transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.
#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bekas cinta yang disengaja.
Matahari masuk melalui jendela, langsung nusuk netra gadis yang masih tiduran nyaman di kasur empuknya. Silau. Panas.
Perlahan mata Vivian mengerjap. Bulu matanya bergetar. Yang pertama ia cari bukan jam, bukan HP. Tapi wajah.
Bukan wajah Eric yang ia pandang, namun kosong.
Kasur sebelah udah dingin. Rapi. Bantal gak penyok.
Jauh berbeda dengan yang sering diceritakan di film. Yang adegan pemeran utama bangun, terus natap wajah pasangannya masih tidur, senyum-senyum, terciptalah adegan romantis lagi. Mungkin bisa mulai ronde 2. Sarapan di ranjang.
Tapi ini beda. Cuman hening yang Vivian rasakan. Gorden kamarnya sudah terbuka sempurna, cahaya pagi masuk semua, menandakan suaminya ini sudah bangun dari lama. Mungkin udah _jogging_, udah mandi, udah rapat.
Vivian bangun pelan. Duduk. Punggung nyender ke _headboard_. Sambil nyengir garing, kayak habis makan jeruk nipis. "Setelah dihajar semalaman, ternyata gak bikin dia langsung luluh," gumamnya ke langit-langit. Suaranya serak, khas abis tidur.
Masih tak menyangka. Main di ranjang belum berhasil membuat Eric baper. Padahal itu sudah permainan paling jauh. Paling ekstrem. Paling gak ada di KBBI.
Tapi ada rasa lega di hatinya, kecil, nyelip di antara kecewa. Eric tak mencintainya, iya. Tapi tadi malam, Eric gak kabur. Eric milih bopong dia. Milih pijat dia. Milih tidur sekasur. Vivian di anggap sebagai istri, bukan musuh. _Progress_.
_Klek_.
Tak lama terdengar pintu kamar mandi terbuka. Vivian menoleh sekilas.
Tampak Eric sudah menggunakan kemejanya. Putih. Lengan digulung. Rambutnya rapi, masih basah dikit di ujung. Dasi hitam belum diikat, melingkar di leher kayak kalung. Sibuk memasangkan kancing _cufflink_ di pergelangan tangannya. Bau _aftershave_-nya nyampe ke ranjang.
"Masih pagi, tidur saja sebentar lagi," ucapnya tanpa menoleh. Matanya ke kancing. Suaranya... normal. Datar. Bisnis.
Masih dingin. Sampai Vivian merinding. Bukan karena AC. Karena _gap_ ekspektasi.
Perlahan Vivian turun dari atas kasur. Kakinya napak lantai dingin. Tangannya refleks mengelus perut yang terasa keram, sebelah lagi berpegangan pada dipan kayu jati biar gak oleng.
"Sial, kakiku lemas," batin gadis itu. Efek semalam kelamaan nindih Eric + pijat + tensi.
Baru maju satu langkah, bagian bawah perutnya, pas di atas tulang kemaluan, terasa tertusuk. _Nyut_. Kayak ditusuk jarum.
"Ah..." Gadis itu mengaduh. Pelan. Lututnya lemas. Kehilangan keseimbangan. Badan oleng ke depan.
Eric yang dari tadi pura-pura sibuk sama kancing, sadar. Refleksnya CEO + mantan atlet basket. Dengan sigap mendekat ke arah Vivian. Satu detik nyampe. Tangannya nangkup punggung Vivian yang hampir jatuh, tangan satunya nahan lengan.
_Deg_.
Mata mereka bertemu. Jarak 20 cm. Napas Eric kena kening Vivian.
"Kenapa?" Tanyanya. Alis nyatu. Nada khawatir bocor 1%. Dia nuntun Vivian, mendudukkannya lagi di ranjang. Pelan.
"Sakit," Vivian langsung pasang mode _lehoy_. Rengeknya dibikin se-dramatis mungkin, sambil tangannya ngeplak dada bidang Eric. Pelan. Manja. _Pluk_. "Tadi malam kamu terlalu buas. Gak inget aku hamil. Main terjang aja."
Jleb. _Tembak langsung_.
Eric tak menjawab. Diam. Rahangnya keras. Kupingnya merah. Dia cuma bisa membayangkan "permainan"-nya tadi malam. Lulur. Pijat. Tindihan. Bibir 1 senti. Chindy pingsan.
Memang keterlaluan. Sampai sempat hilang kendali. Lupa kalau istrinya sedang hamil 4 bulan. Lupa kalau dia Eric Wijaya, bukan _brondong_ puber.
_Tok. Tok. Tok._
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Nyelametin Eric dari _blushing_.
"Tuan, Dokter Alea ada di sini," suara itu suaranya Bi Ijah, pelan tapi jelas. "Katanya jadwal cek kandungan Nyonya. Sudah janjian minggu lalu."
Eric napas. _Selamat_. "Suruh dokter masuk," sahutnya singkat. Nadanya balik ke _default_: dingin, otoriter.
...
Beberapa menit kemudian, pintu kebuka. Alea datang.
Membawa tas hitamnya, tas dokter. Jas putih, rambut diikat kuda, _flat shoes_. Wajahnya profesional. Senyum _standard SOP_. Wangi _antiseptic_ campur parfum lembut.
Pagi-pagi udah cantik. Udah siap kerja.
