Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 — HASIL PENYELIDIKAN
Fajar belum sepenuhnya menyingsing di atas Aveloria, namun kegelapan di ruang kerja Putra Mahkota sudah diusir oleh pendar emas dari dua lampu minyak yang menyala di atas meja kayu ek. Udara ruangan terasa dingin, sarat akan aroma minyak lavender, kertas tua, dan abu tungku yang baru padam.
Pangeran Adrian berdiri membelakangi pintu, menatap lurus ke luar jendela batu. Tubuhnya yang dibalut kemeja linen hitam tampak tegap, namun pandangan mata abu-abu pekatnya menyimpan kilatan kelelahan yang tak dapat disembunyikan. Sejak melangkah keluar dari kamar Elian semalam—sejak mendengar kata "Ayah" terucap dari bibir mungil anak itu dalam igauan demamnya—Adrian tidak memejamkan mata sekedik pun.
Suara ketukan tiga kali yang halus namun tegas memecah keheningan ruangan.
"Masuk, Gareth," perintah Adrian tanpa membalikkan badan.
Pintu kayu ek tebal itu terbuka dan tertutup dengan senyap. Gareth melangkah masuk dengan jubah perwira yang basah di bagian bawahnya. Di tangannya, sang kepala pengawal menggenggam sebuah tabung kulit kedap air berisi gulungan perkamen yang tersegel dengan lilin perak—lambang rahasia pengawal pribadi Putra Mahkota.
"Saya membawa laporan akhir dari jaringan agen selatan, Yang Mulia," ujar Gareth. Suaranya rendah, dipenuhi keseriusan seorang prajurit yang sadar bahwa dokumen di tangannya dapat mengubah takdir sebuah kerajaan.
Adrian berbalik perlahan, melangkah menuju mejanya. "Katanya."
Gareth membuka segel tabung kulit tersebut, mengeluarkan perkamen tebal dan membukanya di atas meja. Tangannya yang berkapalan menunjuk beberapa baris catatan tanggal, nama, dan segel wilayah.
"Kami telah memeriksa buku log perjalanan di pos pemeriksaan Gerbang Barat Aveloria dari tujuh tahun lalu, tepat pada malam setelah pengumuman pertunangan Anda dengan Lady Seraphina," Gareth memulai penjelasannya dengan nada kaku yang terlatih. "Catatan resminya telah diubah atau sengaja dirusak. Namun, agen kita berhasil menemukan salinan log sekunder yang disimpan oleh seorang mantan sersan penjaga gerbang yang kini pensiun di selatan."
Adrian menyipitkan matanya. "Apa yang ada di catatan itu?"
"Sebuah kereta kuda tanpa lambang bangsawan melintas keluar dari gerbang barat tiga jam sebelum fajar," jelas Gareth. "Izin melintasnya ditandatangani oleh pejabat tingkat tinggi dari Menara Selatan. Di dalam kereta itu tercatat seorang wanita muda bernama Alena Virelle."
Dada Adrian berdesir kasar. "Lalu?"
"Laporan medis dari tabib lokal di Bellmare juga telah kita dapatkan secara rahasia," lanjut Gareth, menggeser lembar perkamen kedua. "Elian lahir tepat tujuh bulan tiga minggu setelah malam kepergian Lady Alena dari istana. Kondisi fisiknya saat lahir sangat sehat, menunjukkan usia kandungan yang cukup bulan. Garis waktunya... persis bertepatan dengan minggu-minggu terakhir saat Lady Alena masih bertugas di perpustakaan istana."
Adrian mengepalkan tangannya di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih kaku. Setiap tanggal, setiap angka, dan setiap catatan medis yang dibacakan Gareth menghantam pikirannya bagai pukulan martil besi. Tidak ada lagi ruang untuk keraguan. Tidak ada lagi kemungkinan kebetulan.
Elian lahir dari benih yang ditanamnya di Taman Mawar tujuh tahun lalu.
"Bagaimana dengan catatan mengenai ayahnya?" desak Adrian, walau ia sudah tahu jawabannya.
Gareth menggelengkan kepala pelan. "Tidak ada, Yang Mulia. Tidak ada catatan pernikahan, tidak ada nama pria yang pernah tinggal bersama Lady Alena, dan tidak ada jejak hubungan dengan pedagang mana pun seperti yang diklaim di dokumen desa. Bahkan dokumen kependudukan Bellmare dibuat tiga bulan setelah kelahiran Elian, dengan rekomendasi khusus yang dikeluarkan oleh orang dalam istana."
Kata-kata terakhir Gareth menggantung di udara bagai belati yang menusuk kebenaran.
Orang dalam istana.
Adrian menyandarkan kedua tangannya di atas meja kayu ek, menundukkan kepalanya saat gelombang emosi yang dahsyat meluap dari dalam dadanya. Rasa bersalah yang tak tertahankan, kerinduan yang membakar, dan amarah luar biasa atas ketidakadilannya selama tujuh tahun bertabrakan hebat di dalam jiwanya.
