NovelToon NovelToon
Tolong Sayangi Aku

Tolong Sayangi Aku

Status: tamat
Genre:Dunia Masa Depan / Balas Dendam / Ketos / Tamat
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: canny***

"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Hukuman Bernama Lupa

Lorong Rumah Sakit Medika Utama—sebuah institusi swasta kecil yang jauh dari jangkauan relasi bisnis Bramantyo—terasa sangat sepi saat jarum jam menunjukkan pukul tiga pagi.

Di dalam ruang perawatan intensif yang dipesan dengan nama samaran "Sartika", detak jantung Aurora yang dibantu mesin menjadi satu-satunya musik latar yang menemani kegelisahan tiga pria di sana.

Eros, Gavin (yang akhirnya bergabung setelah dihubungi Arvin dengan penuh emosi), dan Juna berdiri dalam formasi yang tak biasa. Tidak ada keangkuhan. Tidak ada tatapan merendah. Hanya ada tiga laki-laki yang mendadak merasa sangat kerdil di depan maut.

"Dokter bilang dia sudah melewati masa kritisnya," ucap Juna, memecah keheningan. Ia baru saja kembali dari ruang konsultasi. "Tapi ada komplikasi. Kekurangan oksigen ke otak saat dia pingsan di apartemen tadi menyebabkan hypoxic brain injury ringan."

"Maksud lo apa, Jun? Jangan pakai bahasa medis yang ribet," potong Arvin kasar. Ia masih menggenggam buku catatan biru Aurora, seolah itu adalah satu-satunya jimat yang bisa menahan nyawa adiknya.

Juna menatap kakaknya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dia kemungkinan besar mengalami amnesia regresif. Dia mungkin bangun, tapi dia tidak akan ingat kejadian beberapa tahun terakhir. Atau lebih buruk lagi... dia tidak akan ingat siapa kita."

Arvin terdiam. Eros mengepalkan tangannya. Amnesia? Setelah semua luka yang mereka berikan, apakah Aurora akan melupakan semuanya? Apakah itu sebuah anugerah untuk Aurora, atau justru hukuman untuk mereka?

Dua belas jam kemudian, saat cahaya matahari sore menyeruak masuk melalui celah gorden, kelopak mata Aurora bergerak. Sangat perlahan, seolah kelopak itu terbuat dari timah yang sangat berat.

Arvin, yang tertidur dengan kepala di pinggiran ranjang, langsung terjaga. "Ra? Aurora? Kamu dengar Kak Arvin?"

Eros dan Juna yang sedang berada di sofa segera berdiri dan mendekat. Mereka menahan napas, menunggu reaksi dari gadis yang selama ini mereka panggil "anak pembawa sial".

Aurora membuka matanya sepenuhnya. Pupilnya mengecil saat terkena cahaya. Ia menatap langit-langit ruangan, lalu perlahan menoleh ke arah Arvin. Tidak ada ketakutan di matanya. Tidak ada binar kesedihan yang biasanya selalu ada di sana. Yang tersisa hanyalah kekosongan yang murni.

"Di... mana?" bisik Aurora. Suaranya kering, nyaris tidak terdengar.

"Kamu di rumah sakit, Ra. Kamu aman sekarang," ucap Eros lembut, sebuah nada suara yang belum pernah Aurora dengar seumur hidupnya. Eros mengulurkan tangan untuk mengusap rambut adiknya, namun ia ragu sejenak, takut Aurora akan berjengit ketakutan seperti biasanya.

Namun, Aurora tidak berjengit. Ia hanya menatap tangan Eros dengan bingung. Ia kemudian beralih menatap wajah mereka satu per satu.

"Kalian... siapa?"

Pertanyaan itu menghantam dada Arvin lebih keras daripada pukulan ayahnya. Ia mencoba tersenyum, meski bibirnya bergetar.

"Ini aku, Ra. Arvin. Ini Kak Eros, dan itu Juna. Kita... kita kakak kamu."

Aurora mengerutkan keningnya, tampak berusaha keras menggali ingatan dari kepalanya yang berdenyut nyeri. Ia menatap Arvin lama, lalu menggeleng pelan.

"Aku... tidak punya kakak," ucap Aurora lirih. "Setahuku, aku sendirian. Di rumah yang gelap... aku selalu sendirian."

Suasana ruangan itu mendadak menjadi sangat dingin. Kata-kata Aurora bukan sekadar efek amnesia; itu adalah cerminan dari apa yang selama ini ia rasakan di alam bawah sadarnya. Bagi Aurora, meskipun mereka ada secara fisik, mereka tidak pernah ada sebagai "kakak".

