Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.
Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Di Goda Kunti Air
"Hai ganteng... boleh ikut gabung enggak? Aku temenin, ya..."
Sebuah suara bisikan gaib seorang wanita terdengar mendayu-dayu, menusuk tepat di lubang telinga Kiano.
Hembusan napas dingin yang menyertai bisikan itu langsung membuat bulu kuduknya berdiri tegak. Kiano mulai gelisah dan menahan napas.
Bukan cuma karena hawa dinginnya, melainkan karena bau comberan alias bau bangkai tujuh turunan yang menguar dari aroma si hantu sukses membuat konsentrasinya hancur lebur.
Kiano mati-matian menahan gejolak mual yang mendesak dari lambungnya.
Buset, nih setan kagak pernah gosok gigi napa, ya?! Baunya, anjir... sembriwing banget! batin Kiano mulai frustrasi, di ambang batas pertahanan imannya.
Kiano yang mulai habis kesabaran akhirnya membuka suara lantang, tanpa ada niat untuk membuka matanya sedikit pun.
"Heh, setan! Pergi lo! Mulut lo itu bau septic tank, tahu kagak?! Mendingan lo pergi ke dokter gigi sana! Setidaknya rawat dulu tuh mulut sebelum berani godain gue!"
Sontak si setan—yang aslinya adalah siluman kunti air—melotot kaget. "Kau barusan mengatai mulutku bau?!" Ia langsung menempelkan telapak tangan pucatnya di depan mulut, lalu mengembuskan napas untuk memeriksa kebenaran ucapan Kiano.
"Hah... hah... Tidak bau, kok! Asal kau tahu, ya, aku ini rajin sikat gigi pakai tulang ikan sampai gigi-gigi runcingku ini mengkilat!" ucap si kunti heran.
Satu hal yang tidak disadari makhluk itu, bau busuk tersebut sebenarnya bukan berasal dari mulutnya, melainkan dari lubang menganga di punggungnya yang sudah membusuk.
"Ah, pakai ngeles segala lo! Mau dari mana kek, bau ya tetep aja bau! Udah sono lo pergi jauh-jauh, jangan gangguin meditasi gue!" usir Kiano ketus.
Hantu itu tampak tidak terima. "Aku tidak mau pergi! Aku menyukai wajahmu yang tampan ini. Lagipula, sungai ini adalah rumahku! Seharusnya kau yang pergi dari sini!"
Dari atas pohon, Kalasugih yang mengamati perdebatan absurd itu mulai merasa terganggu.
"Lihat siluman itu, dia bisa saja menenggelamkan Kiano. Apa kau tidak berniat membantunya?" tanya Dharma, melirik ke arah dahan pohon mahoni. Pengawal itu sudah bersiap melangkah untuk menyingkirkan si siluman, namun—
Bruk!
Kalasugih lebih dulu melompat turun dari atas pohon, mendarat tepat di samping Dharma.
"Biar aku saja," ucap Kalasugih datar.
Ia melangkah maju, lalu melepas kembali sebelah sandal kulitnya. Dengan gerakan tangan yang cepat, ia merapal sebaris mantra sihir pendek. Seketika itu juga, sandal di genggamannya diselimuti pendar cahaya kebiruan yang pekat.
Wushhh!
Sandal kulit berselimut sihir itu melesat secepat kilat, membelah udara lurus ke arah jidat si kunti air.
Bughhh!
"Aaaaakh!"
Hantaman sandal sakti itu telak mengenai dahi si hantu hingga kepalanya terdongak drastis. Tubuh siluman itu seketika terpelanting jauh ke tengah sungai dan tenggelam. Hebatnya, setelah mengenai sasaran, sandal itu berputar di udara dan berbalik sendiri ke arah pemiliknya layaknya sebuah bumerang.
Hap!
Kalasugih menangkap sandalnya dengan satu tangan yang presisi, lalu memakainya kembali dengan gerakan santai. Ia membersihkan tangannya seolah baru saja tidak terjadi hal luar biasa apa pun.
Kiano yang penasaran dengan suara jeritan si hantu tadi akhirnya nekat membuka kedua matanya. Namun, tepat saat kelopak matanya terbuka, wajah Kalasugih sudah berada tepat di depan wajahnya, menatapnya dengan pandangan sedingin es.
"Eh, buset! Lo ngagetin gue aja, Mas!" Kiano tersentak hebat sampai hampir terjungkal ke belakang, tangannya refleks kembali memegangi dadanya yang berdegup kencang.
"Latihan kedua gagal. Ulangi lagi dari awal," ucap Kalasugih dingin. Ia melangkah mundur beberapa jengkal lalu kembali bersedekap dada, menatap Kiano tanpa ampun.
Kiano langsung protes, tidak terima. "Gila lo, Mas! Gue udah kedinginan sampai menggigil begini juga! Nanti atau besok aja dilanjut lagi kan bisa?"
"Tidak bisa," potong Kalasugih mutlak. "Jika kau terus mengulur waktu dan bermalas-malaman, kekuatan sihir dari Ki Saron di dalam tubuhmu itu akan berbalik membunuhmu jika dibiarkan. Memangnya kau mau mati lebih cepat sebelum bisa kembali ke dunia asalmu?"
