NovelToon NovelToon
SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:548
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengumuman Nilai dan Penagihan Janji

Ketegangan di laboratorium hari Rabu kemarin masih menyisakan kasak-kusuk di antara anak-anak kelas XI-A. Namun, bagi Alisha, hari Kamis ini adalah hari penghakiman yang paling ia tunggu-tunggu. Sejak bel masuk berbunyi, matanya tidak lepas dari pintu kelas, menanti kehadiran Bu Retno yang berjanji akan langsung membagikan hasil ujian praktik Fisika.

Di seberang barisannya, Shaka duduk dengan gaya santai seperti biasa—satu tangan menopang dagu, sementara tangan lainnya sibuk mengetuk-ngetuk pulpen ke meja, menciptakan ritme konstan yang entah mengapa membuat dada Alisha berdegup lebih kencang. Cowok itu sempat melirik Alisha, lalu menaikkan sebelah alisnya dengan senyum miring, seolah bertanya, “Udah siap kalah?”

Alisha membalasnya dengan kibasan rambut pendek yang anggun dan tatapan menantang. Gak akan.

Atmosfer kelas mendadak hening ketika langkah tegas Bu Retno terdengar mendekat. Wanita paruh baya dengan kacamata berbingkai hitam itu masuk sambil membawa seikat kertas laporan praktikum. Wajahnya tampak serius, membuat seisi kelas—terutama Siska dan Ivanka—diam-diam menahan napas cemas.

"Selamat pagi, anak-anak," sapa Bu Retno sambil meletakkan tumpukan kertas itu di atas meja guru dengan bunyi prak yang cukup bertenaga. "Ibu sudah memeriksa hasil laporan ujian praktik kalian kemarin. Secara keseluruhan, Ibu cukup puas. Tapi... ada dua orang yang membuat Ibu sangat terkesan karena berhasil mendapatkan nilai sempurna, padahal soal ralat dan ketelitian alatnya sangat tinggi."

Bu Retno menjeda kalimatnya, matanya menyapu seisi ruangan sebelum tertuju pada dua meja spesifik.

"Reyshaka dan Alisha. Kalian berdua mendapat nilai 100."

Bisik-bisik langsung pecah di dalam kelas.

Amelia langsung berbalik badan menghadap Alisha, memekik tertahan dengan mata berbinar bangga. "Gila lo, Sha! Alat bocor begitu masih bisa dapet seratus! Otak lo terbuat dari apa sih?!" bisik Amelia heboh.

Sementara itu, di sudut kelas yang lain, wajah Ivanka langsung berubah masam. Ia menggigit bibir bawahnya kesal, tidak percaya kalau rencana sabotasenya justru membuat Alisha terlihat semakin bersinar di mata guru.

Alisha mengembuskan napas lega yang teramat panjang. Ia menoleh ke arah Shaka.

Namun, bukannya melihat ekspresi kecewa karena taruhan mereka berakhir seri, Alisha justru mendapati Shaka sedang menatapnya dengan binar mata yang aneh—ada rasa bangga dan kepuasan tersendiri yang terpancar dari sana.

"Karena nilai kalian sama-sama seratus," ucap Bu Retno memotong lamunan Alisha, "kalian berdua resmi Ibu tunjuk sebagai mentor utama untuk kelas ini sampai ujian akhir semester nanti. Kertasnya bisa diambil setelah jam pelajaran selesai."

Begitu bel istirahat pertama berbunyi, kelas langsung kosong dalam sekejap. Anak-anak berhamburan menuju kantin, menyisakan Alisha yang masih merapikan alat tulisnya dan Shaka yang sengaja menunda langkahnya di dekat pintu kelas.

Alisha berjalan menghampiri Shaka dengan menyampirkan tas kecilnya di bahu. "Nilai kita seri, Reyshaka. Jadi, taruhan kemarin dianggap hangus, kan? Lo gak bisa minta apa-apa dari gue, dan gue juga gak bisa jadiin lo babu," ucap Alisha dengan nada sok kecewa yang dibuat-buat.

Shaka menegakkan tubuhnya, melangkah maju hingga jarak di antara mereka mengikis. Ia menundukkan kepalanya sedikit, menatap Alisha dengan senyum misterius yang membuat bulu kuduk Alisha meremang halus.

"Siapa bilang hangus?" sahut Shaka, suaranya rendah dan terdengar sangat intim di kelas yang sepi itu.

Alisha mengernyitkan dahi, mendongak berani. "Ya terus? Kan nilainya sama. Gak ada yang menang, gak ada yang kalah."

"Maka dari itu," Shaka memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, "karena kita berdua menang, berarti kita masing-masing punya satu permintaan yang gak boleh ditolak."

Jantung Alisha memberikan satu hentakan kuat. "Nyeleneh banget logika lo! Mana ada aturan kayak gitu!"

"Aturan gue yang bikin, jadi terserah gue," balas Shaka lempeng, membuat Alisha mendengus gemas. Shaka diam sejenak, menatap lekat ke dalam manik mata Alisha sebelum melanjutkan dengan nada yang mendadak berubah serius. "Gue mau nagih permintaan gue sekarang, Sha."

Alisha melipat tangan di dada, mencoba menutupi rasa gugupnya yang mulai menjalar. "Apa? Jangan yang aneh-aneh ya. Kalau lo minta draf materi lo dikerjain semua, gue tolak."

Shaka terkekeh pelan. Ia menggelengkan kepala. "Enggak. Permintaan gue simpel."

Shaka maju selangkah lagi, memotong jarak aman mereka. "Mulai hari ini, kalau lo ada masalah, kalau ada orang yang bikin lo kesal, atau ada sampah yang berani nyenggol fisik lo lagi... orang pertama yang harus lo kasih tahu itu gue. Jangan dipendem sendiri sampai pasang muka zombi di taman. Paham?"

Alisha terpaku. Kata-kata Shaka barusan seperti hantaman lembut yang langsung meruntuhkan benteng pertahanan egonya. Sifat protektif cowok itu yang dibungkus dengan gaya acuh tak acuh selalu berhasil membuat Alisha kehilangan kata-kata. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, sebuah perasaan aman yang belum pernah ia rasakan dari cowok lain di luar keluarganya.

"Kenapa... lo harus sejauh itu?" tanya Alisha, suaranya melembut, kehilangan nada judesnya yang biasa.

Shaka tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Alisha dengan tatapan dalam yang sulit diartikan, sebelum akhirnya berbalik badan dengan santai. "Karena gue males performa partner olimpiade gue turun lagi gara-gara hal gak bermutu. Jangan Baper.Udah, buruan ke kantin, Amelia udah nungguin lo. Jangan lupa, lo masih utang satu permintaan ke gue."

Alisha memandangi punggung Shaka yang berjalan menjauh menyusuri koridor dengan langkah lebar. Kali ini, Alisha tidak bisa lagi menahan senyuman tulus yang terbit di wajahnya. Sambil memegangi dadanya yang berdegup tidak karuan, Alisha berbisik pelan, "Dasar cowok gengsian..."

Perang kecerdasan mereka mungkin berakhir seri di atas kertas, tapi di dalam hati Alisha, ada satu pertahanan yang perlahan mulai kalah dan menyerah pada pesona seorang Reyshaka.

1
S3C
semangat author 👍👍👍👍
Anisa Nurlatifah: siap,Makasihhhh😍😍😍😍👍💪
total 1 replies
Anisa Nurlatifah
😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!