"Ra, jangan bercanda. Lihat ini," Arvin menunjukkan buku catatan biru itu. "Ini punya kamu. Kamu nulis tentang kita di sini."

Aurora menatap buku itu, lalu menatap Arvin kembali dengan tatapan yang sangat asing. "Aku tidak ingat buku itu. Aku juga tidak ingat kalian. Tolong... jangan dekat-dekat. Aku takut."

Aurora mulai terlihat panik. Napasnya mulai memburu, dan monitor jantung di sampingnya kembali berbunyi bip-bip-bip dengan cepat.

"Pergi... tolong keluar! Aku mau pulang ke Mama!"

"Ra, tenang, Ra!" Eros mencoba menenangkan, namun setiap kali mereka mendekat, Aurora semakin histeris hingga selang infusnya hampir terlepas.

Perawat dan dokter segera masuk, memaksa ketiga bersaudara itu keluar dari ruangan. Di koridor, Arvin jatuh terduduk di lantai, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia menangis tanpa suara.

"Ini hukuman kita, Vin," ucap Juna dingin, meskipun matanya sendiri tampak berkaca-kaca. "Dia melupakan kita karena ingatannya tentang kita terlalu menyakitkan untuk disimpan oleh otaknya. Dia memilih untuk menghapus kita agar dia bisa bertahan hidup."

Eros bersandar di dinding, menatap pintu kamar yang tertutup rapat. "Kita selalu ingin dia hilang dari hidup kita, kan? Sekarang keinginan itu terwujud. Di mata Aurora, kita sudah mati. Kita tidak lagi memiliki tempat di dunianya."

Di dalam kamar, Aurora meringkuk di bawah selimut, menangis ketakutan. Ia tidak ingat siapa mereka, tapi ada rasa sesak yang luar biasa di dadanya setiap kali ia melihat wajah ketiga pria itu—sebuah trauma tubuh yang melampaui ingatan otak.

Sementara itu, di rumah besar, Bramantyo telah menemukan lokasi apartemen Arvin yang kosong dan berantakan. Ia menemukan bercak darah di lantai dan sisa-sisa alat medis. Kemarahannya telah mencapai puncaknya. Ia segera memanggil kepala keamanan pribadinya.

"Cari mereka sampai ketemu. Jika mereka melawan, gunakan kekerasan. Aku tidak akan membiarkan anak-anak itu menghancurkan apa yang sudah aku bangun selama puluhan tahun demi satu nyawa yang tidak berharga itu," perintah Bramantyo dengan suara yang menyerupai iblis.

Babak baru dimulai.

Pelarian tiga kakak yang baru tersadar ini kini bukan hanya melawan waktu dan penyakit, tapi juga melawan ayah mereka yang siap menghancurkan apa pun demi sebuah ego bernama harga diri. Dan di tengah badai itu, Aurora berdiri di sebuah padang kabut tanpa ingatan, tidak tahu bahwa maut masih mengincarnya di bab-bab mendatang.

1
Emily
seharusnya kalian keluarga bramantyio juga sebagai tersangka terutama biang kerok si bramantyio
Emily
wah ini bpak nya bisa di kenakan pasal menelantarkan anak
Emily
bapaknya biang keroknya udah tua Bangka kelakuan macam iblis
Emily
salah lu sendiri nyet
Emily
pesong
Emily
keluarga goblok gak waras pikirannya sinting penampilan aja mentereng
Emily
wah keluarga odgj kah
Emily
apa itu keluarga psikopat dgn anak dan saudara kandung berperilaku kejam
ArchaBeryl
Terimakasih kak untuk ceritanya
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭🥹🥹🥹🥹
Neneng Lesmana
sedih
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭😭😭
ArchaBeryl
Alur ceritanya bagus kak
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹
ArchaBeryl: Pastinya kak💪💪💪
total 1 replies
ArchaBeryl
sedih pakek banget😭😭😭😭
syina chan
hi
ArchaBeryl
sedih kak🥹🥹🥹🥹🥹
ArchaBeryl
lanjut kak tetap semangat 💪💪💪
ArchaBeryl
lanjut kak penasaran
ArchaBeryl
mana lanjutnya kak
merry
hbs in hdp dgn baik Rora nikmati kekayaan kluarga mu 😄😄😄 ,,, ksh kesempatan buat abng mu Bpk mu yg bodoh Percy takhayul itu wlpun gk mudah ya 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!