NovelToon NovelToon
OM CEO Itu Suamiku

OM CEO Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.

Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.

Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bekerja

"Kami tertarik dengan angle analisis Anda soal dampak kebijakan fiskal ke sektor kuliner informal," kata suara di seberang sana. "Bisa mulai bekerja Senin depan?"

Zahra duduk di kursi baca ruang favoritnya, menatap taman belakang yang sudah mulai dia anggap miliknya juga, dan menjawab dengan suara yang lebih stabil dari jantungnya yang saat itu tidak bisa diajak diam.

"Bisa."

Ia tak langsung cerita ke Rafandra.

Bukan karena tak mau, tapi karena ingin merasakannya sendiri dulu. Duduk dengan kabar itu, membiarkan dirinya benar-benar percaya bahwa ini nyata, sebelum dibagikan ke siapapun.

Berpikir tentang gadis yang empat bulan lalu berdiri di ruang makan keluarganya dengan tangan mengepal dan suara yang pecah karena tak percaya hidupnya bisa diputuskan orang lain tanpa ia tahu.

"Kamu berubah," kata Rafandra minggu lalu.

"Iya," pikir Zahra sekarang. "Gue berubah."

.

.

.

Rafandra tahu dari Mbak Reni. Mbak Reni yang sudah dua bulan memperhatikan dinamika rumah ini dengan kepekaan yang mungkin melebihi siapapun, melihat Zahra turun ke dapur sore itu dengan muka yang berbeda dari biasanya dan langsung bertanya.

Zahra cerita.

Mbak Reni tersenyum lebar, senyum yang tulus dan tidak dibuat-buat dan berkata "Alhamdulillah, Mbak Zahra" dengan nada yang membuat Zahra tiba-tiba sadar bahwa perempuan yang selama ini ia kira hanya mengurus rumah ini ternyata sudah ikut investasi emosi di perjalanannya tanpa banyak kata.

Malam itu di meja makan, Rafandra berkata sebelum Zahra sempat membuka topik.

"Selamat untuk pekerjaannya."

Zahra menoleh. "Mbak Reni?"

"Dia senang sekali, sulit untuk menyembunyikannya."

Zahra tersenyum. "Gue mau cerita sendiri tadi."

"Kamu masih bisa cerita." Rafandra menatapnya. "Aku ingin mendengar versimu."

Zahra cerita sambil makan.

Tentang CV yang sengaja tidak mencantumkan nama suami atau keluarga. Tentang tujuh hari menunggu yang dia isi dengan pura-pura tidak menunggu. Tentang suara di telepon yang bilang kami tertarik dengan angle analisis Anda dan cara kalimat itu mendarat di hatinya.

"Kamu tidak cantumkan namaku," katanya waktu Zahra selesai.

"Gue mau diterima karena kemampuan gue." Zahra menatapnya langsung. "Bukan karena siapa suami gue."

Hening sebentar.

"Itu keputusan yang tepat," kata Rafandra akhirnya.

Zahra mengernyit sedikit. "Om nggak tersinggung?"

Sudut bibir Rafandra bergerak. "Mengapa aku harus tersinggung?"

"Karena gue sengaja tidak pakai nama Om—"

"Karena kamu tidak ingin diterima dengan cara yang bukan kemampuanmu." Rafandra meletakkan sendoknya. "Aku justru akan tersinggung kalau kamu memakainya."

Zahra menatap pria itu.

"Aku justru akan tersinggung kalau kamu memakainya." Kalimat yang tak pernah ia bayangkan akan keluar dari mulut seseorang yang namanya sendiri sudah cukup untuk membuka banyak pintu.

.

.

.

Senin pertama di lembaga itu, Zahra berangkat jam delapan pagi. Rafandra sudah ada di foyer waktu Zahra turun siap berangkat juga, setelan gelapnya yang biasa, jam tangan yang selalu rapi di pergelangan kirinya.

Mereka melihat satu sama lain di foyer itu.

"Pertama kali kita berangkat barengan," kata Zahra.

"Kamu tidak mau diantar."

"Gue naik MRT." Zahra mengangkat kartu di tangannya kartu MRT yang sudah dia isi semalam. "Om nggak perlu—"

"Aku tahu." Rafandra membuka pintu. "Tapi kita searah sampai Sudirman."

Zahra menatapnya sebentar.

Kantor Rafandra di Sudirman. Lembaga think tank Zahra juga di kawasan yang sama hanya berbeda beberapa blok.

"Oke," kata Zahra.

Mereka naik mobil sampai stasiun Sudirman. Dua puluh menit perjalanan. Macet di dua titik. Zahra yang duduk di sebelah Rafandra dengan tas di pangkuan dan kepala yang setengahnya sudah ada di kantor baru nanti.

Di lampu merah kedua, Rafandra berbicara tanpa menoleh.

