NovelToon NovelToon
Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nila KingShop Wati

HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukti perselingkuhan

Bab 6 - BUKTI PERSELINGKUHAN

Satu jam kemudian aku sudah berada di ruangan kerja Dimas yang sederhana namun tertata rapi. Ruangan kecil itu terasa begitu sesak dan berat meskipun pendingin udara di dalamnya sudah menyala dengan kekuatan penuh. Dimas duduk di balik meja kerjanya, di hadapannya tergeletak sebuah map kertas berwarna cokelat tebal, dan ekspresi wajahnya terlihat sangat serius, bahkan terlihat sedih dan penuh keraguan, sesuatu yang membuatku semakin gugup dan semakin takut akan apa yang ada di dalam map itu.

“Apa yang sebenarnya kau temukan, Dimas? Katakan saja apa adanya,” pintaku dengan suara yang hampir tak terdengar.

Ia tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, ia perlahan mendorong map tebal itu ke arahku di atas meja. “Sebaiknya Ibu lihat sendiri bukti-bukti ini. Saya rasa penjelasan saya tidak akan cukup untuk menggambarkan semuanya.”

Tanganku terasa dingin dan kaku saat perlahan membuka penutup map itu. Di lembar paling atas, ada selembar foto berukuran besar yang dicetak dengan jelas. Saat pandanganku jatuh pada gambar itu, tubuhku langsung membeku dan napasku seolah berhenti mengalir. Foto itu memperlihatkan Arga dan Eliana sedang berjalan beriringan keluar dari pintu utama hotel Grand Meridian, tangan mereka saling bertaut erat dan bergandengan seolah tidak ingin terpisahkan. Foto berikutnya menunjukkan mereka sedang makan malam berdua di sebuah restoran mewah yang cukup tersembunyi, duduk bersebelahan bukan berhadapan, dengan jarak yang begitu dekat dan pandangan mata yang begitu intim, sesuatu yang tidak pantas dilakukan oleh saudara ipar. Di foto selanjutnya lagi, terlihat jelas Arga sedang membelai rambut panjang Eliana dengan penuh kelembutan di dalam mobil, sementara perempuan itu tersenyum lebar dan bahagia, sebuah senyum yang sangat indah namun tidak pernah sekalipun kulihat saat Arga sedang bersamaku.

Tanganku mulai gemetar hebat, namun penderitaanku belum berakhir. Masih ada banyak sekali foto lain di dalam map itu, menunjukkan mereka berdua mengunjungi berbagai tempat, mulai dari hotel-hotel berbeda, restoran terpencil, sebuah apartemen pribadi, hingga pantai sepi di luar kota. Beberapa foto bahkan merekam momen di mana mereka sedang berpelukan dengan sangat erat dan penuh kasih sayang, berciuman, atau berjalan berpegangan tangan tanpa rasa takut sedikit pun. Aku tidak sanggup melihat gambar-gambar itu lebih jauh, mataku mulai terasa panas dan kabur oleh air mata yang tertahan.

“Sudah berapa lama hal ini berlangsung, Dimas?” tanyaku dengan suara parau yang hampir hilang.

Dimas menghela napas panjang, lalu menjawab dengan lembut. “Lebih lama dan lebih jauh dari apa yang Ibu kira atau apa yang Ibu khawatirkan selama ini.”

Aku mengangkat wajah menatapnya dengan bingung dan ketakutan. “Apa maksudmu? Jelaskan padaku.”

Ia kemudian mengeluarkan sebuah amplop lain yang sudah tua namun tertutup rapat. “Coba Ibu perhatikan tanggal dan tahun yang tertera di sudut setiap foto itu.”

Dengan tangan yang gemetar hebat, aku kembali memeriksa satu per satu lembar bukti di hadapanku. Dan saat itulah, rasanya dunia di sekitarku runtuh seketika menjadi kepingan-kepingan kecil yang tak tersusun kembali. Foto yang paling lama diambil ternyata sudah berumur empat tahun lalu. Empat tahun yang lalu. Itu berarti dua tahun sebelum aku resmi menikah dengan Arga.

Aku menatap angka tahun itu lama sekali, tidak percaya, menolak untuk menerima kenyataan itu. Tidak mungkin. Saat itu, tepat empat tahun lalu, adalah masa-masa di mana Arga sedang berjuang keras mengejar cintaku, datang ke rumah, memberikan hadiah, bersikap manis, dan meyakinkanku bahwa aku adalah satu-satunya perempuan yang dicintainya dan yang diinginkannya untuk menjadi pendamping hidup. Namun di saat yang sama, di waktu yang bersamaan, laki-laki itu ternyata sudah memiliki hubungan khusus dan terlarang bersama Eliana, adik tiriku sendiri.

Tubuhku terasa sangat lemas, tulang-tulangku serasa hilang kekuatannya, dan aku hampir tidak mampu duduk tegak di kursi itu.