Mendengar gertakan yang membawa-bawa nyawa itu, nyali Kiano agak menciut. "Waduh, bercanda lo enggak lucu, Mas. Jangan nakut-nakutin gue napa!"
"Aku tidak sedang bercanda, apalagi berniat menakutimu," balas Kalasugih serius, kilat mata hijaunya menegaskan bahwa ia sama sekali tidak bermain-main. "Ulangi lagi dari awal, Kiano. Pejamkan matamu sekarang!"
****
Setelah latihan gila yang cukup menguras tenaga hingga matahari tergelincir ke ufuk barat, Kiano beserta kedua rekannya akhirnya kembali ke istana. Pemuda Jakarta itu benar-benar sudah lelah lahir dan batin. Firasatnya mengatakan bahwa hidup di dunia fantasi ini tidak akan pernah berjalan estetik.
Kini, Kiano duduk bersila di atas ranjang mewahnya. Tubuhnya gemetaran dan beberapa kali ia bersendawa nyaring akibat masuk angin akut pasca-berendam di sungai. Di belakangnya, duduk Kalasugih yang sibuk mengomel tiada henti sembari mengerok punggung Kiano.
Alih-alih memakai koin seribuan, pemuda berkumis itu terpaksa menggunakan sekeping koin emas murni dari kantongnya.
Plak! Kreeek!
"Kau selalu saja merepotkan," gerutu Kalasugih, menekan koin emas itu dengan rona kesal di wajahnya. "Padahal kita baru bertemu semalam. Entah dosa apa yang telah kuperbuat di masa lalu, sampai-sampai aku harus repot-repot mengerok punggung pemuda gila sepertimu!"
Gerrrk!
Kiano bersendawa keras sekali lagi sebelum menjawab, "Jangan ngomong gitu dong, Mas. Lo kan asisten sekaligus guru gue sekarang. Tenang aja, lo kerja sama gue kagak bakalan cuma-cuma, kok. Nanti gue bayar lo pakai emas batangan! Bila perlu, gue kasih berlian sekalian!"
Bagi Kiano, sama sekali bukan masalah jika harus menghambur-hamburkan harta itu. Toh, emas dan permata melimpah tersebut milik orang tua KW-nya, alias Raja dan Ratu Mandala Hyang, yang tersimpan rapi di dalam lemari kamarnya.
Entah itu harta yang sengaja diberikan untuk Pangeran Wirasada atau memang tabungan pribadi si pangeran asli, Kiano masa bodoh dengan semua itu.
Prinsipnya sederhana: keluarga kerajaan ini kaya raya tujuh turunan, dan harta sebanyak itu tidak ada apa-apanya di mata mereka. Anggap saja itu biaya kompensasi karena dirinya sudah diculik paksa ke dunia aneh ini.
Kalasugih mendengus. Ia semakin menekan koin emas itu pada punggung Kiano tanpa ampun. "Pamer. Sombong sekali kau. Padahal harta itu jelas bukan milikmu."
Kiano meringis kesakitan. Rasanya seolah-olah ia sedang dikuliti hidup-hidup. "Heh, Mas, pelan-pelan dong! Ini kulit manusia, bukan kulit badak! Apalagi kulit sapi buat bikin beduk ya!"
"Ck, kau terlalu berisik. Mulutmu itu sepertinya perlu dijahit," desis Kalasugih kesal. Ia langsung berdiri lalu melemparkan koin emas itu ke atas ranjang, tepat di hadapan Kiano. "Ini, kau kerok saja sendiri! Aku lelah, mau istirahat."
Kiano melotot tidak terima. "Enak bener lo, Mas, main istirahat aja! Yang seharian latihan sampai rela berendam kayak cucian kotor di sungai itu siapa, hah? Yang capek di sini tuh jelas gue! Lo mah enak, cuma bisa nyuruh-nyuruh doang!"
Kalasugih yang hendak merebahkan tubuhnya di sofa seketika ikut melotot. "Dengar ya! Kau sendiri yang tadi pagi setuju dan bersedia kulatih untuk mengolah energi sihir transferan dari Ki Saron yang tidak sempurna itu agar stabil di dalam jiwamu! Aku bahkan rela datang jauh-jauh ke istana ini hanya untuk membantumu. Bukankah ini sudah masuk kesepakatan kita? Jangan banyak protes! Kalau tidak setuju, cari saja orang lain yang mau mengajarimu!"
"Pundungan amat sih lo, Mas," cibir Kiano. "Kalau gue bisa nyuruh Ki Saron atau si Dharma—pengawal sok sibuk itu—gue gak bakalan repot-repot nyuruh lo! Lagian ini mendesak. Dada gue sakit banget, gue pengen sembuh, pengen nyari Pangeran Wirasada asli, terus pengen cepet-cepet beresin masalahnya Ki Saron sama Nini Kisut. Dengan begitu, gue bisa balik lagi ke Jakarta!"
Kalasugih terdiam. Ia kembali menghampiri Kiano dan duduk di samping pemuda itu. Rasa penasarannya terhadap Nini Kisut ternyata jauh lebih besar daripada rasa kesalnya saat ini.
"Ngomong-ngomong, Nini Kisut yang kau bahas itu seperti apa rupanya? Apakah dia sosok yang begitu ditakuti, sampai-sampai jin jawaramu itu meminta bantuan pada manusia biasa tanpa kekuatan sihir sepertimu?"