🏆GOLD NOVEL🏆
...
"Dunia menyebutku sampah, tetapi langit mengenalku sebagai Kaisar Agung."
Ingatan pemuda itu kembali terbuka, seluruh memori kuno dan agung dari kehidupan sebelumnya mengalir kembali dan mencerahkan pikirannya. Saat itulah ia tersadar atas identitasnya dan cara kematiannya yang sebenarnya.
Dengan semua memori agungnya, pemuda itu perlahan mulai menumbuhkan kembali taringnya--menjadi jenius sekte, mencari rekan-rekannya yang mungkin masih hidup, dan membalas dendam atas kematiannya sebelumnya! Namun belakangan ini ia pun mendapati sesuatu yang mengejutkan, sesuatu yang tidak diduganya sama sekali.
"Aku adalah..."
GENRE: ACTION, KULTIVASI, REINKARNASI, BALAS DENDAM, XIANXIA, FANTASI TIMUR.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 014: Keadaan Darurat-Misi Baru!
Di dalam kamarnya, Qin Xiang sedang tenggelam dalam lautan meditasi yang tenang.
Kesadarannya merayap melalui jalur-jalur meridian yang kini telah diperkuat oleh Qi Emas, memurnikan energi setiap kali ia menarik napas. Atmosfer di sekitarnya seolah-olah membeku, hanya suara desis halus dari energi yang berputar di Dantiannya yang memecah keheningan. Akan tetapi, ketenangan ilahi itu mendadak hancur berkeping-keping.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu yang berulang, kasar, dan penuh desakan merobek selaput konsentrasinya.
Qin Xiang membuka kelopak matanya; kilatan cahaya emas tipis bergetar di pupilnya sebelum perlahan meredup. Sambil menghela napas panjang untuk menekan gejolak Qi yang terputus, ia bangkit dan membuka pintu.
Pemandangan di depannya adalah Qu Long yang bermandikan keringat.
Napas pemuda gendut itu tersengal-sengal, wajahnya yang bulat tampak memerah seperti kepiting rebus, sementara tangannya sibuk menyeka pelipis yang basah.
"Ada apa?" tanya Qin Xiang pendek.i.
Qu Long mengangkat tangan, memberi isyarat agar Qin Xiang memberinya waktu untuk mengatur napas yang tersumbat di tenggorokan. Setelah beberapa saat, ia mendongak dengan ekspresi panik yang tidak bisa disembunyikan.
"Kakak Qin... Aula Misi baru saja membunyikan lonceng darurat! Perintah khusus dikeluarkan: seluruh murid ranah Qi Fondasi wajib berkumpul di alun-alun utama sekte sekarang juga!"
Qin Xiang sedikit mengernyit mendengarnya.
Jarang sekali sekte melakukan panggilan masal sesingkat ini kecuali ada sesuatu yang mengancam stabilitas wilayah.
Ia segera melangkah keluar dan menutup pintu dengan suara klik yang tajam.
"Jelaskan sambil jalan. Ayo."
Langkah kaki mereka bergema cepat di sepanjang lorong asrama, membaur dengan ratusan murid lain yang juga bergegas dengan raut wajah penuh tanya.
...
Sesampainya di alun-alun sekte yang luas, pemandangan di sana seperti lautan manusia yang gelisah.
Qin Xiang dan Qu Long segera membaur di antara kerumunan, menjaga indra mereka tetap tajam sementara menunggu instruksi dari panggung tinggi di depan.
Tak lama, seorang lelaki tua dengan jubah abu-abu kebesaran melangkah maju.
Ia adalah Tetua Chu, sosok yang biasanya mengatur pembagian misi di Aula Misi.
Tatapannya yang sekeras batu menyapu seluruh alun-alun, seketika membungkam bisik-bisik para murid.
"Beberapa di antara kalian mungkin sudah mendengar beberapa berita."
Suara Tetua Chu bergema, diperkuat oleh Qi yang murni sehingga terdengar seperti guntur yang tertahan.
"Saat ini, desa-desa dan kota kecil yang bernaung di bawah perlindungan kita sedang menghadapi kiamat kecil. Gerombolan binatang buas telah turun dari gunung, menyerang para penduduk desa tanpa ampun."
Hening.
Suasana menjadi begitu berat seolah-olah langit baru saja turun beberapa inci.
Qin Xiang sebenarnya sudah mendengar desas-desus ini dari penjelasan Qu Long saat mereka berlari tadi, namun mendengarnya langsung dari mulut seorang Tetua memberikan bobot yang berbeda.
"Sekte tidak akan membiarkan wilayahnya dinjak-injak!" lanjut Tetua Chu dengan nada yang bergetar oleh otoritas. "Kami akan membagi kalian ke dalam dua belas kelompok. Setiap kelompok akan beranggotakan lima hingga enam orang untuk memastikan efisiensi di medan tempur."
Proses pembagian kelompok berlangsung dengan kecepatan yang mencengangkan, diatur oleh para diaken sekte yang menggunakan plat identitas untuk mencocokkan asal-usul murid.
Strateginya jelas: murid yang berasal dari desa yang diserang akan dikirim ke rumah mereka sendiri untuk memanfaatkan pengetahuan medan dan motivasi emosional.
