dengan kejujuran yang lugu. "Tapi... kalau dipikir-pikir lagi, rasanya kok agak kurang sreg ya di hati, Mas. Kita baru saja dapet berkah, masa langsung mau pamer makan di tempat seperti itu? Rasanya kayak mboten elok sama Gusti Allah. Gimana kalau kita cari makanan di pinggiran jalan saja, Mas? Macam warteg atau pedagang kaki lima begitu? Rasanya pasti jauh lebih akrab di lidah kita yang terbiasa makan nasi kucing dan tempe kemul."
Arvand tersenyum sangat lebar, merasa sangat bangga dengan pilihan adiknya yang tidak langsung silau oleh gemerlap harta. "Pilihan yang sangat bijak, Ani. Mas setuju seratus persen. Lidah Mas juga pasti bakal mogok kalau tiba-tiba disuruh mengunyah steak daging impor yang ukurannya sekecil prangko tapi harganya selangit. Lebih baik kita cari kuliner pinggir jalan yang mantap porsinya."
Pandangan mata Arvand kini mulai menyisir area trotoar jalan sekunder yang mereka lewati. Di kawasan ini, deretan pedagang kaki lima tampak menjamur di sepanjang pinggiran jalan. Ada tenda ayam geprek yang dipadati oleh antrean ojek online, ada warung pecel lele yang asap pembakarannya mengepul hebat ke udara memikat selera, hingga warung nasi goreng yang suara dentuman wajannya terdengar bertalu-talu.
Namun, dari sekian banyak pilihan tempat makan yang ramai dan riuh tersebut, perhatian Arvand justru terkesan dan tertuju pada sebuah warung tenda kaki lima yang terletak agak menyendiri di sebuah sudut jalan yang minim pencahayaan lampu kota. Warung tenda tersebut bertuliskan spanduk kain putih yang sudah agak kusam: "Warung Makan Sederhana: Spesial Menu Rumahan & Penyetan".
Berbeda total dengan warung-warung di sekitarnya yang ramai dikunjungi pembeli, warung tenda ini tampak sangat sepi, sunyi, dan mengenaskan. Di dalam area tenda, sama sekali tidak ada satu pun pelanggan yang duduk di atas kursi plastik yang disediakan. Hanya ada seorang pria paruh baya berpakaian kaus oblong lusuh yang sedang duduk termenung sambil sesekali mengibas lalat menggunakan selembar kain serbet, sementara seorang wanita paruh baya yang diduga istrinya sedang sibuk membersihkan permukaan etalase kaca yang isinya tinggal sedikit lauk-pauk matang.
Ada aura kesedihan dan keputusasaan yang sangat pekat memancar dari atmosfer warung tenda sepi tersebut. Dan entah mengapa, insting sosiologis Arvand sebagai seorang guru—yang kini telah dipertajam oleh berkah Sistem Mengajar Mutlak—merasa ada sebuah panggilan takdir yang sangat kuat menuntun jalurnya untuk singgah di tempat itu.
"Ani, kita makan di warung tenda yang sepi di depan itu saja ya. Kasihan, dari tadi Mas perhatikan tidak ada satu pun pembeli yang mampir ke sana. Sekalian kita bantu lariskan dagangan mereka malam ini," ucap Arvand sambil menyalakan lampu sein kiri mobilnya.
"Nggih, Mas. Ani ikut saja. Malah bagus kalau sepi begitu, kita mboten perlu mengantre lama-lama," jawab Ani setuju, matanya memandang iba ke arah warung tenda yang sunyi tersebut.
Saya selalu baca komentar kalian, dan siapa tahu ada ide yang bisa menginspirasi jalan cerita ke depannya. Terima kasih sudah mendukung novel ini! 🙏🔥