Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Damai dan Awal Baru
Seminggu sudah berlalu sejak malam penentuan itu. Berita penangkapan Pak Hendro dan gerombolan Mang Kuncung jadi pembicaraan hangat di seluruh kota. Semua kejahatan mereka terungkap satu per satu, mulai dari penggelapan uang, perusakan aset, sampai rencana pembunuhan. Bukti yang dikumpulkan lengkap banget, jadi nggak ada jalan lain selain mereka menerima hukuman berat di penjara.
Di lingkungan Adhitama Corp, suasana kembali cerah dan damai. Karyawan yang tadinya cemas dan takut, sekarang bekerja dengan semangat lagi, percaya kembali pada perusahaan dan pemimpin mereka. Viona berjalan menyusuri lorong kantornya dengan kepala tegak, senyum lebar selalu menghiasi wajahnya. Beban berat yang memikul pundaknya selama ini sudah angkat pergi.
Dan di sebelahnya, selalu ada sosok tinggi berbadan tegap, santai, dengan rokok selalu terselip di bibir atau di tangan. Faris. Orang yang mengubah segalanya.
Mereka berdua berhenti di dekat jendela besar ruangan direksi, memandang ke bawah ke arah halaman luas dan gedung-gedung perusahaan yang berdiri kokoh.
"Semua udah beres ya Faris... nggak ada lagi ancaman, nggak ada lagi rasa takut. Semua berkat kamu. Kalau kamu nggak ada di sini, saya nggak tau bakal jadi apa nasib saya dan perusahaan ini," kata Viona tulus banget, matanya menatap Faris penuh rasa terima kasih.
Faris ngebatin rokoknya pelan, menghembuskan asapnya ke atas sambil senyum sengklek khasnya. Dia mengangkat bahu santai.
"Ah, Bu, ngomong apa sih. Itu kan tugas saya. Saya kan udah disewa buat jagain Ibu sama aset ini. Kalau sampai rusak atau hilang, berarti saya gagal kerja kan? Lagian... saya juga seneng kok bisa ngasih pelajaran dikit ke orang-orang serakah sama penjahat. Bikin hati adem rasanya," jawabnya enteng banget, seolah apa yang dia lakuin itu hal paling gampang sedunia.
Viona tertawa kecil, menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu ini... hebat banget tapi tetep aja santai, tetep aja ada aja bahasanya. Tapi serius Faris... saya nggak tau harus balas budi gimana. Kamu udah nyelamatin hidup saya, nyelamatin harta warisan Bapak, nyelamatin ratusan pekerja di sini. Permintaan apa aja bakal saya kabulkan, sebesar apa pun."
Faris berbalik badan, menatap Viona dengan tatapan serius tapi hangat. Dia mematikan rokoknya di asbak.
"Permintaan saya cuma satu aja kok Bu... Tetep jadi pemimpin yang baik, tetep jujur, tetep peduli sama orang-orang di bawah Ibu. Jangan berubah cuma karena sekarang aman dan kaya lagi. Itu aja udah bayaran paling mahal buat saya."
Dia diam sebentar, lalu senyumnya melebar lagi.
"Dan satu lagi... kalau ada masalah lagi, kalau ada orang jahat lagi yang berani ngusik... panggil saya aja. Saya bakal dateng lagi, bawa senyum ini, bawa rokok ini, dan bawa pelajaran yang jauh lebih sakit buat mereka. Ingat ya Bu... selama saya ada, nggak ada satu pun orang jahat yang boleh nyakitin Ibu."
Hati Viona terasa hangat dan aman banget mendengar kata-kata itu. Dia sadar, dia bukan cuma punya pengawal hebat, tapi dia punya teman setia, punya pelindung sejati, punya orang yang bisa dipercaya seumur hidup.
"Janji Faris. Saya bakal tetep begini. Dan kamu... jangan pernah pergi jauh ya. Tetep di sini, tetep sama saya. Posisi kamu di sini udah bukan sekadar karyawan lagi. Kamu keluarga saya sekarang," kata Viona mantap.
Faris mengangguk hormat tapi santai. "Siap, Bu. Dimana Ibu ada, di situ saya ada. Mau ke ujung dunia pun saya ikutin."
Matahari bersinar cerah masuk lewat celah jendela, menerangi kedua orang itu. Di luar sana, dunia berjalan terus, masih banyak kejahatan, masih banyak bahaya. Tapi bagi Viona, bahaya itu nggak lagi menakutkan. Karena dia tau, di sampingnya berdiri Faris... pria santai, perokok berat, tapi punya keberanian dan kecerdasan luar biasa.
Perang melawan kejahatan mungkin belum kelar selamanya. Tapi satu hal yang pasti: selama Faris ada, kebenaran dan kebaikan bakal selalu menang. Dan petualangan mereka... ternyata baru aja mau masuk ke babak baru yang lebih seru dan menantang.