NovelToon NovelToon
Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:801
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.

Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.

Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

[3] Bumi Langit Jangan Kabur!

"Emang Mangga dari pohon itu paling enak." Ia menelan satu irisan buah mangga yang sudah dia potong. Gadis berhijab dengan seragam olah raga itu kini tengah duduk santai di salah satu batang pohon mangga belakang sekolah.

Pukul dua siang harusnya mata pelajaran olah raga. Tapi bukannya ikut, dia malah nangkring di atas pohon.

Senyum gadis itu melengkung lebar usai menghabiskan satu buah mangga dan membuang bijinya ke kresek kecil yang dia bawa. Ia lalu melirik salah satu mangga yang juga sudah ranum.

"Rezeki anak sholeh emang gak ke mana." Tangannya terulur mengambil buah mangga tersebut. Pisau yang sudah ia sediakan kini ia gunakan untuk menggelupas kulitnya.

"Sering-sering berbuah ya pohon. Kalau gini gue bakal kesenangan."

"Pantes mangga yang berbuah pada hilang."

Suara cowok mengalihkan atensi Langit.

Ia menengok ke bawah, di mana laki-laki dengan kancing seragam lepas semua dan menampakkan baju hitam polos yang menutupi dada bidangnya tengah mendongak ke arahnya dengan seringaian. Di tangan cowok itu ada ponsel yang mengarah padanya.

Bola mata Langit membulat. "Woi lo ngapain?!"

"Mampus ketahuan lo." Mahendra Ghabumi Adelard. Cowok tinggi jangkung dengan rambut belah tengah itu lalu mengutak-atik ponselnya.

"Bumi awas aja lo kirim sama Pak Geo!"

"Itu sih rencana gue." Bumi panggilannya. Menggedikkan bahu.

"Bum, gue lagi bosan nih diomelin Pak Geo tiap hari." Langit memelas. "Gue ambilin tiga mangga deh. Gue kelupas sekalian." Langit menunjuk tiga mangga yang cukup jauh darinya.

Bumi menyimpan benda pipih itu di kantongnya lalu memanjat pohon membuat Langit sontak memeluk batang pohon dekatnya agar tidak jatuh.

"Lo ngapain sih naik segala!"

"Lo pikir gue gak bisa ambil mangga sendiri?" Bumi duduk di batang lebih rendah dari langit. Dia lalu merampas irisan mangga yang Langit buka.

"Bumi itu punya gue!" deliknya kesal.

"Manis juga mangganya."

"Lo ngapain sih ganggu gue. Sana lo cari tempat lain."

"Males. Potong lagi buat gue." Tangan Bumi tertadah.

"Males!" balasnya balik.

"Gue aduin mau lo?"

"Dih Bumi ngadu. Bodo. Lo juga gak olah raga tuh. Jam olah raga bawa baju dong."

"Serah gue dong."

"Yee nyebelin. Lagian lo ngapain sih di sini. Jangan sampai ya gara-gara lo gue ketahuan."

"Itu tujuan gue. Lihat lo di hukum kan hobi gue. Tapi sebelum itu gue juga ikutan makan mangga dulu." Bumi merampas mangga di tangan Langit. Ia menggigitnya dengan nikmat.

"BUMIIII!"

"Hm?" Sebelah alis cowok itu naik.

"Mangga gue!"

"Mangga sekolah."

Langit membuang nafas kesal. Ia lalu menaruh pisaunya pada kresek dan mendongak melihat buah Mangga yang lain. "Hari ini aja gue baik ya sama lo!" Ia kemudian berdiri.

"Lo mau ngapain?" Bumi sedikit khawatir kala kaki langit yang dibungkus sepatu itu tengah menginjak ranting pohon yang terlihat tidak kuat.

curi." "Ambil manga lah. Orang punya gue lo

"Berdua aja. Gak usah diambil lagi."

"Males banget gue berdua sama lo."

"Ini nih gue balikin. Biar gue yang ambil." Bumi sontak berdiri dari tempatnya.

Langit menoleh. "Ogah. Gini-gini gue jago manjat pohon."

"Gue yang ambil."

"Apaan lo makan aja habis itu pergi."

"Lo bisa jatuh woi. Udah sini gue aja."

"Gak akan-"

BRUK!

"Awww."

"Bhahahaa." Tawa Bumi pecah saat Langit jatuh mencium tanah. Mana posisinya mengkhawatirkan. Kaki ke atas dan kepala di bawah.

"Aaa Papaaa ...," rengeknya berusaha bangkit. Tubuhnya jadi terasa nyeri. Langit mengusap-ngusap pinggangnya.

