Dipaksa untuk pulang oleh sang ayah dengan ancaman atas nama pacarnya, Daniel. Membuat Elleta harus pulang ke Indonesia. Entah kesepakatan apa, papanya tega menjualnya ke laki-laki bernama Steve, pewaris utama Danendra group. Fakta baru yang ia tau, Steve pernah menikah.
Hanya untuk keamanan sang pacar, Elleta rela setuju. Akankah Elleta bisa menjalaninya, atau justru masuk lebih dalam ke kehidupan laki-laki itu.
"Selamat datang di kehidupan barumu, Elleta."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Kontrak Seharga 980 Miliar
Mata gadis itu tidak terpejam, tubuh berbaring ke kiri ke kanan mencari kenyamanan. Ia terduduk di ranjangnya, kepalanya penuh dengan tanda tanya besar tentang dokumen kemarin.
"Aku enggak bisa diam aja," gumam gadis itu menatap jarum jam yang terus bergerak.
Elleta memegang dadanya sejenak, lalu menutup pintu kamarnya dengan perlahan. Mansion milik suaminya itu selalu gelap gulita jika larut malam tiba.
"huft! aman," bisik Elleta pelan. Ia melangkah hati-hati menuju perpustakaan yang tak jauh dari kamarnya.
Membuka knop pintu itu secara perlahan, mata milik Elleta membelalak, pintu perpustakaan itu tidak dikunci. "Tumben, apa ada orang yang ke sini?" gumamnya lagi.
Kaki mungilnya melangkah pelan, membelah keheningan.
Ia mengeluarkan ponselnya untuk memberikan cahaya di ruangan yang berbau aroma kertas tua dan debu itu. Ia menelusuri rak hingga matanya tertuju pada rak pojok, tempat di mana diary milik Katrina berada.
Tak!
Elleta terhuyung. Kakinya tersandung tumpukan buku yang berserakan di lantai. Jantungnya berpacu. Ada jejak sepatu yang di lantai menambah spekulasi Elleta Tunggu! Apa Steve datang ke perpustakaan tengah malam? "Enggak mungkin Steve datang ke sini."
Kriettt
Tangan lentik Elleta meraba buku-buku tebal di rak, hingga tak sengaja ia menyenggol sebuah buku, membuat rak itu bergeser dan terbuka perlahan. Mata Elleta terbelalak, napasnya tercekat. "Ada ruang rahasia? Sejak kapan?" monolognya penuh tanda tanya.
Tangannya memutar knop pintu ruang rahasia itu. Lagi-lagi, tidak dikunci.
Udara lembab dan debu yang beterbangan langsung menyambut indra penciumannya.
Ruangan itu sunyi, tanpa ventilasi. Ia menyorotkan ponsel ke rak-rak tua hingga mata Elleta menyorot ke rak dekat jendela yang tertutup rapat. Matanya terpaku pada berkas bertuliskan : "Draft Elleta Clarissa C."
Tangan Elleta langsung menarik berkas itu dalam satu tarikan. Ia membukanya dengan gerakan cepat. Matanya menyapu setiap bait kalimat.
Kontrak Kerjasama Pelunasan Hutang Crassia Group
Jaminan hutang: Elleta Clarissa Crassia.
Tahun: 2xxx
"Jadi skenario Steve dan Papa dimulai dari tahun itu? Kenapa aku bodoh banget..." gumam Elleta parau. Tahun itu, tahun di waktu di mana masa kelulusan SMA-nya.
Air matanya mengalir tanpa diminta. Pelunasan hutang seharga 980M, nominal itu sangat fantastis. Elleta tertawa hambar, sebuah tawa kesedihan. Sebelum ketahuan, secara diam-diam Elleta memotret poin-poin penting dari isi dokumen tersebut.
“Ternyata aku semahal itu, ya.”
Tiba-tiba, derap langkah kaki mendekat. Elleta tersentak. Dengan gerakan cepat, ia menyembunyikan berkas itu di balik piyamanya.
Aroma parfum yang sangat ia kenali menguar di udara. Pria itu berdiri di ambang pintu, mengenakan piyama hitam senada dengannya.
"Sudah menemukan sesuatu yang membuat matamu sembab, Elleta?” sindir Steve.
Elleta mendekat dengan tatapan tajam. "Apa niatmu membantu Papaku? Kenapa kamu enggak biarkan saja Papaku bangkrut! Jawab aku, Steve!"
Elleta bangkit, menatap mata legam suaminya, gadis itu enggan mengakui laki-laki di depannya yang berstatus suaminya.
Steve menarik dagu Elleta mendekat, nafas aroma mint menguar ke indra penciumannya. Mereka berdua bisa merasakan nafas masing-masing. "Papamu menawarkan barang yang sangat menggiurkan, Elleta. Kenapa harus aku tolak?"