"Dokter, periksa dia," suruh Eric. Dia langsung mundur, jalan ke kursi _single_ di pojok kamar. Duduk. Jaga jarak. Matanya natap istrinya dari kejauhan. Kayak pengawas ujian.
Alea profesional. Dia angguk, terus berjalan ke arah Vivian. Matanya nyapu sekilas ke ranjang.
Ranjang masih berantakan tak karuan. Sprei kusut, bantal ada dua tapi satu di lantai, selimut melintir, gaun _pink_ Vivian nyangkut di tiang ranjang.
Jelas ini bekas badai. Badai semalam. Badai hormon.
Alea netralin wajah. "Selamat pagi, Nyonya. Pak Eric. Saya cek rutin ya."
"Bagian mana yang sakit?" Tanya Alea. Suaranya lembut, dokter banget. Sambil buka tas, ngeluarin _stetoskop_.
Vivian senyum. Senyum menang. _Show time_.
Dengan pelan, kayak adegan _slowmo_, Vivian menyingkap piyama _satin_-nya. Kancing atas dibuka dua.
Memperlihatkan leher jenjang, tulang selangka, sampai atas dada. Di sana, bertaburan. Bekas kebiruan. _Hickey_. Satu, dua, lima. Gede, kecil. Jejak Eric semalam. Pas Eric panik, pas Eric... khilaf.
"Di sini," tunjuknya. Ujung jari lentik napak di bekas kecupan cinta Eric di leher. "Sakit. Perih."
Kemudian jarinya turun, menunjuk dada atas, turun lagi ke bawah perut yang masih ketutup kain, terus ke paha, sampai lutut. "Semuanya sakit," rengeknya. Matanya ngelirik Eric sekilas. Senyumnya penuh kemenangan. "Suami saya semalam agresif banget, Dok."
Wajah Alea bersemu. Merah. Dalam 1 detik, ekspresinya ganti-ganti: kaget -> malu -> marah -> cemburu -> profesional lagi. Campur jadi satu, kayak kopi _blend_. "Ada ya wanita setak tahu malu ini," batin-nya. Tangannya ngeremas _stetoskop_ kenceng. Tapi mulutnya diem.
Tak banyak bertanya karena jelas akan menyakiti hatinya sendiri. Alea segera menjalankan tugas. Profesionalitas nomor satu. "Saya cek _fetal heart rate_ dulu ya, Nyonya. Boleh saya?"
Vivian angguk. Ngangkat selimut sampai perut.
Alea narik kursi, duduk di pinggir ranjang. Kepalanya masuk ke dalam selimut, dengerin detak jantung bayi pake _doppler_.
Hening.
Cuma ada suara _detak. Detak. Detak._ Kenceng. Sehat. 150 bpm.
Beberapa saat kemudian, dia keluar dari selimut. Dengan ekspresi kaget, campur lega, campur... kosong. Matanya sempat berkaca-kaca sedetik, terus dihilangin.
Jelas dia tahu. Ranjang berantakan. _Hickey_. Detak jantung bayi kenceng. Itu habis di obrak-abrik badai tadi malam. Badai cinta.
"Ada sedikit lecet di bagian luar, Nyonya," ucapnya pelan. Profesional. Ada rasa jengkel di hatinya, tapi ditelan. "Untung tidak parah. Janinnya aktif, bagus. Tapi..."
"Tuh kan, suamiku tadi malam tak tahu batasan," potong Vivian cepat. Gak kasih Alea selesai. Sambil lirik Eric. "Dia pikir aku bukan orang hamil. Mainnya kayak... ya gitu deh, Dok."
Wajah Eric merah bata. Dari leher sampe kuping. Dia natap jendela. Gak protes. Gak bantah. Gak bilang "itu cuma pijat". Diamnya \= ngaku.
_Skak mat_.
"Lebih baik, hindari dulu berhubungan suami istri ya, Pak, Bu," ucap Alea lagi. Wajahnya masih senyum _SOP_, senyum terlatih 7 tahun koas. Tapi hatinya cemberut. Remuk. "Sampai _trimester_ 2 akhir. Demi kebaikan janin. Dan... Nyonya."
Kalau Eric sebegitu nafsu pada Vivian, bukankah berarti Eric mencintainya? Bukankah berarti semua rumor di rumah sakit itu salah?
Kabar burung Eric dan Vivian akan cerai, Eric nikahin Vivian karena terpaksa, Eric benci Vivian... itu bohong juga?
Eric cuma diem. Ngeluarin HP, pura-pura ada _email_.
Alea beres-beres alat. Tangannya gemeter dikit. "Saya resepin vitamin tambahan sama salep ya, Nyonya. Saya permisi dulu. Permisi, Pak Eric."
Dia pamit. Jalan keluar. Punggungnya tegak. Profesional.
Begitu pintu ketutup, Alea sandaran ke dinding koridor. Napas. _Huuuh_.
Matanya panas. _Jadi selama ini... aku yang bodoh?_
Di dalam kamar, Vivian ketawa dalam hati. _Checkmate, Alea. Round 1_.
Eric berdiri. "Aku ke kantor."
Gak bilang "jangan banyak gerak". Gak bilang "istirahat". Cuma itu.
Tapi pas di pintu, dia berhenti. Gak nengok. "Salepnya dipake."
Terus pergi. _Brak_.
Vivian senyum. Ke pintu.
Dingin? Iya.
Wah, disuruh libur dulu, Kira-kira Eric milih libur atau cari mama baru?.
Komen ya.