Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Transformasi Iblis Langit
Wang Chan tidak berhenti.
Darah masih mengalir dari sekian banyak luka di tubuhnya. Pakaiannya basah, merah, menempel di kulit. Tapi matanya tidak pernah kabur. Tombaknya tidak pernah goyah.
Aura di mata kirinya bersinar semakin terang. Cahaya keemasan memenuhi seluruh pupilnya, menyala seperti matahari kecil di dalam rongga matanya.
Bukan lagi sekadar alat untuk melihat, tapi sekarang mata itu sendiri telah menjadi senjata.
Dunia di hadapannya melambat.
Tsunami pedang yang sedetik lalu bergerak sangat cepat, menghantam dengan kekuatan yang bisa merobek gunung menjadi dua, kini terlihat seperti gerakan lambat.
Setiap tetesan energi, setiap gerakan bilah pedang, setiap getaran di udara, semuanya ia lihat dengan jelas, semuanya ia pahami.
Ia bisa melihat celah-celah kecil di dalam teknik itu. Celah yang tidak terlihat oleh mata biasa.
Celah yang hanya muncul sesaat, sekilas, seperti kilatan petir di langit malam. Celah yang bisa ia manfaatkan untuk menerobos.
Bukan untuk menghindar. Bukan untuk bertahan.
Tapi untuk menembus. Lurus ke sumbernya. Lurus ke jantung teknik itu. Lurus ke Wen Tianren.
WUSH!
Tubuhnya bergerak seperti kilat.
Satu langkah. Ia melewati barisan pertama pedang, tubuhnya berputar di udara dengan kelenturan yang mustahil bagi manusia biasa.
Tiga bilah pedang lewat hanya seujung rambut dari kepalanya. Wang Chan bisa merasakan dinginnya bilah itu di pipinya.
Sepuluh langkah. Ia menembus lapisan kedua. Dua tusukan dari kiri, satu tebasan dari kanan, semuanya ia hindari dengan gerakan yang ekonomis, tidak membuang tenaga, tidak membuang waktu.
Tubuhnya berputar seperti daun yang jatuh dari pohon, terbawa angin ke mana pun angin membawanya.
Seratus langkah. Ia sudah berada di dalam perut tsunami.
Pedang-pedang di sekitarnya berusaha mencabiknya dari segala arah, seperti ribuan hiu yang mengerumuni mangsa.
Tapi Wang Chan terus bergerak. Tidak berhenti. Tidak melambat. Bahkan ketika sebuah pedang menembus lengan kirinya, ia tidak berhenti.
BRANG!
Ia menghancurkan bayangan pedang di kiri dengan satu ayunan tombak. Gerakannya brutal, tanpa ampun.
Bayangan pedang itu hancur berkeping-keping seperti kaca yang jatuh dari ketinggian.
BRANG!
Bayangan tombaknya menepis serangan dari kanan. Tiga pedang sekaligus terbang ke arah yang berbeda, kehilangan kendali, lalu menghilang menjadi percikan energi.
BRANG!
Tubuhnya memutar, menghindari tebasan yang hampir membelah kepalanya menjadi dua.
Bilah pedang itu lewat di depan hidungnya, Wang Chan bisa melihat pantulan wajahnya sendiri di permukaan bilah yang mengkilap.
Tubuhnya dipenuhi luka ringan. Goresan di lengan. Sayatan di pipi. Tusukan tipis di paha. Sebuah bilah menembus bahu kirinya, tidak dalam, tapi cukup untuk membuat lengan kirinya terasa mati rasa. Yang lain menggores punggungnya, meninggalkan bekas merah yang panas.
Tidak ada yang serius. Tapi cukup untuk membuat darah mengalir dari banyak tempat, membasahi pakaiannya yang sudah robek, menetes ke tanah merah di bawahnya.
Tetapi jarak mereka semakin dekat.
Tiga puluh meter. Wang Chan sudah bisa melihat wajah Wen Tianren dengan jelas. Setiap ekspresi.
Setiap kerutan di dahinya. Setiap gerakan otot di rahangnya. Untuk pertama kalinya, ia melihat bayangan keraguan di mata tuan muda itu.
Dua puluh meter. Ia bisa mendengar detak jantung lawannya di sela-sela deru tsunami.
Dum. Dum. Dum.
Cepat. Tidak teratur. Wen Tianren tidak setenang yang ia tunjukkan.
Sepuluh meter. Ia mengangkat tombaknya. Ujung tombak mengarah tepat ke dada Wen Tianren.
Wen Tianren mengangkat alis.
"Menarik."
Bukan kata-kata yang diucapkan dengan sombong. Bukan dengan meremehkan. Tapi dengan tulus.
Seorang jenius sejati, yang telah lama tidak menemukan tandingan, akhirnya mengakui bahwa di depannya ada seseorang yang layak.
Lalu kedua tangannya membentuk segel. Jari-jarinya bergerak cepat, membentuk pola-pola rumit yang tidak bisa diikuti oleh mata awam.
Simbol-simbol kuno di langit bergetar, lalu berputar lebih cepat, semakin cepat, hingga hanya berupa lingkaran cahaya biru yang menyilaukan.
Energi spiritual biru dan putih langsung berkumpul di langit. Bukan dari tubuhnya. Bukan dari tekniknya. Tapi dari alam itu sendiri.
Dari awan, dari angin, dari tanah, dari pepohonan di kejauhan, dari sungai di balik bukit, dari segala sesuatu yang hidup di radius puluhan kilometer.