“Kamu sangat cantik dan mempesona, siapa yang nolak barang secantik dan semahal kamu.”
Plak! Tamparan mendarat telak di pipi Steve. Laki-laki itu ditampar Elleta tak menegakkan kepalanya tanpa tertoleh.
Tangan Elleta kebas karena getaran tamparannya, getaran di tangannya masih terasa. "Bajingan gila! Kamu monster! Kamu beli orang, Steve. aku bukan barang!"
Rasa panas di pipinya sampai Steve tidak bisa membalas perkataan Elleta. Ia malah menyunggikan senyumannya. “Aku di tampar dan dimaki, kenapa aku malah seneng, El,” batin Steve dalam hati.
Steve melangkah mundur sebelum kesabarannya merenggutnya. Ia tetap menjaga tindakannya tak melukai Elleta terlalu jauh.
Elleta menatap kepergian Steve dengan perasaan dongkol di hati, ia berusaha menahan tangisnya. Namun, alih-alih merasa puas, gadis itu justru merasa diabaikan. Ia berbalik, berlari mengejar Steve hingga ke depan kamar pria itu.
Brak!
Pintu tertutup tepat di depan hidungnya. Elleta mulai menggedor pintu dengan brutal, mengabaikan jam yang sudah larut malam.
"Buka, Steve! Jangan pengecut! Aku butuh penjelasanmu, jangan menghindariku!"
Di balik pintu, Steve mematung sambil memegang pipinya yang panas. "Kembalilah ke kamarmu, Elleta," suara Steve terdengar berat. "Berhenti bersikap bodoh sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaranku."
Steve menjauh dari pintu, berjalan menuju meja kerjanya. Ia meraih ponselnya. Masih memegang pipinya yang terasa sedikit kebas, energi Elleta benar tak main-main.
"Halo, Theo. Besok pagi, kunci perpustakaan sebelum Elleta bangun. Perketat penjagaan Elleta. Aku punya firasat dia dalam bahaya besar."
“Baik, Pak. Sesuai perintah, besok pagi saya laksanakan.”
Steve mematikan telepon. Ia menatap nanar ponselnya saat sebuah pesan masuk dari nomor anonim.
Anonim: Jaga Elleta baik-baik, Steve. Gadis itu berbeda dengan Katrina yang lemah lembut.
Steve mengepalkan tangan. Ingatan tentang masa lalu tentang kematian Katrina yang kembali menghantui.
“Tidak ada yang bisa menghancurkanku lewat Elleta,” bisik Steve dengan rahang yang mengeras, nafasnya memburu.
*
*
*
Elleta memilih mengalah malam ini. Ia kembali ke kamarnya, mengunci pintu, lalu terduduk lemas di lantai marmer yang dingin.
Ia mengeluarkan dokumen yang ia curi tadi. Dengan tangan bergetar, ia mengirim pesan pada abangnya, Michael.
Elleta: Bang, aku sudah tahu tentang kontrak itu. Bantu aku cari kelemahan Steve.
Elleta : Dia monster yang mencoba memenjarakan Elleta.
Michael: Apa yang kamu temukan, El? Kirim ke abang.
[mengirim foto]
Di notifikasi dari nomor yang tidak dikenal muncul di layarnya. Mata membaca pesan itu dengan mengerutkan dahinya.
Anonim : Dalang kecelakan pacarmu Daniel adalah Steve, suamimu sendiri, jangan mau dikendalikan Steve, Elleta.
Ponsel Elleta terjatuh. Lantai marmer itu terasa seperti es yang menusuk kulitnya. Ternyata, Steve tidak hanya membelinya tali juga menghancurkan Daniel.
"Jadi ini alasanmu, Steve?" bisik Elleta. Matanya menatap kosong dengan kebencian yang sudah mendarah daging.
"Kalau aku hancur, kamu juga harus ikut hancur, Steve!” gumam Elleta pelan, mata menyorot tajam.
*
*
*
Di sisi lain, Michael keluar dari ruang kerjanya. Dengan ponsel di sakunya. Berpapasan dengan Papa, Yuda. Mata laki-laki tua itu tajam sampai bisa menembus ke matanya.
"Jangan terlibat terlalu jauh masalah Elleta, Michael. Dia sudah menikah, Steve bisa melindungi adikmu sendiri, tanpa bantuanmu."
Michael tertawa sinis, papanya mikir dirinya bodoh. "Enggak, Pa. Sekali aku masih ada, Elleta butuh aku. Semua apa yang terjadi sama Elleta sudah jadi kewajibanku membantunya." Ada perasaan aneh, rasa curiga? Kenapa papanya memberinya peringatan.
"Kepergian Elleta ke California itu semua ulahmu, kan? Cukup sampai disana, Mick! Jangan ikut campur urusan adikmu." Yuda setelah mengatakan itu lalu pergi.