Selama dua bulan, Ainun hanya menjadi Istri Sementara.
Ia pikir semua akan berakhir saat kakaknya pulang. Namun, takdir justru menghadiahkannya dua garis merah di alat tes kehamilan.
Ketika wanita yang seharusnya menjadi istri Sagara benar-benar kembali, mampukah Ainun melepaskan pria yang perlahan mulai ia cintai... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus Pergi Sebelum Sagara Pulang
Malam terus bergulir tanpa banyak suara. Rumah itu perlahan tenggelam dalam kesunyian, hanya sesekali terdengar suara kendaraan dari kejauhan.
Hingga tanpa terasa, warna gelap di balik jendela mulai memudar. Cahaya pagi perlahan menyelinap masuk, menandakan hari baru telah tiba.
Sagara keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi seperti biasanya. Kemeja yang telah terpasang sempurna, celana panjang, serta jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Langkahnya baru beberapa kali terdengar di lorong ketika Bi Ani menghampirinya dari arah dapur.
“Pak, Mbak Ainun—”
Sagara menghentikan langkah. Tatapannya beralih kepada Bi Ani.
“Jangan pikirkan wanita itu,” potongnya datar. “Saya akan makan di luar.”
Bi Ani terdiam. Matanya sempat melirik ke arah pintu kamar Ainun yang masih tertutup rapat.
“Tapi, Pak...”
Sagara mengangkat tangannya, menghentikan ucapan wanita itu.
“Apalagi sampai berani membuka pintu itu.”
Nada suaranya terdengar lebih tegas.
“Kalau sampai kamu membukanya, kamu tahu sendiri akibatnya.”
Wajah Bi Ani seketika menegang. Ia menundukkan kepala.
“B-baik, Pak.”
Sagara tidak mengatakan apa-apa lagi.
Ia merapikan ujung lengan kemejanya, lalu berbalik dan melangkah menuju pintu utama.
Tak sekali pun ia menoleh ke arah kamar Ainun.
Namun, ketika tangannya menyentuh gagang pintu, langkahnya sempat terhenti sesaat.
Dari balik pintu kamar yang tertutup itu, tidak terdengar suara apa pun.
Sagara mengepalkan jemarinya sebentar sebelum akhirnya membuka pintu.
Cahaya pagi menyambutnya.
Ia melangkah keluar tanpa berkata apa-apa, meninggalkan rumah dan kamar yang masih terkunci rapat di belakangnya.
.
Setelah punggung Sagara menghilang di balik pintu utama, Ani masih berdiri beberapa saat di tempatnya. Tatapannya sempat mengikuti arah kepergian pria itu sebelum akhirnya beralih kepada pintu kamar Ainun.
Ia segera melangkah mendekat.
Tok... tok... tok...
“Mbak Ainun, ini Bibi,” panggil Ani sambil mengetuk pintu.
Dari dalam kamar, terdengar suara lemah yang membuat langkah Ani terhenti.
“Bibi... tolong bukakan pintunya.”
Ani menempelkan telapak tangannya pada pintu.
“Hari ini aku akan pergi bersama Laras, sahabatku.”
Ani mengangguk meski tahu Ainun tidak dapat melihatnya.
“Baik, Mbak. Tunggu sebentar, ya.”
“Cepat, Bi.”
Ani menarik napas pelan. “Bentar, Mbak.”
Ia kemudian meninggalkan depan kamar dan berjalan menuju meja tempat Sagara biasanya menyimpan barang-barangnya.
Tangannya membuka laci pertama.
Tidak ada.
Laci kedua juga kosong.
Ani mengerutkan kening. “Di mana kuncinya?”
Ia membuka laci berikutnya dan mulai menggeledah isinya.
“Seingat ku, kemarin Pak Sagara menaruh kunci kamar Mbak Ainun di sini.”
Satu per satu laci dibuka. Beberapa barang yang tersimpan di dalamnya ia geser untuk memastikan tidak ada kunci yang terselip.
Namun, benda yang dicari tidak kunjung ditemukan.
“Bibi sedang mencari apa?”
Suara dari belakang membuat tubuh Ani seketika menegang.
Tangannya berhenti bergerak. Perlahan, ia menoleh.
“M-mbak Liona...”
Liona berdiri tidak jauh darinya.
Ani segera menghampiri wanita itu.
“Mbak, tolong selamatkan Mbak Ainun.” Suaranya terdengar terburu-buru. “Sejak kemarin beliau dikurung sama Pak Sagara, dan tidak di beri makan.”
Liona terdiam beberapa saat.
“Aduh, Bi...” Ia mengembuskan napas. “Bukannya saya nggak mau membantu, tetapi saya nggak ingin membuat Mas Sagara marah.”
Ani menatap Liona dengan cemas.
“Tapi, Mbak... Mbak Ainun hari ini mau pergi bersama sahabatnya.”
“Pergi?”
Ani mengangguk cepat. “Iya, Mbak.”
Liona menatapnya beberapa saat.
