"Elian sengaja menciptakan neraka, hanya agar ia bisa menjadi satu-satunya surga tempat Lyra bersandar."
Menyembunyikan kecantikan di balik sikap tertutup adalah cara Lyra Anya Cassandra bertahan hidup di SMA Elit Gava. Statusnya sebagai siswi yatim piatu penerima beasiswa menuntutnya untuk tidak terlihat.
Namun, sebuah kotak bekal siang yang sederhana menghancurkan seluruh pertahanannya.
Lyra mendadak menjadi target perundungan yang kejam. Di tengah keputusasaan itu, hanya Elian cowok paling berpengaruh di sekolah yang bersedia menjadi pelindungnya.
Lyra mengira itu keberuntungan, tanpa tahu bahwa Elian sendiri yang menyalakan api neraka demi memaksanya datang kepelukan elian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selingan Manis dari Toko Kue
Hari-hari berikutnya di SMA Gava berjalan dengan ritme yang sama tenangnya bagi Lyra Anya Cassandra. Seminggu penuh telah berhasil ia lalui dengan sangat baik, dan ia semakin menikmati perannya yang nyaman sebagai siswi biasa yang tidak menonjol di pojok kelas Sepuluh-Empat. Baginya, sekolah hanyalah tempat untuk menuntut ilmu demi mempertahankan beasiswa penuhnya, bukan tempat untuk mencari validasi atau pengakuan sosial dari orang-orang kaya. Setiap kali bel pulang sekolah berbunyi, rutinitas Lyra tidak pernah berubah sedikit pun: menanggalkan seragam abu-abunya yang kaku, mencuci tangan hingga bersih, memakai celemek kain bermotif bunga-bunga kecil, lalu menenggelamkan dirinya ke dalam aroma mentega yang manis di toko kue milik Nenek.
Sore itu, toko kue tradisional milik Nenek sedang cukup ramai dikunjungi oleh para pelanggan setianya. Bau harum dari kue sus yang baru saja matang di dalam oven raksasa menguar dengan bebas hingga ke luar pintu kaca toko, menarik perhatian beberapa ibu-ibu kompleks perumahan sekitar untuk berdatangan masuk. Lyra dengan gerakan yang sangat cekatan membantu Nenek membungkus beberapa potong kue bolu gulung cokelat yang lembut, lalu menghitung uang kembalian di balik meja etalase kaca yang bersih berkilau.
"Ini uang kembaliannya, Ibu. Pas ya, tidak kurang. Terima kasih banyak sudah berbelanja di toko kami, silakan datang kembali," ucap Lyra dengan nada suara yang sangat ramah sambil menyerahkan kantong plastik kemasan kue disertai dengan ulasan senyum manisnya yang sangat tulus. Ibu pelanggan itu membalas senyuman Lyra dengan hangat sebelum akhirnya melangkah keluar dari toko.
Setelah pelanggan terakhir keluar dan lonceng kuningan kecil di atas pintu berdenting sepi menandakan ruangan telah kosong, Nenek berjalan perlahan mendekati Lyra dari arah dapur. Wanita tua itu melangkah sambil membawa sebuah nampan kayu kecil di kedua tangannya. Di atas nampan tersebut, sudah tersaji dua potong kue lapis legit yang berminyak cantik dan segelas besar teh melati hangat yang masih mengepulkan uap tipis.
"Istirahat dulu sebentar, Lyra. Nenek perhatikan sejak pulang dari sekolah tadi siang, kau belum duduk sama sekali, kakimu bisa varises nanti," ujar Nenek dengan nada suara yang sangat lembut penuh perhatian, sambil mengusap punggung cucu kesayangannya itu dengan penuh kasih sayang.
Lyra langsung mengulas senyum lebarnya, menerima segelas teh hangat itu dengan kedua tangannya lalu menyesapnya secara perlahan. Rasa hangat dari air teh melati itu langsung menjalar di sepanjang tenggorokannya, seketika mengusir rasa letih yang sempat bersarang di tubuhnya setelah seharian penuh belajar di sekolah dan melayani para pembeli kue.
"Lyra tidak lelah sama sekali kok, Nek. Justru Lyra merasa sangat senang kalau toko kue kita bisa ramai pengunjung seperti sore ini," sahutnya dengan nada riang sambil mengambil sepotong kue lapis legit, lalu mengunyahnya dengan lahap hingga pipinya menggembung lucu. Rasa manis dan kelembutan kue buatan Nenek selalu menjadi obat penawar terbaik bagi segala rasa lelahnya.
