Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.
Celestine setuju.
Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.
Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 28 : Badai di Puncak Kesunyian
Angin menderu dengan suara seperti jeritan naga di sepanjang lereng Puncak Kesunyian. George memimpin barisan kecil itu menembus kabut salju yang begitu pekat hingga jarak pandang hanya tersisa beberapa meter. Di punggungnya, kotak mawar salju terikat kuat, memancarkan pendaran biru yang menjadi satu-satunya pemandu jalan mereka.
Di belakangnya, Celestine, Theodore, dan Julian berjuang melawan suhu yang turun drastis di bawah titik beku.
"George! Berhenti sejenak! Celestine hampir tidak bisa menggerakkan kakinya lagi!" teriak Theodore di tengah deru badai.
George menghentikan langkahnya dan berbalik. Ia segera mendekati Celestine yang menggigil hebat meskipun sudah memakai jubah termal tercanggih dari Valley. "Celestine, bertahanlah. Kita sudah sangat dekat dengan pintu masuk gua kristal."
"Aku tidak apa-apa, George. Hanya saja... mana es di tempat ini sangat menindas cahayaku. Rasanya seperti ada beban ribuan ton yang menekan pundakku." jawab Celestine dengan bibir yang mulai membiru.
"Itu adalah aura dari Altar Salju. Tempat ini dirancang untuk menolak elemen asing." Julian menimpali sambil memeriksa alat navigasinya. "Kak, menurut sensor ini, ada sekitar dua ratus penjaga Orde yang berkumpul tepat di depan gerbang utama."
"Hanya dua ratus? Sepertinya mereka meremehkanku." George berkata dengan nada dingin. Ia menyentuh tangan Celestine, mengalirkan sedikit petir statis untuk merangsang sirkulasi darahnya.
"Jangan sombong, George. Mereka pasti sudah menyiapkan jebakan penetral mana seperti yang dikatakan ayahmu." Theodore memperingatkan sambil menghunus pedang emasnya.
"Biarkan mereka mencoba. Theodore, kau dan Julian fokuslah melindungi Celestine. Aku akan membuka jalan di depan." perintah George.
"Kau mau menyerbu sendirian lagi? George, kita datang sebagai satu tim!" protes Celestine.
"Ini bukan soal kepahlawanan, Celestine. Tapi soal kecepatan. Master Pedang tingkat dua belas hanya bisa efektif jika ia bergerak tanpa hambatan. Jika aku membawa kalian ke tengah pertempuran langsung, gerakanku akan terbatas karena harus melindungimu." jelas George.
'Aku tidak boleh membiarkan percikan api mereka menyentuh Celestine. Satu tebasan salah bisa berakibat fatal di medan seperti ini,' batin George.
"Baiklah, Jenderal. Tapi jika kau terlihat mulai kewalahan, aku tidak akan tinggal diam." sahut Theodore tegas.
Mereka melanjutkan pendakian hingga sampai di sebuah celah sempit yang menghadap langsung ke arah Gerbang Kristal. Di sana, pasukan Orde Tertinggi berdiri dalam formasi kaku, memegang tombak-tombak panjang yang ujungnya berpendar ungu gelap.
"Itu dia, tombak penetral mana. Jika kau terkena goresan sedikit saja, aliran es dan petirmu akan kacau selama beberapa menit." bisik Julian.
"Maka aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhku." George melompat dari balik tebing, meluncur dengan kecepatan yang hampir tidak bisa diikuti oleh mata manusia.
"Siapa itu?! Berhenti!" teriak salah satu penjaga.
Belum sempat penjaga itu mengangkat tombaknya, George sudah berada di depannya. Pedang hitamnya menebas dengan kecepatan kilat. "Tarian Bayangan: Langkah Pertama."
Dalam sekejap, lima penjaga tumbang tanpa sempat mengeluarkan suara. George bergerak seperti hantu di antara barisan musuh. Ia tidak menggunakan sihir esnya secara besar-besaran, melainkan mengandalkan teknik Master Pedang yang dikombinasikan dengan dorongan listrik kecil di kakinya untuk meningkatkan kecepatan refleks.
"Gunakan jaring energi! Tangkap dia!" perintah komandan Orde yang berada di belakang.
Sebuah jaring besar yang terbuat dari kawat perak diluncurkan ke arah George. George tersenyum tipis. Ia melompat tinggi ke udara, memutar tubuhnya, dan melepaskan tebasan melingkar yang dialiri petir murni. "Kilat Pembelah Cakrawala!"
Jaring itu terbakar dan hancur sebelum sempat menyentuhnya. George mendarat tepat di depan sang komandan. "Di mana ibuku?"