"Kalau ada yang tidak beres hari ini apapun hubungi aku."

"Gue bakal baik-baik aja, Om."

Ia tetap menatap ke depan. "Tapi tetap hubungi kalau ada yang tidak beres."

Zahra menatap profilnya rahang tegas, mata yang fokus ke jalanan, tangan yang pegang setir dengan cara yang selalu terkontrol.

"Om Rafa khawatirin gue kenapa-kenapa?."

Bukan khawatir yang dia tunjukkan dengan dramatis, pertanyaan bertubi-tubi atau instruksi panjang. Hanya satu kalimat itu dan cara dia mengatakannya.

"Oke, Om," kata Zahra pelan.

Mobil berhenti di depan stasiun. Zahra membuka pintu, turun, menutupnya kembali. Lalu mengetuk kaca jendela yang turun.

Rafandra menatapnya.

"Makasih udah temenin sampai sini," kata Zahra.

Rafandra tak langsung menjawab. Menatap Zahra sebentar dengan ekspresi yang di bawah cahaya pagi Jakarta.

"Semangat," katanya akhirnya.

Satu kata.

Tapi cara ia mengatakannya pelan, langsung, dengan mata yang tidak menghindar membuat satu kata itu terasa seperti lebih dari sekadar ucapan.

Zahra mengangguk, berbalik. Masuk ke stasiun dan di dalam eskalator yang membawanya turun ke peron, dengan suara kereta yang mulai terdengar dari kejauhan, Zahra merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.

Kantor lembaganya ada di lantai tujuh sebuah gedung tua yang sudah direnovasi bukan gedung kaca mengkilap seperti Wibowo Group, tapi gedung dengan karakter. Dinding bata yang dibiarkan terlihat, tanaman di sudut-sudut, meja-meja yang penuh buku dan kertas dan post-it yang tempel sembarangan.

Zahra masuk dan langsung merasa bahwa ini adalah tempat yang tepat.

Kepalanya, Bu Ira, perempuan empat puluhan dengan kacamata tebal dan cara bicara yang langsung ke inti, menyambutnya di pintu dan langsung membawanya keliling tanpa basa-basi berlebihan. Menunjukkan meja Zahra — di pojok, dekat jendela yang menghadap ke jalan, dengan cahaya yang masuk dari sudut yang sempurna.

Persis seperti ruang baca di rumah itu.

"Gue bakal betah di sini," pikir Zahra sambil meletakkan tasnya di kursi.

.

.

.

Sore itu, perjalanan pulang dengan MRT yang penuh di jam sibuk, berdiri di antara orang-orang dengan earphone masing-masing dan wajah yang lelah dengan cara yang familiar Zahra berdiri dengan pegangan tangan di atas, bergoyang mengikuti laju kereta, dan merasa sesuatu yang tidak pernah dia antisipasi:

Normal.

Gadis yang empat bulan lalu merasa hidupnya dirampas sekarang berdiri di kereta pulang dari pekerjaan pertamanya, dengan bahu yang tidak tegang, dengan pikiran yang sudah merencanakan penelitian pertama yang ingin dia propose ke Bu Ira minggu depan.

HPnya bergetar.

Rafa: Sudah pulang?

Zahra tersenyum ke layarnya. Mengetik.

Zahra: Masih di kereta, sejam lagi.

Rafa: Makan malam sudah Mbak Reni siapkan.

Zahra: Om udah di rumah?

Rafa: Baru saja sampai.

Zahra: Om pulang lebih awal.

Tiga titik. Lama.

Rafa: Kebetulan.

Zahra menatap kata itu.

Kebetulan. Cara Rafandra yang khas tak mengakui sesuatu secara langsung tapi tak juga betul-betul menyangkal.

Zahra mengetik balik:

Zahra: Owhhh. Kebetulan.

Memasukkan HPnya ke saku. Menatap jendela kereta yang gelap karena sudah masuk terowongan.

Zahra berdiri dan berpikir tentang perjalanan empat bulan ini dari ruang makan keluarganya yang terasa seperti pengadilan, sampai kereta ini yang terasa seperti miliknya.

Banyak yang belum selesai. Pak Irwan masih ada di luar sana. Rahasia-rahasia masih belum semuanya terbuka dan perasaan yang tumbuh di dalam dadanya yang sudah ia beri nama tapi belum ia ucapkan dengan keras masih menunggu waktu yang tepat.

Tapi untuk malam ini, dengan pekerjaan pertama yang selesai dengan baik, dengan kereta yang membawanya pulang ke rumah yang sudah tidak lagi terasa seperti milik orang lain, dengan seseorang yang pulang lebih awal karena kebetulan.

.

.

.

1
Liadjamileba 08
bagussss bangettt
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼
jlianty: sabar ya, masih dalam peninjauan bab selanjutnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!