Alena menanggung semuanya sendirian. Wanita itu melahirkan anaknya di sebuah desa terpencil, membesarkannya dalam kemiskinan, menahan cercaan orang-orang tentang asal-usul anaknya, dan menanggung beban kebohongan yang membunuh namanya sendiri... hanya demi melindungi nyawa darah daging mereka.
"Yang Mulia..." panggil Gareth pelan.
Adrian tidak mendongak, namun tangannya yang mengepal di atas meja tampak gemetar tipis.
Gareth menatap Putra Mahkota yang dilayaninya sejak muda dengan rasa iba yang mendalam. Sebagai seorang veteran perang yang paham betul akan intrik kejam di Istana Valerian, Gareth tahu persis apa yang akan terjadi jika bukti-bukti ini dibuka di hadapan publik.
"Apakah Anda yakin ingin melanjutkan tindakan atas informasi ini, Yang Mulia?" tanya Gareth, suaranya sangat pelan, penuh kehati-hatian.
Adrian perlahan mengadahkan wajahnya. Mata abu-abu pekat sang pangeran tidak lagi memancarkan keraguan sedikit pun; di dalamnya menyala api ikrar yang dingin, keras, dan tak tergoyahkan bagai batu karang.
"Apa maksud pertanyaanmu, Gareth?"
"Jika Anda menggunakan bukti ini untuk mengklaim Elian secara resmi sebagai anak kandung Anda," jawab Gareth jujur, menatap lurus mata sang pangeran, "konsekuensinya tidak akan bisa ditarik kembali. Aliansi dengan keluarga Ardent akan pecah seketika. Duke Darius akan menganggap hal ini sebagai pengkhianatan terhadap pertunangan Lady Seraphina. Dewan Kerajaan akan terbelah menjadi faksi-faksi yang saling memerangi, dan keberadaan anak itu akan menjadi sasaran utama dari setiap pembunuh bayaran di perbatasan. Hasil penyelidikan ini dapat menghancurkan seluruh kehidupan kerajaan... dan takhta Anda sendiri."
Ruang kerja itu mendadak menjadi begitu hening. Suara angin fajar yang bertiup di luar jendela batu terdengar bagai bisikan takdir yang menuntut keputusan.
Gareth bersiap menerima kemarahan atau penundaan dari sang pangeran. Namun, Pangeran Adrian Valerian hanya memiringkan kepalanya sedikit. Sebuah senyuman dingin, tajam, dan sarat akan keberanian yang tak terbatas terukir di bibirnya yang kaku.
"Aku sudah kehilangan Alena sekali karena kebodohanku sendiri tujuh tahun lalu, Gareth," kata Adrian. Suaranya tidak lagi keras, namun memiliki gema ketegasan yang sanggup meruntuhkan tembok-tembok Istana Valerian. "Aku membiarkan dia pergi membawa penderitaannya sendirian karena aku terlalu percaya pada aturan dewan dan janji-janji politik."
Adrian berdiri tegak, merapikan kemeja hitamnya dan menatap lurus ke arah jendela, di mana sinar fajar pertama mulai membiaskan cahaya keemasan di atas langit Aveloria.
"Aku tidak akan membiarkan kebohongan membuatku kehilangan anakku untuk kedua kalinya," ikrar Adrian dengan nada mutlak. "Jika takhta ini menuntut agar aku mengorbankan darah dagingku demi menyenangkan keluarga Ardent... maka takhta ini tidak bernilai apa-apa bagiku."
Gareth menahan napasnya sekilas. Matanya membelalak pelan menatap sang Putra Mahkota.
Pernyataan terbuka dari Adrian bukan sekadar pengakuan pribadi; itu adalah deklarasi perang terhadap seluruh sistem politik Aveloria. Pria di hadapannya ini bukan lagi seorang pangeran muda yang terikat oleh keinginan ayahnya atau tekanan dewan, melainkan seorang calon penguasa yang bersiap menghancurkan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya.
"Saya mengerti, Yang Mulia," sahut Gareth, membungkukkan tubuhnya dalam-dalam dengan penghormatan tertinggi. "Pengawal pribadi Anda... berada di belakang Anda sepenuhnya."
"Gulung semua dokumen ini dan simpan di brankas rahasia Menara Barat," perintah Adrian. "Dan perketat penjagaan di sekeliling Paviliun Barat. Mulai hari ini, tidak ada satu orang pun—bahkan Ratu atau Duke Ardent sekalipun—yang boleh menyentuh Alena dan Elian tanpa izin tertulis dariku."
"Diterima, Pangeran!"
Gareth merapikan dokumen-dokumen itu dan melangkah keluar dengan cepat, meninggalkan Adrian berdiri sendirian di dekat jendela.
Adrian memegang pembatas batu jendela, menatap ke arah Paviliun Barat yang dinaungi kabut pagi. Di dalam matanya yang berwarna abu-abu pekat, badai penyelidikan telah usai, berganti menjadi persiapan menghadapi pertempuran terbesar dalam hidupnya. Ia tidak akan lagi bersembunyi di balik bayang-bayang; kebenaran telah berada di tangannya, dan ia bersumpah demi namanya sendiri, darah Valerian yang mengalir di tubuh Elian akan dilindungi dengan segenap jiwa dan pedangnya.