"Kau... George Augustine? Kau seharusnya sudah mati di Selatan!" teriak komandan itu sambil mencoba menusukkan tombaknya.
George menangkap batang tombak itu dengan tangan kristalnya. Listrik mulai merambat dari tangannya ke arah sang komandan, membuatnya bergetar hebat dan jatuh pingsan. "Pertanyaan yang sama tidak akan kuulangi dua kali."
"George! Di sebelah kananmu!" teriak Theodore yang mulai ikut menyerbu bersama Julian dan Celestine.
Sekelompok penyihir Orde mulai merapalkan mantra es hitam yang ditujukan langsung ke arah Theodore. George menancapkan pedangnya ke tanah. "Dinding Kilat Abadi!"
Sebuah pagar listrik raksasa muncul, menelan semua serangan es hitam tersebut. George kemudian berlari ke arah para penyihir itu dan melumpuhkan mereka dengan serangkaian pukulan cepat.
"Semuanya sudah bersih. Masuklah!" seru George sambil menunjuk pintu gerbang kristal yang kini terbuka sedikit.
Mereka masuk ke dalam gua kristal yang luar biasa indah namun mencekam. Dinding-dindingnya bersinar dengan cahaya alami dari kristal mana yang tertanam di sana. Di tengah ruangan luas itu, nampak sebuah altar besar yang dikelilingi oleh para tetua Orde berpakaian jubah putih panjang. Dan di tengah altar, Eleanor terbaring lemas dengan tangan terikat oleh rantai energi.
"Ibu!" teriak Julian. Ia hendak berlari maju, namun George menahannya.
"Jangan, Julian! Ada penghalang frekuensi tinggi di sekitar altar itu. Jika kau menyentuhnya, kau akan terbakar." peringat George.
Seorang tetua dengan janggut sangat panjang menoleh ke arah mereka. "George Augustine. Kau datang tepat waktu. Kami baru saja akan memulai upacara pembukaan Jantung Salju."
"Lepaskan ibuku, Tetua. Atau aku akan memastikan gua ini menjadi kuburan kalian semua." ancam George, pedangnya mulai berderak dengan suara petir yang semakin kencang.
"Kau pikir kau punya kuasa di sini? Ini adalah wilayah kami. Elemen petirmu tidak berguna melawan Altar ini." tetua itu tertawa sinis. "Darah ibumu akan membangkitkan keabadian bagi kami, dan kau... kau akan menjadi tumbal terakhir untuk menyeimbangkan mananya."
"George, lihat mawar salju di punggungmu!" Celestine menunjuk ke arah kotak stasis.
Mawar itu mulai bersinar sangat terang, lebih terang dari yang pernah mereka lihat sebelumnya. Kelopaknya bergetar hebat, seolah-olah sedang menjerit meminta dilepaskan.
'Dia bereaksi pada Eleanor. Darah mereka memang terhubung,' batin George.
"Theodore, Julian, tahan para tetua itu! Aku akan mencoba menembus penghalang dengan mawar ini!" perintah George.
"Lakukan, George! Kami akan memberikanmu waktu!" jawab Theodore sambil menerjang ke arah para tetua bersama Julian.
Pertempuran di dalam gua pecah. Para tetua Orde bukan ksatria biasa; mereka adalah penyihir tingkat tinggi yang memiliki kontrol luar biasa atas es. Theodore dan Julian harus berjuang ekstra keras untuk mengimbangi serangan-serangan mereka. Sementara itu, Celestine berdiri di belakang George, menyalurkan seluruh cahaya mataharinya ke tubuh George.
"George, gunakan mawar itu sebagai tameng! Alirkan petirmu melalui akarnya!" teriak Celestine.
George membuka kotak stasis dan memegang mawar salju itu. Ia melangkah mendekati penghalang energi. Rasa sakit mulai menyerang sarafnya saat energi dari penghalang beradu dengan petirnya. "Argh! Rasanya seperti jiwaku sedang ditarik keluar!"
"Bertahanlah, George! Ingat Ibu! Ingat Valley!" seru Celestine dengan air mata yang mulai menetes.
George menggeram, otot-otot di lehernya menegang. Ia memaksakan dirinya maju selangkah demi selangkah. "Aku... tidak akan... kalah... dari benda mati seperti ini!"
Seketika, petir biru yang tadinya liar mulai terserap ke dalam mawar salju. Bunga itu berubah menjadi pedang cahaya murni di tangan George. Dengan satu tebasan besar, George menghantamkan mawar itu ke penghalang energi.
"PRANG!" Suara seperti kaca pecah raksasa bergema di seluruh gua. Penghalang itu hancur berkeping-keping.
