Kalian pernah membayangkan gimana kalau jodoh kita berada dideket kita? Mungkin seperti dosen kita sendiri gimana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mputriniar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 17 | Pov Rumah Sakit
Aku pun bangun dari tidur dan melirik ke arah jam yang berada di ruangan ini.
Aku hampir saja melewatkan sholat maghrib, aku berusaha bangun dari tempat tidur tapi susah kali karena infusan ini.
Tanpa aku sadari pergerakkan aku mengganggu tidur Mas Adnan.
" Mau kemana kamu?. " Tanya Mas Adnan.
" Mau wudhu mas." Ucapku.
" Biar ku bantu. " Ucapnya yang langsung diri dan membantu ku ke kamar mandi.
Dia menyiapkan mukena yang sengaja di bawa dari rumah.
" Kamu sholat nya duduk aja. " Ucapnya.
" Iya mas eum mas sudah sholat?. " tanyaku.
" Aku sudah sholat ko tadi sebelum tidur. " Ucapnya.
" Iya sudah aku sholat dulu mas. " Ucapku.
Di akhir sholat aku selalu berdoa kepada Allah meminta kebaikan dari nya tapi tanpa sadar air mata ku mengalir begitu saja.
" Fah. " Panggil Mas Adnan.
Aku segera menghapus air mata ku.
" Eh masih sholat maaf aku enggak tau. " Ucapnya.
" Enggak ko mas, Fifah sudah selesai. Ada apa?." Tanya ku.
" Ini suster mau tensi darah mu lagi. " Ucapnya.
Aku cuman mengangguk saja.
" Tensi bu Afifah sudah mulai turun ko tapi tetap di jaga ya takut tiba-tiba tinggi lagi. " Ucap Susternya.
Suster itu membereskan alat tensi nya
" Kalau gitu saya permisi. " Ucap suster itu sambil keluar mendorong meja yang berisi alat tensi.
" Fah. " Panggil Mas Adnan.
" Iya mas, ada apa?. " Tanya ku.
" Maaf. " Ucap Mas Adnan.
Aku mengerutkan kening ku karena aku bingung sekali Mas Adnan kenapa.
" Maaf untuk apa mas?. " Tanya ku.
" Untuk semuanya air mata mu dan kesabaran mu. Maaf, aku enggak tau kalau kamu paling enggak bisa di bentak atau menggunakan nada tinggi. " Ucapnya.
Entah kenapa aku jadi melow begini, aku membuang muka ku tak sanggup menatap Mas Adnan seperti ini.
" Iya mas enggak apa-apa ko " Ucapku berusaha seakan-akan tidak ada apa-apa yang terjadi.
" Maaf juga karena aku kamu sakit. " Ucap Mas Adnan.
" Udah mas, fifah sakit karena allah sedang mengangkat dosa fifah bukan salah mas ko. " Ucapku.
" Mas terlalu keras ke kamu karena mas cuman mau yang terbaik mas tapi nyatanya yang terbaik menurut mas belum tentu terbaik buat mu. " Ucap Mas Adnan.
" Mas sudah ah jangan merasa bersalah gitu terus ini bukan salah mas ko sudah mas cukup iya. " Ucap ku.
" Misi. " Ucap suster yang datang membawa troli makanan.
" Silahkan Ibu Afifah. " Ucapnya.
" Saya permisi mari bu, pak. " Ucap Suster itu yang keluar dari ruangan.
" Boleh mas bantu?. " Tanya nya.
Aku cuman senyum saja karena aku bingung kalau aku tolak tar yang ada Mas Adnan tersinggung.
" Sudah mas. " Ucapku mengelak saat mas adnan masih menyodorkan suapan nya ke arah ku.
" Tanggung Fah abis itu kamu minum obat. " Ucapnya.
" Sudah mas, Fifah enek daripada dimuntahkan lagi mas percuma. " Ucapku.
" Iya sudah kalau gitu kamu minum obatnya dulu. " Ucap Mas Adnan yang membantu membuka kan obat dan juga minumnya.
" Mas handphone Fifah dimana?. " Tanya ku.
" Ini. " Ucap Mas Adnan.
Ketika ku sibuk memainkan handphone ku, aku melirik mas adnan yang sedang bersandar di sofa dengan gaya nya yang cukup membuat enggak bisa mengalihkan pandangannya.
Aku diam-diam memfotonya.
" Afifah ngapain kamu heh. " Ucap Mas Adnan yang sadar kalau dia sedang di foto.
" Eh eghh a__n__u mas. " Ucapku terbata-bata.
" Kamu foto mas iya. " Ucap nya.
" Ihh enggak mas. " Ucapku.
" Kalau mau foto bilang dulu biar mas bergaya nanti kalau kaya gitu jelek pasti. " Ucapnya.
Mas Adnan pede sekali iya.
" Fah. " Panggilnya.
" Iya mas ?. " Tanya ku.
" Ngapain bengong gitu ayo foto mas udah bergaya nih. " Ucap Mas Adnan.
" Baiklah. " Ucapku.
cekrek
" Gimana bagus enggak?. " Tanya Mas Adnan.
" Eum bagus ko Mas. " Ucapku.
Selanjutnya mas adnan kembali ke sofa dan aku merebahkan diri karena tadi posisi ku duduk.
" Mas kenapa enggak ngajar?. " Tanyaku.
" Iya enggak mungkin lah istri mas lagi sakit terus mas ngajar. " Ucapnya.
" Padahal mas ngajar enggak apa-apa ko toh Fifah sudah membaik besok sudah boleh pulang. " Ucapku.
" Tapi kamu harus ku pantau Fah kalau enggak kamu tuh bandel. " Ucap nya.
" Mas sok tau. "
Setelah obrolan tadi baik aku sama mas adnan sibuk masing-masing.
" Mas. " Panggil ku
" Iya?. " Jawab dia sambil menatap ke arahku.
" Apa mas maafin Fifah juga?. " Tanya ku.
" Kenapa Fifah minta maaf?. " Tanya dia balik.
" Karena soal yang waktu itu. " Ucapku.
" Soal apa?. " Tanya dia .
" Soal Fifah masuk ke ruangan yang mas larang." Ucapku.
" Bukan salah mu ko mungkin kamu sudah saatnya tau karena kamu istri ku. " Ucap Mas Adnan.
" Kamu mau kan kalau Mas ajak keruangan itu?. " Tanya nya.
Aku mengangguk saja.
" Baik lah kalau kamu sudah pulih nanti mas ajak kamu masuk keruangan itu. " Ucap Mas Adnan.
Aku mengangguk lalu aku menguap karena aku ngantuk mungkin efek obat kali iya.
" Iya sudah kamu tidur Fah eh tapi kita sholat isya dulu abis itu baru boleh tidur. " Ucapnya.
Aku dan Mas Adnan melaksanakan sholat isya. Aku yang di tempat tidur dan Mas Adnan berdiri tidak jauh dari ku.
"Sini mukena biar mas lipat, kamu tidur saja. " Ucap Mas Adnan yang langsung mengambil mukena di tangan ku.
" Iya sudah Fifah tidur iya, mas jangan bergadang. " Ucapku yang tak lama kemudian terlelap pulas.