NovelToon NovelToon
Holong Di Balik Adat

Holong Di Balik Adat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semoga Dia

"Mak......?" bisik adik bungsu Sarma.

Ibunya masih terlihat sibuk, jadi tidak mendengar sama sekali panggilan itu. Siti duduk agak belakang sambil bersandar, dan main hp saat acara tadi karna bosan.

"Isss..... Mama nggak dengar lagi," ucapnya kesal.

Hp kakanya yang ada di tangannya terus bergetar.

"Mak....? Ini hp ka Sarma, ada yang nelpon....." panggilnya dengan sangat pelan. Dia takut bersuara keras memanggil ibunya. Takut mengganggu tamu-tamu yang ada di sana.

"Kenapa Siti?" tanya Namborunya.

"Ini ada telpon di HP Ka Sarma." jawab Siti sambil menunjukkannya.

"Itu nanti dulu, ya. Masih belum bisa diganggu." jawab Namborunya pelan. Namborunya juga terlihat sibuk sehingga tak terlalu memperhatikan siapa yang menelpon tadi.

"Akh!! Kuangkat ajalah ya......" gumamnya sendiri.

"Halo ka....."

Suara itu terdengar dari seberang dengan sangat jelas. Dan Siti tau jelas, itu suara siapa.

"Kaka??" ucap Siti kaget.

"Loh..... Ini Siti ya?" tanya dari seberang.

"Iya ka..... Ka Sarmanya lagi sibuk. Mamak juga sibuk. Semua sibuk. Dari tadi Siti panggil-panggil, enggak ada yang dengar. Mau lewat aja susah loh Ka. Ramai kali orang-orang di sini." celetuk adik bungsunya itu.

Kakanya hanya tersenyum mendengar ocehan adiknya itu. Kakanya gemas sendiri mendengarnya.

"Halo?? Ka?? Kaka dengar nggak sih?" tanya Siti tak mendengar apa-apa dari seberang.

"Iya..... Iya..... Kaka dengar kok. Ya udah, kasih tau nanti ya kalo Kaka nelpon sama Ka Sarma atau sama Omak....."

"Okey, Ka." balas Siti.

Menjelang sore, setelah seluruh rangkaian acara selesai dan tamu mulai berkurang, keluarga pihak laki-laki perlahan bersiap untuk pamit pulang.

Beberapa bapak bapak mulai melipat tikar. Anak-anak yang tadi berlarian kini sudah tampak lelah dan duduk bersandar di pangkuan orangtua mereka.

Sementara itu, para ibu masih sibuk membungkus makanan untuk dibawa pulang keluarga dekat.

Di depan rumah, keluarga laki-laki dan perempuan kembali berkumpul untuk saling berpamitan.

"Horas ma hita sude, ate...."

"Horas."

Satu per satu keluarga berjabat tangan dengan hangat. Namun di tengah persiapan pulang itu, calon pengantin perempuan ternyata belum ikut berdiri bersama rombongan keluarga laki-laki. Sarma masih berdiri di dekat ibunya.

"Asido, Kaka iparmu tidak ikut pulang?" bisik salah satu sepupunya pelan.

Asido tersenyum kecil, "belum"

Memang sejak awal sudah disepakati bahwa Sarma masih tetap tinggal di rumah orangtuanya sampai beberapa hari menjelang pesta pernikahan.

Selain karna jarak rumah kedua keluarga tidak terlalu jauh, itu juga permintaan langsung dari Sarma sendiri.

Saut berjalan mendekati Sarma yang sedang berdiri bersama keluarganya.

"Kami pulang dulu," katanya pelan.

Sarma mengangguk kecil.

Meski sejak tadi mereka banyak tersenyum malu-malu selama acara berlangsung, wajah Sarma kini tampak sedikit berbeda. Ada rasa haru yang mulai terlihat.

"Kau nanti dijemput kan?" tanya Saut lagi.

"Tiga hari sebelum pesta."

Saut tersenyum tipis lalu mengangguk.

"Iya... "

Salah satu Nantulangnya langsung ikut menggoda dari belakang.

"Belum juga berpisah, wajahnya sudah sedih begitu."

Sarma langsung menunduk malu. Sementara Saut hanya tertawa kecil sambil mengusap tengkuknya.

"Biarkan dulu mereka," celetuk Tulang yang lain. "Namanya juga calon pengantin."

Tawa kecil kembali terdengar.

Akhirnya rombongan keluarga laki-laki mulai berjalan menuju kendaraan masing-masing. Dari halaman rumah, Sarma berdiri memperhatikan mereka pergi.

Sementara Saut sempat menoleh sekali lagi ke arahnya sebelum masuk ke mobil. Tidak ada kata-kata panjang. Hanya saling pandang dan senyum tipis.

Malam mulai turun ketika keluarga Asido akhirnya tiba kembali di rumah. Rumah itu masih berantakan, mereka cukup terburu-buru mau pergi tadi hingga tak sempat membereskannya.

"Kita istirahat aja dulu Eda.... Besok saja kita bereskan itu, udah capek...." ucap Ibu Asido.