Awan berputar membentuk pusaran raksasa. Pusaran itu semakin dalam, semakin gelap, seperti lubang di langit yang mengarah ke kehampaan, ke kekosongan, ke tempat di mana tidak ada yang bisa kembali.
Petir mulai menyambar. Kilatan-kilatan putih kebiruan menyambar dari pusaran ke tanah, menghantam bebatuan, menghancurkannya menjadi debu dalam sekejap. Tanah di sekitar Medan Pertempuran Langit hangus, hitam, berasap.
BOOOOM!
Seekor naga petir raksasa muncul dari awan.
Tubuhnya terdiri dari kilat murni. Tidak ada daging. Tidak ada tulang. Tidak ada darah. Hanya energi listrik yang sangat padat, sangat terang, sangat mematikan.
Sisik-sisiknya adalah sambaran petir yang berdetak krek krek krek, matanya adalah dua bola kilat yang menyala seperti matahari kembar, dan rahangnya terbuka lebar, memperlihatkan taring-taring listrik yang panjang dan tajam.
Raungannya mengguncang langit.
ROOOAAARRR!
Suara itu bukan hanya suara. Gelombang kejut yang menyertainya membuat para penonton yang jaraknya ratusan meter ikut terhuyung.
Beberapa jatuh tersungkur ke tanah. Beberapa lainnya menutup telinga karena sakit, tapi darah tetap mengalir dari sela-sela jari mereka. Seekor burung yang terbang terlalu dekat dengan medan perang langsung hancur menjadi abu.
"Naga Petir Penghukum Surga!"
Naga itu menerjang turun. Tubuhnya yang panjang meliuk-liuk di udara seperti ular raksasa, meninggalkan jejak kilat di belakangnya yang membakar udara.
Aura penghancurnya jauh melampaui teknik sebelumnya. Jauh melampaui apa pun yang pernah ditampilkan oleh Wen Tianren sepanjang pertarungan.
Bahkan para tetua dari berbagai keluarga yang mengamati dari kejauhan mulai serius.
Beberapa dari mereka tanpa sadar mengaktifkan perlindungan spiritual mereka, bersiap jika gelombang kejut menjangkau posisi mereka.
Seorang tetua tua dengan janggut panjang sampai mundur tiga langkah.
Ini bukan teknik yang seharusnya dikuasai oleh seorang kultivator di ranah Transformasi Roh. Ini gila.
Ini adalah teknik level dewa. Dan Wen Tianren menggunakannya seolah itu adalah hal yang paling biasa di dunia.
Namun Wang Chan justru menutup mata sesaat.
Sunyi.
Diam.
Hanya sesaat. Tapi di dalam sesaat itu, terjadi sesuatu di dalam dirinya. Sesuatu yang berubah. Sesuatu yang lepas.
"Aku bukan orang suci."
Suaranya pelan. Hampir berbisik. Tapi di tengah hening yang mencekam itu, kata-katanya terdengar jelas oleh semua orang.
Aura hitam dari tubuhnya semakin menebal. Tidak lagi hanya menyelimuti. Tapi meresap.
Masuk ke dalam kulit, ke dalam otot, ke dalam tulang, ke dalam inti paling dalam dari keberadaannya.
"Aku adalah iblis."
Bukan pernyataan. Bukan pengakuan. Tapi deklarasi. Deklarasi perang terhadap dunia.
"Dan iblis harus bertarung layaknya iblis!"
Wang Chan membuka matanya.
Sebuah tanduk kecil terbentuk di dahi kanannya. Hitam. Berkilat. Melengkung ke belakang seperti tanduk kambing hitam dari legenda kuno.
Tidak besar. Tapi kehadirannya mengubah segalanya.
Dari tangannya, garis-garis hitam merayap seperti akar, seperti urat, seperti tinta yang menyebar di atas kertas.
Garis-garis itu merambat naik ke lengan, ke bahu, ke leher, hingga ke tulang pipinya. Polanya rumit, simetris, indah dalam cara yang mengerikan.
"Transformasi Iblis Langit!"
Auranya meledak.
Tidak seperti ledakan Wen Tianren yang terang dan megah. Ledakan Wang Chan gelap. Pekat. Menekan.
Seperti lubang hitam yang lahir di tengah medan perang, menyedot semua cahaya di sekitarnya.
Para penonton yang melihat merinding. Bukan karena dingin. Tapi karena naluri primitif mereka, bagian terdalam dari diri mereka yang masih terhubung dengan alam liar, berteriak bahwa apa yang mereka lihat sekarang adalah sesuatu yang seharusnya tidak ada di dunia ini.
Tubuhnya kemudian melesat.
Dengan kecepatan yang bahkan tidak bisa diikuti oleh Mata Immortal miliknya sendiri, Wang Chan menembus naga petir Wen Tianren.
WUSHHH!
Satu garis hitam membelah langit.
Naga petir itu tidak meledak. Tidak hancur. Tidak pecah.
Ia terbelah.
Dari kepala hingga ekor, menjadi dua bagian yang sempurna. Belahan kiri dan belahan kanan. Tidak ada suara. Tidak ada ledakan.
Hanya dua setengah naga yang masih melayang di udara untuk sesaat, sebelum perlahan-lahan menghilang menjadi percikan-percikan kecil, seperti kembang api yang padam sebelum sempat menyala.
Wang Chan tidak berhenti di situ. Dengan ayunan tombaknya yang berikutnya, ia membelah sisa-sisa energi yang masih tersisa. Efisien. Brutal. Tidak ada yang tersisa.