“Masih ada satu hal lagi, Ibu. Sesuatu yang mungkin jauh lebih menyakitkan dari sekadar foto-foto ini,” ucap Dimas memecah keheningan, suaranya terdengar ragu seolah ia sendiri tidak ingin menunjukkan apa yang akan kulihat berikutnya.

Ia mengulurkan sebuah benda kecil berwarna hitam di atas meja. Sebuah flashdisk.

“Apa ini?” tanyaku lirih.

“Hasil salinan data dan isi pesan dari ponsel lama milik Nona Eliana yang sudah tidak terpakai namun masih bisa dipulihkan isinya. Ada banyak sekali riwayat percakapan yang tersimpan di sana, meski tidak semuanya utuh, tapi cukup banyak untuk menjelaskan segalanya,” jawabnya pelan.

Dengan sisa kekuatan yang ada, aku memasukkan benda itu ke dalam port USB laptop yang ada di meja. Layar monitor menyala dan memuat isi data di dalamnya. Puluhan bahkan ratusan pesan singkat langsung muncul di layar, tertata rapi berdasarkan tanggal pengirimannya. Awalnya aku masih berusaha berharap, berharap ada penjelasan lain, berharap isinya hanya percakapan biasa, berharap semua ini tidak seburuk yang kukira. Namun harapan itu mati seketika dalam hitungan detik. Karena pesan pertama yang kubaca dengan jelas tertulis: “Aku sangat merindukanmu, setiap detik terasa berat tanpa ada kamu di dekatku.” Pengirimnya adalah Arga, dan penerimanya adalah Eliana. Tanggalnya tercatat jelas empat tahun lalu.

Aku terus membaca pesan-pesan berikutnya dengan napas yang tertahan.

“Andai saja aku bisa memilikimu secara terbuka dan memperkenalkanmu sebagai milikku di hadapan semua orang.”

“Bersabarlah sedikit lagi, Sayang. Segalanya akan berubah menjadi lebih baik nanti.”

“Aku melakukan semua ini dan bertindak seperti ini demi masa depan kita berdua.”

“Tenang saja, aku tidak pernah mencintai dia sedikit pun. Dia hanya alat bagiku.”

Aku menelan ludah dengan susah payah, rasa sakit itu menusuk tepat di jantungku. Kalimat terakhir itu terasa lebih tajam dari pisau apa pun yang pernah melukaiku. Karena aku tahu persis siapa yang dimaksud dengan kata ‘dia’ di sana. Aku. Aku adalah perempuan yang tidak pernah dicintainya, aku adalah perempuan yang hanya dijadikan alat.

Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh membasahi pipi, namun pesan-pesan itu terus berlanjut, semakin lama semakin jelas dan semakin menghancurkan sisa-sisa perasaanku.

“Suatu hari nanti, semua harta, aset, dan kekayaan milik keluarga Violet pasti akan menjadi milik kita berdua sepenuhnya.”

“Dia terlalu mudah percaya pada orang lain, terlalu polos, dan terlalu naif, jadi rencana kita pasti akan berjalan lancar.”

“Biarkan saja dia tetap mencintaiku dan merasa menjadi istri yang paling beruntung, itu akan membuatnya tidak curiga.”

“Setelah semuanya selesai dan segala sesuatu sudah ada di tangan kita, barulah kita bisa hidup bersama dengan bebas.”

Aku langsung menutup penutup laptop itu dengan kasar dan cepat, tidak sanggup lagi membaca satu kata pun yang lebih menyakitkan dari itu. Perutku terasa mual dan ingin muntah, kepalaku pusing hebat, dan duniaku berputar kacau. Selama ini, selama bertahun-tahun masa pacaran dan pernikahan kami, aku ternyata hidup di dalam kebohongan yang sangat besar, hidup di dalam sandiwara yang mereka bangun dengan sangat rapi dan matang.

“Ibu Violet, ada lagi satu hal terakhir yang perlu Ibu dengar. Ini mungkin yang paling penting,” ucap Dimas lagi dengan nada yang penuh rasa iba.

Aku mengangkat kepala perlahan, air mata masih terus mengalir tak henti di pipiku. Ia menyerahkan beberapa lembar kertas hasil cetakan rekaman suara.

“Apa ini?” tanyaku lirih.

“Rekaman percakapan telepon dan pesan suara lama yang berhasil saya pulihkan dari data yang sama. Silakan dengarkan ini baik-baik.”

Tanganku gemetar hebat saat menekan tombol putar pada perangkat pemutar suara di meja. Suara Eliana langsung terdengar jelas, sangat jelas dan nyata di telingaku.

“Aku benci melihat dia selalu mendapatkan segalanya dengan mudah, aku benci melihat dia hidup begitu bahagia dan dihargai oleh semua orang hanya karena dia anak tunggal keluarga kaya itu.”