"Apa?! Bagaimana mungkin?!" teriak tetua Orde dengan wajah pucat pasi.
George tidak membuang waktu. Ia melompat ke atas altar dan memutuskan rantai energi yang mengikat Eleanor. "Ibu? Ibu, ini aku, George."
Eleanor membuka matanya perlahan. Wajahnya yang pucat tersenyum lemah saat melihat putra sulungnya. "George... kau... kau benar-benar datang..."
"Aku di sini, Ibu. Kita akan pulang." George menggendong ibunya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih menggenggam pedang petir.
Namun, lantai gua tiba-tiba bergetar hebat. Jantung Salju yang berada di bawah altar mulai berdenyut dengan warna merah gelap. "Kalian telah merusak ritualnya! Sekarang Jantung Salju akan meledak dan membekukan seluruh Puncak Kesunyian!" teriak tetua itu dengan panik.
"Sial! Theodore, Julian, kita harus keluar sekarang!" perintah George.
"Bagaimana dengan Jantung Salju itu? Kita tidak bisa membiarkannya meledak!" seru Julian.
George menatap mawar salju di tangannya. 'Mawar ini bisa menyerap energi. Jika aku menanamnya tepat di inti Jantung Salju, dia mungkin bisa menstabilkan ledakannya,' batin George.
"Celestine, bawa Ibu keluar bersama mereka! Aku harus melakukan satu hal lagi!" kata George.
"Tidak! George, kau jangan konyol!" teriak Celestine.
"Percayalah padaku! Aku adalah Master Pedang dan pengguna petir! Aku akan menyusul kalian!" George mendorong mereka semua menuju pintu keluar, sementara ia sendiri melompat ke dalam lubang di bawah altar tempat Jantung Salju berada.
"George!" teriak Celestine yang suaranya tertelan oleh reruntuhan batu.
Di dalam lubang yang dalam, George berhadapan langsung dengan artefak raksasa yang berdenyut liar. Ia menanamkan mawar salju itu tepat di tengah-tengah artefak tersebut.
"Serap semuanya! Jadilah pelindung bagi tanah ini!"
Seluruh petir dalam tubuh George ia lepaskan secara maksimal. Ruangan itu dipenuhi oleh cahaya biru dan putih yang membutakan. George merasa tubuhnya hancur berkeping-keping, namun ia terus bertahan demi satu janji yang telah ia ucapkan.
Asap putih dan uap panas mengepul dari lubang reruntuhan Altar Salju, menciptakan kabut tebal yang menghalangi pandangan. Theodore menahan pundak Celestine yang hampir merangsek maju ke dalam zona bahaya, sementara Julian mendekap ibunya yang masih sangat lemah.
"Lepaskan aku, Theodore! Dia masih di dalam! Aku merasakannya!" teriak Celestine dengan suara serak, air mata membasahi pipinya yang memerah karena dingin.
"Terlalu berbahaya, Celestine! Struktur gua ini sudah tidak stabil, jika kau masuk sekarang, kau hanya akan terkubur bersamanya!" Theodore membalas dengan nada yang sama kerasnya, meski matanya sendiri terus mencari tanda-tanda kehidupan di balik debu kristal.
'George, kau tidak boleh mati setelah semua ini. Kau berjanji akan menjaganya,' batin Theodore dengan kepalan tangan yang mengeras.
Tiba-tiba, suara retakan es terdengar dari dasar lubang. Bukan suara reruntuhan, melainkan suara pertumbuhan kristal yang sangat cepat. Pendaran cahaya biru elektrik yang tadinya liar kini berubah menjadi warna biru langit yang tenang.
Perlahan, sesosok bayangan muncul dari balik kabut.
George berjalan keluar dengan langkah yang sangat lambat. Zirah peraknya hancur di beberapa bagian, dan tangan manusianya tampak dipenuhi luka bakar ringan akibat pelepasan petir maksimal. Namun, di tangan kristalnya, ia memegang mawar salju yang kini telah bermutasi sepenuhnya.
Bunga itu tidak lagi bertekstur tanaman, melainkan kristal bening yang di dalamnya terdapat aliran petir kecil yang terus berdenyut.
"George!" Celestine melepaskan diri dari Theodore dan langsung menghambur ke pelukan George.
George menangkapnya dengan tangan yang gemetar. "Aku... aku sudah bilang aku akan kembali, bukan?"
"Kau bodoh! Kau hampir saja meledakkan dirimu sendiri!" Celestine memukul dada George pelan sebelum memeluknya semakin erat.