"Udah gue bilangin. Makanya nurut bocil."

Bumi melompat dari batang pohon dengan hati-hati.

"Gue jatuh gara-gara lo ya Bumi. Coba lo gak ajak gue ngomong. Gue gak jatuh."

"Kalau takdirnya jatuh ya bakal jatuh. Gak usah nyalahin gue."

"Hish nyebelin lo." Langit menghentakkan kakinya kesal.

"Bagus bagus lagi ada mata pelajaran. Kalian pacaran sambil nyuri mangga di sini, Langit Bumi?" Teguran seiring tepuk tangan itu membuat perhatian mereka beralih.

Langit meringis melihat pak Ego yang

Berdiri garang sedang Bumi lekas membuang sisa buah mangga di tangannya.

"Pak Ego makin ke sini emang makin ganteng ya gak?" Bumi melirik Langit yang mengangguk dan memposisikan diri mundur perlahan.

"Weh ganteng banget. Papa Langit yang ganteng aja kalah."

"Gak usah banyak drama. Kalian harus saya hukum. Langit Bumi cepat ikut saya!" Pak Ego melotot seraya menunjuk mereka dengan penggaris besinya.

"Pak Ego itu ada siswi jatuh." Langit menunjuk arah belakang Pak Ego dengan raut panik. Ke arah bangunan lantai 4. Di saat guru BK itu lengah, keduanya saling lirik dan mengangguk.

"KABUURR."

"BUMI LANGIT JANGAN KABUR!!"

Yang diteriaki terus berlarian dengan tawa bahagia. Walau mereka bertengkar tapi soal kabur sih kompak. Keduanya berlarian di karidor sekolah saat Pak Ego kesusahan mengejar. Guru yang sudah memasuki kepala enam itu ngos-ngosan.

Langit memasuki gudang bawah tangga diikuti Bumi. Bumi langsung menutup pintu gudang.

"Kenapa ngikutin gue sembunyi di sini sih?" Tahu Bumi ikut membuatnya berdecak. Ruangan itu menjadi gelap setelah pintu tertutup

"Kalau mau selamat bareng-bareng. Gak lo aja yang nyelamatin diri."

"Kalau lo ketahuan, gue juga gak peduli!"

Langit yakin mereka tengah berdiri berhadapan.

"Bawel lo. Lagian emang gudang ini milik buyut lo?"

Langit mendengus seraya melipat tangannya kesal. Bola matanya mengedar melihat sekeliling. "Di sini gelap. Awas aja lo ambil kesempatan dalam kegelapan!"

"Sorry. Lo gak menarik. Lo jelek, pendek, tukang pukul, kas-"

BRUK!

Pukulan keras mendarat di lengan Bumi hingga cowok itu meringis. "Terus kenapa kalau gue jelek, pendek, tukang pukul dan kasar. Masalah gitu buat lo?"

"Ya masalahlah! Cewek kayak lo gak akan ada yang mau nikahin. Termasuk gue."

"Terus lo pikir gue sudi nikah sama lo?

Dih gak! Lo Bad Boy tengil, nyeselin, hidup lagi! Mau gue tendang!"

"Eh cewe rese. Gini-gini gue banyak yang suka."

"Hello Bumi. Gue juga punya banyak fans ya di sini. Dasar sok kecakepan!"

"Lo sok cantik."

"Gue emang cantik."

"Kayak itik!" Lanjut Bumi mengejek. Sesaat kemudian ia menjerit karena kakinya dipijak Langit.

"Langit!!"

"Makan tuh sakit. Nyeselin lo!"

Selang beberapa detik. Pintu dibuka dari luar. Mereka kompak menoleh panik. Pak Ego berdiri dengan tatapan garang dengan penggaris nya.

"Pinter pinter. Malah sembunyi di sini."

"Hehe Pak Ego." Langit menyapa lalu melirik Bumi yang masih kesakitan. "Gara-gara lo!" bisiknya.

"Lo yang injek gue!"

"Tapi lo yang mulai."

"Kok gue sih? Lo yang ngajak ribut."

"Ya lo nya bikin gue marah."

"Gak akan jadi gini kalau bukan ka-"

"STOP STOP. Siapa yang suruh kalian ribut?" Sela Pak Ego jadi ikutan kesal. "Kalian berdua cepat ikut saya ke lapangan!"

"Sekarang Pak?" Bisa-bisanya Langit pakai bertanya.

"Iya sekaranglah. Mau tahun depan?"

"Memang boleh?"