“Di mana kamar Ainun?”
Ani langsung berbalik. “Di sini, Mbak. Ayo.”
Ia berjalan lebih dulu menuju kamar Ainun. Liona mengikuti dari belakang.
Begitu tiba di depan pintu, Ani menunjuk ke arahnya.
“Ini, Mbak.”
“Ini kamarnya?” tanya Liona tampak ragu.
Ani mengangguk. “Iya, Mbak.”
Belum sempat Ani mengatakan apa-apa, suara Ainun terdengar dari dalam.
“Bibi, sudah dapat kuncinya?”
Ani mendekat ke pintu.
“Belum, Mbak Ainun.” Ia melirik Liona. “Tapi sekarang ada Mbak Liona.”
Suara dari dalam kamar mendadak berubah.
“Mbak Liona?”
Ani mengangguk. “Iya Mbak Ainun.”
Liona melangkah mendekati pintu.
“Ainun.”
“Mbak...” Suara Ainun terdengar lirih. “Tolong keluarkan aku dari sini.”
Liona diam sejenak sebelum bertanya.
“Kamu akan pergi jauh setelah ini, kan?”
“Iya, Mbak.” Suara Ainun terdengar bergetar. “Aku janji nggak akan kembali ke kota ini. Apalagi muncul di hadapan Mbak dan Mas Sagara lagi.”
Ani menundukkan kepala. Kalimat itu membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Liona terdiam cukup lama. Kemudian ia menoleh kepada Ani. “Bi.”
Ani segera mengangkat wajah. “Iya Mbak Liona…”
“Panggil tukang kebun. Minta dia mendobrak pintu ini.”
Ani sempat membelalak. “Mendobrak pintunya, Mbak?”
“Iya.” Liona menunjuk pintu kamar Ainun. “Cepat.”
Ani mengangguk. “Baik, Mbak Liona.”
Ia segera berbalik dan berjalan meninggalkan pintu kamar tersebut untuk mencari tukang kebun.
Namun, langkahnya terasa lebih cepat dari biasanya.
‘Semoga Mbak Ainun bisa keluar sebelum Pak Sagara kembali.’
.
Sementara itu, setelah meninggalkan rumah, Sagara memilih langsung menuju kantor. Mobilnya melaju membelah jalanan pagi, sementara pandangannya tetap lurus ke depan.
Tangannya mencengkeram kemudi sedikit lebih erat.
Bayangan Ainun yang duduk bersama Faizan kembali terlintas di benaknya. Begitu pula ucapan pria itu yang tanpa ragu menyampaikan niat untuk mengkhitbah Ainun.
Rahang Sagara mengeras.
Begitu mobil berhenti di depan gedung perusahaan, Sagara turun dan masuk ke dalam tanpa banyak bicara.
Beberapa saat kemudian, ia sudah berada di ruang kerjanya.
Ia berdiri di dekat dinding kaca, menatap jalanan kota yang mulai dipadati kendaraan. Dari ketinggian, deretan mobil tampak bergerak perlahan di antara gedung-gedung yang menjulang.
Pintu ruangannya diketuk.
“Masuk,” ucap Sagara tanpa berbalik.
Pintu terbuka. Suara langkah sepatu pantofel perlahan mendekat, dan berhenti.
“Pak Sagara,” panggil Liam hati-hati.
Sagara tetap menatap ke luar. “Ada apa?”
“Berita tentang Bapak di media sosial dan layar televisi sudah viral.”
Sagara akhirnya menoleh.
“Berita apa?”
Liam menunjukkan layar tablet kepadanya.
“Rekaman saat Bapak membanting piring dan menyeret Bu Ainun dari restoran tersebar di mana-mana.”
Tatapan Sagara jatuh pada layar tersebut. Beberapa potongan video memperlihatkan dirinya sedang mencengkeram pergelangan tangan Ainun.
“Lalu?”
Liam menelan ludah.
“Kalau berita ini terus menyebar, dampaknya bisa serius, Pak. Sentimen publik akan memburuk dan saham perusahaan berisiko anjlok.”
Sagara mengembalikan tablet itu tanpa menunjukkan kepanikan sedikit pun.
“Bungkam saja.”
Liam mengerutkan kening. “Bungkam, Pak?”
“Gunakan uang.” Sagara kembali menghadap jendela. “Hubungi media yang menyebarkannya. Minta mereka menghapus berita tersebut dan membuat klarifikasi bahwa pria dalam video itu bukan saya.”
Liam mengangguk cepat. “Baik, Pak.”
Sagara kembali menatap ke arah luar gedung.
“Pastikan semuanya selesai hari ini.”
“Baik, Pak.”
Liam segera berbalik dan meninggalkan ruangan.
Begitu pintu kembali tertutup, Sagara mengembuskan napas pelan.
‘Kenapa aku harus peduli pada apa yang mereka pikirkan?’
Ikut nunggu kelanjutannya , Semangat nulisnya Kak💪💪