"Mawar ini... dia menyerap seluruh ketidakstabilan Jantung Salju." George menunjukkan bunga kristal itu kepada Theodore dan Julian. "Dia bukan lagi sekadar mawar salju. Dia adalah inti baru untuk Puncak Kesunyian. Selama mawar ini ada, Orde tidak akan bisa membangkitkan keabadian palsu mereka."
Julian mendekat dengan mata berbinar. "Jadi kau berhasil menstabilkannya, Kak? Kau benar-benar menjinakkan artefak purba itu?"
"Mawar inilah yang menjinakkannya, Julian. Aku hanya memberikan jembatan energinya." George menoleh ke arah ibunya yang kini disandarkan di dinding gua oleh Julian.
"Ibu, bagaimana keadaanmu?"
Eleanor mengangkat kepalanya, sebuah senyum bangga terpancar dari wajahnya yang mulai kembali berwarna.
"Putraku... kau telah melampaui leluhur Klan Penjaga Langit. Kau menyatukan dua elemen yang seharusnya saling menghancurkan."
"Kita harus segera keluar dari sini. Para tetua Orde yang tersisa pasti sedang memanggil bantuan dari pusat." Theodore memperingatkan sambil melihat ke arah pintu keluar yang mulai tertutup salju.
"Biarkan mereka datang. Dengan mawar ini, aku bisa menutup pintu masuk gua ini selamanya dengan es abadi yang tidak bisa ditembus oleh sihir mereka." George mengangkat mawar kristal itu tinggi-tinggi.
'Sekarang aku mengerti kenapa Ibu menyembunyikan mawar ini. Bukan untuk kekuatan, tapi untuk keseimbangan,' batin George.
Mereka mulai berlari menuju pintu keluar. Di belakang mereka, George menghentakkan kakinya, menciptakan gelombang es raksasa yang diperkuat dengan sisa-sisa petirnya. Pintu gua kristal itu tertutup rapat, menyegel Jantung Salju dan sisa-sisa kegilaan Orde Tertinggi di dalamnya.
Saat mereka sampai di udara terbuka, badai salju yang tadinya mengamuk secara ajaib mulai mereda. Langit di atas Puncak Kesunyian perlahan terbuka, memperlihatkan bintang-bintang yang bersinar terang.
"Lihat... badainya berhenti." gumam Julian sambil menatap langit.
"Bukan hanya berhenti, Julian. Tekanan mana di gunung ini sudah kembali ke titik nol. Puncak ini sekarang benar-benar sunyi dalam arti yang sebenarnya." ujar George.
Theodore menatap George dengan rasa hormat yang mendalam. "Jenderal, sepertinya tugasmu di Utara sudah selesai. Apa rencana selanjutnya? Kembali ke Kastil Augustine?"
George menatap Eleanor, lalu menatap Celestine. "Aku ingin membawa Ibu ke Selatan. Utara bukan lagi tempat yang aman untuknya, dan aku rasa Marquess Augustine setuju bahwa ia butuh waktu untuk menebus kesalahannya sendirian."
"Aku setuju. Valley akan menyambut Ibu Eleanor dengan tangan terbuka sebagai tamu kehormatan tertinggi." sahut Theodore dengan tulus.
"Bagaimana denganmu, Julian? Kau mau ikut kami ke Selatan?" tanya George pada adiknya.
Julian tersenyum lebar. "Tentu saja! Aku belum menyelesaikan kurikulum akademi alkimia, dan aku harus memastikan Kakak tidak membuat masalah lagi di sana."
"Sialan kau, Adik kecil." George tertawa, tawa pertamanya yang benar-benar lepas sejak mereka menginjakkan kaki di Utara.
Celestine menggandeng tangan George, kepalanya bersandar di bahu ksatria itu. "Jadi, apakah ini akhir dari petualangan kita, George?"
George menatap mawar kristal di tangannya, lalu menatap cakrawala di mana matahari mulai menyembul dari balik awan. "Tidak, Celestine. Ini adalah awal yang baru. Kita punya kerajaan yang harus dibangun kembali, dan sebuah pernikahan yang harus dipersiapkan tanpa ada gangguan monster atau penyihir."
"Aku suka rencana itu." bisik Celestine.
'Es untuk melindungi, petir untuk menerangi, dan cahaya untuk menghangatkan. Akhirnya, aku menemukan tempatku yang sesungguhnya,' batin George dengan perasaan damai yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Mereka berjalan menuruni lereng gunung menuju kapal Aurora yang sudah menunggu di bawah. Di kejauhan, Kastil Augustine tampak berdiri kokoh, namun bukan lagi sebagai penjara bagi George, melainkan sebagai monumen masa lalu yang telah ia taklukkan.