Pak Ego memejamkan mata dan mengambil nafas dalam lalu berteriak hingga Langit menutup kupingnya dan buru-buru keluar.

"Qanita Langit Zoe, Mahendra Ghabumi Adelard ke Lapangan sekarang!!!"

Bumi menggeleng tak habis pikir. Kemudian bersama Langit, keduanya berjalan ke lapangan di ikuti Pak Ego.

Berdiri hormat sama bendera. Bad Boy dan Bad Girl itu berdiri berdampingan. Langit

Berdiri tidak tenang. Sedang Bumi berdiri dengan tegap.

"Kalau lo gak datang, gue masih duduk enakan di atas pohon," omelnya. Beberapa saat lalu posisinya tadi sangat nyaman.

"Bodo bawel."

Langit mencibir. Ia menatap terik panas matahari lalu menunduk kembali karena silau. "Tega benar Pak Ego jemur gue jam segini."

Bumi melirik sekilas. "Diem."

"Gue gak ngomong sama lo!"

"Sama gue juga gak ngomong sama loh.

Tuh sama bayangan lo!" Bumi menunjuk bayangan Langit dengan dagunya. Gadis itu menatap sengit. Dia lalu bergeser sedikit jauh.

"Ngapain lo geser-geser?"

"Lihat muka lo bikin tensi gue bisa naik."

"Bilang aja lo gak kuat dekat-dekat sama cowok ganteng kayak gue kan?" Dua alis tebal Bumi naik turun. Ia juga menyugar rambutnya.

Langit merotasikan bola matanya malas. "Lo sama sekali gak ganteng, Bumi."

"Itu artinya gue ganteng."

Ia memaksakan senyum pada cowok di sebelahnya sebelum kemudian beranjak dari posisinya.

"Maimunah lo ke mana?!"

Tangannya melambai malas tanpa mengatakan apapun. Berhubung Pak Ego gak ada, dia akan melarikan diri ke kantin dulu.

***

Usai melaksanakan sholat ashar. Laki-laki berpakaian koko putih dipadu sarung itu mengusapkan tangannya ke wajah. Ia kemudian duduk bersila di atas sajadah.

Tetes air jatuh ke sarungnya dari ujung rambut. Dia baru saja pulang ashar dan langsung mendirikan sholat usia mandi. Matanya memejam serta bibirnya bergerak. Ibu jarinya bergerak dari kelingking paling bawah hingga ke ibu jari. Menghitung zikir yang tengah ia baca.

Setelah doa dan mengaji, dia bangkit dan berganti pakaian. Kornea mata hitam itu lalu melirik kamarnya yang sangat rapi. Waktu yang sudah menunjukkan pukul setengah lima sore membuatnya lekas keluar dari ruangan yang dipadu warna abu-abu tersebut.

Kaki panjang yang kini dibalut celana pendek itu melangkah ke dapur. Tujuannya adalah kulkas. Ia berdiri sesaat melihat isi kulkas yang tidak terlalu banyak lagi.

Kemudian tangannya terulur mengeluarkan ikan di freezer, dan bahan-bahan lain. Sore ini dia akan memasak seperti biasa.

Tidak sulit baginya untuk melakukan kegiatan yang banyaknya dilakukan perempuan. Bertahun belakangan dia sudah cukup lihai dengan hal tersebut. Tangan yang berukuran cukup besar itu memberi bumbu ikan, momotong kentang, juga memblender cabe, hingga membuat sayur.

Beberapa saat berkutat hingga masakan itu selesai. Dia lanjut menbersihkan kembali dapur. Laki-laki berkaus hitam itu lalu mengambil sapu menyapu rumah. Kemudian melanjutkan cuci piring.

Setelah semua selesai. Ia kembali ke dapur dan menyiapkan makan malam di meja makan. Rumah minimialis satu lantai itu sangat sepi karena hanya dia seorang diri di sana. Netranya melirik waktu yang menunjukkan pukul setengah enam.

Sehabis maghrib dia harus bersiap untuk berangkat kerja. Di tengah menikmati makan

Malamnya, getaran ponsel membuatnya meraih benda tersebut.

Rumah Sakit

Buru-buru dia geser icon berwarna hijau ke atas dan menempelkan benda canggih itu ke telinga kiri. Kalimat yang kemudian terdengar dari sebrang sana membuat dunianya seakan berhenti.

"Mas Bumi. Ibu kritis..."

Jantungnya berdegup kencang. Kemudian tanpa mematikan telfon, ia berlari kencang keluar rumah setelah mengambil kunci motor.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!