Nenek perlahan mendudukkan tubuh ringkihnya di atas kursi kayu yang terletak di sebelah etalase kaca, menatap wajah bersih cucunya dengan tatapan mata yang sangat saksama dan penuh keteduhan. "Bagaimana sekolahmu di SMA Gava selama seminggu ini, Sayang? Tidak ada masalah apa-apa, kan? Teman-teman sekelasmu memperlakukanmu dengan baik, tidak ada yang berbuat nakal padamu?" tanyanya beruntun, memastikan kekhawatiran yang sempat mengusik hatinya beberapa hari lalu tidak benar-benar menjadi kenyataan.
"Semuanya berjalan sangat lancar dan baik-baik saja, Nenek sayang," jawab Lyra untuk meyakinkan hati wanita tua di depannya, sepasang mata bulat jernihnya memancarkan binar kejujuran yang menenangkan. "Kelas Lyra letaknya di lantai dua sayap barat, tempatnya sangat tenang dan jauh dari keributan murid lain. Anak-anak di dalam kelas juga semuanya sangat baik dan ramah. Kami bahkan sering berdiskusi bersama tentang tugas-tugas matematika dan sejarah. Jadi, Nenek tidak perlu khawatir lagi ya? Lyra benar-benar aman dan bahagia di sana," tambahnya lagi dengan nada suara yang sengaja dibuat ceria agar Nenek tidak menanggung beban pikiran tambahan.
Nenek mengembuskan napas panjang penuh kelegaan mendengarnya, raut wajah sepuhnya yang dipenuhi garis keriput kini tampak jauh lebih rileks dan tenang. "Syukurlah kalau memang begitu, Nak. Doa Nenek di setiap sujud subuh tidak pernah putus untuk keselamatan dan kelancaran sekolahmu di sana."
"Iya, Nek. Lyra tahu betul kekuatan doa Nenek," balas Lyra sambil manja bersandar pada bahu Nenek sejenak. "Oh ya, Nek. Besok pagi Lyra ingin membawa kotak bekal siang buatan Nenek ke sekolah, boleh ya? Lyra sedang ingin makan nasi goreng mentega dengan telur dadar iris yang tipis-tipis buatan Nenek. Rasanya, makan bekal di bawah pohon rindang taman belakang sekolah saat jam istirahat siang nanti pasti akan sangat menyenangkan dan tenang," pinta Lyra dengan nada manja, membayangkan sudut taman sepi di bawah pohon beringin tua yang setiap hari selalu ia pandangi dari balik jendela kelasnya.
Nenek tersenyum lebar, mengacak-acak rambut hitam panjang milik Lyra yang halus dengan penuh rasa gemas. "Tentu saja boleh, cucu kesayangan Nenek yang paling manja. Besok subuh-subuh sekali, Nenek akan bangun untuk menyiapkan kotak bekal nasi goreng mentega paling enak khusus untuk kau bawa ke sekolah," jawab Nenek diiringi tawa kecil yang terdengar begitu hangat di dalam toko.
Malam harinya, Lyra tidur dengan sangat nyenyak di atas ranjang kecilnya, ditemani oleh aroma wangi kayu manis samar yang masih tersisa di sudut kamarnya dari aktivitas memanggang kue sore tadi. Di dalam tidurnya yang damai, ia merasa seluruh aspek kehidupannya saat ini sedang berada di jalur yang sangat tepat dan sempurna. Sekolahnya berjalan dengan sangat damai, nilai-nilai tugas akademiknya bagus, dan rumah kecilnya selalu dipenuhi oleh kehangatan kasih sayang yang melimpah dari sang nenek.
Gadis remaja yang teramat polos itu sama sekali tidak pernah memiliki petunjuk apa pun di dalam kepalanya bahwa esok hari, kotak bekal siang sederhana berisi nasi goreng mentega yang ia minta dengan penuh semangat malam ini, akan menjadi umpan tak sengaja yang mengubah seluruh jalannya takdir hidupnya untuk selamanya. Lyra tidak pernah menduga bahwa di bawah pohon rindang taman belakang sekolah esok siang, langkah kakinya akan membawa dirinya melangkah mendekati seorang pemuda misterius yang sedang duduk sendirian dengan tatapan mata yang hampa, kosong, dan mati rasa.
Sebuah langkah kecil penuh rasa iba yang polos dari seorang Lyra Anya Cassandra, tanpa ia sadari, akan meruntuhkan seluruh kedamaian hidup yang selama seminggu ini ia agung-agungkan, mengundang badai obsesi milik seorang Elian Gava Alaric untuk masuk merangsek dan menghancurkan seluruh dunia kecilnya hingga tak bersisa.