NovelToon NovelToon
Sistem Menantu Dewa: Membalas Dendam Dalam 3 Hari

Sistem Menantu Dewa: Membalas Dendam Dalam 3 Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Andrean Matabuh

Selama dua tahun pernikahan, Adrian hidup layaknya sampah di keluarga besar istrinya, keluarga Wijaya. Diinjak-injak, dihina, dan dipaksa merangkak bagai anjing hanya demi sekeping uang untuk pengobatan ibunya yang sekarat, Adrian mencapai batas kesabarannya. Namun, tepat di titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya: 'Sistem Penguasa Dewa Berhasil Diaktifkan.'

Bermodalkan dana instan sebesar 10 miliar rupiah di hari pertama dan misi-misi ajaib dari sistem, Adrian bangkit dari statusnya sebagai menantu sampah. Dalam waktu singkat, dia membalikkan keadaan, menguasai roda ekonomi kota, dan membuat orang-orang yang dulu menghinanya berlutut memohon ampun.

Dunia mengiranya hanya seorang menantu miskin yang tidak berdaya, tanpa tahu bahwa di balik layar, Adrian adalah "Dewa" yang mengendalikan segalanya dari kegelapan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrean Matabuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Tamparan Uang Tunai

Seluruh aula mendadak hening selama beberapa detik saat melihatku berdiri tegak. Tatapan mataku yang biasanya lesu dan menunduk, kini berubah menjadi begitu tajam dan dingin. Beberapa kerabat keluarga Wijaya yang tadinya tertawa, entah kenapa tiba-tiba merasa merinding.

"Adrian? Kenapa kamu malah berdiri? Cepat merangkak dan ambil uang seratus ribu itu!" bentak Erika, ibu mertuaku, memecah keheningan dengan suara cemprengnya.

Kevin terkekeh, menyilangkan tangan di dada dengan angkuh. "Hmph, sepertinya menantu sampah kita ini mendadak punya harga diri. Ingat Adrian, tanpa uang seratus juta dariku, ibumu yang sekarat itu tidak akan bisa dioperasi minggu ini!"

Aku tidak membalas ucapan mereka. Alih-alih merangkak, aku justru melangkah maju. Sepatu usangku menginjak tepat di atas lembaran uang seratus ribu rupiah yang dilemparkan Kevin tadi, menggeseknya di lantai restoran hingga kotor.

"Adrian! Kamu berani menginjak uang dari Kak Kevin?!" pekik Kirana, istriku, campur aduk antara cemas dan terkejut melihat perubahan sikapku.

Aku menatap Kirana sekilas, melembutkan pandanganku sedikit. "Kirana, mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang bisa merendahkan kita. Terutama bajingan ini," ujarku sambil menunjuk Kevin dengan daguku.

"Apa kamu bilang?! Bajingan?!" Wajah Kevin langsung memerah padam karena murka. Sebagai menantu kaya dari anak pertama yang selalu dipuji-puji, ini pertama kalinya dia ditunjuk-tunjuk oleh orang yang dianggapnya sekadar pengemis. "Dasar sampah! Pengawal! Seret bajingan miskin ini keluar dari restoran!"

Dua orang sekuriti berbadan besar yang berjaga di pintu aula segera melangkah maju ke arahku.

Namun, sebelum mereka sempat menyentuh bajuku, aku merogoh handphone jadulku dan menekan tombol panggilan cepat. Panggilan itu ditujukan langsung ke nomor pribadi Manajer Utama Restoran Royal Jade—restoran bintang lima tempat kami berada sekarang—yang nomornya tiba-tiba muncul di daftar kontak handphone-ku secara otomatis berkat Sistem.

"Halo? Apakah ini Manajer Thomas?" tanyaku dengan suara tenang namun tegas.

"Benar, ini saya. Maaf, dengan siapa saya berbicara?" suara di seberang telepon terdengar sangat sopan.

"Saya Adrian. Saya baru saja mentransfer uang tunai ke rekening perusahaan restoran Anda. Saya ingin membeli seluruh gedung restoran Royal Jade ini sekarang juga, tunai," ucapku datar.

Suara di seberang sana sempat terdiam selama dua detik, lalu terdengar suara ketukan panik pada komputer. Detik berikutnya, suara Manajer Thomas berubah menjadi sangat gemetar dan penuh ketakutan yang luar biasa. "T-Tuan Adrian?! Anda... Anda adalah pemilik baru kami! Dana sebesar 50 miliar rupiah baru saja masuk ke rekening induk kami! Mohon maaf atas keterlambatan saya, Tuan! Apa perintah Anda?!"

"Aku ada di Aula Utama Lantai 2. Datanglah sekarang dan bawa kwitansi pembeliannya," jawabku langsung menutup telepon.

Hening.

Satu aula kembali terdiam, lalu detik berikutnya tawa paling keras sepanjang malam itu pecah. Kevin sampai memegangi perutnya karena terlalu banyak tertawa.

"Hahaha! Astaga, aku tidak kuat lagi! Adrian, kamu sudah gila ya karena tidak punya uang?!" ejek Kevin sambil menyeka air mata sudut matanya. "Membeli restoran Royal Jade? Tunai? Kamu pikir restoran bintang lima milik grup konglomerat ini harganya sama dengan semangkok bakso di pinggir jalan?!"

Erika ikut mencemooh sambil mengipasi wajahnya. "Kirana, lihat suamimu! Selain miskin, dia ternyata juga mengidap gangguan jiwa! Benar-benar memalukan keluarga Wijaya!"

Kirana hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan, air matanya mulai menetes. Dia merasa suaminya sudah kehilangan akal sehat karena terlalu sering ditekan. "Adrian... cukup. Ayo kita pulang saja," bisiknya lirih.

"Pulang? Tidak, Kirana. Pertunjukan utamanya bahkan belum dimulai," ujarku sambil tersenyum tipis.

Brak!

Pintu aula utama tiba-tiba didorong terbuka dengan kasar. Seseorang berlari masuk dengan napas terengah-engah hingga jas hitamnya tampak kusut. Dia adalah Thomas, Manajer Umum Restoran Royal Jade yang wajahnya sangat dikenal oleh seluruh pengusaha di kota ini.

Kevin yang melihat Thomas langsung memasang senyum ramah dan berniat menyapa. "Oh, Manajer Thomas! Kebetulan sekali Anda ke mari, tolong usir—"

Plak!

Ucapan Kevin terputus karena Manajer Thomas sama sekali tidak memedulikannya. Thomas justru berlari melewatinya, lalu dengan gerakan super cepat, dia langsung berlutut dengan satu kaki di hadapanku, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Hormat saya kepada Pemilik Baru Restoran Royal Jade! Ini adalah dokumen kepemilikan saham dan kwitansi resmi pembelian gedung atas nama Tuan Adrian!" ucap Thomas dengan suara lantang yang menggema ke seluruh sudut aula.

Semua tawa di ruangan itu terhenti seketika. Gelas anggur di tangan Kevin terlepas dan jatuh berdenting di lantai, pecah berkeping-keping. Wajah Erika yang menor mendadak pucat pasi seperti mayat.

Mereka semua tercengang, menatap draf dokumen resmi di tangan Thomas yang berstempel emas. Di sana tertera jelas nama lengkapku: Adrian Pratama.

1
Darns Jabat
👍
Andrean Matabuh: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!