"Kakak Qin, kita satu kelompok!" seru Qu Long dengan senyum yang dipaksakan.
Meskipun mulutnya tersenyum, Qin Xiang bisa melihat getaran halus di jemari Qu Long.
Itu karena desa yang dituju kelompok mereka adalah kampung halaman Qu Long sendiri—sebuah tempat yang mungkin saat ini sedang bersimbah darah.
Qin Xiang hanya menepuk bahu Qu Long sekali, sebuah isyarat bisu yang memberikan ketenangan lebih besar daripada seribu kata.
Mereka lalu berdiri menunggu anggota kelompok lainnya berkumpul.
Keheningan itu pecah ketika empat sosok mendekat.
Yang memimpin adalah seorang pemuda dengan dagu terangkat tinggi, memancarkan aura Qi Fondasi Tahap 9 yang tajam layaknya pedang yang baru keluar dari tungku tempa.
Dia adalah Duan Du, salah satu jenius yang namanya mulai naik di sekte luar.
Namun, yang membuat dahi Qin Xiang berkerut adalah tiga sosok di belakang Duan Du.
Xiao Jing bersama dua pengacau lainnya, Weian Gu dan Gu Weian.
Begitu tatapan Xiao Jing bertemu dengan Qin Xiang, atmosfer di sekitar mereka seolah-olah dipenuhi oleh percikan api yang siap meledak menjadi kebakaran besar.
"Tetua! Aku keberatan!"
"Aku menolak keras tentang kelompok ini!"
Xiao Jing meledak, suaranya melengking penuh protes ke arah tetua di dekat mereka.
"Bagaimana mungkin aku harus berbagi nyawa dengan dia?"
Tunjuknya ke arah wajah Qin Xiang yang acuh tak acuh.
"Kami menolak! Kami ingin ganti kelompok!"
Weian Gu dan Gu Weian ikut menyahut, wajah mereka penuh dengan penghinaan yang dipaksakan untuk menutupi rasa takut mereka yang terpendam.
Tetua sekte di depan mereka tidak menunjukkan emosi.
Matanya yang cekung menatap trio itu dengan tatapan yang sanggup membekukan darah.
"Seluruh kelompok sudah penuh!"
"Jika kalian ingin membantah aturan saat situasi darurat..." Tetua itu menjeda, auranya menekan mereka hingga Xiao Jing terpaksa menelan ludahnya. "Maka bersiaplah kehilangan seluruh sumber daya sekte selama tiga bulan ke depan. Pilihan ada di tangan kalian."
Xiao Jing tercekik mendengarnya, ,ulutnya menganga seperti ikan yang kekurangan air.
Ia tidak berani lagi mengeluarkan satu kata protes setelah mendengar ancaman tersebut.
Qin Xiang hanya mengamati pemandangan itu dengan tatapan dingin yang tak terduga.
Jika ia memiliki pilihan, ia pun akan membuang ketiga benalu ini ke jurang terdalam, namun nyawa penduduk desa saat ini adalah taruhan yang lebih besar daripada dendam pribadi yang remeh.
Di sisi lain, Duan Du yang sejak tadi berdiri diam seperti patung, akhirnya membuka suara.
Suaranya penuh dengan kesombongan yang tidak ditutup-tutupi.
"Dengar. Kalian semua di mataku hanyalah beban yang sangat lemah. Karena itu, akulah yang akan memimpin. Berusahalah sekuat tenaga agar tidak mati konyol dan menyusahkanku."
"Sombong sekali..."
Meskipun Qin Xiang dan Xiao Jing bermusuhan, untuk pertama kalinya mereka sepakat dalam satu hal: keinginan untuk menampar wajah sombong Duan Du yang merasa dirinya adalah pusat semesta.
Duan Du melirik Qu Long dengan tatapan meremehkan yang amat sangat.
"Terutama kau, bocah gendut. Karena kau adalah pemandu jalan menuju desamu, aku harap lemakmu itu tidak membuatmu tertinggal saat kita harus berlari cepat."
"Apa katamu?!"
Urat biru menonjol di kening Qu Long. Kemarahan meledak di dadanya.
Jika Qin Xiang yang mengejeknya, ia mungkin akan menerimanya, tapi siapa pemuda sombong di depannya ini?
"Tenanglah, Qu Long."
Tangan Qin Xiang mendarat di pundak Qu Long, menahannya agar tidak melakukan tindakan bodoh.
Duan Du kemudian memutar pandangannya ke arah Qin Xiang, menatapnya dari atas ke bawah seolah sedang menilai barang dagangan murah.
"Jadi, kau yang bernama Qin Xiang? Murid yang kelihatannya paling tidak berguna di kelompok ini. Ingat, aku tidak punya waktu untuk menyelamatkanmu."
Qin Xiang tidak terpancing.
Ia justru menatap Duan Du dengan kilatan geli di matanya, seolah-olah ia sedang melihat seorang badut yang mencoba berlagak menjadi raja.
"Tidak perlu banyak bicara bicara. Kita di sini untuk menyelamatkan nyawa, bukan untuk kontes kesombongan."
"Tsk!"
Duan Du mendengus dingin, aura Qi Fondasi tahap 9 miliknya berdesis tajam.
"Aku hanya memperingatkanmu agar tidak menjadi mayat di hari pertama."
Bersambung!