Lalu disusul suara Arga yang menjawab dengan nada lembut dan menenangkan, nada yang dulu selalu aku kira ditujukan untukku.

“Tenanglah, Sayang. Jangan khawatirkan hal itu. Suatu hari nanti semua yang dia miliki, semua yang dia banggakan, dan semua posisi yang dia duduki akan menjadi milikmu sepenuhnya. Aku janji.”

Aku langsung menutup mulutku rapat-rapat dengan kedua tangan agar tidak berteriak histeris. Tangisku pecah, tidak lagi bisa ditahan atau disembunyikan. Karena akhirnya aku mengerti segalanya dengan sangat jelas. Ini bukan sekadar kisah perselingkuhan biasa. Ini bukan sekadar masalah pengkhianatan hati. Mereka berdua sudah merencanakan semua ini sejak awal, sejak jauh hari sebelum pernikahan kami dilangsungkan, bahkan sejak sebelum Arga melamarku secara resmi.

Aku bukanlah istri yang dicintai dan dihargai. Aku hanyalah sebuah target yang harus mereka capai, sebuah alat yang harus mereka gunakan, dan sebuah jalan pintas menuju kekayaan, harta, serta kekuasaan keluarga besarku. Sedangkan Eliana, perempuan yang selama ini kuanggap sebagai adik kandung sendiri, perempuan yang selalu kuajak berbagi cerita dan kasih sayang, ternyata berdiri tepat di belakang semua rencana jahat ini, menjadi dalang dan pendorong utama di balik segalanya.

Aku menatap kembali foto-foto yang berserakan di atas meja, menatap wajah mereka yang tersenyum begitu bahagia, begitu tulus, dan begitu serasi satu sama lain. Sebuah senyum kebahagiaan yang tidak pernah sekalipun diberikan kepadaku selama kami hidup bersama. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, saat itu aku menangis bukan karena rasa kehilangan cinta atau rasa sedih ditinggalkan, melainkan aku menangis karena menyadari kenyataan pahit bahwa selama ini aku bahkan tidak pernah memilikinya sedikit pun.

1
Amidah Anhar
maaak bab selanjutnya pengumuman Meraka udah jadi sepasang suami istri iya..
pengen tahu reaksi mereka 🤣🤣🤣🤣
Miss Typo
aku suka aku suka
aku padamu Sherkan ♥️🫰

apa Sherkan juga mengulang waktu mengulang masa lalu, jadi dia tau semuanya yg disembunyikan Violet? 🤔
Maria Kibtiyah
kayakmya sherkan tau apa yg di alamin violet di masa lalu
Miss Typo
ku pikir Sherkan mau duduk di meja rias trs menarik pinggang Violet untuk memakaikan dasinya itu 🤣
ternyata aku salah dgn pikirin ku sendiri 😁
Ayudya
sherkan suami yg terbalk
Ayudya
lanjut kak
Amidah Anhar
Maaak aku belum move-on dengan nama sherkan nya Elf 🤭🤭🤭🤭
Evve Miss Plot twist: yang ini bakal bikin jauh lebih ga bisa bikin move on makkk😍🤭
total 1 replies
Maria Kibtiyah
sherkan gak ketebak kira2 apa rencana dia
Maria Kibtiyah
semangat mak semakin menarik😍
Maria Kibtiyah: 😍😍😍😍😍
total 2 replies
Silvia
lagi Thor semangat💪💪
Evve Miss Plot twist: ok mak😍
total 1 replies
Nana Colen
semangat thooooor.... lanjut up lagi dan kalau bisa tolong dong lanjutin cerita nya dalam cengkraman badai
Evve Miss Plot twist: siap makkk sudah update lagi 1 bab, tunggu review yah
total 2 replies
Nana Colen
aaah orang kaya mah pasti udah diselidiki duluan ath neng violet... dari makanan favorit hobinya apa dan sebagainya 😁😁😁😁
Nana Colen
thor aku mau tanya... apakah ayahnya violet saat ini sudah berada drumah sakit atau gimana aku kurang nggeuh
Nana Colen
aku ucapkan Terima kasih thor mau berkarya lagi di NT.... aku kangen banget dengan cara dan gaya mu dalam membuat novel selalu banyak kejutan dan takateki 😍😍😍😍😍
Miss Typo
kalian berdua ngegemesin deh 😍

semangat Mak Eva 💪🥰
wiliss
alhamdulilllah saahh? saaahhhhh🥰🙏
Nana Colen
balaslah dengan elegan violet... kamu bukan cewek lemah dan bodoh 💪💪💪💪
Nana Colen
jadi ikutan deh deg an ya... ini violet beda cerita lagi sama violet sherkan ya
Evve Miss Plot twist: beda mak, lagi malas nyari nama pemeran 🤭
total 1 replies
Nana Colen
buanglah suami benalu itu violet
Nana Colen
akhirnya netes juga karya baru nya... semangat thor aku pendukung karya karyamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!