"Olo Eda. Cuman membereskan ini aja....."

Seharian mengikuti rangkaian acara martuppol membuat tubuh terasa lelah. Bahkan beberapa keluarga yang masih menginap di rumahnya memilih beristirahat lebih dulu, kecuali Namboru Asido.

"Bang, sekali lagi selamat ya. Lancar sampai pernikahan....." ucap Asido sambil memukul pelan lengan abangnya.

"Iya, Thanks. Btw berarti tak lama lagi giliranmu....." balasnya tersenyum tipis.

Asido menanggapinya dengan tertawa kecil sambil berjalan pelan menuju kamarnya di lantai atas.

Ia membuka jasnya lalu merebahkan tubuh di atas kasur sambil menghela napas panjang.

"Hari ini terasa panjang....." gumamnya.

Suara tawa keluarga, candaan para tulangnya, wajah bahagia abangnya, hingga tatapan malu-malu calon kaka iparnya.

Asido tersenyum kecil.

Abangnya akan benar-benar menikah. Beberapa hari lagi, rumah ini akan semakin berubah.

"Berarti....." ucap Asido langsung duduk.

Dia menyadari sesuatu yang selama ini selalu berhasil ia hindari.

Setelah abangnya menikah, perhatian keluarga perlahan pasti akan beralih kepadanya. Anak siappudan keluarga Pardosi itu. Yang selama ini selalu menjawab pertanyaan soal pasangan dengan santai. Yang selalu sibuk bersembunyi di balik alasan pekerjaan dan klinik.

Asido menutup mata sambil tertawa kecil.

"Sebentar lagi aku yang diteror penuh ini...."

Asido mengusap wajahnya sendiri. Namun anehnya, saat memikirkan soal itu, ada satu wajah yang kembali muncul tanpa diminta.

"Kenapa jadi dia lagi yang kuingat....." gumam Asido.

Perempuan itu semakin sering muncul begitu saja di kepalanya.

Di tengah suara samar keluarga yang masih bercakap di bawah, Asido tersenyum kecil sendiri. Sebuah pertanyaan sederhana melintas di benaknya.

"Bagaimana kalau nanti benar-benar dia orangnya?"

Asido yang tadinya duduk tiba-tiba langsung berdiri. Seolah baru mengingat sesuatu, ia segera meraih hpnya yang terletak di atas meja samping tempat tidurnya.

"Besok?"

Ia menghitung cepat dalam pikirannya. Kalau ia pulang ke kota besok sore, berarti ia masih sempat mengikuti ibadah Minggu di gereja itu.

"Iya..... Besok saja," ucapnya.

"Asido! Sido??" panggil ibunya.

"Astaga.....!!" seru Asido kaget.

"Iya Mak?" jawabnya.

Ia membuka pintu kamarnya dan wajah ibunya sudah langsung muncul dari balik pintu.

"Kau sudah mandi atau belum?"

Asido terdiam.

"Belum kan?"

Asido tertawa kecil ketahuan.

"Ini baru mau mandi...."

Ibunya menggeleng sambil mendekat masuk ke kamar.

"Makanya cepat mandi. Air hangat sudah kusiapkan itu. Cepat sebelum dingin....."

Mendengar itu, Asido langsung menunduk melihat wajah ibunya.

"Serius, Mak?" tanyanya.

"Iya.... Kalau menunggu kau, sampai tengah malam pun nggak akan jadi mandi."

Asido tertawa kecil. Tanpa banyak bicara, ia langsung memeluk ibunya dari samping dengan manja.

"Omak on memang paling baik."

Ibunya langsung terkekeh pelan sambil menepuk lengannya.

"Ih... Apalagi ini...."

"Terharu loh,Mak...."

"Alah.... Baru juga dibuatkan air hangat aja sudah begini." balas ibunya.

"Serius loh, Mak..."

"Nanti cari istri yang buatkan, ya....."

Asido langsung melepaskan pelukannya sambil menggeleng pasrah.

"Nah mulai lagi, kan...." ucap Asido pelan.

Ibunya tertawa puas melihat reaksinya putranya.

"Memang harus diingatkan."

"Karna berikutnya memang kau."

Asido mengusap wajahnya sambil tertawa kecil. Ia tidak terlalu membantah. Dan sikap itu justru membuat ibunya memperhatikan lebih lama.

"Kau sedikit berubah ya.... " Ujar ibunya tiba-tiba.

"Hah??"

"Biasanya kalo disinggung soal nikah langsung kabur."

Asido diam. Entah karna terlalu lelah atau terlalu nyaman berada di rumah, ia jadi tidak punya tenaga untuk menyangkal seperti biasa.

Melihat putranya yang malah tersenyum kecil sendiri, ibunya langsung menyipitkan mata curiga.

"Nah...."

"Apa lagi, Mak?"

"Benar ada seseorang rupanya....."

Asido langsung tertawa sambil berjalan mundur menuju kamar mandi.

"Aku mandi dulu," Asido mengambilkan handuknya yang tergantung.

"Itu bukan jawaban!"

Asido sudah keburu masuk sambil masih tertawa kecil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!